
“Jaga omong kosongmu.” Sebuah suara yang akrab dan sangat dingin. Kala tersenyum.
“Ya, lain kali aku akan berbicara lebih sejujurnya.”
“Tanpa omong kosong.”
“Iya, tanpa omong kosong.”
“Baiklah, untuk kali ini au berbelas kasih melindungimu.”
Bum! Terdengar suara ledakan keras saat Alang menjatuhkan bom api dari dari atas. Kala mendengar suara derap langkah kaki yang menjauh untuk membantai musuh di depan.
“Dia memang bisa diandalkan untuk sekarang.” Kala akhirnya mempunyai waktu untuk mencerna pil herbal.
Ia bangkit dengan senyum lebar melihat Kaia seperti macan yang mengamuk menebas-menusuk pasukan dari Geowedari. Jubah hitam Kaia, atau lebih tepatnya milik Kala, beterbangan setiap gadis itu melakukan gerakan.
Kala juga tersenyum lebar pada Alang di atas yang sedang mengambil jeda untuk menyerang lagi. Kala mengangkat kerisnya lalu berlari ke samping Kaia.
“Ternyata aku salah menilaimu sebagai beban.”
“Lagi-lagi kau mengomong kosong,” tandas Kaia dingin.
Kala hanya tersenyum tipis sebelum menebas kepala musuh tepat di sebelah Kaia. Kali ini tebasannya lebih berat sebab Keris Garuda Puspa sama sekali tidak dialiri Prana, tiada ubah seperti pedang biasa saja.
“Kaia, kita harus mundur ke rumah kepala desa. Kemungkinan besar warga sudah dilarikan ke hutan di belakang.”
“Bukankah itu berbahaya bagi mereka? Apa kau sudah gila?”
“Itu adalah jalan yang paling bagus untuk saat ini, jangan membantah, bukan saatnya berdebat.” Kala melompat ke belakang lalu bersuit pada Alang.
Alang mengirim empat bola api terakhir sebelum ia masuk ke kediaman kepala desa. Jalan tertutup oleh api Alang.
“Sebelum api padam, kita harus masuk.” Kala menepuk pundak Kaia, dibalas anggukan.
Setelah masuk ke kediaman kepala desa dengan cara melompati tembok dibantu Kala, Kaia mengunci pintu rumah kepala desa.
__ADS_1
Terlihat aula besar berantakan tapi sudah kosong dan sunyi, hanya terdengar suara sayup-sayup dari luar.
“Apa yang mereka cari?” Kala mendengar Kaia berbicara di belakangnya.
“Aku tidak tahu, bahkan yang lainnya juga tidak tahu,” jawab Kala sambil turun ke bawah. “Salah satu peminum sudah berada di hutan melindungi warga, semoga begitu. Kita harus cepat sebab ia tidak mungkin meninggalkan aku.”
Saat sampai ruangan bawah, terlihat pintu terbuka menuju lorong kecil yang terbuat dari tanah. Lorong itu gelap, basah, dan bau tanah. Kala, Kaia, Alang masuk sebelum mengunci pintu lorong tersebut.
Kala menjadi pembimbing Kaia dan Alang. Jika Alang menyalakan api untuk menerang, walau itu kecil, tapi api Alang bisa membakar mereka bau minyak di sini.
Kepala desa sangat cerdik, lorong di sepertinya dilapisi minyak dan campuran bahan bakar lainnya. Sehingga bisa diledakkan dari luar jika pihak musuh ada di lorong mengikutinya.
Setelah sekian lama berada di lorong yang gelap itu, jalanan tiba-tiba menanjak dan Kala sudah melihat hutan. Tidak terlihat si pensiunan di sini, tapi ada banyak jejak di sini, jelas mereka sudah pergi.
“Kaia, kau pergi ikuti jejak mereka. Pihak kita pasti sudah mengenalimu, aku akan berjaga di sini bersama Alang.”
“Tidak perlu omong kosong lagi, aku akan berjaga di sini juga.”
“Dengar, aku mempunyai kecepatan untuk lari jika saat terjadi ledakan besar.”
“Kau akan meledak?”
