Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Membersihkan Diri di Air Terjun


__ADS_3

Kala menarik lengannya kembali secara lembut. “Kaia, kau memiliki bakat menjadi seorang pendekar atau yang biasa di sebut ‘pranor’. Usiamu memang sudah terlalu tua untuk mulai berlatih, tapi aku yakin kau akan menjadi pranor yang kuat.”


Kaia sebenarnya sedikit kecewa saat Kala menghentikan perasaan nyaman itu, tapi ia terlalu gengsi untuk meminta Kala melakukan itu lagi. Kaia kemudian mendengarkan perkataan Kala dengan perhatian walau raut wajahnya tidak peduli.


“Aku tidak ingin menjadi gurumu, kita bisa belajar bersama.” Kala tersenyum lembut. “Untuk saat ini, kita makan dulu. Latihan mulai esok hari.”


Kala mengangkat dagingnya dari perapian. Satu tusuk untuk Kaia sedangkan tusuk lainnya untuk dirinya.


“Daging ini panas. Namun, pasti akan dingin dengan sikapmu.” Kala menggoda sedikit sebelum mulai makan.


Wajah Kaia tidak berubah, tetap datar. Ia memegangi tusuk daging tersebut, berharap bisa dingin dengan angin malam.


Kala sendiri sudah makan dengan lahap, ia mengalirkan prana pada mulutnya agar kebal terhadap daging yang sangat panas tersebut. Kaia hanya bisa menatap Kala yang sedang makan.


Menyadari tatapan itu, Kala bertanya, “Apa kau tidak bisa meniup?”


“Apa kau tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu?” Kaia malah bertanya balik.


Etika makan orang Jawa memang melarang meniup makanan untuk lebih sopan. Apa lagi, Kaia merupakan seorang gadis. Kala hanya menanggapinya dengan malas.


“Aku hanya ingin membantu. Sepertinya kau belum makan beberapa hari ini?”


Kaia mengangguk pelan. Sama seperti warga yang lain, ia belum makan sejak Kastel Kristal Es menyerang.


“Aih ... lihatlah betapa malangnya dirimu. Kemarikan dagingmu.” Kala menjulurkan menggapai daging itu tanpa menunggu izin.


Kala mengeluarkan pil dari cincin interspatial. Pil itu berwarna biru transparan, pil pemberian dari Maheswari. Kala memasukkan pil itu pada selipan daging kemudian menekannya sampai pecah dan mengeluarkan asap dingin yang banyak.


Asap itu menyelimuti daging serta tubuh Kala dan Kaia. Pil ini adalah pil yang digunakan jika tubuh terbakar. Bahkan, api unggun di depan Kala sampai mati ketika dilalui asap itu.


Kaia langsung menggigil hebat sedangkan Kala menggunakan prana untuk menghangatkan diri. Asap yang cukup tebal membuat Kala tidak bisa melihat Kaia yang menggigil.


Beberapa saat kemudian, asap mulai berkurang dan Kala berkata dengan riang, “Nah, dagingmu sudah dingin!”


Kala menjulurkan daging itu. Namun, dirinya langsung panik saat melihat Kaia yang menggigil dengan kulit putih pucat. Ia lekas-lekas menaruh daging itu di tanah secara spontan.


Ia juga mengeluarkan kain dari cincinnya lalu menyelimuti Kaia. Namun, itu tidak cukup untuk membuat suhu badan Kaia kembali normal.


Dengan panik, Kala memegang lengan Kaia dan lekas-lekas mengalirkan prana. Kaia merasakan rasa nyaman yang telah ia rindukan.


Perlahan namun pasti, tubuh Kaia berhenti menggigil walau kulitnya masih berwarna lebih putih dari biasanya. Kala merasakan suhu tubuh Kaia masih belum stabil, ini mungkin terjadi karena Kaia demam.


“Ai, aku tidak memikirkan ini sebelumnya.” Kala merasa ceroboh, Kaia masih belum menjadi pranor yang bisa menghangatkan tubuh dengan prana.


