Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Berlatih di Hutan Akar Ireng


__ADS_3

“Patriark, aku tidak pernah menyangka ini.” Kala tersenyum lembut. “Niatmu tidak setimpal dengan keuntungan yang kau peroleh nantinya. Dan yang pasti, itu baik untuk sesama. Maafkan aku Patriark, tapi sepertinya aku akan merepotkan kalian dengan menetap latihan di sini.”


Patriark Dewananda berbalik dengan gembira lalu memeluk Kala erat sebelum melepaskannya. “Terima kasih, Kesatria Garuda! Golok Emas akan sangat terhormat melayani Anda!”


***


Setelah selesai makan malam, Kala langsung kembali ke bangunan di mana kamarnya berada. Tapi ia tidak ke kamarnya, melainkan ke kamar Kaia. Ia banyak berpesan dan memberikan banyak uang dan buku.


“Besok aku akan mulai latihan tertutup. Mungkin akan jarang menemuimu dan Alang, tapi yang pasti aku akan menemui kalian beberapa pekan sekali untuk memberi perbekalan.” Kala juga mengeluarkan batu spirit yang melimpah. “Kau bertugas memberi makan Alang.”


“Bagaimana jika aku ada kepentingan mendesak?” tanya Kaia.


“Misalnya?”


“Kehabisan uang, lapar, atau merasa tidak nyaman pada lingkungan.”


Kala tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. “Itu tidak perlu.”


“Aku akan tetap menemuimu!” Kaia membentak keras dengan marah, tapi Kala malah tertawa sambil mengacak-acak rambutnya.


“Berlatihlah dengan giat. Jangan merindukanku.” Kala dan Alang pergi sambil cekikikan sedangkan Kaia menutup pintu kencang-kencang.


***


Di pagi buta, Kala berpamitan dengan Alang.


“Alang, jaga Kaia. Jangan sampai ia terkena masalah, atau aku akan menghukummu.” Kala berkata serius.


Alang mendengkur sambil menggosokkan kepalanya pada Kala sebelum pemuda itu melompat dari jendela.


Kaia menunggu di depan pintu Kala dengan gelisah, ia sudah menunggu semalaman. Berharap saat Kala akan pergi, ia masih bisa melihatnya sekali lagi. Saat ia memberanikan diri mengetuk pintu, sahutan Alang yang menjawab. Kaia membuka pintu, tidak ada Kala di kamar. Jendela terbuka dengan tirai yang berkibar diterpa angin dingin.


“Dia sudah pergi.” Kaia merasa menyesal tidak mengetuk pintu lebih awal, setidaknya ia harus melihat senyum Kala sekali.


Kala dapat mendarat dengan tidak mulus di permukaan tanah. Setelah terjun dari tingkat yang tinggi, sedangkan ilmu meringankan tubuh miliknya masih belum bagus, alhasil tanah retak dan kaki Kala kesakitan.


Ia berjalan sedikit pincang ke bangunan patriark. Di sana, Patriark sudah menunggu tepat di depan pintu bersama empat pranor kemarin. Tampaknya mereka sudah menunggu Kala.


“Kesatria Garuda, mereka akan mengantarkanmu ke Hutan Akar Ireng sekaligus menjadi pelindungmu. Di sana tempat yang bagus untuk berlatih keras.”


Kala menghentikan langkahnya setelah mendengar kata Hutan Akar Ireng. Itu adalah hutan legendaris, dikenal karena keangkeran dan tingkat bahaya yang tinggi di sana. Pohon-pohon di sana seakan menghitam dan berbisik. Akar-akar pohon yang besar menyembul dari tanah, membuat siapa saja yang berlari ketakutan akan tersandung lalu mati dimakan tumbuhan-tumbuhan aneh.


Tidak ada yang cukup bodoh untuk ke sana, bahkan pranor tingkat Alam Formasi Spirit dan Alam Roh Prana tidak mau bermain-main di sana.


“Itu ide buruk, Patriark,” kata Kala gugup, “aku kira aku akan berlatih di sini, di dalam kawasan Golok Emas.”