Kaia agak merasa ragu sebelum akhirnya berlari mengikuti jejak yang ada. Kala duduk bersila di mulut lorong dengan Alang di pundaknya.
“Alang, aku hanya berbohong saat di penginapan waktu itu, kau bukan beban sama sekali.”
“Eak!”
“Baguslah jika kau sudah tahu.” Kala tertawa hambar sebelum melepas topengnya. Sayup-sayup, ia sudah mendengar suara gema yang ramai jauh di dalam lorong. “Sebentar lagi.”
Setelah menunggu beberapa saat, suara semakin dekat hingga jelas terlihat prajurit-prajurit dari Geowedari berusaha secepat mungkin keluar dari lorong.
“Tekad mereka begitu kuat. Mereka tahu ada risiko terbakar di dalam sana, makanya jalannya begitu cepat, tapi mereka tidak takut. Apa yang sebenarnya mereka cari?” gumam Kala lalu berdiri.
“Eak?” Alang menjawab.
__ADS_1
“Ya, aku juga tidak tahu. Nah, sekarang bakar mereka.”
Baru Alang lepas dari pundaknya, Kala sudah berkelebat jauh. Alang melempar enam buah bola api sebelum berkelebat jauh juga.
Bumm!
Terdengar suara ledakan tertahan. Tanah bergoyang hebat sebelum ambles ke bawah. Asap keluar dari tanah bersamaan jiwa-jiwa yang terangkat dengan tubuh yang terkubur secara ringkas.
Kala sudah lari mengikuti jejak-jejak sedangkan Alang terbang di atas. Baru beberapa saat berlari, Kala sudah menemui sungai yang cukup besar yang memang ada di samping desa. Jejak mengarah ke sisi kiri sungai itu, tak perlu lama Kala sudah bisa melihat para warga desa yang berjalan sejajar dengan cepat.
“Kau datang juga.” Kaia menyambut Kala di barisan paling belakang.
“Anak Muda, kau membuatku khawatir.” Si pensiunan itu menghampiri Kala dari barisan paling depan.
“Semuanya baik-baik saja, Pak Tua. Lorong itu sudah meledak, aku yakin mereka yang ada di dalamnya sudah mati. Dan semoga saja begitu. Yang pasti, perjalanan mereka agak tertunda, tapi itu bukan berarti bahwa mereka tidak dapat menemukan kita dengan cepat.”
“Ya, yang perlu kita lakukan adalah berlari,” kata si pensiunan, “tapi lebih jauh dari sini akan berbahaya, ini bukan hutan yang aman. Menurut legenda, ada siluman ular hitam besar berkepala dua.”
“Menurutmu, di mana binatang spirit itu?”
“Penuturan warga, tak jauh dari sini. Di dalam gua.”
“Jika tidak diganggu, maka hewan itu tidak akan mengganggu.”
“Semoga saja begitu.”
Melihat dua orang penting itu berbincang serius tentang siluman keramat yang mereka takuti, warga desa semakin gentar. Mereka bahkan berpikir lebih baik mati dengan pedang dari pasukan Geowedari dari pada harus mati dengan dimakan siluman.
“Tidak, aku tidak mau ikut. Lebih baik aku mati di tangan mereka!” Salah satu pria desa dengan keras menolak ikut.
“Tidak ada yang boleh pulang. Kalian akan aman bersama kami. Ada tiga pranor di sini, siluman yang kalian takutkan itu tidak akan bisa berkutik.” Kaia berkata dengan dingin. “Jika bersikeras mau pulang, maka kau akan mati di tanganku. Tidak akan ada mata-mata yang membahayakan orang lain.”
Pria itu merinding walau sudah siap untuk mati, tapi kematian di depan mata tetap saja membuat insting bertahan hidup-nya merespons, pada akhirnya berbalik dan kembali berjalan.
“Bagaimana sekarang? Apa kita harus lari atau mengendap-endap agar tidak ketahuan si siluman?” tanya Kala.
__ADS_1
“Risiko mati di mulut siluman itu lebih kecil ketimbang mati dengan pedang Anjing-anjing Geowedari itu.”
“Itu artinya kita harus lari.” Kala menghela napas panjang. “Bagaimana dengan anak kecil?”