Menyalakan bom es di dekat manusia biasa adalah tindakan yang sangat konyol. Terlebih lagi, menggunakan bom es yang sangat mahal hanya untuk mendinginkan ayam panggang, itu sungguh tindakan tolol.


Kala menggelar selimut di atas tanah sementara Kaia masih terus lemas dan pucat. Kala menyuruh Kaia untuk tidur di situ, demi pemulihan yang lebih cepat.


“Kau ... jangan buat macam-macam ....” Kaia berkata dengan terbata-bata sebelum memejamkan mata.


Kala menghela napas panjang, pada akhirnya gadis ini tidak jadi makan padahal perutnya benar-benar hampa. Dirinya sangat merasa bersalah, terlebih lagi ia sudah memberi harapan palsu dengan aroma daging yang begitu lezat.


Pada akhirnya, Kala memakan daging tersebut sendirian sambil meratapi perapian. Ia hanya tidur dua jam sebelum bermeditasi sepanjang malam.


***


Pada pagi harinya, Kaia terbangun dengan kondisi yang hampir pulih. Kala langsung menyapanya dengan hangat.


“Sudah bangun? Minum segelas terlebih dahulu baru makan.” Kala menyodorkan piring yang di atasnya ada daging bakar lengkap dengan rempah-rempah, berbeda dengan ayam bakar yang kemarin tanpa rempah-rempah.


Kaia mengerutkan alisnya, apa dirinya tidak tidur semalaman?


Gadis itu bersikap acuh tak acuh saat meminta segelas air pada Kala. Setelah meminum segelas penuh air yang tidak diketahui dari mana tersebut, Kaia langsung menyantap daging bakar.


Kaia tertegun, tidak sanggup mengunyah lebih lanjut. Rasanya, sungguh fantastis! Pada bagian luar daging tersebut sangat renyah dan gurih, sedangkan bagian dalamnya sangat lembut hingga tidak ada serat daging yang menyelip di gigi.


Kaia berusaha menutupi kekagumannya, tapi seorang Kala bisa menangkap jelas rasa kagum yang terlintas di mata Kaia. Gadis ini makan dengan lahap dan cepat, seakan tidak waktu lagi untuk makan.


Berulang kali Kala menyuruh gadis ini pelan-pelan. Namun sekali lagi, diacuhkan.


Setelah piring itu kosong, Kaia merasa perutnya belum puas atau yang sebenarnya adalah lidahnya kurang puas. Padahal, Kala sudah memberikan porsi dua kali lipat dari porsi daging yang semalam.

__ADS_1


“Dari mana kau mendapatkan rempah-rempah ditambah dengan air?” Kaia akhirnya bertanya, tapi nadanya seperti biasanya.


“Aku mencarinya semalam,” jawab Kala enteng.


“Kau meninggalkanku semalam?!”


“Bah, pada akhirnya kau mengakui kalau dirimu masih membutuhkan perlindunganku.” Kala menepuk pahanya sendiri lalu tertawa pelan. “Jadi, berhentilah bersikap dingin.”


“Sikap ini adalah sikapku. Apa kau mau jika sikapmu yang seperti itu diubah seseorang?”


Kala menggelengkan kepalanya pelan tidak berniat membahas ini lebih jauh. Kala berani meninggalkan Kaia sendiri disebabkan karena Mata Garuda bisa diandalkan untuk mengawasi Kaia.


“Di dekat sini ada air terjun. Apa kau mau mandi?”


Kaia memincingkan mata, berharap tidak ada niat buruk dari Kala dan harapannya benar. Kala juga ingin mandi sekaligus mencuci jubahnya, dirinya benar-benar bau darah yang sudah membusuk.


Sebenarnya, Kala bisa saja mandi tadi malam. Sayangnya, ia tidak mau meninggalkan Kaia lama-lama di tengah belantara luas yang banyak binatang perusak seperti ini.


