Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Unjuk Rasa


__ADS_3

“Eak ....”


“Kau benar, waktu kita tidak banyak. Aku harus menjadi Kesatria Garuda, dan waktu hidup Kaia tidak lama. Segala keputusan tidak boleh asal diambil.”


“Eak.”


“Menyatukan Nusantara adalah hal besar dan lama, jika mengajaknya itu sama saja membahayakannya.” Kala tertawa pelan. “Menyatukan Nusantara, ya ... itu juga seperti mustahil.”


“Kyak!”


“Baiklah! Solusi terbaiknya adalah menanyakan sendiri padanya.” Kala menyeringai. “Mari kita istirahat sampai malam tiba.”


***


Kala bersimpuh. Di depannya Kaia tertidur di atas tikar bambu. Bibirnya mengulas senyum. Badannya tidak bergerak, bahkan dadanya tidak naik turun. Ruangan ini gelap, sunyi, jangkrik enggan, dan hanya Kala yang hidup.


Pipinya basah oleh air mata yang tergantikan darah. Terus merengek tanpa henti, seperti mengejar sebuah bayangan di tengah kegelapan. Tak kunjung kesampaian atau sudah hilang harapan.


Sebuah kenyataan di depannya. Kaia mati.


“Terkutuk!” Kala melompat dari bangkunya.


Kini pandangannya tidak berjumpa dengan sosok jasad Kaia lagi, melainkan kamarnya. Alang berteriak untuk menanyakan kondisi Kala.


Kala mengatur jalan napasnya. Tadi itu mimpi. Seluruh tubuh Kala berkeringat dingin hanya karena mimpi itu, bahkan pipinya sudah berair dengan air mata. Kala tak pernah menyangka bahwa ia akan menangis hanya karena mimpi.


Sebuah kenyataan dihadapkan padanya. “Aku tidak bisa kehilangannya.”


Kala mengabaikan ingatannya tentang mimpi, ia mendelik ke jendela. Langit sudah menjingga tanda malam akan menjemput; sebentar lagi ia bisa menjumpai Kaia.


Ia berjalan menuju pintu, Alang langsung hinggap di pundaknya dengan ukuran kecil.


Sesampainya di bawah, keinginan untuk menjenguk Kaia harus tertunda. Telah terjadi unjuk rasa besar di luar penginapan. Mereka menuntut agar Kala diserahkan pada mereka.


Para penghuni penginapan sudah kembali ke kamarnya masing-masing sesuai arahan Aditya, tidak ada orang di bawah selain pelayan yang merupakan pranor.


Aditya dengan panik menyuruh Kala kembali ke atas, tapi Kala menolaknya dengan halus.


“Aditya, kau adalah pranor langka dengan Kristal Bumi. Kau harus menunjukkan kewibawaanmu kepada warga.” Kala menepuk pundak Aditya. “Ayo kita ke depan.”


Aditya mengangguk dengan patuh lalu mengangkat dagunya. Mereka membuka pintu penginapan. Langsung dihadapkan dengan gelora massa yang berteriak keras.

__ADS_1


“Ganyang warga asing itu! Dia telah membuat anak tumenggung sakit parah! Bunuh dia!”


“Bunuh dia! Gantung kepalanya!”


Begitu Kala dan Aditya keluar, mereka semua menjadi beringas. Jika aura pembunuh Kala dan Aditya tidak menekan, maka kerumunan massa pasti akan menyerbu.


Kala tidak tahu pasti jumlah lautan manusia yang ada di depannya ini. Yang pasti lebih dari lima ratus atau bahkan seribu orang. Mereka semua bersenjata, belum lagi dikawal oleh prajurit kota.


“Macam ada yang salah dengan otak mereka.” Kala menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu berteriak keras, “Diam atau kalian tidak bisa berteriak lagi!”


Sebagian massa diam, tapi sebagian lagi malah semakin marah. Kala tersenyum tipis sebelum mengeluarkan aura pembunuh lebih banyak lagi, itu cukup untuk menakuti massa dan membuat semuanya diam.


“Apa kalian tahu sikap anak pemimpin kota itu? Apa kalian tidak menyadari bahwa ia adalah monster bagi para gadis di kota?” Kala berkata dengan lantang. “Tunjuk satu perwakilan dari kalian untuk berbicara padaku!”


