
Kala membuka mata dan terbangun dari tidur saat suasana ruangannya menjadi sedikit berisik. Kala melihat ke sekeliling, beberapa murid Perguruan Angin Utara tampak sedang memindahkan sebuh kasur di samping tempat tidur Kala.
"Untuk apa kasur ini, Kakang?" tanya Kala saat nyawanya sudah terkumpul.
"Ah, maafkan kami membangunkanmu, Adik." Orang itu memalingkan tubuhnya menghadap Kala. "Kasur ini untuk Tabib Maheswari."
Jawaban itu singkat, tetapi mengandung arti yang sangat banyak. "Untuk Tabib Maheswari? Apa yang akan Tabib Maheswari lakukan dengan kasur ini?"
"Aku tidak tahu apa yang akan Tabib Maheswari lakukan dengan kasur ini, kami hanya menerima perintah darinya. Itu saja, Adik."
Kala mengangguk pelan. Jumlah mereka yang lebih dari cukup membuat pekerjaan selesai dengan cepat.
"Kami mohon undur diri," kata mereka serempak disertai sedikit menunduk ramah.
"Silakan, Kakang. Terima kasih." Kala juga ikut menunduk dan menunjukkan senyuman ramah.
Ah, tidak semua pendekar memiliki sikap yang buruk.
Kala bergumam dalam benak sebelum Maheswari memasuki ruangannya. Wajah gadis itu tampak sangat lelah. Mengobati banyak pranor sepanjang hari pasti membuatnya sangat lelah padahal pada pagi harinya dia juga bertempur.
Kala langsung bertanya, "Kak Mahes, untuk apa kasur ini?"
"Ah, kasur ini untukku tidur," jawab Maheswari pelan lalu duduk di tepian kasurnya.
"Kak Mahes ingin tidur di sini?!"
"Ya, itu benar."
"Untuk apa? Apakah Kak Mahes sudah kehabisan kamar?"
__ADS_1
"Kala, serangan pada perutmu tadi juga disertai racun yang cukup berbahaya." Maheswari melepaskan sabuk pinggangnya "Racun ini sangat kuat dan aku hanya bisa menahannya. Aku tidak bisa menghilangkan sepenuhnya untuk sekarang. Dan kapan pun, efek racun itu dapat kembali bereaksi, aku tetap di sini agar bisa secepatnya menolong dan mengeluarkan racun dari tubuhmu."
Kala bergidik ngeri. "Apa begitu parah?"
"Tentu saja, kamu akan merasa seperti disengat ribuan lebah di satu waktu." Maheswari mulai merebahkan tubuhnya pada kasur miliknya. "Boleh aku matikan lilin-lilin itu?"
Kala mengangguk mengiyakan. Maheswari mengibaskan tangannya dan tiga lilin yang ada di kamar ini langsung mati, pastilah Maheswari menggunakan prana untuk kegiatan ajaib ini. Ruangan menjadi gelap. Maheswari memasang segel agar suara berisik dari luar tidak mengganggu tidurnya.
"Selamat tidur, Kala. Mimpi indah."
Setelah itu ... senyap.
Kala menutup matanya, tetapi tidak juga tertidur. Tubuhnya sudah cukup istirahat, dan bahkan Kala sudah beristirahat secara berlebihan; ia benar-benar tidak mengantuk!
Tubuhnya memang sudah bisa digerakkan, namun Kala tidak bisa bergerak terlalu banyak apa lagi berjalan untuk keluar kamar. Kala hanya memandang gelap hitam, mendengar bunyi sunyi; bahkan suara jangkrik tidak bisa ia dengar akibat segel Maheswari.
"Aku merindukan matahari," gumam Kala pelan.
Bosan yang melanda membuat Kala memeriksa satu persatu barang-barang di cincin interspatialnya. Setidaknya, ada kegiatan yang membuatnya mengantuk. Kala tanpa sadar menutup matanya.
***
Keringat dingin membanjiri. Kala berteriak-teriak dengan keras dan jatuh dari kasur. Tubuhnya berguling-guling di bawah kasur. Tangan Kala terus memukul lantai, suara serak teriak keluar dari mulutnya.