“Ya! Memang benar. Orang-orang hanya akan tahu bahwa kau sedang latihan tertutup di sini, tapi sebenarnya kau berlatih di Akar Ireng.”


Kala meneguk ludahnya, sambil meyakinkan diri bahwa itu yang terbaik.


Hutan Akar Ireng berbatasan dengan Hutan Telu dan Cawan Merah serta berhadapan langsung dengan laut di utara. Jaraknya cukup jauh jika dari sini, mereka harus menyeberangi sungai yang dulu Kala lalui. Setelah itu mereka harus melewati jalan yang dibuat entah oleh siapa, yang pasti jalan tersebut berada di tepi sungai tanpa masuk ke dalam hutan.


Saking anehnya ada jalan di sana, Kala membuat gurauan: Jalan itu untuk memancing! Meskipun itu sangat gila memancing ikan di sana.


“Kalian bisa berangkat sekarang. Aku sangat sarankan kau membawa perbekalan, Kesatria Garuda,” ucap Patriark.


Kala tersenyum canggung saat menyadari tidak membawa tas sama sekali, tentu ia masih punya cincin interspatial yang bisa bekerja. Namun, mereka tidak mengetahui itu dan sebaiknya tidak pernah.


“Aku kira aku hanya latihan di sini.” Kala menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


“Biar kami yang membawa perbekalan Kesatria Garuda, Patriark. Kita bisa berangkat sekarang, perbekalan cukup banyak dan di Hutan Akar Ireng.”


“Baiklah jika begitu. Ada pesanku sebelum kalian pergi. Empat telik sandi harus meninggalkan SEGALA BENTUK IDENTITAS Golok Emas, termasuk topeng yang harus dilepas! Dan satu lagi ....” Patriark menurunkan suaranya, lalu melanjutkan, “kalian harus berkenalan.”


“Kami mengerti, Patriark.” Mereka serentak membuka topeng. “Kami mohon tarik diri.”


“Monggo.” Mereka pergi setelah Patriark Dewananda mempersilakan.


Mereka melesat bagai angin meninggalkan Perguruan Golok Emas, dan baru berjalan santai saat sudah jauh dari kawasan.


“Kesatria Garuda, kami harus memperkenalkan diri.” Seseorang yang Kala kenal sebagai Djimas membuka obrolan. “Aku Djimas Adisakti, tapi panggil saja aku Djimas sebab temanku bernama Adisakti.”


“Aku Adisakti yang dimaksud Djimas. Panggil aku Sakti,” kata orang dengan rambut ikal panjang dan berkumis.


“Aku Saka.” Seorang dengan luka panjang di pipi mengenalkan diri dengan singkat.


“Dan yang terakhir, Dharma.” Kali ini Djimas mengenalkan orang yang terakhir, yang kelihatan paling muda dari yang lainnya. “Dia agak sedikit pendiam.”


Pria muda yang pendiam itu terlihat marah sambil menatap Djimas tajam, Djimas tertawa sebentar sambil meminta maaf.


“Aku hanya bercanda, dia bisu.”


Kala melihat heran si pendiam, ia tampak puas dengan penjelasan Djimas. Orang yang selama ini Kala kira orang tak waras akibat perang dan sarkasme sampai-sampai enggan berbicara, ternyata adalah orang bisu. Sebuah kebanggaan dapat Kala rasakan, memberitahu kebenaran pahit tapi Dharma senang, sebuah sifat uang menjunjung tinggi nilai kejujuran.


“Dan kalian harus berhenti memanggilku ‘Kesatria Garuda’.” Kala tersenyum. “Kalian sudah meninggalkan semua lencana Golok Emas, itu artinya kalian tidak sedang bertugas dan status kalian bukan bagian dari Golok Emas, Patriark telah mengeluarkan kalian dari perguruannya. Nah, dengan begitu, panggil aku Kala sebab kita adalah teman.”


Mereka tidak tahu harus senang atau sedih, yang pasti sekarang mereka memang dikeluarkan dari Golok Emas. Sayangnya, mereka baru mengetahui itu.