Tak sampai sepuluh tarikan napas, seorang pria tua maju menghadap pada Kala. Ia adalah pranor di tingkat Pengumpul Prana, di usia yang tua seperti ini merupakan kejadian tragis. Raut mukanya tenang dan sepertinya ia mudah untuk diajak berbicara.


“Pak Tua, apa kau tahu bahwa anak tumenggung itu berbahaya? Dia hampir melecehkan temanku, aku hanya membela diri.”


“Anak Muda, kau harus tahu mengenai fakta tentang anak tumenggung itu.” Pak Tua menghela napas. “Dia adalah murid utama dari Kastel Kristal Es, siapa pun yang menyakiti atau menyinggungnya maka akan dibunuh oleh Kastel Kristal Es atau atas nama Kastel Kristal Es. Jika kau tidak mati di tangan kami, maka Kastel Kristal Es akan menjemputmu ke sini. Jika mereka datang, maka para gadis kami akan dalam bahaya.”


“Kastel Kristal Es lagi ....” Kala berkata dengan geram, mengepalkan tangannya dengan kuat sampai kuku menembus kulit. “Pak Tua dan warga jangan khawatir. Aku memiliki dendam pribadi pada mereka. Jika mereka datang ke seni, maka mereka hanya mengantarkan nyawa.”


“Aku akan menjadikan temanku sebagai jaminan. Dia tidak bisa meninggalkan kota.”


“Eak?”


“Jangan beritahu ini pada Kaia atau aku akan mati di tangannya,” bisik Kala pelan lalu kembali berujar, “Penginapan Progo diharapkan tidak keberatan jika memastikan temanku tidak keluar dari kota.”


Aditya menganggukkan kepalanya pelan, Kala tersenyum. “Baiklah, apa kalian bisa bubar?”


“Bagaimana jika kau kalah dalam pertempuran?” Pak tua itu memincingkan mata.


“Aih, Pak Tua, kau sungguh merepotkan.” Kala menepuk kepalanya dan bertepatan dengan itu seluruh warga kota di depannya jatuh.


Badan mereka seperti diinjak oleh raksasa, lutut mereka tidak bisa menahannya lalu jatuh. Sebenarnya, Kala mengeluarkan nafsu pembunuh dengan teknik khusus dari gurunya, ini cukup untuk membuat mereka percaya.


“Baiklah ... baiklah ... kami harap kau tidak akan mengecewakan.” Pak tua itu balik badan sedangkan Kala mengajak Aditya kembali ke dalam.


“Aku tak percaya ini! Kau bisa membereskan masalah ini dengan mudah dan cepat! Kau luar biasa!” Aditya bersorak saat pintu penginapan ditutup.


Kala tersenyum hangat. “Bukan waktunya membahas itu sekarang. Bisa kau tunjukkan jalan ke kamar temanku?”

__ADS_1


“Ah, tentu!”


***


“Kau yakin tidak mau makan?”


Kaia menggelengkan kepalanya pelan di tempat tidur. Kala tersenyum kembut sebelum mengelus rambutnya pelan.


“Jika kau tidak makan, maka kau akan sakit lebih lama.”


“Aku tidak sakit. Obat-obat dari tabib itu yang malah membuatku lumpuh.”


Kala masih masih tersenyum lembut, bahkan lebuh hangat lagi. “Itu adalah cara agar luka-luka cepat sembuh, alias efek samping.”


“Aku tak peduli itu.”


“Ya. Kau tak akan pernah peduli pada apa pun karena kau adalah Kaia.”


Kaia mendengus kesal sebelum menutup matanya. Kala malah tertawa pelan bukannya meminta maaf; Kaia ingin agar Kala minta maaf kepadanya berkali-kali.


“Kau terlihat menggemaskan saat marah.”


“Omong kosong!”


“Hei, jangan tidur dulu. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan dan sampaikan padamu.”


“Tanyakan dengan cepat.”


Kala menarik napas dingin. “Apa kau yakin ingin balas dendam?”


“Apa perlu aku mengulangi jawabanku?”


“Jika kau memang ingin balas dendam, maka pikirkan matang-matang. Apa dengan begitu kau bisa damai?”


“Tentu ....”


“Kau yakin setelah tanganmu penuh dengan darah maka kau bisa tidur dengan nyenyak?”


Kaia menghela napas panjang, tidak menjawab pertanyaan Kala.


“Ini kenyataan pahit. Tapi, hidupmu tidak akan lama lagi. Ini semua karena Kristal Mata Iblis sialan itu.”

__ADS_1


__ADS_2