Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Latihan Keras di Tengah Hujan


__ADS_3

Suhu dengan cepat menjadi dingin. Beruntun Kaia menggunakan jubah panjang yang hangat. Kala sama sekali tidak membutuhkan jubah. Alang, dengan sedikit api yang membara di dalam tubuhnya, sama sekali tidak membutuhkan pakaian.


Walau kondisi Kaia sangat menguntungkan dan aman, ia sangat takut dengan kondisi hutan saat ini. Kilatan petir terkadang menyinari sudut-sudut pepohonan dengan sangat sekejap, Kaia terkadang menutup matanya dan terus berharap tidak melihat hantu.


“Sepertinya akan hujan.” Kala mengambil kesimpulan setelah mencium bau khas hujan.


“Kalau begitu, lebih baik kita membuat tempat perlindungan atau mencari gua,” saran Kaia.


“Oh, tentu tidak. Ini justru saat-saat yang langka untuk latihan.” Kala tersenyum jahat lagi. “Alang, selama hujan, kau harus tetap mengudara di atas dan tetap nyalakan api. Ini latihan untukmu.


“Kaia, kau harus menahan rasa dingin sedikit nantinya,” tutup Kala sambil matanya terus menatap ke depan.


Kaia dan Alang segera melayangkan protes berat, mereka beralasan bahwa mati kedinginan adalah sesuatu yang buruk. Namun Kala mengacuhkan mereka, sekuat apa pun mereka protes maka hasilnya hanya membuang tenaga.


“Nah, hujan sudah datang di depan sana.”


Duar!


Sayup-sayup di antara suara gemuruh petir, Kaia mendengar suara gemuruh lainnya di depan. Suara gemuruh itu semakin dekat sampai ia sadar bahwa itu adalah suara hujan, tapi hujan terlalu cepat menerpa sebelum dia berteduh.


Obor Kaia berusaha menahan derasnya hujan walau Kala sudah beri cairan khusus agar apinya tetap bisa menyala. Alang walau agak terpaksa terbang ke atas dengan api menyelimuti tubuh, ia terombang-ambing di atas melawan derasnya angin-air yang arahnya tak menentu.


Kala berjalan seperti biasa, seakan badai ini tidak ada sama sekali dan hari cerah di depannya. Kaia mengumpat dalam hati sambil terus menggigil, merasa iri dengan jumlah Prana milik Kala.


Padahal sebenarnya, bukan karena Prana Kala bisa menahan dinginnya badai. Latihan yang lebih keras di Gunung Loro Kembar membuatnya bisa berjalan dengan santai seperti ini.


***


Hujan reda saat dini hari tiba. Kaia masih terus menggigil walau Kala telah membuatkannya api unggun. Sedangkan Alang tidak terlihat di mana pun, tidak lain tempatnya adalah di dalam api unggun tersebut untuk menghangatkan diri.

__ADS_1


“Kau ... sangat kejam.”


Bibir Kaia sudah sepenuhnya memutih, begitu juga dengan warna kulitnya. Tangannya mati rasa dengan keriput-keriput di telapak tangan. Tubuhnya meringkuk dan ototnya masih terus menggigil.


“Demi kebaikanmu.” Kala melempar sepotong ranting ke api unggun. “Saat perang, musuh akan berlipat ganda untuk mengejarmu. Sehingga, saat hujan datang dan mereka kedinginan, temannya bisa bergantian untuk mengejarmu. Jika kau tak punya kualitas yang bagus, apa mau mati?”


Kaia tidak membalas Kala. Dua sisi bertolak, antara merasa ucapan Kala benar atau dirinya tidak akan dikejar prajurit banyak, yang pasti ia harus hangat untuk sekarang.


Sembari mereka menghangatkan diri, Kala memberi beberapa ajaran tentang strategi tempur dan juga cara membunuh yang efektif.


“Jika kau membunuh hanya untuk kesenanganmu; bukan untuk kebaikan, maka tidak ada ubahnya kau dengan iblis yang dibenci Gusti. Ingat, kau hidup karena napas dari-Nya. Maka membunuh tepat di jantung, perut, atau kepala adalah hal yang lebih baik.”


Kala memberi penjelasan dengan panjang lebar, sampai pagi menjemput. Tubuh Kaia tidak lagi menggigil. Kulitnya kembali bersinar dan bibirnya kembali merah pudar yang sulit digambarkan.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan.


***


“Terima kasih, kami mohon diri.”


Setelah sekian lama tidak bertemu manusia lain, Kala, Kaia, dan Alang akhirnya menjumpai pemburu. Kala menanyakan jalan lengkap menuju desa terdekat, pemburu itu menjawab bahwa desa paling dekat dari sini adalah Desa Bakul Ijo. Di desa itu, terkenal dengan penghasil teh spirit beserta tanaman spirit lainnya.


