Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Hawa Pembunuh


__ADS_3

Kala menghela napas dalam hatinya. Ia dan Maheswari tidak sering berjumpa, Kala juga tidak terlalu mendapat kesan dalam dengan Maheswari. Sedangkan Maheswari, ia sungguh menjadikan Kala sebagai penghilang sepi.


"Aku pernah merasa kesepian ...." Kini giliran Kala yang berujar. "Dulu, aku membenci kesepian. Namun, lama-lama sepi sudah melekat padaku sebagai teman yang tidak bisa dipisahkan."


Kala memandang langit-langit ruangan, lalu menghela napas panjang menelan kesedihannya. Tidak mudah menyingkirkan sepi bagi Kala, kesepian sudah menyatu dengannya sampai pada tahap tidak bisa dipisahkan, Kala sangat tidak suka keramaian.


Namun, sepertinya kesepian Kala akan sirna.


***


Setelah Maheswari tenang, Kala mengajaknya untuk kembali ke tenda di tengah kota. Maheswari baru kali ini merasa canggung dengan Kala, itu semua diakibatkan oleh sandaran bahu yang diberikan oleh Kala. Maheswari mengambil jarak cukup jauh dari Kala.


Alang yang berjaga di atap bangunan segera menyambut Kala. Kala mengangkat lengan kanannya untuk dihinggapi Alang lalu berjalan bersamanya. Sembari berjalan, Kala sedikit-sedikit menyuapi Alang dengan daging binatang perusak yang mentah. Alang begitu menikmati sesi makan ini.


"Jika kau menyukai daging yang mengandung spirit ... itu artinya kau juga suka dengan batu energi?" gumam Kala kemudian berseru, "itu benar! Mungkin ini bisa membuat tubuhmu berubah menjadi rupa burung elang sampai sempurna!"


Kala mengeluarkan satu batu energi, lalu menyodorkan kepada mulut Alang. "Cobalah!"


Alang mengendus-endus batu itu. Ia langsung melahap dan menelan batu yang berukuran kecil itu. Alang membeliakkan mata dan tubuhnya sedikit bergoyang karena gembira!


"Eak! Eak! Eak!"


Alang terus memekik pelan seperti anak burung yang meminta makanan kepada induknya. Kala tertawa kecil sebelum memberinya tiga batu lagi. Maheswari yang melihatnya dari belakang jadi terkekeh, tidak terpikirkan sebelumnya oleh dirinya.

__ADS_1


Kala memberinya terus menerus sampai batu energi miliknya tersisa tiga buah lagi. Kala tidak peduli dengan batunya yang hampir habis, ia menyayangi burung besarnya. Sedikit waktu lagi, maka dapat dipastikan Kala menganggap Alang sebagai keluarganya sendiri.


Tubuh Alang berhenti mengeluarkan api, tubuhnya sudah benar-benar seperti elang cokelat yang berasal dari Jawa. Tubuhnya membesar dan juga menjadi berat, Kala bahkan mengalirkan prana ke tangannya agar bisa menahan Alang.


Kala juga tersenyum berseri-seri. Pengorbanan hartanya tidak sia-sia juga, Alang benar-benar berkembang. Dengan keadaan tubuh Alang yang seperti ini, Kala bisa dengan santai membawa Alang ke tempat umum.


Alang berseru kecil sebelum terjadi sebuah hal yang mengejutkan. Tubuh Alang secara tiba-tiba menyusut, terus menyusut sampai ke ukuran burung kakaktua. Alang seperti elang terkecil yang menggemaskan. Kala melongo!


Apakah Alang bisa mengecilkan ukurannya?


Kala bergumam dalam hati namun pandangannya tetap pada alang yang kini bergeser ke bahunya. Ukuran Alang yang kini kecil sangat pas di pundak Kala, tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.


Kala memastikan. "Alang, buat tubuhmu menjadi besar!"


Alang tidak mengerti dan menjawab, "Eak?"


Alang sepertinya mengerti apa yang dimaksud Kala. Tubuhnya mulai membesar sampai ke ukuran semula. Kala segera mengalirkan prana ke pundak dan kakinya, kepalanya sedikit menunduk karena berbenturan dengan tubuh Alang yang besar. Alang merentangkan sayapnya, tanpa disangka jambul yang semulanya tidak ada tiba-tiba berdiri tegak!


