Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Hidupnya Tidak Akan Lama Lagi


__ADS_3

"Kala, kau harus mencari tahu tentang rahasia ini sekaligus mencapai tingkat Pondasi Prana yang tinggi." Tersenyum kecut. "Aku terlambat mengetahui ini dan buru-buru membentuk Kristal Langit. Tapi tenang hatiku, ada kau, muridku. Kau akan meneruskan impian kecilku ini."


"Guru, mohon beri petunjuk!"


"Petunjuk kepalamu!" Akhza menjitak lagi. Kebiasaannya sejak lama. "Semua yang kuketahui sudah aku berikan kepadamu! Ini bukan petunjuk!"


Kala tak terlihat kesakitan. Sudah kebal betul sejak bertahun-tahun yang lalu.


"Kala, hidupku tidak lama lagi." Akhza khidmat betul memandang langit. "Mungkin besok aku sudah berangkat."


Kala menganggap Akhza gila. Bibirnya bergetar begitu juga tubuhnya. Pandangannya menunjukkan tidak percaya. Tak mungkin. Itu perkiraan yang asal. Sangat asal. Walau Kala tahu, gurunya bisa tahu persis kapan hujan turun dan seberapa lama hujan. Kapan angin tetiba berembus. Kapan musim kemarau membakar. Perkiraannya tidak pernah meleset.


"Ah ... guru ... suka bercanda kelebihan."


"Aku serius, Kala."


"Tidak, itu hanya perkiraan yang berupa omong kosong belaka! Guru masih bisa bernapas puluhan tahun lagi!" Kala membentak. "Lihatlah! Guru masih sehat-sehat saja!"


"KALA!"


Akhza memandang Kala. Tajam. Dalam. Tatapan yang berhasil membuat Kala menunduk. Diam seribu bahasa.


"Aku ...." Kala tidak tahu harus mengucapkan apa. Berusaha sekuat mungkin agar tidak turun air matanya.


"Maka dari itu, ingat perkataanku. Jangan pernah menggunakan kemampuan Garuda sembarangan. Selalu gunakan untuk kebaikan! Jangan tunjukkan terlalu banyak kemampuanmu pada orang lain jika kau tak cukup untuk melindungi diri sendiri. Mengerti?!"


"Murid mengerti, Guru ...."


Kala tetap menatap tanah. Akhza tersenyum hangat dan mengangguk mantap. Muridnya benar-benar berbakti. Tak menyesal mengangkat murid seperti Kala. Biasanya murid-murid hanya akan durhaka pada gurunya, mengambil pusaka dan kitab jurus gurunya, itu bayangan Akhza dulu hingga ia tak mau mengambil murid.


"Hari sudah gelap. Mari kita minum tuak enak, aku rasa kau sudah cukup umur."

__ADS_1


Kala tidak bisa senang. Selama tahun-tahun terakhir ia hanya bisa menjilat bibir, melihat gurunya minum tuak setiap hari sedangkan dirinya hanya boleh mencicipinya sekali. Sekarang Akhza membolehkannya minum, tapi mengingat kemungkinan ini hari terakhir Akhza, maka Kala tidak bisa senang.


Walau tidak senang, Kala tersenyum agar Akhza senang. Begitulah.


"Baik, Guru. Aku akan minum banyak malam ini!"


"Hei! Kau tak boleh mabuk di hari selanjutnya, tapi malam ini mari kita mabuk." Akhza tertawa keras. "Aduhai, maafkan aku Tuhan Yang Esa. Aku mengajarkan muridku hal yang buruk."


Kala kembali ke gubuk buatan gurunya lalu memakai bajunya. Angin malam gunung terlalu kejam untuk yang bertelanjang dada.


Akhza menggelar tikar di tanah. Beberapa kendi tuak dikeluarkan dari cincin interspatial miliknya. Aroma tuak pekat menyebar di puncak sebelah barat Gunung Loro Kembar. Kala duduk di tikar dan menuangkan air tuak di gelasnya serta gelas gurunya.


Akhza tersenyum dan mengangkat gelasnya, untuk hari selanjutnya! Mereka bersulang bersama. Gelas tuak langsung habis dalam satu teguk.