“Tenang saja, hanya sementara,” tambah Kala setelah melihat perubahan ekspresi keempatnya.


Mereka melewati bukit-bukit gunung yang tinggi dan indah. Menuruni lembah dan melompati jurang. Sakti sesekali mengambil biji kering pinus atau biji pohon lainnya.


“Kau kembali melakukan kebiasaan lamamu, apa hebatnya biji-biji itu?” tanya Saka.


“Dan apa masalahmu? Aku sedang tidak bertugas,” katanya ketus, Kala hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa pelan melihat mereka.


Mereka baru berhasil meninggalkan bukit-bukit yang tinggi itu sesaat sesudah malam menjemput. Mereka memutuskan istirahat, membangun api unggun. Tidak ada makanan kali ini, mereka adalah pranor tingkat tinggi yang bisa menahan lapar dengan Prana walau rasanya tidak enak.

__ADS_1


Mengeluarkan Keris Garuda Puspa, membolak-balik keris tersebut untuk melihat ketajaman mata keris sebesar pedang itu.


“Bagaimana? Apa perlu kita melanjutkan perjalanan?”


“Ya, aku rasa, tentu kita bukan anak kecil lagi yang sedikit-sedikit tidur, sedikit-sedikit istirahat, sedikit-sedikit lelah.” Saka memberi usulan.


“Keputusan ada di tangan Kesatria Garuda.” Djimas menengahi.


Kala memasukkan kembali keris pada sarungnya. “Kita lanjutkan malam ini, lagi pula itu bukan hal yang buruk berjalan di atas bintang-bintang.”


Mereka serentak mengangguk, menyiapkan obor lalu berjalan di balik kegelapan malam dan bayang-bayang bintang serta bulan sabit.


Bahkan dalam kegelapan malam, Sakti masih sempat-sempatnya mengambil biji.


“Sudah aku bilang apa, di malam hari lebih bagus.” Sakti tersenyum lebar sambil mengusap-usap biji pinus mengkilap itu.


“Suatu hari nanti, aku akan buang semua biji-bijimu!”


“Dan aku juga akan membuang bijimu!”


“Aku tidak punya ....”


“Hentikan candaan kalian yang tidak pantas di depan Kesatria Garuda!” bentak Djimas.


Kala hanya bisa tersenyum, pandangannya terus tertuju ke depan, di mana kegelapan menyelimuti pepohonan. Memang bukan waktunya untuk dirinya bercanda, tapi sedikit candaan bukan masalah.


Semalaman berjalan bukan masalah bagi mereka, hanya sedikit kelelahan. Mereka kembali beristirahat sebelum matahari menjemput. Kali ini mereka mendapat kelinci lucu kecil yang sayangnya harus dibakar untuk camilan. Kala tidak makan, ia memilih bermeditasi untuk mengambil sebanyak mungkin Prana.


“Rasa Prana di sini berbeda, tanaman herbal di sini.” Kala membuka matanya lalu menarik keris.


Mereka melihat Kala, curiga ada bahaya yang mengintai.


“Tidak ada bahaya, Kawan-kawan. Aku akan kembali lagi.” Kala masuk ke dalam semak-semak.


Tiga pranor itu ingin mengikuti Kala, tugas mereka melindungi Kala, tapi Djimas menahan mereka.


“Apa yang kau pikirkan? Kau tak ingat tugas kita?”


Djimas menggeleng pelan sambil memandang kosong tubuh Kala yang menjauh. “Dari geraknya yang perlahan, ia menyelinap dan bersembunyi. Mengikutinya malah akan berbahaya, bisa jadi dia mau buang hajat. Lagi pula kita sudah dibebastugaskan.”


Kala terus melangkah di antara semak belukar dan pepohonan yang tinggi. Rasa dan aura yang tadi semakin kental. Tanaman herbal itu semakin dekat. Namun, aura itu tetiba menjauh dengan cepat.


“Apa pun herbal ini, sangat berharga!” Kala mengikuti aura itu.


