Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Pengepungan Kota


__ADS_3

Yudistira tersenyum. "Baiklah, ada banyak yang harus aku kerjakan dan alangkah baiknya jika aku segera pergi."


Saat Yudistira sampai ambang pintu, Kala memanggilnya. "Patriark, Patriark mengatakan bahwa batu energi hasil penjualan kera itu disumbangkan sebagian besarnya. Di mana sebagian kecilnya?"


"Aiyo! Aku melupakannya!" canda Patriark sebelum mengeluarkan kantong berisi batu energi dari cincin interspatial.


***


Suasana di luar tenda sangat sibuk, tidak ada yang berdiam santai. Kala berkeliling dan sesekali menawarkan bantuan. Kala biasanya akan membantu membersihkan puing dan membuat rumah darurat. Kala juga mengangkut bantuan logistik dari luar masuk ke gudang logistik.


Saat Kala sedang beristirahat sambil menikmati minumannya, Maheswari tiba-tiba datang dan duduk di sebelahnya.


Kala menyapanya. "Kak Mahes juga sedang istirahat?"


"Betul sekali, Kala. Aku lelah sedari tadi membuat pil dan mengobati terus ...." Maheswari melirik minuman Kala. "Hari yang sangat panas, ya?"


Kala menaikkan alisnya. "Betul sekali, Kak."


Kala menegak sekali lagi minumannya. Maheswari melihat itu jadi sebal, bibirnya yang manis itu cemberut. Kala tidak mengerti mengapa Maheswari bersikap seperti itu, tetapi ia memilih untuk tidak memperdulikannya.


Ketika Kala menegak minumannya lagi, Maheswari sudah kehabisan kesabarannya. "Dasar tidak peka!"


Kala terbatuk-batuk mendengar itu. "Apa maksud Kak Mahes? Aku sungguh tidak mengerti."


"Pikirkan saja sendiri!"


Lalu Maheswari berlalu pergi. Alis Kala berkedut setelahnya.


"Ah, bukankah semua pria sama saja." Kala tertawa ringan lalu menegak habis Tuak Kunyuk Gunung di gelasnya.


***


"Apa?! Mereka ingin menyerang?!"


Yudistira menggebrak meja kuat-kuat, meja tersebut patah menjadi dua bagian. "Aku tidak percaya ini! Mereka sendiri yang meninggalkan kota di saat terpuruk namun mereka juga yang ingin merebutnya kembali!"


"Mohon ampun, Patriark. Namun Anda harus segera mengambil keputusan." Orang di sisinya mengingatkan Yudistira.


Yudistira tampak sedang berpikir. Perguruan Danau Hitam mengirim pasukannya dan mengepung kota ini. Mereka mengetahui bahwa ada Perguruan Angin Utara di sini, ini adalah kesempatan mereka untuk memberi serangan terhadap musuh bebuyutannya.

__ADS_1


Daerah antara Perguruan Danau Hitam dan Perguruan Angin Utara bersinggungan, wilayah kota ini sempat menjadi daerah perebutan yang akhirnya dimenangkan oleh Perguruan Danau Hitam. Kini jika mereka bertarung, maka akan tercipta perang berkepanjangan.


Yudistira ke kota ini karena mengira Perguruan Danau Hitam sudah melepas wilayah bagian sini, namun sekarang mereka mengepung kota ini. Mau meninggalkan kota ini juga percuma saja karena mereka juga akan pergi bersama ribuan relawan lainnya, apalagi kota ini sudah dikepung.


"Di mana prediksi mereka akan menyerang?" tanya Yudistira.


"Di pintu masuk bagian utara, Patriark. Laporan dari prajurit telik sandi bahwa telah terjadi penumpukan prajurit Perguruan Danau Hitam di sana."


Yudistira mengangguk. "Sebarkan para relawan yang bisa bertarung ke penjuru kota, jika mereka menyerbu dari segala penjuru maka para relawan pranor akan menahan mereka yang jumlahnya lebih sedikit. Sertakan sebagian prajurit kita juga."


"Dimengerti, Patriark."


"Dan taruh sebagian besar prajurit kita di pintu utara. Bekali mereka dengan senjata lengkap juga dengan semangat. Laksanakan sekarang juga."


"Baik, Patriark!"


Orang itu meninggalkan tenda. Kini Yudistira sendirian di dalam tenda, ia musuh terpaku seperti memikirkan sesuatu.


"Aku harus melindungi anak itu," gumam Yudistira lalu tertawa kecil. "Aku sendiri belum tahu namanya."


