Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Rusaknya CIncin Interspatial


__ADS_3

Kala menghela napas kecewa. Seisi kedai tuak bahkan pranor di luar penginapan berteriak kesal saat tidak bisa mengakses cincin interspatial mereka. Bahkan beberapa dari mereka sampai mengumpat keras dan menghancurkan tanah.


Lalu suara gemercing terdengar, seperti ratusan koin yang jatuh ke lantai. Beberapa bahkan bersuara seperti pedang yang jatuh, dicampur erangan marah beberapa pria.


Tiba-tiba Kala merasa gelangnya bergetar hebat. Benda-benda yang seharusnya berada di gelang miliknya mulai berjatuhan, termasuk batu energi miliknya!


Kala berusaha menghentikan barang-barang yang keluar ini, tapi sepertinya tidak bisa. Ia hanya melihat dimensi hitam yang penuh dengan kilatan-kilatan. Barangnya terus keluar. Sepertinya bukan hanya barangnya saja yang keluar, melainkan seisi penginapan termasuk Kaia.


Ruangan segera penuh dan beberapa orang tersudut oleh barang-barang, saling mendesak. Kala menarik Kaia keluar dari penginapan dengan cepat. Beberapa pranor juga terlihat keluar dari bangunan masing-masing dengan barang-barang yang bercecer.


Ini sangat buruk, semuanya histeris. Namun, berbeda dengan Kala. Ia tetap tenang, harta bukan segalanya untuknya. Tapi saat Keris Garuda Puspa keluar, lekas-lekas ia menyembunyikannya. Begitu juga dengan cincin interspatial milik gurunya.


Cincin interspatial adalah barang yang mahal, tidak semua pranor memilikinya. Sehingga hanya ada beberapa orang yang histeris, sedangkan yang lainnya hanya menonton mereka mengumpulkan barangnya.


Beberapa mengatur untuk mencegah pencurian. Harta-harta menggunung, beberapa pranor miskin melihatnya dengan nafsu sehingga dibutuhkan penjagaan. Kala tidak terlalu menghiraukan barangnya, dan Kaia masih belum punya banyak barang.


Kala lebih memilih memperhatikan cincin interspatial warisan gurunya. Cincin ini tidak terjadi apa-apa, barang-barang masih ada di sana dan terjaga dengan baik. Otak Kala segera pening, jika hal ini terjadi di seluruh Nusantara, maka masalah besar terjadi.


Gelang di tangan Kala hancur menjadi debu sedangkan cincinnya patah menjadi dua. Begitu juga cincin Kaia dan cincin pranor lainnya.


Beberapa penduduk sukarelawan membantu mengeluarkan barang-barang yang menumpuk dari bangunan serta membebaskan orang yang tertimbun. Walau mereka bergerak dengan cepat, kericuhan tetap terjadi saat tiga mayat dikeluarkan setelah kehabisan napas.


Melihat cincin milik gurunya masih bisa berfungsi dengan baik, Kala menarik masuk semua barangnya yang tercecer berikut dengan barang milik Kaia juga. Terlalu sibuk, tidak ada yang memperhatikan Kala.


“Kita harus membantu yang lain.” Itu kalimat yang Kala keluarkan sebelum ia berlari kencang ke arah penginapan, di mana ada beberapa orang ketindihan lautan harta.


Kaia masih melongo, tidak tahu apa yang terjadi sampai Alang menyadarkannya. Ia membantu Kala mengeluarkan barang kecil satu demi satu dari penginapan.


Setelah berhasil mengeluarkan timbunan harta dari lantai pertama penginapan, Kala sudah terlambat. Lima pranor terluka ringan, tapi enam manusia biasa mati kehabisan napas.


Sedangkan di lantai dua kebanyakan dihuni pranor, dan mereka semua selamat walau mendapat luka ringan. Tidak membuang waktu lama, Kala keluar dari penginapan dan membantu yang lain.


***


“Tidak hanya di sini! Laporan dari pedagang Geowedari juga melihat hal yang sama di kota asalnya. Bahkan pedagang lain dari penjuru wilayah Pandataran juga mengalami hal yang sama. Aku tidak tahu bagaimana kekacauan yang terjadi di penyimpanan harta kerajaan.”


“Dasar kau sok tahu! Kerajaan tidak pernah memakai cincin interspatial untuk menyimpan kekayaannya, mereka hanya menggunakannya untuk menyimpan bahan pangan.”

__ADS_1


“Tapi bagaimana di medan perang, Bung? Mereka menggunakan cincin interspatial untuk menyimpan senjata.”


“Itu yang aku juga takutkan.”


“Belum lagi jika ada adu domba, peperangan akan meletus lebih dahsyat!”


“Kau juga sok tahu, perang malah akan tertunda untuk sementara waktu.”


“Kemudian meletus dengan dahsyat!”


