Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Serangan Hewan Siluman


__ADS_3

“Sepertinya sudah tidak sakit, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Kala menyeringai.


“Dasar kau tidak tahu diri, jelas saja kau menyakitiku sore tadi dan rasanya masih bertahan sampai sekarang!” Kaia hampir membanting dagingnya.


“Jika sakit, katakan saja sedari tadi. Telan ini.” Kala melemparkan satu pil berwarna hijau kepada Kaia.


“Mengapa tidak sedari tadi kau memberikan pil ini? Apa kau suka jika melihatku sakit lebih lama?!” Kaia membentak.


“Aku sudah katakan sebelumnya, perang yang sebenarnya akan jauh lebih menyakitkan.”


Krak!


Mendengar suara kayu patah dari kejauhan, Kala langsung waspada. Tidak ada suara patah kayu lain selanjutnya, itu artinya lawan sudah menyadari bahwa Kala mengetahui posisinya. Mata Garuda langsung aktif.


“Arah barat daya, siaga!” Kala menghunuskan kerisnya.


Apa pun musuhnya, manusia atau hewan spirit, pasti bukanlah lawan biasa. Kala menyebarkan aura pembunuh di sekitarnya agar tidak ada yang berani mendekat, tapi itu tidak terpengaruh dengan lawan tingkat tinggi.


Sriing!


Kaia menarik pedangnya dengan panik, bagaimana pun juga ia masih kurang pengalaman. Alang dalam waspada tingkat tinggi, ia ingin terbang ke langit untuk meninjau musuh dari atas, tapi Kala menahannya.


“Apa pun ini, bukan makhluk yang lemah. Jangan gegabah.”


Sejauh penangkapan Mata Garuda miliknya, masih belum ditemukan manusia atau binatang. Hanya ada batang-batang pohon dan semak belukar.


Hawa dingin menyatu dengan angin menerpa leher belakang Kala, kali ini bukanlah angin melainkan aura pembunuh yang sangat kuat. Datangnya bukan dari arah barat daya, melainkan arah sebaliknya.


“Makhluk ini menguasai ilmu kamuflase dan ilusi. Kaia, matikan api.”


Kala yakin makhluk ini tidak akan menyerang dalam waktu dekat, ia masih memberikan serangan ancaman dalam bentuk aura pembunuh. Kaia sibuk mematikan api, sedangkan Kala memakai set pakaian yang diberikan Cassandra kecuali jubah panjangnya, ini terlihat keren dan gagah tapi tidak ada waktu untuk kagum.

__ADS_1


Setelah api benar-benar mati dan hanya menyisakan bara, Kala menarik tangan Kaia ke belakang tubuhnya. Kala mengingatkan Kaia untuk selalu berada di belakang dirinya.


“Musuh apa yang mengintai kita?” Kaia berkata setengah berbisik.


Kala tidak membalas Kaia, ia masih harus memfokuskan pendengaran dan penglihatannya.


Sekelebat angin dari arah utara, kemudian berpindah ke arah barat, timur, selatan secara acak. Dirinya benar-benar tidak bisa menebak posisi musuh berada.


Kala mencoba dengan bahasa manusia. “Siapa pun itu, tunjukkan dirimu!”


Tidak ada balasan sementara sekelebat angin masih terus berembus. Kala menghela napas panjang, musuh bisa menyerang kapan saja. Mau tidak mau, risiko ia ambil sebelum terlambat.


“Alang, terbang ke atas dan bakar hutan di sekeliling kita. Usahakan jangan mengenai kami.” Kala berbisik pada Alang yang di pundak.


Ada beberapa risiko dalam pembakaran ini. Pertama, nyawa Alang terancam, dan yang terakhir adalah nyawa Kala dan Kaia terancam.


Alang tidak bisa mengontrol api jika dalam skala besar, sehingga api akan membakar lawan maupun kawan. Alang tahu risiko kehilangan nyawa, tapi ia lebih menyayangi nyawa Kala dan Kaia.


Bola api itu jatuh ke pepohonan dan langsung membakar mereka. Hutan dengan cepat terang benderang sekaligus panas dan penuh sesak. Kemungkinan musuh menggunakan ilmu kamuflase sangat minim jika di kondisi penuh api seperti ini.


Seharusnya musuh akan segera terlihat atau ia akan mundur jauh, tapi Kala malah melihat bahwa sesosok bayangan kucing besar menyergap di belakang punggung Kaia.