Kaki Kala berhenti, ia menunduk lalu menyentuh tanah sebelum memandang ke sekitar. Aura yang ia rasakan sudah menghilang, atau mungkin tanaman itu sudah menjauh. Kala tidak bisa melanjutkan pengejaran atau ia akan tersesat di hutan.


Kala menghela napas panjang lalu berbalik.


Saat Kala kembali, keempat pranor dari Golok Emas memandangnya dengan heran dan khawatir.


“Itu menandakan,” kata Djimas, “Akar Ireng sudah dekat ....”


Kala duduk bersandar pada batang pohon sambil memandang api di depannya. Sedikit berbincang dengan mereka tentang arah dan bahaya di Hutan Akar Ireng. Katanya, Akar Ireng adalah rumah bagai tumbuhan-tumbuhan pemakan daging dan tempat siluman-siluman mengerikan yang fasih berbahasa manusia. Jauh lebih mengerikan dari Hutan Telu.


“Saat ini Cawan Merah adalah hutan paling aman di daerah Pandataran-Geowedari.” Djimas menutup penjelasan.


Mereka melanjutkan perjalanan walau saat matahari meninggi. Hutan terlihat ceria dengan segala burung-burung yang pergi dari rumah. Atau ayam hutan yang lari ketakutan saat melihat lima manusia. Atau tupai yang mencari perhatian pada si betina dengan suaranya yang keras.


Siang berlalu dengan cepat, kini burung-burung yang semulanya mencari makanan sudah kembali ke rumah, mungkin untuk menceritakan kisahnya di langit pada anak-anaknya.


Bayangan pohon rubuh dan memanjang diterpa sinar mentari kuning-merah.


Semak-semak meninggi saat mereka hampir sampai pada hutan tujuan. Membutuhkan sedikit usaha menebas saat mereka menembus semak-semak, sampai akhirnya mereka menemukan sungai besar. Di seberang sana, terlihat hutan gelap yang sangat sunyi.


“Kita sampai.” Djimas menghela napas lega, atau lebih tepatnya napas ketakutan. “Selama hidupku sebagai penjelajah, aku tidak pernah menyentuh sejengkal tanah Hutan Ireng.”


“Itu artinya kau belum pantas disebut penjelajah.” Kala langsung menceburkan diri ke sungai.


Walau arus sungai terlihat sangat tenang dari atas, nyatanya di dalam arusnya sangat kuat. Kaki Kala seakan ditarik ke bawah dan ke samping, tai kepalanya masih bisa berada di permukaan. Dengan usaha penuh, tubuhnya perlahan bergerak ke seberang sungai sedangkan empat pranor di belakang baru selesai melepas tas.


Sungai yang lebar ini seakan memanjang, Kala sangat sulit menggapai seberang dan ia merasa dimata-matai dari dasar sungai. Ia semakin mempercepat kayuhan kakinya.


Kala berhasil menggapai tanah hitam tepi sungai setelah perjuangan panjangnya. Ia menarik diri sambil berteriak kencang sebelum merebah di atas tanah hitam Akar Ireng.


Empat pranor juga sampai tak lama berselang, Kala berdiri dan membantu mereka naik.


“Sampailah kita pada Akar Ireng, hutan legendaris itu!” Sakti bersorak. “Hanya sedikit orang yang pernah ke sini!”


“Jangan senang dulu, Sakti.” Djimas menyanggah sambil mempererat tasnya. “Ada yang sering ke hutan ini, walau hanya pinggir sungai saja.” Djimas menunjuk jalan setapak yang ada di depan mereka.


Kala hanya bisa tersenyum melihat mereka yang kebingungan. Siapa yang cukup gila berada di Akar Ireng selain Mahanta? Sang penguasa Hutan Telu itu sudah lama ada di sini.


“Lebih baik kita masuk sebelum matahari terbenam, bukankah itu akan sangat menyeramkan?” Kala memberi usulan.


“Ide bagus, Kesatria Garuda, tapi sepertinya kita butuh bermalam di tepi hutan seperti ini. Lebih berbahaya jika kita berada di dalam.” Djimas membantah Kala secara sopan. Kala menganggukkan kepala.


