
Namun, siapa itu Kala? Yang tidak goyah saat wanita secantik bidadari, Maheswari, mendekatinya? Apakah Kala akan goyah dengan melihat anak kepala desa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Maheswari?
“Maaf, Kepala Desa. Aku tak berniat memiliki istri.” Kala menghela napas panjang. “... setidaknya, untuk saat ini.”
Petualangan Kala masih akan panjang, memiliki istri malah akan merepotkan. Geraknya juga akan terbatas sebab harus bertanggung jawab atas keselamatan istrinya. Istri Kala juga tidak akan aman sebab sang Kesatria Garuda selalu memiliki musuh. Setiap saatnya.
“Baik, aku tidak akan menikahkan putriku dengan yang lain sampai kau sudah siap,” kata kepala desa tanpa beban.
Kala tersedak ludahnya sendiri. Ia menjelaskan secara perlahan-lahan bahwa ia mungkin tidak akan menikah, jadi kepala desa tidak perlu menunggu Kala sampai siap menikah.
Sementara Kala terus menjelaskan, hidangan mulai tersaji. Aroma daging terbakar seketika menyeruak. Warga desa yang sudah tak bisa menahan diri langsung menyerbu makanan tersebut.
Mereka tidak makan dengan lahap. Mereka makan dengan rakus! Seakan ini adalah makanan terakhir yang bisa mereka makan. Mulut mereka sudah penuh melebihi kapasitas yang seharusnya.
Hidangan yang baru tersaji tidak cukup untuk gerombolan orang yang kelaparan seperti ini. Sedangkan daging yang lainnya belum selesai dimasak. Kala memutuskan kembali ke kamar.
“Alang, ini saatnya memberikan semburan api.” Kala membuka pintunya dan menemukan Alang masih bertengger di sisi kasur.
Burung itu meluruskan tulang sayapnya sebelum terbang ke pundak Kala dalam ukuran yang kecil. Alang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia hanya bisa menurut.
Kala kembali menutup pintunya sebelum berjalan ke luar. “Alang, kau harus membakar daging-daging nantinya. Api yang mereka buat tidak cukup cepat untuk membuat masakan matang, sedangkan orang-orang sudah mulai gila karena lapar.”
Pemuda itu memilih menggunakan ilmu meringankan tubuh agar cepat sampai. Ia dapat melihat wajah-wajah warga desa yang tidak dalam kondisi baik. Kala segera pergi ke dapur umum yang tidak jauh dari situ.
“Cepat! Besarkan apinya!” Suasana di dapur umum juga tidak terlalu bagus, para koki dadakan di sini terlihat panik.
Kala berseru, “Kalian bisa beristirahat. Biar kami yang meneruskan.”
Semua orang yang ada di dapur menatap Kala. Mereka akhirnya meninggalkan pekerjaannya dan duduk menonton di pojok. Orang-orang ini menganggap Kala sebagai pahlawan sehingga akan menuruti apa pun permintaannya.
“Silakan, Tuan Pahlawan, jika kau ingin berkreasi.” Seorang wanita paruh baya mempersilakan dapur kepada Kala, tapi diperlakukan seolah-olah ia hanya ingin bermain di sini.
“Aku tidak ingin berkreasi.” Kala mengibaskan tangannya pelan sebelum melirik Alang. “Alang, kau bisa tunjukkan kemampuanmu sekarang.”
Tubuh Alang yang semulanya seukuran burung pipit kini mulai membesar. Orang-orang di dapur menutup mulutnya saking terkejut, awalnya mereka mengira bahwa burung kecil itu hanya hinggap secara tidak sengaja di pundak Kala. Mereka sungguh tidak menyangka bahwa burung ini adalah elang raksasa!
Alang menatap daging segar di depannya. Mulutnya menyemburkan api panas yang melahap daging itu. Api tersebut tidak membakar apa pun selain daging itu sendiri, sungguh pekerjaan yang bersih.
Alang melakukan itu sampai semua daging di dapur ini matang. Dilakukan hanya dalam sekejap, mereka kembali dibuat takjub akan kesaktian Kala. Mereka mulai menafsirkan bahwa Kala adalah titisan dari surga.