Maheswari segera bangun. Kesadaran Maheswari dengan cepat terkumpul mendengar jerit pilu seorang Kala. Maheswari mengangkat tubuh Kala ke kasur walau ia terus terkena pukulan nyasar dari Kala.
Maheswari dengan susah payah mengikat tangan dan kaki Kala, tubuh Kala juga diikat menyatu dengan kasur. Kala hampir tidak bisa bergerak, tali yang Maheswari gunakan bukanlah tali biasa.
Maheswari mengeluarkan satu persatu barang-barang dari cincin interspatial dan diletakkan di atas meja agar lebih mudah menggapainya. "Kala, tenang! Jangan sakiti dirimu dengan terus memberontak!"
__ADS_1
Maheswari berbicara tidak karuan karena kekhawatiran yang luar biasa. Kala adalah pelita yang menerangi ruang gelapnya, ia akan menjaga pelita itu agar tidak redup apalagi padam.
Jari telunjuk Maheswari menyentuh kening Kala. Matanya terpejam. Dari jari telunjuk itu, keluar aura-aura berwarna hijau cerah, cahaya hijau menerangi seantero ruangan.
Kala tidak henti-hentinya berteriak keras, untung segel Maheswari memblokir suara keluar dari selatan kamar. Dahi Maheswari banjir keringat, mulutnya terus mengerjap beberapa doa dan mantera, jari telunjuknya dipertahankan agar tidak bergeser walau tubuh Kala banyak gerak seperti cacing kena asam.
"Kala ... aku mohon."
Tubuh Kala semakin mengejang tak karuan. Tali yang mengikat tubuh Kala mulai kehilangan struktur kuatnya. Maheswari semakin mengalirkan prana pada jari telunjuk, air mata keluar dari mata indah Maheswari dan menyatu dengan keringat.
Kala tiba-tiba seperti mengalami ledakan dari dalam tubuhnya. Lantas semuanya menjadi berhenti.
Tubuh Kala berhenti mengejang. Kala menutup matanya dan tak sadarkan diri. Maheswari menarik jari telunjuknya lalu muntah darah hitam ke lantai. Seluruh tubuh Maheswari lemas, lututnya seperti selai yang lembut, tak mampu lagi menopang beban tubuh. Tapi, Maheswari dengan dahsyat masih berdiri tegar sambil membuka ikatan yang mengikat tubuh Kala.
Maheswari tersenyum tipis. "Apa yang baru saja kau lalui sangat berat, Kala. Istirahatlah dengan tenang."
Maheswari membersihkan darah hitam muntahannya sebelum kembali ke kasurnya. Maheswari terlelap dengan tubuh yang sangat lemah, ia langsung tertidur nyenyak dan seperti tidak bisa dibangunkan lagi.
Yang Maheswari baru saja lakukan adalah proses pemindahan racun. Racun di tubuh Kala dipindahkan ke tubuh Maheswari, racun itu sudah melewati beberapa proses di tubuh Maheswari dan akan dibuang olehnya. Jika Maheswari telat mengeluarkan racun dalam tubuhnya, sedikit saja telat, maka Maheswari juga akan mengalami hal yang sama seperti Kala.
Kegiatan itu sangat berisiko tinggi, Maheswari bisa saja mati karena tidak siap menerima racun saat kondisi tubuhnya lemah total. Maheswari mengerahkan tenaga jiwa juga hampir seluruh prana miliknya.
Racun di tubuh Kala tidak sepenuhnya habis. Hanya tersedot sebagian saja oleh Maheswari si Tabib Keajaiban. Baik Kala maupun Maheswari, keduanya tertidur dengan lelap.
***
Kala bangun terlebih dahulu dari Maheswari. Seluruh tubuhnya terasa sangat pegal-pegal. Kala mengumpulkan kesadaran dan seketika itu juga samar-samar mengingat kejadian tadi malam.
Kala berdalih melihat Maheswari. Gadis itu tertidur tepat di dekatnya. Wajah Maheswari menghadap ke arah wajah Kala. Semuanya tampak indah dan sempurna.
__ADS_1