Tuak yang enak. Kala hanya bisa membatin. Memuji kelezatan tuak ini dalam hatinya. Mulutnya kelu oleh kesedihan dan ketakutan, tak sanggup berkata-kata.


"Ini tuak ciptaanku sendiri. Namanya 'Tuak Kunyuk Gunung'," kata Akhza bangga.


"Jangan bilang aneh." Akhza tersenyum aneh. "Nama tuak ini dari KAU! Ya, dari dirimu, kunyuk gunung."


Kala tersedak tuaknya. Ternyata yang dimaksud monyet gunung itu adalah dirinya, Kala mau menangis, walau akhirnya tertawa juga.


Akhza sudah terbahak-bahak sejak tadi, suaranya dipenuhi Prana sampai-sampai menggelegar di seluruh gunung.


"Hei, orang tua! Suara tawa sumbangmu akan membangunkan kunyuk-kunyuk gunung yang sesungguhnya!" Kala berkata lantang.


Satu jitakan turun lagi di tempat yang sama. Kecepatannya seperti petir menyambar. Bukannya meringis, Kala malah tertawa lepas sambil menggosok-gosok kepalanya. Tingkah laku Kala saat mabuk seperti ini sangat mirip monyet gunung. Benar-benar nama yang cocok untuk tuak ini.


"Nah, kau memang monyet! Baru minum segelas saja sudah mabuk!" Kala tidak peduli dengan Akhza, ia mengambil satu kendi tuak dan menegaknya tanpa ampun.


Satu gelas saja sudah mabuk, bagaimana dengan satu kendi?

__ADS_1


Kala ingin mengamuk. Kendi tuaknya direbut sebelum habis. Sayang sekali saat ingin berdiri dan marah-marah, Kala marah tersungkur.


Akhza mengambil kelapa yang sedari tadi disiapkan. Memotong ujungnya. Diberi pada Kala.


"Minum. Yang ini lebih enak."


Kala melihat dan mengira itu sebagai tuak, langsung direbut dan menegaknya habis. Tempurung kelapa itu kemudian dibanting. Berkata bahwa rasa tuaknya buruk sekali.


"Apa yang terjadi?" katanya setelah kesadaran entah dari mana datang lagi. Laksana angin malam yang berembus.


Akhza hanya tersenyum lebar. Menyeruput minuman lain selain tuak kunyuk gunung. Segelas teh lebih baik. Tuak tidak baik untuk Kesatria Garuda sang pembasmi kejahatan.


"Tuak Kunyuk Gunung sangat kuat, walaupun dapat meningkatkan Prana." Kala bergumam setelah kesadaran kembali seutuhnya. "Aku tidak kuat."


Dengan masih tersenyum, ia menuangkan satu cangkir teh panas. Kala menerimanya sambil berterimakasih.


"Rasanya lumayan, ini lebih baik."


Akhza mengangguk lalu berkata lagi. "Kala, saat turun gunung nanti, lakukan kebaikan kecil sebagai pemanasan. Kalau bisa temui Tabib Maheswari."


"Bagaimana cara menemukannya? Pulau Jawa sangat luas."


"Kau adalah Kesatria Garuda, kau yang membuat cara itu." Akhza mengeluarkan sesuatu. "Dan beri ini kepadanya."


Akhza mengeluarkan sebuah batu seukuran kelingking. Warnanya hitam licin. Mengkilap diterpa sinar rembulan. Ini yang Kala kenal sebagai Batu Pesan. Batu yang bisa diisi pesan suara atau hanya tulisan. Hanya seniman bela diri yang bisa memakainya. Kala mengalirkan Prana pada Batu Pesan itu, berniat mengetahui isi pesan. Dan entah mengapa dan dari mana, tubuhnya kelojotan seperti sesuatu dalam dirinya baru saja meledak.


"Jangan buka pesan itu selain Maheswari yang membukanya!" Akhza baru mengingatkan. "Atau kau akan merasakan sensasi tersambar petir."


"Kenapa baru Guru ingatkan?" kata Kala dengan bibir kelu.


"Kau keburu dilihat!" Akhza meninggi. "Aku serius, jangan pernah sembarangan buka hal yang jadi pribadi orang lain. Tidak sopan!"

__ADS_1


__ADS_2