Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Gerak-Gerik Pandataran


__ADS_3

Kesabaran Kaia habis, ia mencubit Kala keras-keras, membuatnya berteriak dan itu berhasil menarik perhatian.


Empat ekor belut asap sudah siap, Kaia meminta uang pada Kala.


Kala mengerutkan dahi dan bertanya, “Uang? Untuk apa?”


“Berikan saja.”


Dengan perasaan bingung, Kala mengeluarkan lima koin emas dari cincin interspatial. Kaia memberikan semua uang itu dan mengambil 4 ekor belut asap yang sudah dibungkus daun pisang.


Ada dua hal yang membuat si penjual bingung. Lima koin emas diberikan, padahal harga semua belut itu hanya 50 perunggu. Dan, Kala mengeluarkan uang itu dari cincin interspatial, yang seharusnya sudah tidak dapat berfungsi.


Namun, sebelum ia bertanya akan dua kebingungannya itu, Kaia dan Kala sudah keburu pergi. Hingga ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


***


Saat Kala membuka matanya, yang dilihat adalah atap-atap bangunan. Di bawah punggungnya, ia merasakan tertidur di atas benda empuk. Saat ia mengedarkan matanya, ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya berada di kamar Kaia, tepatnya di atas kasurnya!


Tapi, ia sama sekali tidak melihat Kaia di sini, sehingga ia bangkit duduk dengan cepat. Dari situ, Kala bisa melihat bahwa Kaia tertidur di bawah kasur, di atas tikar!


“Apa yang terjadi?” Kala berusaha menerka-nerka kejadian tadi malam.


Tergopoh-gopoh pulang dari pasar lalu muntah di jalan. Hanya itu yang Kala ingat, selebihnya hanyalah ingatan kabur. Namun, Kala bisa menebak apa yang sudah Kaia lakukan.


Kala mendengar suara kepak dari arah jendela, Alang baru saja pulang setelah jalan-jalannya. Burung itu langsung memarahi Kala habis-habisan, berkata bahwa Kala adalah pria yang payah.


“Kalian berisik!” Kaia yang terbangun melempar bantalnya, tepat mengenai Kala yang di atas.


“Ah, gara-gara kau ratu tidur itu jadi terbangun!” Kala giliran memarahi Alang, tapi ia juga tidak luput dari kemarahan Kaia.


“Mengapa kau tadi malam?! Apa kau tahu apa yang sudah kau perbuat? Mengotori jalanan dengan muntahanmu dan juga berteriak-teriak di depan rumah duka!”


“A-aku tidak sadar.” Kala menggaruk kepalanya sambil minta maaf, tapi berikutnya ekspresi wajahnya menjadi serius. “Dan mengapa kau membawaku tidur di satu kamar?!”


“Apa kasur itu kurang nyaman untukmu? Oh, kalau begitu aku bisa membawa kasur berkali-kali lipat untukmu!” Kaia membentak.


“Bukan itu maksudku! Kau tahu orang mabuk? Aku tidak akan sadar apa yang aku lakukan, bagaimana jika aku melecehkanmu?!” Kala memelototi Kaia.


“Aku percaya denganmu!” Kalimat Kaia sungguh menyentuh hati Kala, jika seandainya nada Kaia tidak terlalu tinggi.


“Kau tidak pernah bisa percaya dengan orang mabuk.” Kala menyibak selimutnya lalu keluar dari kamar.


Kedai tuak dipenuhi banyak orang sekarang. Raut wajah mereka terlihat lelah dan ketakutan. Kala segera menimbrung dalam percakapan.

__ADS_1


“Perang tidak dijeda! Kedua pihak malah semakin beringas dan menuduh satu sama lain untuk masalah dimensi cincin. Kau tahu seberapa vital cincin interspatial dalam perang, mereka menduga bahwa Geowedari, yang miskin itu, merusak akses cincin interspatial sebab ia tidak punya banyak cincin.”


“Bicaramu terlalu terbelit-belit! Katakan saja dampaknya!”


“Yang pasti, Geowedari akan datang ke desa ini sebab diduga ada semacam pusaka yang mengganggu akses cincin! Tentu saja Pandataran akan melindungi desa ini mati-matian.”


“Apa akan ada perang di sini?” tanya yang lain, terlihat cemas.


“Perangnya bukan di sini, di tanah lapang belakang bukit besar itu. Jika Geowedari keluar sebagai pemenang, maka mereka akan menyerbu desa ini. Dan jika Pandataran yang berhasil menang, mereka juga akan menyerbu desa ini, itu karena mereka juga yakin bahwa Geowedari menancapkan pusaka di sini.”


“Kau tahu dari mana?”


“Aku tahu langsung dari kota, aku juga melihat dengan kepala mataku sendiri, Pandataran menyiapkan pasukan besar!”


“Kira-kira, berapa lama mereka akan sampai?” Kini giliran Kala yang bertanya.


“Mungkin mereka sedang berperang sekarang, kecepatan mereka sangat luar biasa!”