“Sajikan cepat. Mereka tidak akan bisa menahan perutnya lebih lama.” Kala meninggalkan ruangan dengan senyum khas miliknya, Alang mengecilkan ukuran dan hinggap di pundak Kala.
Kala menghampiri salah satu kepala desa dan berkata, “Kepala desa, aku ingin meminjam kuali di dapur umum. Apa boleh?”
“Apa yang kau pikirkan, Pendekar? Apa pun asal untukmu, desa ini akan memberikan apa pun asalkan untuk dirimu!”
Kala tersenyum canggung. Ia merasa bahwa kalimat itu berlebihan. Pemuda itu memutuskan kembali ke dapur umum dan membawa kuali yang tidak sedang dipakai.
Kala membawa kuali itu ke pinggiran desa di mana bangunan-bangunan hancur dan suasana sangat sepi. Ia menghela napas panjang lalu menyiapkan perapian.
***
Api Alang membakar kayu-kayu di bawah kuali yang Kala sudah siapkan. Kuali itu sekarang sudah terisi dengan air, di dalamnya ada tulang-tulang besar beserta beberapa tanaman herbal spirit.
Kala beramsumsi, jika ia merebus tulang itu sampai lunak dengan tanaman-tanaman herbal, maka ia bisa memakannya dengan empuk dan enak meskipun esensi prana hilang sedikit. Ia berharap dengan esensi prana di dalam sumsum ini, tulangnya bisa lebih kuat dan bisa menyerang lawan dengan prana.
Kala juga melakukan ini karena sadar, ia tidak bisa terus menerus mengandalkan prana untuk bertarung. Jika kondisi seperti kemarin waktu ia ditahan oleh Kastel Kristal Es, maka hanya kekuatan fisiknya yang bisa diandalkan.
“Hidup ini begitu sulit.” Kala bergumam lalu melempar ranting ke dalam api. “Jika lemah, maka kau akan tertindas. Dan jika kau kuat, maka kau harus terus menjadi lebih kuat agar tidak mati oleh musuh.”
Alang terus mendengarkan curahan hati Kala di pundaknya. “Mengapa tidak bisa berdamai saja? Bukankah tujuan berlatih bela diri untuk hidup lebih lama, mengapa mereka tidak berlatih saja terus tanpa harus ada pertarungan?”
Burung cerdas itu menggelengkan kepalanya. “Eak ....”
__ADS_1
“Kau benar, Alang.” Kala tertawa kecil sambil menatap kosong tanah di bawahnya. “Ini adalah tugasku. Aku akan menyelesaikannya ....”
Kala secara tiba-tiba menajamkan indera pendengarannya. Sayup-sayup, ia mendengar suara tangisan pilu dari seorang gadis yang sepertinya masih berusia muda. Kala mengangkat dirinya dan pergi menuju suara itu.
Isak biru itu semakin terdengar. Langkah Kala semakin dipercepat melewati bangunan-bangunan yang sebagian runtuh. Langkahnya berhenti saat merasa suara itu sudah sangat dekat.
“Ada orang di sini?!”
Isak tangis itu tiba-tiba terhenti. Kala berharap ada balasan, tapi tidak ada yang terdengar lagi kecuali desiran angin dan melodi jangkrik.
“Siapa yang menangis di sini?”
Kala menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dan memandang ke sekeliling. Bangunan-bangunan di sini sudah setengah runtuh. Kala melihat wayang kulit yang menyatu dengan reruntuhan, pandangannya beralih pada kain putih.
Ia menatap kain itu lekat-lekat lalu mengelus dadanya lega. “Hanya kain tirai jende—”
Jantung Kala berhenti sejenak. Matanya membeliak kaget. Dirinya bergetar hebat saat melihat sepasang sinar mata yang ada di bawah kain putih itu. Sinar mata tersebut mirip dengan sinar mata kucing yang terkena pantulan cahaya api obor.
Jika ini di dalam hutan, Kala akan menanggap dua sinar mata itu sebagai mata hewan malam. Namun, ini di balik kain-kain putih ....
“Sialan! Hantu!” Kala mengeluarkan pedangnya, bukan justru berlari. Ini gerakan refleks Kala saat merasa ada ancaman.
Kala mengangkat pedang spirit itu tinggi-tinggi, bersiap menghancurkan makhluk apa pun yang ada di dalam kain tersebut.
