
Kala meninggalkan mereka, tak sanggup jika harus ikut bersedih. Tirto ikut berlutut di samping prajurit itu. Kala menarik tangan Kaia dan membawanya agak jauh dari lokasi.
“Mereka adalah bangsawan dari Geowedari, mereka terlibat konflik yang rumit. Bagaimana menurutmu? Apa kita harus membantu lebih lanjut atau kita bisa meninggalkan mereka sekarang?”
Kala kemudian menceritakan alasan mengapa bangsawan Sundiro ini mau melewati jalan tikus untuk menuju kota di Pandataran.
Geowedari menumpuk pasukan di jalan utama, memutus jalan utama untuk ke Pandataran. Pasukan itu dalam kondisi siaga tempur, seakan-akan memprovokasi Pandataran untuk berperang.
Pandataran tak mau menyerah, mereka juga menumpuk pasukan di jalan utama berbatasan dengan Geowedari. Situasi sudah panas, mereka bisa berperang kapan saja.
Semua ini disebabkan oleh perebutan sebuah pertambangan batu energi di dekat sini. Awalnya wilayah ini milik Geowedari, namun berhasil direbut Pandataran sepuluh tahun lalu.
Kini, Geowedari kembali melakukan perhitungan dengan menyerang pertambangan itu. Pandataran tentu tidak terima.
“Batu energi adalah batu yang mengandung prana murni. Pertambangan batu energi jauh lebih berharga dari pertambangan emas.” Kala menutup penjelasannya.
Kaia sepertinya sudah membuat keputusan mantap sedari awal, ia mengatakannya dengan datar dan ketus. “Kita harus menolong mereka.”
Kala tersenyum pahit. Sepertinya sikap dingin Kaia sudah kembali seperti semula. Ini bukanlah suatu yang Kala bisa ubah, seseorang tidak berhak merubah sikap seseorang.
“Bukankah kita sudah menolong mereka? Jika kita terlibat lebih jauh, mungkin hidup kita tidak akan tenang.” Kala mencoba mengajarkan Kaia suatu pelajaran paling penting.
Jangan pernah terlibat dalam politik jika hatimu bersih. Kau harus mengikuti aturan di dunia politik atau kau akan mati.
“Mereka adalah manusia, kita adalah manusia.”
“Kita tidak mengetahui siapa yang benar atau siapa yang salah, Kaia. Sejarah tentang pertambangan batu spirit masih tidak jelas dan aneh.” Kala menghela napas panjang. “Kau tidak bisa begitu saja mempercayai manusia. Dan, kau tidak bisa menolong iblis.”
“A-aku ....”
“Kita akan pergi, aku akan memberikan mereka daging.” Kala menyatakan keputusan yang hanya bisa Kaia terima.
__ADS_1
Kala memberi salam kepada Tirto dan berkata tidak ingin terlibat lebih jauh soal urusan ini. Selepas selesai memberikan beberapa potong daging, Kala dan Kaia pergi.
Alang yang berada di atas udara segera turun dan hinggap di pundak Kaia. Tirto tak henti-hentinya berterimakasih ketika Kala meninggalkan mereka.
“Mengapa dia memberikan terima kasih padahal kau meninggalkan mereka?”
Kala tersenyum canggung, gadis ini dingin tapi sifatnya masih polos. Kala sepertinya harus mengajarkan beberapa hal penting tentang cara kerja kehidupan sosial pada Kaia.
“Jika kau berada di posisi mereka? Apa kau tidak akan berterimakasih setelah diberikan makanan dan diselamatkan nyawanya?”
“Aku akan berterimakasih tapi cukup sekali saja. Untuk apa berkali-kali?”
Kala tersenyum malas. “Itu karena sifatmu yang dingin.”
Kaia mendengus kesal, ia baru teringat sesuatu saat sudah menjauh dari lokasi. “Obornya!”
Kala menepuk jidatnya. Sedari tadi jalanan cukup terang, tapi itu di mata Kala bukan di mata Kaia! Saat ini, jika kembali ke sana maka suasana akan menjadi canggung!
Kala juga tidak punya kapas dan minyak lagi, ini akan buruk.