Seseorang menggeprak meja dengan kencang. “Kita harus pergi dari sini! Mereka akan membantai kita!”


Yang pasti, ini bukan kabar baik bagi seluruh orang di desa. Warga desa tentu mustahil diungsikan bersamaan, Hutan Telu terlalu berbahaya. Sedangkan untuk para pranor, mereka masih bisa selamat asalkan pergi dari sini secepatnya. Kala tahu permasalahan ini sehingga wajahnya pucat pasi.


“Tunggu sebentar! Bagaimana dengan keselamatan manusia biasa di desa ini?” Kala mengencangkan suaranya.


“Mana bisa seperti itu! Mereka juga manusia, seperti kita! Masih mau menghirup napas segar!”


“Nak, dengarkan kami. Kami menyayangi satu sama lain, kami juga menyayangi nyawamu. Biar aku beri nasihat. Pentingkan saja dirimu sendiri untuk kali ini, kami tahu niat baikmu, tapi bukankah kau masih mau menghirup napas segar juga?”


“Aku masih mau menghirup napas segar, tapi bersama mereka.”


“Kau hanya akan mati bersama mereka!”


“Bukankah yang kuat harus melindungi yang lemah? Untuk apa kalian belajar menjadi pendekar jika hanya kabur bagai anjing pengecut?”


“Nak, jaga omonganmu atau kami tidak akan sungkan lagi.” Seorang pria paruh baya lainnya berdiri dari kursi sambil meluruskan jari-jarinya.


“Lebih baik kau jaga sikapmu itu, Pak Tua!” Kala mengeluarkan nafsu pembunuh, membuat pria paruh baya itu hanya bisa menatap Kala penuh kebencian.


“Sudahlah, tidak ada gunanya meminta bantuan padanya untuk melawan kerajaan. Dia ini antek-antek kerajaan!”


“Sudah aku katakan sebelumnya dan sebelumnya lagi, aku ini pensiunan!”


Dua orang itu kembali bergulat sebelum yang lain memisahkan. Suasana kembali serius, mereka memilih untuk berkemas dibandingkan mendengar Kala yang terus meminta bantuan.

__ADS_1


Setelah lelah sendiri dan merasa sangat tidak dihargai, Kala kembali ke atas, tepatnya ke kamar Kaia.


“Kau harus pergi dari desa ini, Alang akan menjagamu. Pergi sekarang.”


“Datang tiba-tiba lalu mengusirku, apa masih mabuk?”


“Kemungkinan besar, desa ini akan diserang, penduduk akan dibantai. Aku akan menahan mereka, tapi aku tidak bisa menjagamu.”


“Lalu, untuk apa aku belajar ilmu bela diri?”


Kala menatap Kaia penuh arti, merasa bangga tapi kemudian merasa sedih lagi.


“Tidak bisa Kaia, kemampuanmu belum cukup. Mereka pasti akan mengirim banyak pasukan untuk masalah sebesar ini.”


“Masalah cincin itu?” Ditanya Kaia, Kala mengangguk. “Cincin itu juga merepotkanku, aku juga akan membantumu!”


“Eak eak!”


Kala menarik napas panjang, berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk berkata yang sebenarnya bukan berasal dari hatinya.


“Kalian adalah beban, hanya akan menyusahkanku.” Kala berkata dengan keras tapi wajahnya meringis.


Hening sejenak. Kaia dan Alang sama-sama tidak bisa bicara, masih belum yakin dengan ucapan Kala.


“Kalian, hanya akan merepotkanku. Lebih baik pergi dari pada aku mati di sini!” Kala memalingkan wajahnya.


“Kau ... kau sungguh-sungguh?”


“Apa aku terlihat main-main?!”


Kaia tersenyum, tapi dari mata kirinya air mata mengalir. Matanya tidak bisa menipu, jelas ia tidak percaya dan kecewa berat pada dirinya sendiri. Kala merasa malu memperlihatkan wajahnya, ia tetap memalingkan wajah sambil menahan kesedihan.


“Baik ... baiklah, kami akan pergi. Ayo, Alang.”


“Eak eak eak!” Alang menolak keras.


“Alang, kau pergi. Sama saja bebannya! Tak berguna!”


Alang menatap Kala tidak percaya, tubuhnya sudah keburu ditarik Kaia keluar dari kamar, atau bahkan keluar dari penginapan. Kala meluruskan wajahnya, lalu meyakinkan dirinya sendiri itu adalah keputusan terbaik.


Pasukan yang akan menyerbu pasti banyak, Kala sudah memperhitungkan itu. Dan akan buruk kemungkinan jika Kala kalah dalam tempur nanti, maka itu akan berakibat fatal untuk Kaia.


Lalu, mengapa Kala seakan mau berkorban hanya untuk masalah kecil ini sedangkan tugasnya lebih besar? Kala hanya ingin mencoba memulai, ia merasa bahwa dirinya masih belum terlalu berguna.

__ADS_1


“Baiklah, waktunya bertugas.”


__ADS_2