Kala sedikit melihat ke atas. "Luar biasa, Alang! Luar biasa! Kau sangat terlihat keren dan benar-benar bisa menyusutkan tubuh! Dan, sejak kapan kau punya jambul?"


Maheswari melihatnya dari belakang, ia berseru. "Kala. Kamu seperti malaikat dengan sayap di kepala."


Kala tertawa kecil sebelum meminta Alang kembali ke tubuhnya yang kecil. Alang hinggap di bahunya, matanya tertutup. Alang tertidur dan Kala kehilangan teman mengobrol.

__ADS_1


Sepanjang perjalanannya, Kala jarang berjumpa dengan banyak orang kecuali beberapa murid yang sedang patroli. Setiap berjumpa dengan murid yang berpatroli, Kala selalu menyapa dan memberinya semangat.


"Semangat, Bung! Jangan pernah merasa lelah!"


Setiap murid yang mendapat semangat dari Kala langsung kembali energinya. Maheswari menatap Kala heran, ia berpikir bahwa Kala tidak mengerti tentang kehidupan sosial, memberi semangat hanya dari ucapan singkat tidak terlalu masuk ke dalam pikiran.


Tanpa Maheswari sadari, Kala sedang berlatih ilmu yang diajarkan gurunya. Ilmu ini Kala pelajari dari salah satu buku yang diwariskan gurunya. Buku tersebut merupakan buku yang mengandung ilmu menyemangati manusia. Seperti memberi sedikit tekanan prana, merubah logat bicara, sampai kecepatan berbicara.


Kala tersenyum puas saat ilmunya benar-benar berhasil. Ini akan berguna untuk ke depannya. Ilmu ini merupakan ilmu yang jarang diketahui dan dikuasai, alasan mengapa Kala menjadi puas karena ia berhasil menguasainya.


Saat mereka semakin dekat dengan tenda pusat, lalu-lalang orang-orang menjadi meningkat pesat. Keadaan sangat sibuk. Sedikit berisik dengan suara cakapan-cakapan.


Kala hanya bisa tersenyum pahit. Cepat atau lambat, ia akan meninggalkan kesepian. Tugasnya adalah menyatukan Nusantara yang diliput perang, bertemu dengan banyak orang dan menyebarkan kebaikan, bagaimana suasana sepi bisa kembali hadir pada Kala?


Maheswari berjalan di samping Kala saat sudah banyak manusia lain. Ia akan merasa lebih tenang jika berada di sisi Kala. Sedangkan pria-pria lain, menatap Kala dengan tatapan sedikit iri. Kebanyakan yang menatap Kala dengan tatapan iri adalah pria-pria relawan, para murid dari Perguruan Angin Utara sudah mendapat pendidikan yang baik.


Kala merubah senyumnya menjadi senyum canggung. Menghadapi begitu banyak tekanan dari banyak pranor sungguh sangat merepotkan. Kala seperti ayam segar yang berjalan di tengah kumpulan serigala lapar. Ini semua karena kehadiran Maheswari di sisinya!


"Kak Mahes, sepertinya kita harus lebih cepat berjalan." Kala berbisik pelan pada Maheswari dengan gugup.


"Tenang saja, Kala." Setelah mengatakan itu, Maheswari mengeluarkan hawa pranor Alam Kristal Spirit lalu tertawa pelan. "Apa dengan begini, mereka masih berani menatapmu."


Kala merasa hawa membunuh melintas di sekitar tubuhnya, namun tidak mengarah pada tubuhnya, hawa ini justru mengarah pada pranor-pranor di sekitarnya. Kala menyunggingkan senyum lega.

__ADS_1


Para pranor di sekitar langsung terjatuh bersimpuh lutut, namun hanya pranor pria saja. Sebagian pranor pria yang tingkat prana rendah langsung muntah darah, beberapa terbatuk-batuk. Wanita-wanita di sekitar menjadi bingung.


"Apa yang kau lakukan?!" sergah seorang pranor pria yang sedikit menunduk menahan hawa membunuh Maheswari.


__ADS_2