Kala mengumpat keras lalu meloncat ke belakang, tepat memunggungi Kaia. Bayangan kucing besar itu mengayunkan cakarnya, membentuk tiga kilatan tajam. Serangan sepertinya sulit Kala tangkis, sebab ia tidak pernah diajarkan cara menangkis cakaran.


Serangan itu mengenai dada Kala, beruntungnya baju dari Cassandra memberi perlindungan sangat besar. Kala hanya merasa dadanya seperti dipukul oleh gurunya dulu. Ia terhempas ke belakang berikut dengan Kaia.


“Aduh, aku tidak bisa menangkis serangan seperti itu.” Kala memandangi sekelebat bayangan hitam yang sekarang mulai kelihatan rupanya.


Jelas dari tubuh dan corak badannya, makhluk yang menyerangnya adalah seekor harimau Jawa. Berbeda dari harimau Jawa pada umumnya, makhluk ini adalah binatang spirit tingkat tinggi.


Kala heran, biasanya binatang spirit tingkat tinggi memilih untuk hidup damai. Jika pun ia lapar, maka binatang spirit akan menghindari manusia sebagai santapan. Harimau ini tidak terlihat lapar.

__ADS_1


“Mengapa kau menyerang kami?”


“Kalian ... tidak ... punya hati.” Sepertinya siluman ini baru belajar bahasa manusia, padahal binatang spirit tingkat tinggi biasanya lancar berbahasa manusia, seperti kera yang pernah Kala lawan di Kota Awan Biru.


“Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu?” Kala berusaha tenang.


“Anakku ... istriku ... kalian ....” Harimau itu mengaum keras lalu menyerang lagi, jelas serangannya mengincar Kaia daripada Kala.


Kala langsung mengambil kesimpulan bahwa harimau ini kehilangan anak dan istrinya, sebab itu ia menyerang Kaia yang dikira istri Kala, berniat membalaskan dendam.


Namun, Kala bisa melihat pola serangan si harimau. Kakinya mendorong Kala jauh ke belakang lalu kerisnya ditebas ke atas tepat si harimau mengirimkan cakaran. Tiga baris kilatan cahaya cakar beradu dengan keris Kala, menciptakan bunga api serta suara logam beradu.


Tubuh si harimau mendarat di belakang Kala, matanya menatap tajam Kaia yang hanya beberapa langkah di depannya. Tapi Kala adalah lawan yang harus dilawan, dirinya mengirimkan tebasan ke ujung buntut si harimau.


Dengan mengaum keras akibat ujung ekor yang terpotong, si harimau berbalik ke Kala.


“Tidak semua dari manusia sama, bukan aku yang membunuh anak dan istrimu. Mohon jangan ganggu kami.” Kala memang sengaja hanya memotong ujung ekor untuk memberikan peringatan kecil. “Atau selanjutnya yang putus adalah lehermu.”


Si harimau mengaum keras seakan tidak peduli mati, ia kemudian maju menerkam Kala. Pemuda itu menangkis setiap serangan yang datang dengan keris panjang miliknya.


Sedangkan Kaia dan Alang hanya menonton. Alang di atas tidak bisa menyerang karena takut serangannya mengenai Kala dan daya rusaknya tidak besar. Kaia tidak bisa membantu karena kurang kemampuan, kini dirinya tengah kesulitan bernapas akibat menghirup banyak asap. Namun, Kaia tetap mencoba bangkit membantu walau sering terbatuk.


“Bertahan Kaia!” Kala berteriak keras saat menyadari kondisi Kaia, ia semakin ganas melawan.


“Mati ....” Harimau itu mengaum lalu menebas ke arah leher Kala, walau sudah ditangkis tapi ada satu cakar yang lolos dan menggores lehernya.


Kala berteriak keras lalu menyerang lebih intens. Si harimau menangkis beberapa serangan, tapi lebih banyak serangan yang menembus kulitnya.


Pada akhirnya, si harimau malang itu terjatuh lemas. Kemenangan Kala bukan tanpa bayaran, leher dan lengannya terbesit oleh cakar si harimau dan terus mencucurkan darah.


“Aku turut berduka cita atas keluargamu, tapi kau akan berbahaya bagi manusia jika dibiarkan hidup.” Kala menghunjam kerisnya tepat di jantung si harimau.

__ADS_1


__ADS_2