
“Aku tahu.” Kaia membuka matanya pelan. “Jika aku sudah balas dendam, maka aku akan mati dengan damai.”
Kala kembali mengusap kepala Kaia pelan, gadis itu terlihat marah oleh perlakuan Kala yang menurutnya kurang ajar.
“Bisakah kau berhenti mengusap kepalaku?!”
“Gadis Kecil, ini adalah risiko karena rambutmu begitu indah.” Kala berkata demikian, tapi ia tetap menarik tangannya dari kepala Kaia. “Bisa kau dengarkan perkataanku yang akan aku sampaikan?”
Kaia mengangguk acuh tak acuh.
“Jika kau mau balas dendam, maka kau bisa mencoba skala kecilnya dulu. Dalam waktu dekat, Kastel Kristal Es akan datang ke kota.”
Kaia terlihat antusias dan tersenyum sangat bahagia. Andai orang tahu bahwa senyuman Kaia merupakan senyum sadis, bukan senyum anak kecil yang mendapatkan permen.
“Lihatlah, kau benar-benar monster!” Kala mengacak-acak rambut Kaia, membuat gadis itu berteriak marah. “Aku akan pergi sampai esok malam. Setelah itu, aku akan menjelaskan semuanya yang terjadi di sini.”
Kala keluar dari kamar dan menutup pintunya dari luar. Di luar kamar, ada dua perawat perempuan yang tadi keluar karena Kala ingin bicara, mereka bertugas menjaga Kaia.
“Aku harap kalian tidak keberatan jika harus menghiburnya dengan beberapa lelucon. Jika dia bertanya apa pun menyangkut kota dan aku, jangan dijawab. Mengerti?”
Dua pelayan itu menganggukkan kepala dengan cepat dan takut. Manusia awam seperti mereka akan ketakutan setelah melihat kekuatan Kala, dan Kala menganggap itu wajar.
Kemudian dia menemui Aditya, minta izin untuk keluar sampai esok malam. Kala berjanji akan membayar biaya penginapan semampu yang ia bisa. Setelah itu, Kala keluar dari penginapan dan menyatu dengan kegelapan malam.
***
Sesosok bayangan berdiri di atap rumah wali kota. Tepat di bawah atap yang ia pijak, anak wali kota mengerang kesakitan saat tulangnya digeser oleh tabib. Sesosok bayangan itu tersenyum lalu melancarkan aksinya.
Burung kecil yang ada di pundaknya menyemburkan api ke atap rumah hingga membuatnya bolong terkena ledakan. Suaranya ingar bingar dan membuat penjaga kediaman wali kota bergerak. Sesosok bayangan itu turun melalui lubang di atap, ia menatap anak wali kota yang syok berat beserta tabibnya.
__ADS_1
“Kau ... kau, mengapa bisa di sini?” Anak tumenggung itu terbata-bata sambil menunjuk sesosok itu.
“Kita berjumpa lagi.” Orang itu tertawa pelan.
“Bukankah kau sudah mematahkan tanganku tadi pagi? Mengapa kau datang ke sini seakan mau membunuhku?”
“Ah, maaf. Alasannya sulit dijelaskan, tapi aku harus membunuhmu.” Kala mengentak kakinya dan secara cepat sampai di samping kasur anak wali kota, tangannya terjulur dan mematahkan leher si anak wali kota.
Tabib bergerak ke pojok ruangan sambil berteriak histeris. Ia meminta ampun pada sosok yang dianggapnya sebagai setan turun dari neraka. Kala tersenyum lalu keluar lewat atap yang berlubang.
Prajurit datang beberapa saat kemudian, mereka hanya menemukan tabib yang menangis setengah gila serta anak wali kota yang sudah mati dengan mata terbuka, mereka sama sekali tidak menemukan Kala.
Pria yang berbuat itu kini berlari kencang menuju pintu luar kota, ia bergumam, “Dengan begini, dapat dipastikan kalau Kastel Kristal Es akan datang dengan marah.”
Dengan membunuh murid utama dari Kastel Kristal Es, sama saja ia mendeklamasikan peperangan. Tindakan ini gila, tapi Kala ingin Kastel Kristal Es datang dan akan mengajarkan Kaia suatu hal penting.