Keempatnya mengeluarkan buntelan dari ikatan tas, lalu menggelarnya di tanah yang bidang sebelum rebah di atasnya. Kala tidak membawa alas tidur, dan mereka hanya membawa empat alas tidur, alhasil Kala hanya bermeditasi walau Djimas sudah menawarkan alas tidur miliknya.


Malam menjemput, keempat pranor dari Golok Emas itu sangat ketakutan sehingga memilih tidur cepat. Kala dalam posisi setengah sadar selama malam yang sunyi itu, sebelum akhirnya membuka sebelah mata untuk melihat seberang sungai sana di mana Hutan Cawan Merah berada.


Sepuluh tubuh hitam dengan kepala bertanduk berdiri tepat di pinggir sungai seberang sana. Kala mengeluarkan nafsu pembunuh yang sangat kuat, melebihi yang ia bisa, diarahkan langsung pada sepuluh bayangan bertanduk itu.


Tidak ada yang berani bergerak, bahkan Kala juga tidak bergerak sama sekali kecuali dadanya yang naik turun tenang. Sepuluh bayangan itu mengeluarkan jeritan yang sangat menakutkan, menggetarkan makhluk hutan yang tertidur tenang. Setelah menjerit, mereka masuk kembali ke dalam gelap Hutan Cawan Merah, tepat setelah empat pranor dari Golok Emas terbangun.


“Ada apa?!” Mereka meraih golok, menghunus ke segala arah.


Kala tetap dalam posisi bersila. “Mereka datang, tapi sekarang sudah pergi.”

__ADS_1


Mereka berubah menjadi sedikit ketakutan mendengar hal itu, belum lagi Kala menambahkan bahwa jumlahnya ada sepuluh. Mereka ketakutan hampir setengah mati.


“Tidak, tidak, ini tidak benar.” Sakti ketakutan. “Jika kita dikejar-kejar di dalam Akar Ireng nanti, maka hasilnya akan sangat buruk!” Ia meraih tasnya dan menyarungkan golok dengan ketakutan. “Kita harus pulang!”


“Lalu apa gunanya kita sudah berjalan jauh ke sini?!” Saka protes walau sebenarnya ia ketakutan.


“Apa kau mau mati ketakutan di sini?! Apa kau mau mayatmu menjadi makanan pemakan bangkai?! Kita adalah telik sandi! Kita berhak mendapatkan kuburan yang baik jika mati, bukan menjadi makanan hewan!”


Saat emosi mereka mulai memuncak, Dharma turun tangan melerai. Djimas menghela napas panjang sebelum memandang Kala.


“Keputusan ada di tangan Kesatria Garuda,” katanya lalu membuang pandang.


“Yah, kita berada di sini untuk latihan. Dan mereka bisa menjadi bahan latihan.” Kala berkata dengan tenang.


“Sudah diputuskan,” cetus Djimas. “Masuk ke Akar Ireng besok pagi.”


Posisi Djimas sebagai pemimpin membuat tiga pranor tersisa hanya bisa patuh. Mereka kembali tidur setelah Kala janjikan keselamatan dan pengawasan.


***


Matahari meninggi dari ufuk timur, mereka berkemas dengan sedikit sarapan sup daging kering hari ini, mereka makan hanya beberapa potong daging dan segelas air sambil berdiri sebelum melanjutkan jalan.


Setelah keluar dari area jalan setapak, hutan bertambah seram. Akar-akar hitam mencuat dari tanah hitam yang berbau busuk; hutan sunyi bahkan suara langkah kaki menggema; tidak terlihat hewan lain selain serangga besar.


Kala juga merasa ada banyak mata dari pepohonan yang menatapnya dengan kebencian, atau mungkin pohon itu punya mata. Yang pasti, hutan ini tidak senang akan keberadaan mereka semua.


Semak belukar hijau yang biasanya mereka temui di hutan juga sudah tak terlihat di sini, menjadikan lahan sedikit lega. Namun, tetap saja rapat dan gelap oleh pohon-pohon hitam yang menjulang tinggi.


