
“Maaf, aku tidak bisa. Tolong tinggalkan tendaku.”
Si panglima mengeluarkan aura pembunuh sambil maju mendekati Maheswari yang tersudut, tapi Maheswari bukanlah dewi yang lemah. Ia mengeluarkan aura pembunuh yang lebih besar kepada si panglima, itu cukup menekannya.
Si panglima mengepalkan tinjunya kuat-kuat lalu berbalik meninggalkan tenda. Setelah ia benar-benar pergi, Maheswari menarik semua nafsu pembunuhnya.
Maheswari bisa bernapas lega, tapi tidak dengan hatinya. Ia meringkuh di sudut ruangan sambil menangis. Ini bukanlah kehidupan yang ia inginkan.
Ia terisak tapi mencoba untuk tegar.
“Aku harap ... kita segera bertemu ... Kala ....”
***
Saat Kala masuk ke dalam gedung asosiasi, seorang pelayan perempuan cantik menghampirinya.
“Selamat siang, apa yang Anda butuhkan?”
Gedung ini begitu besar dan luas, tapi mereka masih menyuruh seorang pelayan untuk menyambut pelanggan, sungguh aneh.
“Kami ingin membeli peralatan pranor khusus perempuan. Bisa kau katakan di mana letaknya?” tanya bertanya dengan sopan.
“Peralatan spirit khusus perempuan ada di lantai ke-tiga, Kisanak. Mari aku temani.”
“Tidak perlu.” Kaia menyanggah dengan ketus. “Biar kami jalan sendiri.”
Gadis pelayan itu memiringkan kepalanya dengan heran. Kala sendiri juga heran, bahkan Alang tidak bisa berkomentar.
“Kau kenapa?” Kala berbisik pelan.
Kaia tidak menjawab, ia hanya menarik tangan Kala untuk memasuki gedung lebih jauh.
“Kau ini kenapa?”
“Perempuan itu terlalu genit kepadamu.”
“Kau cemburu?”
“Kau terlalu percaya diri. Aku hanya ingin menyelamatkanmu.” Kaia menjawab dengan acuh tak acuh.
__ADS_1
Kala tersenyum sinis pada Kaia lalu melupakan apa yang baru saja terjadi. Ia lebih memilih melihat-lihat interior di lantai pertama ini. Di lantai pertama, mereka menjual peralatan-peralatan pranor yang murah, itu untuk mencegah orang tak punya uang naik ke lantai selanjutnya. Tidak ada barang yang bisa menarik perhatian Kala di sini, bahkan cincin interspatial saja tidak ada.
Tangga penghubung ke lantai dua termasuk mewah, dengan ukiran kayu yang mengandung nilai seni serta permukaan yang halus. Mereka menaiki tangga.
Di lantai dua, peralatan pranor mahal khusus pria. Di sini banyak barang-barang mahal yang kualitasnya sangat bagus. Beberapa pranor tengah berbelanja di sini. Ruangannya luas sekali, sehingga bisa menampung beberapa kios kecil.
Kala menghentikan langkahnya dan meminta Kaia mengikuti. Ia pergi ke salah satu kios yang sepertinya menjual tanaman herbal. Si penjual duduk meja depan penerimaan pelanggan, tampangnya sudah tua dan renta tapi terlihat sehat.
“Selamat siang Anak Muda, apa yang kalian cari,” katanya ramah.
“Selamat siang, Kek. Aku ingin mencari beberapa herbal untuk membantu praktik pranor Pengumpul Prana.” Kala melirik Kaia.
“Kau datang di saat yang tepat, Anak Muda. Aku baru saja menemukan tanaman herbal berharga tadi pagi untuk temanmu itu.” Si kakek tersenyum ramah pada Kaia. “Namanya Jeruk Bulan. Kegunaannya untuk membantu Pengumpul Prana mencapai kualitas praktik yang diinginkan. Tanaman ini hanya bisa tumbuh saat bulan purnama tiba dan akan mati saat fajar menjemput, jadi Jeruk Bulan termasuk tanaman langka.”
Si kekek menunjukkan sebuah jeruk hijau yang tampangnya seperti jeruk pada umumnya. Si kekek mengatakan bahwa ia beruntung dengan cepat memetik ini sebelum mati. Kala mengerti bahwa Jeruk Bulan ini bukan herbal yang bisa dibeli dengan harga murah.
“Aku akan ambil ini, Kek. Tolong tuliskan aturan pakai dan berapa harganya?” Kala tersenyum ramah.
“Maaf, Anak Muda, harganya memang mahal, bukan karena aku yang menaikkan harganya.” Si kakek terlihat bersedih. “Seratus batu energi.”
“Baiklah.”