“Bunuh aku! Cepat!”
Kala menghentikan laju pedangnya yang sudah berada di pertengahan jalan. Mana mungkin hantu akan berkata seperti itu?
“Siapa kau?!”
“Bunuh aku!”
Ini adalah suara gadis. Yang sangat lembut dan halus. Namun, suara itu dingin dan mengandung sejuta pilu.
“BUNUH AKU!” Suara gadis itu kemudian disertai isakan kecil. “Aku ... aku tidak ingin hidup ... aku tidak ingin ....”
Kala menghela napas panjang seolah tahu apa yang terjadi. Ia kemudian duduk sambil memandangi pedangnya.
“Kau tidak berhak memutuskan ingin mati atau hidup. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan itu. Apa kau berniat melawan Tuhan? Ia tidak akan menerimamu di surga maupun neraka jika kau mati.”
“Aku tidak peduli. Bunuh aku atau aku yang akan membunuhmu.” Gadis itu berkata dengan dingin, tapi tetap dengan sejuta kesedihan.
“Jujur, aku takut dengan ancamanmu.” Kala membalikkan pedangnya dan melihatnya dengan teliti, lalu melanjutkan, “bagaimana jika kau akan menjadi hantu sebab tak diterima di mana pun? Kau pasti akan menghantuiku sampai aku memutuskan lebih baik mati. Apa itu tidak sama saja kau membunuhku?”
Kala sedikit menggoda. Ia yakin dengan ini suasana akan menjadi lebih tenang dan berharap bisa bicara dengan gadis ini.
Gadis itu tidak lagi menjawab Kala. Mungkin ia sedang menggertak giginya di balik kain putih tersebut.
“Kau tidak ingin bercerita sedikit? Mungkin saja setelah aku mendengar ceritamu, aku akan rela mengotori tangan untuk menghilangkan nyawamu.”
“Kau tidak akan mengerti! Kau adalah pria yang bejat.”
Kala tersedak ludahnya sendiri.
“Eak?” Alang sepertinya juga tidak terima.
“Apa salahku sampai kau berkata seperti itu?” Kala berujar lagi setelah menyelesaikan batuknya.
Gadis itu tidak menjawab Kala. Ia sepertinya merupakan tipe orang yang cuek, dingin, dan tidak punya kepedulian sosial. Kala menghela napas panjang.
“Cerita saja sedikit. Mungkin aku bisa membantumu.”
“Kau tidak akan bisa membantuku … tidak ada yang bisa membantuku.”
__ADS_1
“Aku akan usahakan sebisa mungkin untuk membantumu ….”
“Bunuh saja aku. Jangan banyak bicara.”
“Aku akan membantumu. Aku punya sedikit kemampuan.”
“Tidak akan bisa.”
“Aku pasti akan bisa! Cerita sedikit!”
“APA KAU BISA MENGHIDUPKAN KEMBALI KELUARGAKU?!”
“Itu ….” Kala memilih diam karena merasa gadis itu akan berbicara lebih lanjut.
“Apa kau bisa mengembalikan kehormatanku? Apa kau bisa mengembalikan nasib hidupku? Kau adalah pria yang sama-sama bejat seperti mereka!” Gadis itu mulai terisak. “Aku sudah … kehilangan segalanya … tidak ada yang tersisa, hidup ini menyiksa diriku.”
“Selama kau masih hidup, maka pasti ada harapan lain.” Kala bersikeras pada dirinya sendiri untuk menyelamatkan gadis ini. Jika dirinya meninggalkan gadis ini sendirian, maka mungkin saja gadis ini akan bunuh diri sebelum fajar menyingsing.
“Kau sebut ini harapan?” Gadis itu seakan menyadari Kala akan kenyataan, bangunan-bangunan sudah menyatu dengan tanah sekarang, tidak ada harapan.
“Ada harapan.” Kala tersenyum lembut. “Asalkan kau masih hidup.”
Gadis itu terdiam. Tidak membalas atau menanggapi Kala, sepertinya ia terlalu sibuk atau merasa tidak peduli dengan Kala. Sang Kesatria Garuda menghela napas panjang sebelum menancapkan pedangnya ke tanah secara tiba-tiba. Dirinya dalam bimbang, ia tidak bisa meninggalkan gadis sendirian atau ia akan mati bunuh diri esok hari.
