Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Aku Punya Beberapa Tuak


__ADS_3

Sebanyak apa pun kebaikan yang diberi seseorang, jika dirinya masih mempunyai rasa dengki maka jiwanya bukanlah jiwa suci. Namun ini merupakan sifat dasar manusia untuk saling iri dan dengki ... dan Panji adalah manusia.


Mereka terus berjalan. Hidung Kala terus mengembuskan asap dingin tipis. Giginya sedikit menggigil dan langkahnya juga semakin berat. Jika bukan karena prana, mungkin dirinya sudah mati membeku.


Panji tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia mengangkat tangan sebagai tanda berhenti. Ia mengembuskan napas sebelum melihat ke sekitar.


"Musuh sudah dekat, di sekitar sini," ujar Panji pelan pada Kala di belakangnya.


Kala mengangguk pelan lalu menunduk waspada. Panji turut menunduk lalu kembali berjalan menyusuri aura prana.


Semakin Kala berjalan, maka semakin banyak butiran-butiran embun yang membeku, bahkan ada yang sampai bertumpuk-tumpuk. Pohon-pohon sedikit mengerut akibat dingin ekstrem mendadak. Suhu juga semakin dingin.


Di antara rindang dahan-dahan pepohonan, Kala bisa melihat sebuah bukit yang tidak tinggi namun cukup terjal. Di atas bukit itu sepertinya tanah yang mendatar. Tebing ini juga ditutupi pepohonan yang lebat.


"Aku merasa tebing itu merupakan sumber prana dingin ini, mari kita kembali dan melapor." Panji mengabari Kala.


"Itu baik jika kita lakukan dengan cepat, sebelum jejak kita ketahuan, alangkah baiknya kita menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk berlari lebih cepat," usul Kala.


"Ya, ya, terserah padamu." Panji memutar matanya malas menanggapi Kala.


Kala mengangguk pelan lalu menyusul Panji yang sudah jauh di belakangnya.


***


"Kemungkinan, mereka berada di atas bukit," kata kapten, "kita tidak punya banyak waktu, lekas menyerang!"

__ADS_1


Mereka semua mengangguk, juga dengan Kala. Kala memandangi batu di atas peta buatan sang kapten, batu itu diibaratkan sebagai bukit lokasi musuh. Para pasukan telik sandi diperintahkan sang kapten untuk mengepung tebing dan menyerang mereka secara mendadak.


Sang kapten juga menyuruh mereka semua tetap tenang dan selalu berpikir jernih. "Kita bukan orang babar kalau bertarung, gunakan akal jernih untuk menyerang secara cermat dan efisien."


"Ada yang punya tuak?" sahut salah satu prajurit telik sandi, tubuhnya sudah menggigil hebat.


Semua prajurit telik sandi menatap orang itu. Siapa yang cukup gila membawa tuak dalam misi? Tidak ada yang cukup gila selain Kala Piningit.


"Aku punya beberapa kendi tuak. Kau mau?"


Kini giliran semua prajurit memandangi Kala dengan tatapan kaget. Tuak memang bisa menghangatkan tubuh namun mereka tidak punya pikiran untuk meminum minuman keras dalam misi dan tidak akan ada yang mau membawa tuak dalam misi.


Kala mengeluarkan lima kendi kecil Tuak Kunyuk Gunung, ini merupakan tuak terakhir yang ia miliki. Tuak ini dibuat oleh tangan gurunya sendiri, dan Kala tidak mau minum banyak tuak karena efek yang memabukkan, sebab itulah persediaan tuak milik Kala masih banyak.


"Tidak, aku bukan pencinta tuak. Aku hanya minum tuak saat ada waktu luang saja, dan ini adalah tuak buatan guruku." Kala membuka salah satu tutup kendi.


Seketika itu juga aroma tuak yang sangat menggugah selera menyerbak, keluar dari dalam kendi dan berujung pada hidung para prajurit telik sandi. Walau mereka tidak suka tuak, namun aroma ini berhasil membuat mereka ingin minum banyak.


"Tuak ini sangat memabukkan, namun punya khasiat yang berguna bagi pranor, minum sedikit saja agar kesadaran terjaga." Kala tersenyum lembut, ia merasa berguna. "Silakan diminum."


Prajurit yang tadi menggigil hebat maju paling depan namun si kapten menghadangnya. "Biar aku coba terlebih dahulu untuk mengetahui kadar alkoholnya."


Kala menyerahkan satu kendi untuk dicicipi sedikit oleh si kapten, si kapten menerima lalu mengendus-endus bau tuak itu. Setelah dirasa cukup mengetahui baunya, sang kapten menempelkan bibirnya pada mulut kendi sebelum menegak satu tegakan.


"Hmm, aku tidak bisa mengetahui kadar alkohol hanya dengan satu teguk, aku butuh dua teguk." Kapten meneguk sekali lagi. "Ah, tidak. Aku butuh tiga teguk."

__ADS_1


Sebelum sang kapten meneguk sekali lagi, tangan Kala sudah berebut kendi itu. "Kapten, tadi kau berkata bahwa pikiran harus jernih saat bertarung nanti, lalu mengapa kau mau minum banyak?"


Sang kapten ingin membantah namun ia segera menyadari kesalahannya, ia sudah terbawa nafsu. Dengan tenang, kapten itu menyilangkan tangan ke belakang dan mengangguk pelan.


"Kadar alkohol ini cukup tinggi, minum setegak saja," ujar kapten pelan. "Dua teguk bisa membuat kalian sedikit pusing."


Empat kendi pertama sudah kosong, banyak yang minum sampai pipi mereka mengembung. Tersisa satu kendi Tuak Kunyuk Gunung buatan guru Akhza, Kala menyimpan itu dan tidak berniat meminum peninggalan gurunya itu.


"Tubuhku jauh bertenaga walau hanya minum satu teguk!"


"Aku juga! Tubuhku sedikit hangat dengan satu teguk itu!"


"Satu teguk dari mana? Jelas kalian minum lebih dari satu teguk!" bentak si kapten dengan mata melotot, dua prajurit itu hanya bisa cengengesan.


"Tuak apa ini?" tanya Panji.


Kala menjawab, "Tuak Kunyuk Gunung."


Panji mengangkat alisnya, nama tuak ini terdengar aneh. "Nama yang jelek untuk tuak yang luar biasa."


Kala tersenyum canggung, ia tidak memberi tahu kalau nama jelek itu terinspirasi darinya. Kala memilih untuk bersiap-siap tempur, mengasah kerambitnya adalah pilihan yang bagus.


Kerambit milik Kala merupakan senjata spirit pemberian gurunya, ini adalah satu-satunya senjata spirit yang tersisa selain Keris Garuda Puspa. Daripada menggunakan pedang biasa yang tidak bisa dialiri prana, Kala memilih memakai senjata yang bisa dialiri prana untuk pertempuran serius.


"Kita berangkat sekarang." Si kapten mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil memberi perintah.

__ADS_1


__ADS_2