Kala bergerak cepat dengan ilmu meringankan tubuh menuju hutan. Alang sendiri sudah menjadi petunjuk arah dari atas langit, tubuhnya diliputi api yang membuat Kala dapat melihatnya walau malam tanpa purnama.
Ia sudah sampai di hutan, tapi ia terus bergerak menuju dalam hutan. Peringatan demi peringatan tercantum di papan lapuk, mengatakan bahwa daerah ini adalah daerah berbahaya. Makin Kala masuk ke dalam hutan, semakin sering ia menjumpai peringatan itu, sampai pada akhirnya ia tidak menjumpai papan peringatan melainkan tulang belulang.
“Baiklah, mulai di sini maka berbahaya. Aku harus waspada.” Kala bergumam pada dirinya sendiri.
Tulang belulang itu kebanyakan adalah tengkorak manusia. Itu artinya banyak harta karun yang ditinggalkan dari para penjelajah yang mati di sini. Kala singgah sebentar mengambil cincin interspatial dari tulang jari seseorang, isinya sungguh fantastis.
Luar biasa! Ada buku, senjata, emas, dan batu energi yang banyak! Mengapa tidak ada yang ke sini untuk mengambil semua ini?
Baru selesai Kala berpikir demikian, ia sudah mendengar suara gerabak-gerubuk dari semak-semak di samping kanannya. Kala mengeluarkan pedang rusaknya, lalu bersiaga penuh.
“Grroarr!”
__ADS_1
Seekor Binatang Spirit aneh muncul dari semak-semak, ia melompat tinggi dan berniat menerkam Kala. Binatang ini mempunyai ukuran persis seperti sapi, berkepala serigala tetapi mempunyai tapak kuda.
“Oh, pantas saja mereka tidak mau ambil harta karun di sini, ternyata ada hewan jelek sampai mereka enggan melihatnya.” Kala melompat mundur lalu mengelus dagunya.
Binatang spirit adalah adalah binatang yang cerdas. Mereka bisa mengerti maksud dari manusia dan hewan jenis lain. Mendengar penghinaan seperti ini, ia malah semakin marah.
“Kyaa!”
“Aku baik-baik saja Alang, dia adalah kalkun yang mudah untuk dihabisi.” Kala tertawa pelan. “Memangnya seperti apa kalkun itu?”
Hewan itu memekik sekali lagi lalu menyerang Kala. Kondisinya sedang kalut dalam kemarahan, Kala menghadapinya dengan ketenangan sehingga ini sangat mudah untuk dikalahkan.
Kala melompat mundur tiga kali lalu melompat tinggi ke atas dan menebaskan pedang ke bawah. Tepat mengenai leher serigala, kepala putus dan tubuhnya ambruk. Darah tidak keluar banyak karena potongan Kala begitu tajam.
“Tangkapan pertama.” Kala tersenyum saat berhasil mendapatkan buruan pertama.
Sesuai tujuan, ia ke sini jauh-jauh hanya untuk mengumpulkan daging dan tulang hewan. Daging hewan akan ia jual atau diberi secara cuma-cuma ke warga miskin, sedangkan tulangnya akan diubah menjadi pipa rokok.
Kala langsung menguliti hewan itu dengan cepat. Mengambil tulang dan daging pahanya, lalu meninggalkan sisanya untuk binatang lain.
Dia masuk lebih jauh ke dalam hutan dengan bimbingan Alang di atas. Semuanya terasa mudah, ia seperti memanen padi emas di sini, begitu mudah namun untung besar.
Hewan apa pun yang ditemuinya langsung dibunuh kecuali hewan yang masih kecil atau hewan betina. Ia melakukan itu sepanjang malam sampai ia menembus sisi hutan yang lain.
***
Kala menggigit daging bakar setengah gosong di tangannya. Hari sudah hampir jatuh, Kala ingin makan dulu baru kembali ke kota.
Tangkapan yang ia dapatkan cukup banyak. Bahkan dua cincin interspatial baru yang ia temukan sudah terisi penuh oleh daging dan tulang.
__ADS_1