Kala dan Kaia kemudian pergi menuju arah yang dituju. Di peta, tidak terlalu lengkap arah dan informasi soal desa-desa kecil yang berada di Hutan Telu seperti ini.


Mereka menjumpai beberapa bangunan manusia seperti gapura sebagai penanda untuk binatang perusak agar tidak mendekat. Jalan mulai tampak jelas saat mereka mendekati desa.


Dari kejauhan, terlihat gapura desa yang menjadi pintu masuk. Dapat dilihat bahwa desa tersebut dikelilingi tembok, tapi hanya setinggi pagar. Dibangun pendek hanya bertujuan untuk menghalau binatang melata, tapi akan berbahaya jika sejumlah pasukan menyerbu desa ini.


Kala sangat takjub dengan desa yang berada di tengah-tengah Hutan Telu yang terkenal sebagai hutan berbahaya. Desa ini bahkan sedikit lagi bisa dikatakan sebagai kota kecil jika saja terdapat tembok yang lebih tinggi.

__ADS_1


Aktivitas desa juga ramai. Banyak orang lalu lalang, kebanyakan dari mereka berpakaian seperti pemburu atau pranor. Tentu ini bukan desa yang fungsi utamanya bukan sebagai tempat tinggal penduduk melainkan pos peristirahatan bagi penjelajah.


Kala dan Kaia dibiarkan masuk dengan mudah, tanpa pemeriksaan sama sekali, hanya cukup melihat keduanya sebagai pranor saja. Alang tidak dianggap sebagai ancaman, rata-rata unggas tidak bisa menimbulkan ancaman besar.


Lagi-lagi Kala berdecak kagum. Jika ia menjadi perompak, akan sangat mudah memasuki desa ini. Namun, melihat dari banyaknya pranor kuat di sini, bodoh sekali jika mau merompak.


Sepertinya orang-orang di sini tidak ramah, dilihat dari wajah mereka yang ketus. Akan sungkan jika bertanya arah. Maka dari itu, dibuat papan penunjuk arah di tengah desa.


Dari sini Kala dapat dengan mudah menemukan kedai makan dan penginapan. Letaknya tepat di sebelah rumah kepala desa. Kala mengajak Kaia ke penginapan tersebut.


Semakin berjalan ke arah penginapan, maka semakin ramai manusia. Kala tidak menduga bahwa di sini banyak juga penduduk desa asli, tapi tetap saja lebih banyak pengunjung pranor.


Penginapan itu bernama, tapi semua orang di sini sudah tahu menahu soal penginapan satu-satunya di desa ini. Berlantai dua dengan dinding kayu sepenuhnya. Mereka bertiga masuk melalui pintu yang terbuka lebar, tidak ada sambutan ramah dari pelayan.


Tepat di sebelah pintu masuk, terdapat kedai arak serta sejumlah bangku untuk minum. Banyak orang yang minum di sana, dan mereka sekarang menatap Kala dengan tatapan tidak bersahabat.


“Anak Muda, kau salah tempat.” Pria sangar yang duduk di salah satu bangku itu mengusir Kala, tidak jelas ia adalah pegawai penginapan atau sekadar pengunjung.


Menghadapi perlakuan yang tidak sopan itu, Kala hanya tersenyum tipis sambil menggeleng pelan, Kala kembali berjalan masuk diikuti Kaia.


Pria sangar itu berdiri diikuti dua kawannya yang berewokan. “Aku sudah katakan bahwa kau salah tempat. Ini bukan tempat untuk pemuda baik-baik yang culun sepertimu, keluar atau kau akan mati di tanganku.”


Kala menghela napas panjang dengan sangat yakin bahwa dirinya sudah membunuh lebih banyak orang dari pada pria yang mengusirnya sekarang. Tentu sedikit meleset jika dikatakan bahwa Kala adalah pemuda baik-baik.


“Kisanak, aku tidak punya urusan denganmu.”


Seandainya ada penginapan lain di desa ini, maka sudah sejak lama ia pergi. Tapi, mempertimbangkan lagi bahwa ini adalah satu-satunya penginapan desa, maka Kala akan memperjuangkannya.


Setidaknya Kaia harus tidur di kasur malam ini.

__ADS_1


Pria sangar dan kawannya ingin membantah, tapi Kala tidak mau membuang waktu. Dengan nafsu pembunuh yang diedarkan ke penjuru ruangan, pria itu diam tak berkutik.


“Siapa yang berani menekanku dengan aura pembunuh ini?!” jeritnya marah.


__ADS_2