
Salahnya sendiri memasuki hutan terlalu dalam, sehingga saat ini jaraknya dengan kota terdekat sekalipun sangat jauh. Kala terus berdoa agar kesadarannya masih ada sampai dirinya menginjak pos medis di kota.
“Tembok kota, tembok kota, tembok kota.” Kala berkata setengah sadar saat melihat tembok kota dari kejauhan.
Bruk!
Kala menabrak tembok kota lalu kesadarannya hilang sepenuhnya. Beberapa prajurit datang saat mendengar benturan keras. Melihat sosok Kala berlumuran darah dalam kondisi tak sadarkan diri, mereka segera bertindak cepat, terlebih prajurit-prajurit itu mengenali Kala sebagai pahlawan kota yang berhasil mengusir Kastel Kristal Es.
***
“Aku masih hidup?” Itu adalah kalimat pertama yang Kala ucapkan saat ia membuka matanya.
“Kau sudah sadar?!”
Kala menengok ke samping dan menemukan Kaia yang tampak amat bahagia melihatnya telah sadarkan diri. Mata gadis itu berbinar haru.
“Ke mana saja dirimu? Kau membuatku sangat khawatir! Meninggalkanku sendiri lalu kembali dengan keadaan seperti ini, apakah itu lucu?!”
Kala tersenyum saat ia menghiraukan rasa pening di kepalanya. “Aku berpikir tidak akan ada yang mengkhawatirkanku."
Kaia mendengus kesal, “Selain aku, seluruh pranor di Penginapan Progo mengkhawatirkanmu. Belum lagi dengan gadis-gadis kota, beberapa di antara mereka mereka tidak berhenti menangis saat melihat kau kembali ke kota dengan keadaan mengenaskan seperti ini.”
“Lupakan itu, di mana Alang? Apa dia tidak mengkhawatirkanku?” Mata Kala menerawang penjuru ruangan.
“Aku tidak tahu. Ia pergi dari kota dengan marah saat tahu kondisimu. Alang berkata bahwa ia akan membakar orang yang berbuat itu padamu, bahkan sampai abu tidak tersisa.”
“Apakah dia mengetahui siapa yang membuatku seperti ini?” Kala tertawa pelan. “Bantu aku bangkit.”
“Lebih baik kau diam di kasurmu. Darahmu terbuang banyak, sudah lima hari kau tidak sadarkan diri.”
__ADS_1
Kala mengembuskan napas panjang. Ia berpikir bahwa akhir-akhir ini sering tidak sadarkan diri yang berujung tidur di ranja, tentu itu akan baik untuk pertumbuhan lemak. Kala juga baru menyadari, di luar sana masih banyak yang bisa mengalahkannya, harus lebih banyak berlatih lagi.
Kala bertanya soal kondisi kota. Dari penjelasan Kaia, dapat disimpulkan bahwa kondisi kota aman namun sedikit histeris karena dirinya berada di kondisi kritis. Banyak yang menunggu Kala sadar di luar ruangan, tapi Kaia menyuruh mereka semua keluar saat jari Kala mulai bergerak, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa Kala sudah sadarkan diri.
Namun, terdapat sebuah kabar mengkhawatirkan. Sejumlah warga melihat beberapa pranor dengan seragam Kastel Kristal Es berkali-kali berlari di atas atap rumah. Kini prajurit kota dan Penginapan Progo tengah mencari kebenaran dari berita tersebut.
“Tumenggung juga menunggumu sadar, entah apa yang ia ingin sampaikan kepadamu,” tutup Kaia. “Aku akan pergi mengabari mereka jika kau sudah siap, tapi sebelum itu aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu.”
“Sejak kapan kau peduli denganku?”
“Aku hanya ingin tahu, itu saja.” Kaia berucap acuh tak acuh.
“Baiklah, aku berharap kau bisa mengambil pelajaran dari pengalamanku.”
***
“Pendekar, kau sudah siuman!”
“Sang pahlawan selamat dari maut!”
Setelah Kaia mengabari mereka, pintu ruangan seakan kurang lebar untuk memberi mereka semua jalan masuk. Mereka penuh dengan syukur dan pujian yang menjilat, Kala tidak mengenal mereka semua tapi mereka berkata seolah sudah akrab dengan Kala.
Tentu saja Kala tidak terpengaruh dengan jilatan mereka, ia hanya membalas mereka sepenuhnya. Kaia masuk dengan muka geram, ia masih marah dengan Kastel Kristal Es setelah mendengar kisah Kala.
“Baiklah, Tuan-tuan. Aku harap kalian bisa memberiku ruang untuk sendiri.” Kala angkat bicara setelah tidak tahan dengan jilatan mereka.
Semakin kau kuat, maka semakin kau dikagumi dan semakin banyak yang menjilat.
Kala menghela napas saat mengingat pesan gurunya. Akhza menambahkan bahwa jangan sampai terhanyut oleh pujian-pujian.
__ADS_1
Walau mereka masih mau menjilat, tapi mereka tetap menuruti Kala. Setelah berpamitan, mereka kelua ruangan secara tertib. Kaia masuk setelah mereka semua keluar.
“Kau pasti senang dengan pujian mereka, tapi aku sarankan agar kau tidak terlena dengan ....”
“Aku sudah tahu, terima kasih sudah mau peduli.” Kala tersenyum hangat. “Tapi, bukankah aku berkata agar tinggalkan aku sendiri?”
“Aku mau di sini. Jangan terlalu percaya diri, aku hanya menunggu Alang, biasanya dia akan mengecek keadaanmu beberapa jam sekali.”
“Baiklah, bantu aku duduk,” ucap Kala.
Kaia berlagak enggan, tapi raut mukanya terlihat jelas bahwa dirinya tengah khawatir. Kala duduk bersila lalu mengecek luka di perutnya, hanya ada satu luka tapi cukup krusial.
“Siapa yang membawaku ke sini? Dan siapa yang mengganti pakaianku?”
“Yang membawamu ke sini adalah prajurit tembok kota, dan yang mengganti pakaianmu adalah tenaga medis.”
“Aku harap mereka bukan pria,” gumam Kala.
“Apa maksudmu?!”
Kala hanya tersenyum sinis lalu mengambil posisi meditasi. Kala mencoba untuk menyerap Prana, tapi di sini terlalu sedikit Prana.
“Akan lebih baik jika pergi ke luar. Kaia, carikan aku tongkat.” Kala menyuruh Kaia juga disertai aura pembunuh, ia tahu Kaia akan menolak jadi bersikap lebih keras di awal akan lebih baik.
Kala merasa Kaia memancarkan aura pembunuh miliknya juga, Kala tertawa keras saat aura Kaia kalah telak dengan aura miliknya.
“Sudah, jangan banyak melawan. Lakukan saja, aku juga ingin mencari angin.”
Kaia mendengkus kesal lalu keluar ruangan. Kala menggelengkan kepala pelan sebelum merasakan sesuatu. Rasa ini sama seperti saat Alang berada di dekatnya.
__ADS_1
“Kyaak!”
Dari jendela di ruangan sebelah kanan, Alang masuk dengan kondisi berapi-rapi. Alang langsung menyeruduk langsung pada Kala, pemuda itu lantas memeluknya erat-erat!