Mereka semua menghela napas panjang. Kala turut menghela napas panjang. Situasi ini sangat buruk sesuai dugaan awalnya.


Kala sedang berada di lantai dasar penginapan, tepatnya di kedai tuak. Beberapa orang kembali minum tuak dan berbincang di sini, seakan kejadian tadi siang tidak pernah terjadi. Yah, rata-rata dari mereka tidak mempunyai banyak harta di cincinnya yang kecil, sehingga membawa tas bukan sebuah masalah. Terkecuali pemilik kedai, ia memiliki cincin interspatial besar yang penuh, beruntung peminum tuak membantunya memindahkan semua barang ke gudang.


Kaia sepertinya sudah tertidur nyenyak bersama Alang, hari sudah terlalu larut. Sebenarnya Kaia sudah menawarkan Kala untuk tidur di bawah kasur, tapi Kala lebih memilih untuk mendengarkan perbincangan serius dari peminum tuak.


“Apa pun itu, aku tidak mau ikut campur.” Seorang pranor paruh baya membanting gelasnya ke meja.


“Kau masih harus ikut perang, ini kewajiban.”


“Diam kau! Dasar antek-antek kerajaan!”


“Oh, ya? Aku baru saja mendengarkan ocehan monyet.”


Keduanya bergelut di lantai sebelum dipisahkan pemilik kedai. Beberapa orang kembali melanjutkan perbincangan serius mereka.


“Hei, Anak Muda! Kau diam saja di situ, tidak mau memberikan komentar atau kau adalah pemberontak?”


“Aku tidak bisa memberikan komentar apa pun.” Kala menghela napas panjang lalu menyesap tuaknya.


“Setidaknya berikan sedikit komentar.”


“Ya, akan kucoba.”


Seakan tidak menganggap Kala ada, mereka kembali melanjutkan perbincangan. Hingga larut malam, perbincangan hangat menjadi panas. Itu dimulai saat seorang pranor melaporkan bahwa telah terjadi kekacauan di kota-kota besar.


Mereka mulai berteriak-teriak kencang saat berbicara. Tuak telah menghanyutkan mereka. Untungnya, lantai dua sudah dilapisi beton tebal untuk meredam kebisingan yang biasa terjadi di tengah malam.

__ADS_1


Kala mendengar suara orang menuruni tangga, dan terpampanglah Kaia dalam kondisi setengah mengantuk. Orang-orang mabuk itu mulai menggoda Kaia dengan gelak tawa, Kaia tidak terlalu peduli karena Kala sudah terlebih dahulu menatap mereka tajam.


“Aku lapar,” kata Kaia.


“Malam-malam begini, apa kau serius?”


“Aku tidak akan mau turun jika terdesak.”


Kala menghela napas panjang lalu berpamitan dengan para peminum. Ia keluar bersama Kaia ke arah pasar.


“Kau tahu, mungkin saja masih terjadi kekacauan.”


“Kau yang kacau! Lihat cara jalanmu!”


Kala baru menyadari bahwa ia berjalan dengan ugal-ugalan. Sepertinya tuak mulai menghanyutkan pikirannya. Tapi, ia meyakinkan diri agar tidak mabuk.


“Aku tidak mabuk, tenang saja.”


Bruk!


“Ah, itu masalah kecil.” Kala bangkit setelah terhuyung jatuh. Kaia memaksa Kala pulang, tapi Kala yang bersikeras untuk membawa makanan.


Kini Kaia memegang tangan Kala agar jalannya tetap lurus. Kala mulai melantur, berkata bahwa Nusantara akan berperang, dan semua pulau menjadi satu pulau, atau semacamnya.


Pasar masih ramai dengan pembeli atau penjual. Kepala desa menghimbau untuk melanjutkan aktivitas seperti semula, gunanya untuk meredam kepanikan, sedangkan ia sendiri pergi dari desa untuk mencari tahu apa yang terjadi.


“Kaia, tadi aku melihat penjual makanan enak, pasti kau sangat suka,” kata Kala, “di sana.”


“Kau menunjuk pepohonan.”


“Ah, iya, di sana.” Kala menunjuk sisi yang berbeda, tapi ia malah menunjuk pintu keluar desa.


“Kala, sudahlah. Kau minum terlalu banyak, menurut saja denganku.” Kaia menarik tangan Kala.


Penjual makanan terdekat adalah belut asap. Aromanya menyerbak ke mengisi hidung Kala sampai ia mulai lagi melantur.


“Hei, Pak Penjual. Apa bokongmu terbakar? Mengapa aromanya sangat gosong?” Setelah itu Kala tertawa kencang.

__ADS_1


“Abaikan dia, Kisanak. Aku beli empat ekor.”


“Apa? Jadi Pak Penjual ini punya ekor?”


__ADS_2