Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Sepertinya Mereka Tidak Tahu Bahwa Dagingmu Sangat Dingin


__ADS_3

“Hahaha, tenang, aku sudah mencincang mereka semua.” Kala tertawa keras sebelum menyadari sesuatu.


Kasurnya terbakar! Tubuh Kala memang tidak terkena efek panas dari api di tubuh Alang, tapi tidak dengan kasur yang Kala tempati. Ini benar-benar terbakar!


Kala meloncat dari kasur dan Alang memadamkan api di tubuhnya. Kala mengeluarkan pil berwarna biru transparan lalu melemparkannya kuat-kuat ke arah kasur, pil ini juga yang pernah membuat Kaia menggigil saat awal pertemuan.


Asap putih dingin menyeruak, Kala melemparkan satu pil lagi, asap bertambah banyak. Seisi ruangan mendadak menjadi dingin, asap mulai hilang dan api sepenuhnya padam, tapi kasur Kala hanya tinggal kerangka akibat panas api Alang.


“Untung kasur itu terbakar, atau tidak aku akan tertidur terus di sini.” Kala menyadari bahwa kakinya sebenarnya bisa berdiri tapi Kala terlalu bersantai, ia menggaruk kepalanya.


Pintu terbuka dengan Kaia yang membawa tongkat bambu panjang. “Apa yang terjadi? Kenapa begitu dingin?”


Mata Kaia melihat kerangka kasur yang gosong lalu pandangannya berhenti ke Kala, seolah minta penjelasan.


***


Kala bersandar di batang pohon yang rindang, bersebelahan dengan Kaia. Tangannya meraih topeng yang menutupi wajahnya.


“Nah, begini lebih baik.” Kala menutup matanya dan mengadah ke atas.


Mereka bertiga berada di luar kota. Kala yang memakai topeng memudahkan mereka pergi menjauh. Sosok Alang sebagai pendamping Kala juga sudah menyebar, Alang harus menyamar menjadi burung pipit dan berbaur dengan mereka. Kaia juga membeli topeng dan mengganti bajunya.


“Ada satu hal yang ingin aku sampaikan,” kata Kaia dengan ragu.


“Katakan saja.” Kala menjawab saat matanya masih tertutup.


“Si manajer dari asosiasi mendatangiku empat hari lalu, ia menyerahkan sarung pedang yang kau pesan. Aku berjanji akan membayar semuanya jika kau sudah sadar ....” Kaia berkata dengan rasa takut dan bersalah berlebih.


“Itu saja? Mengapa kau begitu takut?” Kala mengibaskan tangannya lalu sekantung muncul dengan penuh batu energi.


“Aku tidak ingin menghabiskan uangmu, aku hanya ingin agar kau mempekerjakan aku lalu diberi upah. Aku akan membayar dengan kemampuanku sendiri.”


“Yang perlu kau lakukan hanyalah menjadi Kaia yang aku kenal. Lagi pula kita tidak bisa berlama-lama lagi di kota, banyak yang harus kita lakukan. Aku peringatkan agar kau meneguhkan hati karena jalan yang aku tempuh penuh dengan darah.” Kala menyodorkan sekantung batu energi itu. “Ini adalah gaji pertama untukmu.”

__ADS_1


“Aki tidak ingin merepotkanmu.” Kaia menyanggah.


“Kau berada di bawah tanggung jawabku. Ini adalah kewajibanku, lagi pula aku senang ada teman seperjalanan.”


“Eak!”


“Tentu Alang, kau adalah teman seperjalanku yang pertama.” Kala mengelus Alang di pundaknya.


“Eak, eak eak eak. Eak eak, kayk keak.” Alang sedikit berbisik agar tidak didengar Kaia.


“Hm? Kata Alang, kau menangis histeris saat melihatku bersimbah darah dan tak sadarkan diri. Juga kau selalu menungguku di kamar siang dan malam sampai lupa makan? Bahkan saat Alang datang ke kamarku, kau mengutuk dirimu sendiri yang menyebabkan semua ini?”


“Itu ... itu ....” Kaia langsung tergagap.


“Apa kau sudah makan?” Kala menyanggah.


Kaia menundukkan kepalanya lalu menggelengkan kepala. Kala tersenyum lembut lalu menjelaskan bahwa pranor pemula seperti Kaia masih belum bisa menggunakan Prana sebagai makanan.


“Eak, eak eak eak!”


Setelah Alang berbicara seperti itu, Kala dan Kaia saling tatap sebentar.