Kaia tidak menjawab atau mengangguk, ia hanya berdiri dan melipat alas tidurnya. Lagi-lagi Kala hanya bisa bersabar menghadapi sikap gadis ini.


Kaia menyerahkan kain yang sudah selesai ia lipat kembali ke Kala. Sang Kesatria Garuda dengan malas mengibaskan tangannya, kain itu seketika menghilang dari hadapan Kaia.


“Saat menuju air terjun nanti, jangan berisik ....” Kala menghentikan kata-katanya, jangan berisik? Bukankah Kaia sudah memenuhi syarat itu? “Maksudku, usahakan jangan menginjak ranting. Perhatikan langkahmu saat melangkah. Jika keberadaan kita diketahui oleh binatang buas, maka itu akan merepotkan.”


“Jika kita harus terpisah, gunakan ini untuk melindungi dirimu sendiri.” Kala memberi Kaia kerambit spirit miliknya. “Jangan gunakan untuk bermain-main, anggap saja ini punyamu sendiri.”


“Jika ada binatang buas yang mengejarmu, berlari di antara pepohonan dan usahakan jangan bersembunyi di dalam gua.”


“Perhatikan arah angin jika kau ingin bersembunyi, sebab angin bisa membawa aroma tubuhmu pada binatang buas.”


Kaia menceletuk dengan dingin. “Kau berbicara seperti ini seakan kita akan dikejar seribu binatang buas.”


“Ini hanya antisipasi, kita tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.” Kala menaikkan nada suaranya. “Kau belum punya punya pengalaman tapi tingkat sok tahu milikmu sangat tinggi. Berhentilah keras kepala atau aku tidak akan peduli lagi padamu.”


Pada akhirnya, Kala harus mengeluarkan sifat tegasnya agar situasi tetap terkendali di tangannya. Jika saja ia hanya pasrah pada gadis tersebut, maka diri mereka berdua akan berada dalam bahaya.


“Pahamilah, ini adalah hutan belantara. Kau tidak bisa menghitung berapa banyak bahaya yang tersimpan di sini, siap menanti orang seperti dirimu.”


Kala menempelkan kedua jarinya pada bibir lalu bersuit. Seketika itu juga Alang hinggap di pundaknya, kembali dengan ukuran yang kecil. Tubuh Alang terlihat lemas, Kala merasa bersalah karena belum bisa memberinya makan batu energi.


Dengan menggerakkan tangannya, Kala mengajak Kaia untuk segera berjalan.


Kala menyisakan bekas jalur saat tadi malam menuju lokasi. Jalur ini walau hampir tidak terlihat di antara semak-semak, Kala bisa menentukan lokasinya.


Hampir setiap langkahnya sangat diperhatikan. Mata Kala juga menyelisik semak belukar dan pepohonan yang rimbun.


Selain hewan spirit, bahaya lain yang mengancam adalah tanaman spirit. Jika hewan spirit akan terang-terangan dalam menyerang, maka tumbuhan spirit akan sebaliknya.


Ada beberapa dari tumbuhan spirit yang memakan daging, biasanya mereka memakan hewan-hewan yang melintas. Mereka bersembunyi di semak-semak, hampir tidak bisa dikenali jika tidak teliti.


Kala diam-diam membuka Mata Garuda miliknya sebab Kaia berada di belakangnya, tidak akan bisa melihat mata emas Kala. Kala juga menyuruh Alang memakai matanya untuk mengawasi.


Perjalanan mereka aman dan terkendali sampai pada akhirnya mereka sampai ke lokasi air terjun dengan selamat. Kala langsung menuju air terjun itu dan menyiram wajahnya.


Siraman itu turut mengguyur Alang. Dengan marah, Alang terbang ke atas dan berubah menjadi besar dengan api di sekujur tubuhnya. Alang kemudian hinggap di puncak air terjun.


Kala melihat Alang sebentar yang berada jauh di atasnya, lalu melirik Kaia dengan gugup. “Um, Kaia ... kau bisa mandi lebih dulu, aku akan pergi.”


