Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Tugasku Adalah Melindungimu


__ADS_3

Harimau itu mengaum untuk terakhir kalinya, Kala beralih pada Kaia yang sudah setengah sadar.


Wajah Kaia pucat saat napasnya terputus-putus, Kala lekas menggendong tubuh gadis itu lalu mencari jalan keluar. Namun, api sudah mengurung mereka sehingga penglihatan Kala terbatas.


Di tengah kepungan api yang membara, Kala menyarungkan pedang Kala, Kala juga mendekap Kaia, berharap lidah api tidak menyentuh tubuh lembutnya. Kala juga mengeluarkan pil bom es, tapi dua yang tersisa tidak bisa memadamkan semua api.


“Kyaak!!!” Pekikan Alang menggema saat dirinya menemukan jalan keluar bagi keduanya dari atas.


Dari petunjuk Alang, Kala bisa melihat bahwa jalan yang ditunjuk sebenarnya dipenuhi api, tetapi api di sisi tersebut lebih sedikit dan bisa mengurangi risiko yang seharusnya.


Kala mengangguk mantap lalu menerjang api di depannya. Tangannya masih mendekap Kaia. Jilatan api mengenai jubah dan kulitnya. Kala terus berlari menembus api yang lain, berusaha secepat mungkin keluar dari zona panas ini.


Ia mengeluarkan napas berasap dari hidungnya saat bisa keluar dari lautan api. Tubuhnya mengalami sejumlah luka bakar ringan. Dilihatnya Kaia, tidak ada luka bakar di tubuhnya, Kala menghela napas lega.


Alang turun ke bawah dan hinggap di pundak Kala lalu mengecek kondisi Kaia. “Eak.”


“Ya, posisinya aman.” Kala mengangguk beberapa kali lalu menelan pil penyembuh. “Di sini masih belum aman, kita harus pergi menjauh.”


Kekacauan seperti ini pasti akan mengundang binatang spirit tingkat tinggi lainnya, tentu mereka tidak akan membiarkan wilayahnya dibakar sembarangan. Kala berpikir bahwa semakin cepat pergi dari sini, maka semakin baik.


Dengan kondisi Kaia yang entah sadar atau tidak, Kala harus menggendong lagi. Berat badan Kaia bukan seberapa, Kala punya banyak Prana.


***


Kala merebahkan Kaia di atas rumput nyaman di pinggir sungai segar. Matahari sudah menyibak sinarnya. Kala meluruskan kaki setelah semalaman berlari.


Hal tak terduga terjadi, Kala dikejar oleh beberapa binatang spirit kuat. Tidak bisa melawan, Kala memilih berlari. Semakin lama, semakin banyak yang mengejar dirinya. Kala menjadi pelari malam sampai mereka semua lelah mengejar Kala.


Alang terus mengirimkan bola api dari atas tadi malam. Kini ia merebahkan diri dengan sayap dan tubuh terentang ke atas. Kala memilih untuk rebahan dan tidak tertidur, setidaknya sampai paru-paru Kaia bersih dan dirinya sadar.


Saat matahari sudah mulai muncul sedikit, Kaia bangun dan memanggil nama Kala.


“Ya, aku di sini. Jika dirimu sudah bisa bangun, maka aku akan tidur.” Tanpa menunggu jawaban Kaia, Kala sudah tertidur.

__ADS_1


Kaia bangkit duduk dengan mata yang masih mengerjap. Seingatnya, ia digendong Kala menjauh dari api, ia juga mendengar teriakan Kala saat menyadari banyak yang mengejarnya.


Kini Kaia memandangi Kala dengan heran.


Pria ini tidak memiliki hubungan denganku sebelumnya. Apa yang membuatnya berani bertaruh nyawa dua kali untukku? Apa yang dia mau? Apakah karena tubuhku? Ah, tidak, jika dia mau maka ia sudah melakukannya sejak lama.


Kaia kemudian bertopang dagu dan terus memandangi Kala.


***


Saat Kala membuka mata, yang dilihat adalah Kaia yang menatapnya sambil bertopang dagu, walau Kaia buru-buru mengalihkan pandangan. Kala melihat ke samping, Alang masih tidur dengan posisi sama.


Matahari masih jauh dari ufuk tengah, itu artinya ia tidak tertidur lama. Kala bangkit duduk lalu bertanya pada Kaia.