Kala jika dipikir-pikir, Kala bahkan belum membuka cincin interspatial warisan gurunya. Dulu, gurunya berkata bahwa cincin ini baru bisa dibuka saat ia mencapai Alam Kristal Spirit, tapi Kala menunggu momen sepi dan tenang untuk membukanya. Kala yakin ada sejumlah uang di dalamnya.
Kala mengambil uang hasil jarahannya di hutan lalu, ia meletakkan seratus batu energi di meja si kakek.
“Batu yang bagus, terima ini.” Si kakek masih tersenyum dan memberikan jeruk itu serta selembar kertas yang baru saja ia tulis.
“Baik, Kek. Sebagai ucapan terima kasih, tolong terima ini.” Kala bisa melihat bahwa si kekek ini masih berada di level Pondasi Prana, ini sungguh ironi jadi ia berniat memberikan pipa tulang rokok untuknya, mungkin dengan begitu tingkat praktiknya bisa naik.
Kala mengeluarkan tiga batang tulang dan menjelaskan cara mengkomsumsinya. Si kakek itu tentu merasa aneh dengan rokok yang satu ini, ia belum pernah menghirup tulang sebelumnya.
“Rokok ini sehat, Kek. Mungkin bisa membantu tingkat praktikmu.” Kala berpesan.
“Terima kasih, Anak Muda. Kau juga.” Si kakek menggoda Alang yang setengah tertidur di pundak Kala.
“Eaaak!”
“Apa katanya?” tanya si kakek itu.
__ADS_1
“Semoga kakek panjang umur, katanya begitu.” Kala tertawa malu.
Si kakek itu tertawa keras. Kala berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke lantai atas.
“Apa itu untukku?” tanya Kaia penuh harap.
“Bukan, untuk Alang.” Kala menjawab dengan tangkas.
Burung itu seolah senang. “Eak!”
Kaia terlihat kecewa dengan hasilnya walau ia sudah menebaknya sejak awal.
“Tentu tidak. Ini untukmu.” Kala tertawa pelan. “Alang akan aku belikan nanti yang lebih istimewa.”
“Aku sudah menebaknya,” celetuk Kaia dengan dusta.
Kala dan Kaia tiba di lantai tiga, tempat di mana pakaian feminin dan segala senjata perempuan berada. Kala berkata bahwa Kaia bisa bebas membeli apa pun di sini, asalkan tidak terlalu banyak dan mahal. Kala lebih memilih naik ke lantai empat, sebelum pergi, ia berpesan jika sudah selesai maka Kaia bisa mencarinya ke atas untuk transaksi.
Dengan riang, Kaia mulai menjelajah. Kala tidak mau berada terlalu lama di ruangan yang berbau wangi ini, ia lebih cepat menaiki tangga ke lantai empat.
Sesampainya di sana, Kala dan Alang dibuat terkejut oleh pemandangan yang tidak biasa ini. Dibandingkan lantai-lantai sebelumnya, lantai empat jauh lebih ramai oleh pelanggan sekaligus penjual. Deretan kios memenuhi lantai ini, mungkin berlanjut sampai ke lantai berikutnya.
Ada beberapa orang berpakaian petugas Asosiasi Manuk Wengi, Kala bertanya soal lantai ini ke petugas itu.
Dari penjelasan ramah si petugas, dapat diketahui bahwa dari lantai empat sampai lantai enam adalah deretan kios yang bisa disewa. Pembeli lebih tertarik berbelanja di sini sebab harga yang ekonomis serta barang yang menarik.
“Apa ada kios yang bisa disewa di sini?”
“Kisanak termasuk orang beruntung. Biasanya kios akan selalu penuh. Namun, perang menyebabkan penjual memilih berdiam di rumah, mereka baru saja kembali tapi tidak semuanya datang tepat waktu untuk menyewa kios. Ada beberapa kios di lantai lima.”
“Baiklah, terima kasih atas jawabannya.” Kala berterimakasih lalu pergi ke lantai lima.
Walau tidak terlalu ramai seperti lantai empat, di sini masih ada pembeli. Kala melihat bahwa di sebelah pojok kanan terdapat kios kosong. Ia pergi ke petugas yang ada di lantai ini.
“Wah, lumayan banyak.” Kala menggaruk pipinya setelah bertanya pada petugas soal harga sewa.
Harganya untuk satu hari adalah 500 batu energi. Kala menyiapkan uangnya, hampir semua batu energi miliknya habis, tapi ia yakin penjualannya akan laku keras.
“Eak-eak?”
__ADS_1
“Aku ingin berjualan pipa rokok itu.” Kala pergi setelah memberikan 500 batu energi.
“Eak?”