***


Suasana menjadi heboh setelah seorang pranor dari Perguruan Angin Utara berteriak memberi pengungumann. Pranor-pranor relawan yang sebelumnya tengah membersihkan puing menjadi panik dan meminta keterangan lebih lanjut dari prajurit itu.


Kala duduk dengan tenang, ia sedang berusaha mendengar jawaban dari pertanyaan para pranor. Dapat diketahui bahwa serangan berasal dari Perguruan Danau Hitam, kemungkinan serangan terbesar akan berada di pintu utara sedangkan kota sudah dikepung dari luar.


Setelah dirasa cukup, pranor itu pergi meninggalkan kerumunan orang-orang yang bertanya. Kala berdiri dan berlari ke arah prajurit tadi, ia mengatakan bahwa dirinya ingin ikut bertarung di pintu utara.


"Ini perintah dari Patriark Perguruan Angin Utara, kau tidak bisa ikut ke pintu utara." Prajurit itu memandang Kala tidak peduli dan terus jalan.


"Aku kenal Patriark, ia pasti akan mengizinkan aku ikut ke sana."


Prajurit itu memandang Kala. "Banyak yang kenal dengan Patriark Perguruan Angin Utara, bukan kau saja!"


"Tapi dia juga mengenalku ...."


Prajurit itu berhenti, tatapannya penuh curiga. "Siapa namamu?"


Kala juga berhenti. "Namaku Kala."

__ADS_1


Prajurit tersebut memandang Kala dari bawah ke atas sebelum tersadar akan sesuatu. "Kau orang yang menemui Patriark tadi pagi?"


Kala tersenyum sinis. "Patriark yang menemuiku."


Prajurit itu memutar matanya. "Apa Patriark menemuimu tadi pagi?"


Kala mengangguk. "Benar."


Prajurit berbalik. "Mohon ikut aku, Tuan Muda. Patriark mencarimu."


Kala menggeleng pelan melihat perubahan sikap pranor ini. Kala berjalan di belakang prajurit ini. Tangannya terlipat ke belakang, senyum tipis tersungging sambil menikmati suasana yang panik.


Lokasi dari tenda kediaman Patriark Perguruan Angin Utara tidaklah jauh dari tempat Kala bekerja sebelumnya. Prajurit itu mempersilakan Kala masuk sedangkan dirinya tidak ikut masuk. Patriark menyambut Kala dengan hangat.


"Kesatria Garuda, akhirnya kau datang." Patriark menyunggingkan senyum.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, panggil saja aku Kala, Patriark." Kala memberi hormat.


"Nah sekarang aku tahu namamu." Patriark tertawa terbahak-bahak.


Dari raut wajahnya, Yudistira tengah gelisah walaupun tertawa begitu keras. "Ada apa Patriark mencariku?"


Tawa Yudistira berangsur-angsur menghilang sebelum ia menjawab pertanyaan Kala. "Akan ada serangan, Kala. Kau adalah Putra Garuda yang harus dilindungi. Maka dari itu, kau harus berlindung di bangunan kokoh yang sudah aku siapkan."


Kala menggeleng. "Tidak Patriark, tugasku adalah menyelamatkan Nusantara dari tangan orang-orang yang semena-mena. Mohon jangan halangi langkahku."


"Ini peperangan kecil yang bisa diselesaikan oleh Perguruan Angin Utara," sanggah Patriark, "jangan mengambil risiko yang taruhannya adalah nyawamu hanya untuk peperangan kecil."


"Anggap saja ini latihan, Patriark." Kala tersenyum lebar. "Patriark bisa mengajariku nanti."


Yudistira berdecak kagum mengetahui Kala hanya menganggap pertempuran ini sebagai wahana latihan saja. Jika Perguruan Danau Hitam mendengar ini, apa mereka tidak akan marah?


"Ide bagus! Sebuah pengalaman yang luar biasa jika melatih Kesatria Garuda!" ujar Yudistira lalu kembali tertawa. "Siapkan diri dan kembali ke sini secepatnya!"


"Baik, Patriark. Aku mohon tarik diri." Kala menghanturkan tangan sebelum meninggalkan tenda.


Di dalam tenda, Yudistira menggeleng kepala pelan. "Jiwanya tidak mengenal takut, pantas ia menjadi Kesatria Garuda."


***

__ADS_1


Saat Kala sedang mengisi botol labunya dengan air sumur, Maheswari tiba-tiba memanggil dan menghampiri Kala. Raut muka Maheswari sangat khawatir dan takut, entah apakah karena akan terjadi pertempuran atau karena Kala ....


__ADS_2