Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Selayaknya Padi


__ADS_3

“Aku yakin pasti akan laku.”


Kala membuka sendiri kios itu. Di dalamnya sedikit berantakan oleh kertas-kertas yang biasa untuk membungkus makanan. Benar-benar penjual yang tidak tahu kebersihan.


“Waktunya berbenah.” Kala meluruskan tangannya lalu mengambil sapu tradisional yang sudah tersedia di pojok ruangan.


Ada ruangan kecil lagi di dalam ruangan ini, itu bisa digunakan untuk menaruh barang dagangan atau menyiapkan sesuatu. Di sini tersedia papan untuk nama toko beserta kuas dan tinta.


Kala mulai menulis setelah ruangannya benar-benar bersih. Ia menuliskan sebuah nama toko yang aneh, “Asap Kesehatan”. Di bawah nama toko, Kala menulis sebuah tulisan kecil “Merokok untuk Panjang Umur”.


Tulisan gila, mungkin itu yang akan dipikirkan pelanggan. Namun, ini memang nyata. Rokok Kala memiliki asap kesehatan, bisa untuk meningkatkan kesehatan dan semoga saja panjang umur.


Kala memajang batang-batang tulang yang bagus di meja depan. Papan nama toko sudah dipajang, maka Kala memulai dagangnya.


Sambil bersiul, ia duduk di belakang meja. Alang beberapa kali berputar di ruangan karena bosan. Ada beberapa orang yang datang karena terpancing oleh tulisan aneh Kala.


“Heh, apa yang kau jual?” Seorang pria, perwakilan dari beberapa yang datang, bertanya pada Kala.


“Rokok sehat untuk dihirup.” Kala menjawab dengan ramah.


“Apa kau bercanda? Kau hanya memajang tulang-tulang busuk ini saja!” sembur pria itu.


“Aku akan memberikan satu batang untuk percobaan.” Kala mengambil satu batang di mejanya. Sebagai simulasi, Kala menyalakan pipa menggunakan batu api bukan dari bantuan Alang.


Kala memberikan pipa tulang yang ujungnya membara pada pria tukang sembur itu. Walau agak ragu, ia menghirup tulang selayaknya rokok biasa. Matanya melebar bahkan saat asap belum ia semburkan, lebih tepatnya ia menahan asap itu lebih lama di mulutnya!


Baru beberapa lama, ia mengeluarkan asap dari mulutnya. Ia memandangi sebatang tulang di tangannya dengan tatapan tak percaya. Teman-temannya bertanya-tanya padanya, tapi ia memilih untuk mengacuhkannya.

__ADS_1


Kala tersenyum bangga dengan masih terduduk tenang. Reaksi orang ini sudah ia duga sebelumnya, sama seperti saat ia pertama kali mencoba temuan ini.


“Apa kau punya banyak? Aku beli semuanya.” Orang itu berkata dengan cepat seolah akan mati sebentar lagi.


“Apa-apaan?!” Teman-temannya yang di belakang segera protes, apa pun barangnya ini, itu pasti bagus.


Mereka menyerbu rokok Kala dan berkata ingin mencicipinya, pria itu menjadi panik dan memaksa Kala agar menjual semua pipa kepadanya. Namun, Kala bersikap tenang.


“Jika kalian ingin mencicipinya, maka bayar terlebih dahulu. Satu batu energi untuk setiap batang rokok.” Kala memasang harga.


Walau sebenarnya harga ini terdengar mahal, bahkan satu pil dasar saja berharga satu batu energi, tapi mereka tetap mau menyerahkan satu batu untuk mencicipi rokok ini.


Setelah ujungnya membara, mereka mulai menghirup asapnya dalam-dalam. Dengan begitu, kenikmatan rasa tulang serta khasiat mereka rasakan. Hampir semuanya membuka mata lebar-lebar, kini mereka mengerti mengapa kawan mereka ingin membeli semua pipa tulang ini.


“Aku ingin beli semuanya!”


“Apa-apaan?! Berikan semuanya padaku, maka aku akan memberimu uang lebih!”


Dengan keadaan toko Kala yang tiba-tiba heboh, banyak yang mengalihkan perhatian padanya. Kala menenangkan kelompok orang ini dan berkata bahwa dirinya punya banyak Asap Kesehatan.


Kala mengeluarkan pipa lainnya dari cincin interspatial, membagikannya kepada orang-orang di depannya. Alhasil, mereka berhasil membawa pulang ratusan batang rokok masing-masing.


Kala berhasil mendapatkan ribuan batu spirit. “Hahaha, aku punya banyak uang. Kaia pasti senang jika aku belikan dia banyak barang!”


Belum selesai Kala beristirahat atau sekadar menghirup napas lega, kerumunan orang mulai memadati tokonya. Kebanyakan dari mereka adalah pria yang menggemari rokok dan meragukan kelezatan rokok Kala.


“Mereka berkata bahwa kau punya rokok unik, lezat, serta memiliki khasiat untuk praktik?”

__ADS_1


“Aku meragukan rokokmu. Beri aku satu batang.”


Kala dengan kelimpungan melayani hasrat penasaran yang kemudian berganti dengan hasrat tak terbatas untuk mendapatkan lebih banyak rokok Kala. Jika bukan karena tekanan pembunuh dari Kala, mereka tidak akan mau mengantre.


Hanya dalam setengah jam, rokok Kala habis terjual, Kala hanya menyisakan sepuluh batang untuk dirinya merokok nanti. Kala menyisakan barisan panjang yang harus bubar dengan kecewa.


Kala memperkirakan omset yang ia dapat sekitar 8.000 batu energi. Fantastis! Kala sangat senang hari ini dan berencana untuk kembali berdagang esok hari.


Saat Kala sedang membubarkan antrean, ada seorang pria sepuh lusuh yang tidak mau bubar di saat yang lainnya sudah bubar. Pria itu bersikeras untuk membeli rokok Kala.


“Berikan aku beberapa batang!”


“Sudah habis, Kek.” Kala menggaruk kepala belakangnya.


“Aku tahu kau masih menyimpan sepuluh batang! Berikan aku tiga batang!”


Tunggu, bagaimana dia bisa tahu?


Kala tersenyum canggung. “Kakek pasti orang sakti. Aku memang menyimpan sepuluh batang, tapi itu untukku sendiri.”


“Tidakkah kau mau berbagi dengan pria tua ini?”


Kala menghela napas panjang lalu mengeluarkan lima batang tulang. “Ambil saja lima batang ini, Kek. Semoga kau panjang umur dengan pipa-pipa ini.”


Si kakek itu menerimanya dengan senyum lebar dan berniat mengambil batu dari kantung tas lusuhnya, tapi Kala segera menghentikannya.


“Tidak perlu membayar, anggap saja ini sebagai hadiah.” Kala melambaikan lengannya.

__ADS_1


“Kau anak yang baik. Aku akan memberimu petuah bijak sebagai pembayaran.” Si kakek tersenyum hangat. “Selayaknya padi. Semakin berisi, semakin menunduk. Jika kau sudah berisi, tundukkan kepalamu dan lihatlah tanah.”


Sepuh itu menepuk pundak Kala lalu berjalan dengan kaki rapuhnya. Kala terpatung dengan pandangan kosong dan dahi mengernyit, kata-kata itu sederhana tapi maknanya sangat dalam.


__ADS_2