Meskipun suasana hutan yang sangat menyeramkan, Kala tahu bahwa hutan ini adalah kebun harta karun. Ia bisa merasakan aura yang biasanya dikeluarkan herbal berharga dan juga berusia tua, tapi arahnya tidak bisa diketahui. Jelas-jelas bahwa herbal di sini memiliki kecerdasan di atas rata-rata dengan kemampuan yang luar biasa juga. Sungguh mengerikan mengetahui bahwa tumbuhan bisa berpikir cerdas, tapi itu kenyataannya.


Kala tidak menemukan bahaya dari hewan hingga saat ini, atau mereka yang sangat lihai menyembunyikan diri. Kala tidak tahu itu, yang pasti ia datang ke sini baru beberapa saat dan belum membuat kerusakan besar.


“Aku akan bertapa, jadi kita akan berada di tempat yang tenang. Dan kemungkinan aku hanya akan bertapa sampai berbulan-bulan.” Kala membuat alasan, sebenarnya ia ingin membaca gulungan-gulungan dari gurunya.


Mendengar itu, mereka mengerutkan dahi. Dikiranya akan menantang bahaya di sini, dengan adu tanding bersama tumbuhan menyeramkan Akar Ireng, tidak pernah mereka menyangka akan berakhir duduk bertapa.


“Baiklah jika itu kemauan Kesatria Garuda, kita akan temukan tempat nyaman dan tenang.” Djimas tidak punya pilihan.


“Jangan panggil aku dengan sebutan itu, kumohon!” Kala mendesah.


***


Setelah berjalan cukup jauh dari sungai, mereka menemukan gua yang cukup besar yang mengarah langsung ke dalam bukit yang cukup tinggi. Kala memutuskan untuk latihan di sini, tapi sebelum itu, ia akan membuat beberapa untuk empat pranor itu.


Kala sebenarnya agak ragu menebang sedikit pohon keras di sini, tapi akhirnya ia lakukan juga. Kala yakin, setelah ini hutan akan tambah marah. Ia juga berharap, kekuatannya setelah latihan nanti cukup untuk menahan serangan dari tumbuhan-tumbuhan mengerikan di hutan ini.


Semuanya bekerja dengan keras dan cepat, harapannya agar semua gubuk selesai dibangun sebelum matahari tenggelam. Lima gubuk mereka rakit dengan bahan seadanya, tapi memang ini adalah gubuk untuk sementara saja.


“Aneh sekali, biasanya siapa pun yang masuk ke hutan akan mati dalam sekejap.” Saka menggaruk kepalanya. “Tapi ini, kita sudah masuk cukup dalam. Dan hanya empat pranor biasa dan satu Kesatria Garuda! Bahkan Alam Roh Prana akan ketakutan dan binasa di sini.”


Pada akhirnya, bahan pembicaraan itu menjadi obrolan hangat saat keempatnya membangun gubuk. Kala lebih memilih untuk mendengarkan ketimbang ikut berdebat, tapi dari sini ia bisa mengambil kesimpulan.


Ada beberapa sejarah yang mencatat kepergian dan penjelajahan di hutan ini selalu gagal dengan hilangnya penjelajah. Bahkan hilangnya dua tokoh legendaris se-Jawa, Akhza dan Satrya, dikaitkan dengan Hutan Akar Ireng. Tentu hutan ini sudah mendapat penilaian sebagai hutan yang sangat berbahaya bahkan bagi kalangan pranor kalangan atas.


Tapi mereka bisa masuk sampai sejauh ini. Tanpa masalah. Itu malah mengkhawatirkan.


Setelah semua gubuk selesai dibangun, mereka membuat api yang sangat besar, dengan tujuan untuk mengusir hewan-hewan atau tumbuhan mengerikan yang penasaran.


Kala pergi ke dalam gua dan mengambil bagian terdalam dari gua. Ia memasang satu obor di dinding gua lalu membuka lembar gulungan dari cincin interspatial. Teknik Kapas adalah gulungan yang akan ia pelajari malam ini, tidak sepenuhnya ia berhasil mempelajari teknik kapas ini.