“Sepertinya aku sudah tahu apa yang terjadi padamu. Kehormatanmu dirampas dan keluargamu dibunuh. Rumahmu juga sudah diratakan dengan tanah. Sekarang kau menyelimuti seluruh tubuhmu di bawah kain putih, kain ini cukup menakutiku.” Kala tertawa mengejek. “Kasihan sekali nasib dirimu. Kau sudah benar-benar tamat.”
Gadis itu mengeluarkan suara geram marah. “Kau...! Pergi saja dari sini dan biarkan aku sendiri. Kehadiranmu membuatku semakin rumit!”
“Aku bisa membantumu. Tapi kau tidak mau memberi tahu apa yang bisa aku bantu.” Kala meninggikan suaranya.
“Kau adalah pria lemah! Tidak mungkin bisa membantuku!” Gadis itu berteriak marah. “Jika tidak ingin membunuhku, maka tinggalkan aku sendiri dan biarkan aku mati sendiri!”
“Sisi kemanusiaanku mengatakan agar tidak meninggalkan dirimu. Aku bisa membantumu. Dan aku bukan pria lemah, apa kau mengenal yang namanya pranor? Aku adalah pranor.”
Gadis itu membisu sangat lama. Kala merasa tidak kuat lagi duduk di sini dan berdiri untuk pergi, ia akan kembali jika terjadi sesuatu pada gadis ini.
“Apa kau bisa membantuku membalaskan dendam?” Gadis itu menahan Kala yang hendak pergi.
Kala tersenyum lembut dan kembali duduk. “Aku bisa membantumu membalaskan dendam.”
“Kalau begitu, balaskan dendamku pada siapa pun yang membunuh keluargaku. Dengan begitu, aku bisa mati dengan tenang dan tidak akan mengganggumu.”
Kala kembali tersedak ludahnya sendiri, ia sungguh tidak mengerti jalan pemikiran gadis dingin ini. “Tidak. Aku tidak akan mau mengotori tanganku dengan darah demimu. Kau bisa balas dendam dengan tanganmu sendiri, asalkan kau masih hidup.”
“Apa matamu buta atau kau idiot? Jelas aku tidak memiliki kekuatan!”
Kali ini, Kala sudah terbiasa dengan perkataan tak masuk akal gadis itu sehingga tidak tersedak ludah lagi. “Aku bisa membuatmu untuk memiliki kemampuan. Apa kau mau menjadi pranor?”
Gadis itu terdiam beberapa saat sebelum membuka selimut bagian atas yang menutupi wajahnya yang luar biasa. Kecantikan bak dewi surga terpampang di hadapan Kala, sedikit di bawah Maheswari. Kulitnya jernih, rambutnya hitam lebat nan halus, dan matanya ... berwarna merah menyala.
Kala terkejut, bukan karena kecantikannya, tapi karena matanya yang merah menyala. Jadi inilah yang membuat dirinya takut tadi.
“Apa kau sungguh-sungguh dengan perkataanmu tadi?” Gadis itu membuka bibirnya yang indah, tetapi nada suaranya dingin.
Kala tersenyum hangat dan mengangguk. “Aku sungguh-sungguh, asalkan kau masih mau hidup.”
Gadis itu menatap Kala lekat-lekat, berusaha mencari jejak kebohongan namun nihil. Kala menaikkan alisnya heran, gadis ini tidak bangkit dari tidurnya dan masih terus berselimut padahal sepertinya ia sudah percaya dengan Kala.
“Apa kau ....” Gadis itu menutup mata dan berusaha memantapkan perkataan berikutnya. “Apa kau keberatan jika memberiku pakaian?”
Kala mengerutkan dahinya lalu tersadar akan sesuatu. Gadis cantik yang dingin ini ternyata memiliki alasan bersembunyi di balik kain putih itu! Kala lekas-lekas memalingkan pandangannya, tidak lagi berani menatap kain putih lagi.
Gadis ini memang menyelimuti tubuhnya dengan kain karena ia tidak memakai sehelai pakaian pun. Ini semua akibat kelakuan bejat murid-murid Kastel Kristal Es!
__ADS_1