“Tidak, kau mandi terlebih dahulu.” Kaia berubah menjadi sinis. “Bukankah kau adalah pria yang kuat? Kau harus memastikan sungai ini aman sebelum wanita mandi.”


Kala menggelengkan kepalanya dengan tangan yang mengelus dada. “Baiklah, jika ada bahaya berteriaklah keras-keras. Dan jangan terlalu jauh dari sini.”


“Mhm.” Lalu gadis itu pergi masuk lagi ke dalam hutan.


Kala menarik napas dalam-dalam sebelum masuk ke dalam kolam.


Air yang dingin menyejukkan dirinya. Membasuh badannya yang sudah lengket dengan darah iblis. Kala juga melepaskan jubahnya saat kembali ke permukaan, ia mencuci seluruh pakaiannya di atas batu besar.


Kala hanya mencuci jubahnya dengan cara menggosok-gosok kain ke batu. Dengan begitu, noda darahnya hilang walau membutuhkan waktu dan tenaga lebih. Bagi Kala, tenaga bukanlah masalah.


Setelah ia merasa seluruh pakaian sudah bebas dari darah, Kala kembali bersuit untuk mendatangkan Alang. Walau dengan sangat malas, Alang datang.

__ADS_1


“Alang, kau tolong aku keringkan pakaian ini. Aku tidak bisa menunggu sampai matahari mengeringkan ini.”


Kala berkata sangat percaya diri seolah-olah dirinya tertutup pakaian sutra, padahal ia sama sekali tidak mengenakan pakaian di depan Alang. Dan untungnya, Alang tidak terlalu peduli dengan kondisi Kala yang telanjang sekarang, lagi pula ia adalah burung yang selalu telanjang!


Alang menghembuskan napasnya yang panas. Jika Alang mengeringkan pakaian Kala dengan api, maka itu terlalu berisiko untuk dilakukan. Hembusan napas Alang cukup panas untuk mengeringkan pakaian jauh lebih cepat daripada menjemur di tengah terik matahari.


Kala memilih menyeburkan dirinya ke dalam kolam di bawah air terjun. Kesegaran seperti ini sudah lama ia tidak rasakan, dan pastinya sangat ia rindukan. Walau air ini sangat dingin bagi manusia biasa, terlebih di pagi hari yang dingin, entah apa yang membuat Kala begitu tahan lama di dalam tanpa memakai prana sedikit pun!


Dia gila!


Kepala Kala sesekali menyembul ke luar untuk mengambil udara, tapi sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam kolam.


Setelah agak lama di dalam air, ia kedapatan ide yang cukup gila lagi.


Pranor-pranor yang ahli dalam ilmu meringankan diri biasanya berlatih di bawah guyuran air terjun sepanjang hari. Terutama pada orang yang menguasai Kehalusan Napas seperti Maheswari, mereka selalu berlatih dengan tekanan air terjun.


Air terjun di depan Kala tidak besar, tapi juga tidak kecil. Dengan guyuran seperti ini, Kala yakin sangat pas untuk dirinya.


Kala berenang dan memanjat batu yang diguyur air terjun. Namun, Kala menerima tekanan kuat dari air sehingga jatuh ke bawah. Ia mencoba lagi dan hasilnya sama lagi.


Selain tekanan dari guyuran air terjun yang berat, batu itu juga ditumbuhi sedikit lumut yang basah. Pada awalnya, Kala memang berpikir ini tidak akan semudah yang ia kira, tapi tidak perkiraannya tidak sampai pada taraf ini.


Namun, bukan Kala namanya jika mudah menyerah. Ia terus mencoba berulang kali. Ia baru bisa duduk di batu tersebut setelah tangannya berdarah.


Posisi duduknya diusahakan untuk posisi teratai. Namun, posisi sila tersebut terus goyah dan pundak Kala terus ditimpa beban. Pada akhirnya, ia kembali terjatuh dengan lebih sakit.


