
“Katakan resepnya dan kau akan selamat!”
“A-aku ... tidak tahu.”
“Kalau begitu aku terpaksa membunuhmu!”
Kala menelan ludah, ia sudah putus asa. “Kalian ingin mendapatkan hasil lebih dalam misi? Apa itu tidak akan sangat memalukan bagi kalian?”
“Kau banyak bacot! Suka-suka kami jika kami ingin mendapatkan untung lebih!”
Panji yang sedari tadi diam membuka suara. “Kalian ingin keuntungan lebih? Apa kalian tidak akan merasa rugi jika mengambil organ orang di sampingku ini?”
Orang yang dimaksudkan oleh Panji tentu saja Kala. Kala sedikit mengerutkan dahi sebab tidak mengerti cara berpikir Panji. Sedangkan si ketua kelompok ini seperti mendapat kartu misteri.
“Apa maksudmu?” tanya si ketua, ia juga menyuruh di tukang jagal mundur.
“Jelas saja maksud ucapanku tadi, kalian bisa mendapatkan untung lebih jika tidak membunuhnya.” Panji berujar dengan santai.
“Bagaimana caranya?”
Panji menggelengkan kepala dengan pelan. “Aku mengetahui caranya, tapi aku tidak ingin memberikannya pada kalian secara cuma-cuma.”
“Lancang! Beri tahu atau kematianmu akan lebih menyakitkan!”
“Aku tidak peduli kematianku akan menyakitkan atau tidak, pada akhirnya akan berujung dengan kematian juga, bukan?”
“Kau akan merasakan pedihnya dikuliti hidup-hidup jika tidak menuruti kami!”
“Sudah aku bilang, aku tidak peduli.” Panji terkekeh pelan sementara mata Kala bersinar karena merasa Panji akan menyelamatkannya. “Aku hanya minta diriku dibebaskan dengan dibekali makanan dan minuman, itu saja.”
Si ketua mengerutkan dahinya. Permintaan itu tidak akan mudah. Jika ia membebaskan Panji, maka ia harus segera meninggalkan tempat ini untuk mengantisipasi jika Panji melapor.
“Aku akan membebaskanmu.” Tatapan si ketua itu berubah menjadi dingin dan diliput oleh aura membunuh. “Namun, jika informasimu tidak penting, maka kematian menyakitkan akan menunggumu.”
__ADS_1
Panji terkekeh pelan. “Bagaimana aku bisa percaya dengan kalian? Bisa saja kalian membunuhku jika aku sudah memberi kalian informasi tersebut.”
Si ketua berubah menjadi geram. “Biarpun aku berasal dari aliran hitam, namun aku selalu menepati janji.”
“Aku tetap tidak percaya.” Panji mendengus kesal, ia seperti memancing sesuatu.
“Kau!” geram si ketua, “baiklah! Aku akan memberikanmu pil yang bisa memulihkan pusat prana milikmu, aku akan memberikanmu saat ini juga agar kau bisa melawan saat kami mencoba membunuhmu!”
Panji tersenyum lebar, ini yang ia nantikan. “Apakah aku akan mengulang tingkat prana?”
“Pusat prana milikmu memang rusak tetapi baru sebentar. Prana milikmu memang langsung habis namun tingkat prana milikmu akan butuh waktu lama untuk turun, ini disebabkan oleh pusat prana yang masih memiliki kualitas.”
“Baiklah, berikan pil itu.” Panji kemudian berkata dengan malas.
Kala tentu tidak tertarik sana sekali dengan pil itu, pusat prana miliknya bisa menyembuhkan dirinya sendiri tapi itu butuh waktu. Pil itu dilempar pada mulut Panji, ia bisa dengan mudah menelan pil tersebut.
Sang ketua tentu memperhitungkan panjang perbuatannya. Jika ia memberikan pil itu pada Panji, orang itu bisa dengan mudah melepaskan ikatan tangan dan kakinya. Jika Panji tetap bodoh tiba-tiba menyerang mereka, tentu saja Panji akan mati karena kalah jumlah tapi kerugian di pihaknya juga besar.
Dengan ini, mereka tidak akan menyerang satu sama lain.
“Jika orang aliran hitam sepertimu saja bisa menepati janji, maka aku sebagai aliran putih tentu juga bisa menepati janji. Tenang saja ....”
Kala mulai menghembuskan napas lega mengira dirinya akan bebas sekarang juga. Tapi, Panji berkata lain yang membuat dadanya sesak dililit rasa kecewa.