Seperti biasanya, Kala hanya menatap satu aksara berlama-lama. Sesekali Kala berdiri dan mempraktikkan gerakan.


Waktu seakan berhenti di sini, Kala tidak tahu malam atau siang sebab penerangan sama saja: gelap gulita dengan satu obor sebagai penerang nan remang.


***


Waktu berlalu dengan cepat saat Kala sudah berhasil memahami seluruh Teknik Kapas - Macan Menuruni Gunung. Kini ia beralih pada gulungan selanjutnya, selanjutnya, dan selanjutnya lagi.


Kala hampir melahap semua gulungan yang diberikan oleh gurunya. Dan selama membaca itu, ia sama sekali tidak tidur. Kini matanya memiliki kantung mata lebam dengan mata merah. Bahkan obor yang dibuat khusus agar tahan lama sudah mulai keropos dan sinarnya perlahan hilang.


Kala merebah di lantai dingin gua lalu menutup matanya untuk waktu yang cukup lama, saat bangun kembali obor sudah mati total. Ia mengganti dengan obor baru yang lebih berkualitas lalu melanjutkan membaca.


Ada banyak ilmu yang ia hapal di luar kepala setelah berlama-lama mendekam di sini. Mulai dari Teknik Kapas yang tak terhitung jumlah jenisnya, atau Teknik Pedang Garuda, Teknik Aura Garuda, Jurus Suara Hening, Tapak Kematian, dan ilmu tendangan.


Kepala Kala seakan mau pecah! Ia masih belum mempraktikkan sebagian gerakan-gerakan dikarenakan ukuran gua yang kecil. Setelah menyelesaikan gulungan terakhir, ia baru melangkah keluar dengan keadaan kacau.


Sinar mentari seakan menjadi pengacau bagi matanya. Lengan Kala menghalangi terik sinar matahari, ia mengalihkan pandangnya pada lima gubuk yang kini mulai reyot. Kala mengerutkan dahi, ia merasa gubuk itu sudah terlalu tua, dan ia merasa hanya sebentar di dalam gua.


Pintu salah satu gubuk terbuka disertai suara reyot. Seorang pria berewok yang tampak mengantuk keluar sambil menggaruk bokongnya. Matanya melebar saat melihat sosok Kala di depan mulut gua.


“Kesatria Garuda! Kaukembali!”


Kala mengernyitkan dahi, ia merasa tidak mengenali orang itu setelah beberapa saat. Dan ternyata ia baru sadar bahwa itu Djimas, yang kini sudah berewok dan tampak seperti pengangguran.


Djimas berteriak kencang memanggil teman-temannya. Empat pintu gubuk terbuka, bahkan ada yang sampai ada yang lepas dari tempatnya. Mereka tampak begitu semangat setelah frustrasi cukup lama, langkah mereka begitu cepat saat mendekati Kala.


“Apa yang terjadi dengan kalian? Ada kumis di bawah mulut dan jenggot di sekujur dagu kalian?”


Sakti menjawab dengan semangat. “Kesatria Garuda, kau begitu lama sehingga bulu-bulu sialan ini tumbuh dan kami tidak mau memotongnya untuk menunjukkan padamu, betapa lama kaumendekam di sana! Ya, sekitaran tiga bulan kau di dalam sana!”


Ketiga pranor dari Golok Emas menatap tajam ke arah Sakti tapi mulut mereka menunjukkan senyum lebar, Sakti berkeringat dingin saat menyadari sudah keceplosan.


“Tapi, kau juga ditumbuhi kumis dan janggut. Bahkan lebih panjang dari kami.”


Kala mengerutkan dahi, lalu untuk pertama kali setelah beberapa lama, ia menyentuh mulutnya. Baru sadar bahwa terdapat rambut kasar, Kala membeliakkan mata.


“Ah, masa mudaku sepertinya akan segera berlalu.” Kala mencoba mengingat umur, dan ia juga sadar bahwa usianya masih sangat muda

__ADS_1


__ADS_2