Yang tadi Alang ucapkan membuat mereka menjadi canggung, “Aku ingin melindungi Kala tapi juga tidak bisa meninggalkan Kaia, selalu bersama agar aku bisa melindungi kalian sekaligus”.


***


Kala tengah memastikan semua barangnya tidak tertinggal di sini, sedangkan Kaia tengah mengantarkan uang ke Asosiasi Manuk Wengi. Aditya tengah membujuk Kala untuk tinggal di sini lebih lama, tapi Walageni mempersilakan Kala pergi mengingat tugasnya. Kala juga mempersiapkan peta dan juga medali pengenal.


Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal dan Kaia sudah kembali, Kala berpamitan. Mereka berada di depan pintu kota setelah berhasil menyamar.


“Jaga dirimu baik-baik, Anak Muda, Laskar Progo tepat di belakangmu.” Walageni menepuk pundak Kala.


“Terima kasih, Pak Tua.” Kala beralih pada Aditya, tapi ia menahan sejenak.

__ADS_1


Aditya masih terkejut dan tidak bisa mencerna apa yang terjadi. Ada dua fakta yang baru saja ia ketahui. Kala ternyata benar Kesatria Garuda sesuai rumor yang beredar dan Kala sudah mengetahui tentang Laskar Progo.


“Hei, Kawan. Aku harap kau tidak terlalu merendah mengingat pencapaianmu yang tinggi dan langka. Aku akan pergi, tapi aku tidak akan pernah melupakan segala bantuan dan kebaikanmu. Jika ada umur, kita akan bertemu lagi.” Kala menepuk pundak Aditya.


“Ah, tentu. Terima kasih banyak telah mengalahkan Kastel Kristal Es, itu sangat berarti.”


“Ah, itu hanya masalah yang aku perbuat, jadi sudah kewajibanku untuk menuntaskannya.” Kala melambaikan lengannya. “Kalau begitu, kami akan pergi.”


Mereka bertiga melangkahkan kaki menjauh dari pintu kota. Kala dan Kaia melepas topengnya dan bernapas lega.


“Ke mana kita selanjutnya?” tanya Kaia.


“Ke mana pun.” Kala menjawab dengan enteng. “Kita akan memberantas kejahatan, kemiskinan, dan membunuh tukang korupsi, itu akan menyenangkan.”


Kaia merekatkan tali pedang yang melingkar di badannya. “Tapi dendamku masih belum tuntas.”


“Aku tidak bisa mengutamakan dendammu, kau tahu aku adalah Kesatria Garuda. Fokusku adalah menemukan cara agar Kristal Mata Iblis itu hilang dari tubuhmu.” Kala berkata dengan penuh tekad.


“Namun, bagaimana jika aku akan tetap mati dan dendamku tidak terbalas?”


Lagi-lagi Kaia membahas itu, tapi Kala menahan amarahnya sebab ia tahu bahwa dirinya yang pertama mulai. Kala menarik napas untuk mengontrol emosi.


“Kastel Kristal Es akan selalu membuat masalah, suatu saat nanti kita akan bersinggungan dengan mereka. Jika mereka terus membuat ulah, aku akan melenyapkan perguruan itu.” Kala tersenyum lembut lalu berkata, “apa kau puas dengan jawaban itu?”


Kaia mengangguk pelan tanda mengerti. Alang mendarat di pundak Kaia untuk memberi beberapa motivasi. Kala memilih untuk menghisap pipa agar perjalanan lebih bisa dinikmati.


Jalan yang mereka lalui membelah Hutan Telu, berbatasan langsung antara Geowedari dan Pandataran. Jalanan di sini termasuk berbahaya sebab bukan melalui jalur utama, binatang spirit dan perampok adalah faktornya. Bagi manusia biasa, berjalan di jalan ini tanpa pengawalan merupakan tindakan bunuh diri terkonyol.


Hal-hal itu membuat jalanan ini sangat sepi dan minim perawatan. Banyak ilalang di tengah jalan dan terkadang terdapat pohon tumbang yang menghalangi jalan. Kala juga merasa bahwa jarang ada yang berburu di sini, dibuktikan ada banyak tatap mata yang menatapnya dengan buas.


“Aku merasa tidak enak, aku rasa hutan ini berhantu.” Kaia menggosok leher belakangnya dengan pandangan was-was.


“Bukan hantu, tapi ada banyak binatang buas yang menatapmu. Sepertinya mereka tidak tahu bahwa dagingmu sangat dingin.” Kala tertawa pelan.

__ADS_1


__ADS_2