Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Bersiap


__ADS_3

Mereka mulai memakannya. Tidak pakai sendok atau alat bantu lain mereka langsung menelan semua isi mangkuk panas itu dalam tiga tegakan!


Kala masih memegang mangkuknya, ia menelan ludah dengan kasar. Sup jamu ini baru saja diangkat dari api dengan kondisi mendidih, Kala tidak mungkin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan mereka. Kala menggertak giginya sebelum mengambil sendok dari cincin interspatial.


Panji yang sudah selesai makan memandang Kala dengan heran. "Kau pakai sendok?"


"Aku tidak sehebat kalian, para pasukan khusus. Lidahku ada toleransi dengan kuah panas." Kala menjawab dengan sopan takut menyinggung cara makan mereka.


"Justru itu! Kau tinggal mengalirkan prana pada mulutmu dan segera telan sampai habis sup ini. Sup panas ini bisa menjaga suhu tubuhmu di cuaca yang sangat dingin ini."


Kala mengangguk pelan sebelum menaruh sendok di bawah. Bibirnya sudah menyentuh ujung mangkuk namun masih ragu untuk menegak. Seluruh pasukan telik sandi melihat Kala dengan penasaran.


Kala merasa banyak sorot mata yang menatapnya, ia jadi grogi lalu segera menegak sup dalam empat tegak. Mangkuk itu jatuh dari tangan Kala sedangkan kedua tangannya tetap kaku. Mata Kala berkedut sebelah, bibir dan dahinya mengernyit.


Pahit! Ini sangat pahit dan pedas! Rasa yang tidak jelas!


Melihat ekspresi Kala, semua pasukan telik sandi tertawa terbahak-bahak. Suasana tenda menjadi riuh oleh tawa lepas. Tawa lepas yang sangat merdeka dari rasa kekhawatiran akan pertempuran.


***


Kala berbaris di barisan paling ujung. Di depannya ada Yudistira beserta para pengawalnya yang baru saja selesai memberi semangat dan juga strategi. Kapten telik sandi berdiri tegap di hadapan Yudistira, kapten ini sedang menerima peta dan sejumlah benda penting, penyerahan ini sangat resmi dan kaku.


"Berkumpul di tenda sampai ada perintah untuk bergerak." Patriark memberi perintah dan segera dipatuhi para pasukan telik sandi.

__ADS_1


Saat Kala balik badan, Yudistira memanggil Kala. "Kala, kemari."


Kala kembali balik badan dan berjalan lebih dekat dengan patriark. Patriark Yudistira memberi isyarat agar para pengawal meninggalkan mereka berdua. Kala merubah ekspresinya jadi serius.


"Ada apa, Patriark?"


"Begini ...." Patriark berkata dengan gugup. "Lebih baik kau di sini saja, jangan ikut penyerangan. Aku baru saja mengetahui kalau misi ini adalah misi yang berbahaya. Mungkin akan ada korban jiwa di pihak kita, aku tidak mau kau menjadi salah satunya ...."


"Patriark khawatir secara berlebihan." Terlambat jika Kala mundur sekarang, Maheswari sudah menciumnya. "Pedangku sudah terhunus, tidak bisa ditarik lagi."


"Kala, mengertilah. Ini sangat berbahaya untukmu, sungguh. Kemampuan dirimu tidak bisa menyamai mereka para musuh. Aku dengar mereka dijaga oleh pasukan khusus juga."


"Ini tugasku sebagai Kesatria Garuda."


"Aku lebih tahu batas diriku, Patriark."


Patriark terdiam namun masih terlihat gelisah. Kala terus meyakinkannya sampai patriark akhirnya setuju.


"Kala, bawa ini. Sobek jika kau dalam kondisi berbahaya maka aku akan datang." Yudistira memberinya selembar kertas berbentuk persegi panjang kecil, kertas ini mempunyai warna emas dengan ukiran yang samar.


Kala menerimanya. "Aku akan kembali ke tenda, Patriark. Mohon jaga burungku sampai aku kembali, dan mohon juga tahan Kak Maheswari kalau dia menyusulku nanti. Jika aku tidak kembali nanti ...."


"Jangan berpikir seperti itu! Kau harus kembali!" potong Yudistira.

__ADS_1


Kala menggeleng pelan dengan senyum, lalu melanjutkan, "Jika aku tidak kembali, maka tolong tenangkan Kak Maheswari. Dan jika Patriark tidak keberatan, maka tolonglah sembuhkan burungku dan pelihara dia di Angin Utara, aku yakin dia akan berguna bagi Perguruan Angin Utara."


Patriark tidak bisa berkata apa pun, Kala kembali meyakinkannya. "Aku yakin aku akan hidup nanti, namun jika aku tidak kembali maka lakukan itu demi aku."


"Baiklah, Kala." Patriark mengangguk, sikapnya yang tenang tertutupi oleh rasa gelisah dan khawatir.


Kala mengangguk sebelum berjalan dengan tenang meninggalkan Yudistira menuju tenda. Tangannya bersilang di belakang. Bibirnya menampilkan senyum ramah nan tenang, udara dingin tidak menghalanginya.


***


Kala sudah mendapatkan satu set jubah pendek beserta celana dan kaus. Jubah ini mirip dengan pakaian sebelumnya namun jubah ini lebih hangat dan juga lebih tinggi tingkat pertahanannya, jubah ini berwarna hitam.


Dengan pakaian barunya, Kala duduk bersila di dalam tenda untuk mengisi prana. Bibirnya sedikit memutih karena udara yang semakin dingin. Pasukan telik sandi yang lain meniru apa yang dilakukan Kala, meskipun usia Kala lebih muda namun sikapnya yang dewasa membuat para pasukan telik sandi menghormatinya dan tidak ragu untuk meniru Kala.


Suara kentung dari bambu yang ditabuh terdengar menggelegar seantero tenda. Cukup jelas dan keras untuk membangunkan pasukan telik sandi yang fokus mengumpulkan prana.


Panji yang di samping Kala dengan tenang berujar, "Ini saatnya."


Jantung Kala berdebar tak karuan. Ia merasa darahnya meloncat-loncat tidak jelas. Dirinya sebisa mungkin tetap tenang.


"Baiklah, apa ini waktunya menjalankan misi?" kata Kala pelan dan dibalas oleh anggukan Panji.


Yang pertama berdiri dari posisi sila adalah kapten, dia dengan lantang berujar, "Bukan waktunya untuk bersantai! Di luar sana ada musuh yang berbuat seenaknya pada kita! Jika kita bersantai, maka yang tidak bersalah akan mati! Ini sudah saatnya kita bertaruh nyawa! Kebenaran! Setiap kebebasan diperlukan pengorbanan, dan kita adalah korbannya!"

__ADS_1


__ADS_2