“Wuh! Tadi itu seru, tapi aku tak punya banyak waktu.”


Sebenarnya, dirinya ingin lebih banyak berlatih di bawah air terjun. Namun, ia khawatir dengan keselamatan Kaia jika ditinggal lebih lama lagi. Kala segera berenang ke tepi.


Pakaian itu hampir kering, belum kering sepenuhnya tapi Kala memakainya begitu saja. Alang mendengus kesal sebelum melesat ke atas, bertengger lagi di puncak air terjun menikmati semilir angin.


“Nah, ini pas.” Ya. Kala menyukai pakaian yang setengah kering sebab kesegarannya akan bertahan lebih lama.


Kala menarik napas dalam-dalam. Mengalirkan prana pada dadanya, lalu berseru dengan keras, “Aku sudah selesai!”


Beberapa saat kemudian, Kaia muncul dari dalam hutan dengan membawa beberapa jahe di tangannya. Kala mempersilakan Kaia mandi dan ingin meninggalkan lokasi.


Tapi Kaia menahannya. “Apa kau punya pakaian lagi?”


“Aku tidak punya, pakaian yang kau pakai sekarang juga kepunyaan putri kepala desa.” Kala menunggu sejenak dan baru pergi setelah tak mendapatkan jawaban.


Dengan langkah yang cepat, Kala masuk ke dalam hutan walau tidak terlalu jauh dari lokasi. Dirinya tidak ada niat mengintip sama sekali walau ia bisa melakukan itu. Dirinya memilih duduk di sebatang pohon lapuk. Karena tidak ada Alang, Kala terpaksa menggunakan batu api untuk menyalakan pipa walau sedikit lama.


Ia menghisap pipa secara perlahan. Menikmati rasa manis dan prana yang ia peroleh.


Kala merenung sebentar. Ia belum tahu apa yang akan ia lakukan jika sudah sampai di Pandataran.


Menurut bincangan bersama gurunya, banyak situs kuburan kuno dan candi-candi yang di dalamnya menyimpan ilmu berharga. Kala memutuskan untuk mencari situs-situs makam kuno dan berlatih bersama Kaia jika memungkinkan.


Pipa itu juga membawa hanyut kenangan-kenangan masa lampau yang menyedihkan. Kala sadar, masa kini lebih berarti daripada masa lampau.


Yang ia bingungkan adalah .....


Aku sebuah sejarah atau sebuah masa depan?


Kala menggelengkan kepalanya saat sadar dirinya sudah larut dengan asap pipa.


Waktu juga seperti berlalu sangat cepat karena Kala merasakan titik paling nyaman selama seminggu terakhir. Siapa sangka bahwa Kaia yang mandi lebih lama dari Maheswari terasa seperti mandi bebek bagi Kala?


Telinga Kala menangkap sesuatu yang mengerikan dari kejauhan.


Suara ribut di air. Yang membuat air sampai mengeluarkan suara seperti ini pastilah sesuatu yang besar!


Kala membuang tulang yang tersisa sedikit ke semak-semak lalu berlari ke arah air terjun tempat di mana Kaia mandi.


Wajahnya sangat cemas memikirkan kemungkinan terburuk yang telah terjadi. Namun, Kala selalu berharap bahwa apa pun yang terjadi Alang akan memberikan penyelamatan pertama.


Semakin Kala dekat dengan lokasi, semakin terdengar pula suara ribut air. Kala juga mendengar suara jeritan seorang gadis yang sangat ia yakini adalah Kaia.


Ranting-ranting dan dedaunan yang menghalanginya dibabat begitu saja sampai ia menginjak batu-batu sungai kecil, itu artinya dirinya sudah berada di kawasan air terjun.

__ADS_1


Dirinya menatap kepala buaya besar yang menyembul dari permukaan kolam. Kepala itu sangat besar dan hampir mengisi seluruh kolam. Tubuhnya yang lebih besar pasti ada di bawah permukaan air.


Sial, ini adalah sarang buaya spirit!


__ADS_2