Kaia mengikuti Kala dari belakang, tapi langit yang mendung tanpa bintang menjadikan hari sangat gelap dan membuat Kaia tersandung batu. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali!
Mau tidak mau, dengan terpaksa atau sukarela, Kaia menggapai jubah Kala yang rombeng dan menjadikan itu sebagai penuntun.
Reaksi Kala sebenarnya biasa saja, tapi entah mengapa jalannya menjadi sedikit kaku dan gugup.
Mereka terus berjalan, langit sudah disertai kilatan-kilatan petir tanda hujan akan tiba. Kala memikirkan cara berteduh jika memang akan terjadi hujan, ia tidak membawa tenda dan sepertinya berteduh di gua bukan pilihan yang bagus untuk sepasang muda-mudi dewasa.
Sepertinya ini takdir dan merupakan pertolongan Tuhan, di depan san terlihat setitik cahaya kuning. Semakin didekati, maka terlihat lah jelas bangunan di depan.
Bangunan ini mempunyai tiga lantai tingginya. Dengan aksara Jawa yang terpampang di bangunan itu menandakan bahwa bangunan ini adalah penginapan yang cukup ternama.
__ADS_1
Kala pernah mendengar nama penginapan ini, Penginapan Progo. Penginapan yang luar biasa! Mereka membangun cabang di tempat-tempat yang terpencil dan kota yang besar, ini merupakan suatu yang wajar jika menjumpai Penginapan Progo di tempat terpencil ini.
Konspirasi mengatakan bahwa Penginapan Progo sebenarnya markas tentara bayaran. Mereka membangun penginapan di tempat yang tidak strategis, tapi bisa tetap berdiri bahkan untung besar. Dari mana mereka mendapatkan uang itu? Konspirasi mengatakan, penginapan hanyalah kedok saja.
Kala tidak peduli apakah ini markas tentara bayaran atau penginapan asli. Ia sangat membutuhkan tempat berteduh, bahkan jika ini adalah markas bandit ia akan mengalahkan bandit itu dan mengambil tempat berteduhnya.
Kedinginan bersama lawan jenis bukan merupakan hal yang baik.
Kala dan Kaia membuka pintu penginapan itu. Seorang pelayan yang mendengar pintu terbuka langsung menghampiri Kala dan Kaia dari dapur.
Ia menyapa dengan ramah, “Selamat datang di Penginapan Progo, sampeyan ingin menginap atau mau makan saja?”
Kala menjawab dengan tangkas. “Kami ingin menginap dan makan.”
Kala mengeluarkan dua kepeng emas yang ia punya. “Apa ini cukup?”
“Lebih dari cukup.” Pelayan itu menerima uangnya dengan ramah. “Mari ikuti saya, kamar kalian ada di lantai dua.”
Kala dan Kaia mengikuti pelayan ini ke lantai dua, mereka kemudian diarahkan ke masing-masing kamar. Kala menerima handuk hangat, teh, dan juga pakaian ganti.
Dirinya membersihkan diri, beberapa saat kemudian hujan turun dengan deras dan juga disertai guntur. Selesai membersihkan diri, Kala juga membersihkan bulu Alang kemudian bermeditasi.
Kala baru membuka matanya saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
“Tuan Pendekar, makanan sudah siap di bawah.”
Kala mengangguk pelan kepada Alang, menyuruhnya tetap di sini. Alang juga memilih untuk di sini daripada ikut makan di bawah, ia tidak terlalu berselera pada makanan yang tidak mengandung spirit.
Kala membuka pintunya, ia sudah memakai pakaian yang disediakan oleh penginapan. Di depan pintu, pelayan yang tadi sudah berdiri dengan Kaia yang di sampingnya.
Kala sampai mengedipkan mata berkali-kali saat melihat Kaia. Bagaimana ia bisa sampai secantik ini? Apakah karena ia sudah membersihkan diri?
__ADS_1
Kulit Kaia yang putih sekarang terlihat lebih bersih dari tadi, juga wajahnya sudah segar kembali. Ini luar biasa, tapi Kala tidak terlalu peduli.
Pelayan itu membawa Kaia dan Kala ke meja makan yang ada di bawah. Penginapan ini sungguh sepi sampai hanya ada mereka bertiga di sini, empat meja makan kosong.