
Pintu penginapan terlepas dari tempatnya dan hancur berkeping-keping. Lima orang menyerbu masuk ke dalam penginapan dengan niat yang jelas tidak bagus. Mereka semua berpakaian seiras dengan jubah hitam seperti naga serta pedang melengkung yang panjang. Mereka semua merupakan pranor Alam Kristal Spirit, kecuali satu pranor dengan tingkat Alam Formasi Spirit.
Bukan musuh yang mudah dikalahkan!
“Walageni! Riwayatmu akan berakhir sampai di sini!” Pranor Alam Kristal Spirit itu berteriak dengan lantang, tanah sampai bergetar akibat suaranya.
Kala menuang tuaknya pada gelasnya. Dengan tenang, ia mencoba mencari titik terang dari konflik ini. Tidak mau bertindak gegabah.
“Aku rasa, kata-kata itu ada baiknya ditunjukkan padamu aja.” Penjaga penginapan itu berkata dengan tenang, dialah yang bernama Walageni.
“Kau terlalu percaya diri, selalu sama seperti dulu. Tetapi, kau bahkan tidak bisa membedakan tingkatan bumi dan langit. Terlalu naif, kamu akan mati dengan tersiksa di tangan kami.”
“Tidak perlu banyak bicara dengan mulut. Mari berbicara dengan tangan.” Pria yang di pojok ruangan giliran angkat bicara, kini ia berdiri di samping Walageni.
Kaia turun setelah mendengar keributan lantai di bawah. Namun ketika dirinya baru sampai di tangga, Kala sudah memberi isyarat agar kembali ke atas. Kaia menuruti perintah itu walau setelah menyadari akan terjadi sesuatu yang berada di luar kendalinya.
“Kuanggap itu sebagai tantangan bertarung yang memang harus kami ladeni sebagai sesama pendekar pedang.” Pranor Alam Kristal Spirit itu menyiapkan kuda-kuda lalu diikuti empat orang di belakangnya.
__ADS_1
Walageni dan pria di sampingnya saling menganggukkan kepala lalu menyiapkan sikap bertarung juga.
“Serbu!!!”
Pertarungan dengan cepat terjadi, berjalan dengan sedemikian hebat. Gelombang kejut yang dihasilkan dari pertarungan tersebut mampu membuat tubuh Kala tersentak beberapa kali, tetapi itu bukan menjadi masalah besar bagi pranor dengan tenaga dalam besar seperti dirinya.
Satu orang dari kelompok berpakaian hitam tewas setelah lehernya terbabat Walageni. Kematian itu tidak membuat kawan-kawannya menjadi takut, justru semakin beringas dan agresif menyerang. Jelas saja siapa yang terpojok, Walageni dan temannya itu mengalami kesulitan hingga terluka pada beberapa bagian tubuh.
Mereka bersandar pada tembok dengan darah yang terus mengucur. Kini keduanya berhadapan langsung dengan pranor Alam Formasi Spirit, pemimpin dari kelompok berpakaian serba hitam itu. Melihat pertempuran yang akan berakhir, tiga anak buah yang tersisa kini memandang Kala dengan heran, mereka melihat pemuda itu sama sekali tidak peduli dengan pertarungan yang terjadi di dekatnya.
“Satu prinsip kami adalah tidak pernah meninggalkan satupun saksi mata, atau lebih baik kami mati.” Seorang pranor mendekati Kala dengan pedang terhunus. “Dan kau sepertinya bukan dari pihak kami. Mari aku antarkan ke alam baka.”
Mereka semua tertawa mendengar ucapannya. Berpikir bahwa pemuda itu sepertinya sudah buta, sampai-sampai tidak bisa melihat pintu maut tepat di hadapan mata! Kala hanyalah pranor di tingkat Pondasi Prana, sedangkan di depannya ada tiga pranor Alam Kristal Spirit ditambah satu pranor Alam Formasi Spirit.
Jika dibandingkan, itu bagaikan batu dengan gunung, perbandingan yang menyedihkan.
“Kau menantang maut, Anak Muda.” Pranor Alam Formasi Spirit meninggalkan dua mangsanya yang sekarat dan berjalan ke arah Kala, melihat bahwa dirinya dapat lebih bersenang-senang dengan pemuda itu. “Kau sepertinya tidak mengingat kekasihmu yang ada di lantai atas penginapan ini, ya? Katakan namanya lekas, aku lihat tubuhnya sangat bagus. Biar ketika aku menjamahnya, dapat kusebut namanya berulang-ulang.”
__ADS_1
“Itu bukan urusanmu.” Kala berkata dengan singkat lalu menegak tuaknya.
Menjawab dengan dingin dan menenggak tuak di hadapan orang itu dianggap sebagai penghinaan yang besar. Sang pendekar marah besar, pedangnya meluncur ke leher Kala tanpa basa-basi.
Kala memiringkan kepalanya sedikit, pedang itu hanya melintas di sampingnya. Menusuk udara kosong.
“Aku sudah katakan, jangan ganggu aku atau kalian akan menyesal.”
Kala menendang meja di hadapannya dari bawah. Meja itu terbang membentur tubuh pranor tersebut dengan kecepatan luar biasa cepat, serpihan kayu menyebar ke mana-mana setelah meja tersebut hancur.
Kala mengeluarkan pedangnya dari cincin interspatial. Ia menangkis segala serangan yang datang sekaligus menyerang balik. Pertarungan berat sebelah, tanpa disangka-sangka Kala lebih unggul!
____
Catatan:
Maaf, lama tidak update. Saya hiatus sebentar untuk mengurus novel-novel yang lebih prioritas, tetapi kini semoga saya dapat kembali sepenuhnya.
__ADS_1
Jika kamu belum membaca Sang Musafir, maka kamu bisa membacanya sambil menunggu Seni Bela Diri Sejati Update. Atas kesabarannya, terima kasih.