“Apa kau menyiapkan sarapan?”


“Tidak, memangnya kau memberiku daging? Aku tidak bisa berburu.”


“Bukannya kau ada pedang?”


Kala menggeleng pelan. “Ada minuman hangat?”


Kaia menggeleng, Kala ikut menggeleng tak percaya sebelum mengeluarkan bungkusan kertas kecil.


“Di dalamnya ada daun teh kering.” Kala juga mengeluarkan panci kecil serta dua batu api. “Kau tahu apa yang harus diperbuat. Setidaknya kau bisa membayar ongkos tidurmu semalam.”


Kaia mendengkus kesal lalu mengambil semua bahan yang Kala berikan. Sedangkan Kala mengeluarkan tongkat panjang sambil menatap sungai jernih penuh batu di depannya.


Dengan Mata Garuda miliknya, tampak banyak ikan yang berenang dengan santai, tidak menyadari predator sekelas elang Garuda mengintai mereka.


***


Kala mengunyah daging ikan bakar yang ia buat sendiri, khawatir akan gosong di tangan Kaia. Alang juga mengoyak ikan yang masih mentah. Kaia, ia cemberut karena tidak diperbolehkan membakar ikan.

__ADS_1


Kala juga sesekali menyeruput teh dari gelas tanah liat. Teh pahit tanpa tebu memang ada rasa khas tersendiri apa lagi jika dituang ke gelas gerabah saat masih mendidih.


Selesai makan, Kala mengecek keberadaan mereka di peta. Semalam ia berlari tunggang langgang tanpa memikirkan arah.


Daerah yang digambar oleh peta biasanya bukit, jurang, atau sungai. Kala memang sengaja berhenti di sungai baru beristirahat, agar lebih mudah menentukan jalan nantinya.


Agak memerlukan waktu lama sampai Kala menyimpulkan lokasi mereka berada. Bahkan ia sampai harus bergerak begitu jauh ke tikungan sungai agar tidak salah mengira lokasi.


“Bereskan semuanya, Kaia. Jangan sampai penghuni hutan yang sedari tadi memantau kita jadi marah, kau pasti tidak mau berlari sendiri dikejar puluhan binatang spirit bukan?” Kala memberi gadis itu tugas.


“Lalu, tugasmu apa?” Kaia sedikit protes.


“Melindungimu.” Kala berkata tapi matanya menjelajah peta.


Mulut Kaia terbuka, seperti ingin mengucap sesuatu tetapi tertahan. Kaia menjadi salah tingkah dan tanpa protes membersihkan sisa bakaran. Kala memindahkan alat masak ke cincin interspatial milik Kaia, ia berkata bahwa selanjutnya tugas memasak akan diserahkan pada gadis tersebut kecuali apa pun yang menyangkut bakaran.


Setelah semuanya bersih, mereka melanjutkan perjalanan ke arah timur. Menurut peta, sekitar dua hari lagi ketiganya akan sampai di sebuah kota kecil Banyu Bening. Jika mempercepat jalan, mungkin akan sampai sekitar satu hari.


“Kita mau ke mana?” Kaia bertanya.


“Kota Banyu Bening, informasi mengatakan bahwa kota itu tergolong dalam masalah.”


“Berapa lama kita akan sampai?”


“Sekitar satu minggu lebih.” Kala tertawa keras dalam hati.


Perjalanan akan jauh lebih lama, Kala akan melatih Kaia. Hutan berbahaya seperti ini tidak akan Kala lewatkan. Andai saja Kaia tahu rencana Kala, mungkin ia akan mencincangnya menjadi seribu bagian.


Perjalanan terasa nikmat dengan udara segar dan dingin, walau jalan sukar dilewati.


***


“Baca ini.” Kala melempar gulungan tentang ilmu pedang pada Kaia. “Jika kau bingung atau merasa ingin mencoba gerakan, harus berada di bimbinganku.”

__ADS_1


Kala menegak air dari botol labunya, saat ini mereka tengah beristirahat siang di bawah pohon beringin yang rindang.


Akhza memberinya gulungan-gulungan tebal yang berharga sebelum turun dari gunung, tapi itu semua adalah ilmu dasar, tetap saja berharga sebab berkualitas. Bahasa yang digunakan mudah dipahami dan juga dilengkapi gambar gerakan.


__ADS_2