“Orang ini adalah Kesatria Garuda, aku yakin kau sudah mengetahui legenda ini. Ia mempunyai bakat yang bukan main, dalam beberapa tahun ke depan bakatnya akan tak tertandingi.”
Si ketua sepertinya sudah menangkap maksud dari Panji. Kala, si pemuda malang itu, mulutnya terbuka, matanya menunjukkan kekecewaan yang sangat dalam seolah yang menusuk punggungnya adalah ayahnya sendiri.
“Aku dengar perguruan kalian punya ilmu yang dinamakan Ilmu Cuci Pikiran, ilmu itu membuat siapa pun menjadi kehilangan ingatan. Tangkap dia sekarang, kemampuannya masih belum tinggi, lalu cuci otaknya agar ke depannya bisa membantu perguruan kalian.” Panji tersenyum semakin lebar. “Buat sendiri penawaran dengan ketua kalian agar menguntungkan, buat penawaran sampai di rasa pas. Jika kalian hanya mengambil organ dari orang ini, maka kalian akan rugi besar!”
Ketua kelompok itu tersenyum lebar. Selain ia bisa membuat penawaran dengan Patriark Kastel Kristal Es, ia juga akan mendapat penghargaan tinggi atas pencapaiannya.
“Bagus! Bagus! Informasimu sangat berguna!” seru si ketua sambil tepuk tangan, lalu menoleh pada tukang jagal. “Tapi bagaimana aku bisa percaya bahwa bocah ini adalah Kesatria Garuda?”
__ADS_1
“Kesatria Garuda mempunyai beberapa tanda. Salah satu tanda itu adalah matanya yang berwarna emas layaknya mata elang.” Panji menoleh pada Kala dengan senyum lebar. “Kala, tunjukkan matamu jika masih ingin tetap hidup.
Si ketua menangkap maksud Panji, ia menyuruh si tukang jagal menghunuskan pedang pada Kala. Jika Kala tidak menunjukkan Mata Garuda, maka pedang itu akan memotong leher Kala.
Awalnya Kala tidak ingin menunjukkan mata itu sama sekali, tapi pedang itu seakan memiliki aura yang membuatnya sangat takut. Pada akhirnya Kala membuka Mata Garuda.
“Hahaha!!! Bagus sekali!” Si ketua bertepuk tangan setelah memastikan kalau mata itu bukanlah mata palsu, ia lalu menunjuk Panji. “Bebaskan dia, informasinya sangat berharga.”
“Apa yang kau lakukan? Aku kira ... kau adalah teman.”
“Maaf, Kala. Aku tidak bisa membocorkan rahasia perguruanku, lagi pula jika tidak ada dirimu maka aku akan lebih mudah mendapatkan Maheswari.”
Pandangan Kala kosong, kekecewaan sungguh berat dipikulnya, ia mulai menyesali sikap naif ini.
Panji sudah selesai dibebaskan dari ikatannya. Kala masih sedikit berharap kalau Panji akan menyelamatkannya sesudah dilepas ikatan tangannya, namun Panji tidak cukup bodoh untuk bunuh diri.
“Berikan aku perbekalan sesuai janji tadi.”
Si ketua menepati janji, ia memberi Panji beberapa makanan dan minuman untuk perjalanannya pulang. Panji tersenyum lebar pada Kala sebelum menuruni bukit.
“Bagaimana rasanya dikhianati teman sendiri?” tanya si ketua disertai gelak tawa.
“Dia adalah temanku.” Kala terus menghadap bawah dengan tatapan hilang sinar. “Setidaknya itu dulu, sekarang ia hanya orang yang pernah aku kenal.”
“Aih, sudahlah. Puaskan kesedihanmu, saat matahari terbit kita akan pergi dari sini.” Awalnya ketua itu ingin berlama-lama di sini sesuai misi, namun sekarang ia akan pulang dengan keyakinan Patriark Kastel Kristal Es tidak akan marah sebab membawa tangkapan besar.
Si ketua masuk ke dalam tenda, api masih dinyalakan dan dikelilingi oleh anak buah. Kala mengadah ke langit karena merasa ada sebagian jiwanya di sana.
“Alang? Apakah itu Alang?”
Api berbentuk burung elang terlihat terbang mengitari bukit ini dari atas. Tidak salah lagi, itu Alang yang Kala yakini.
Alang datang karena ia merasa Kala dalam posisi berbahaya, ia sudah menganggap bahwa Kala adalah keluarganya dan tentu saja ikut merasakan bahaya yang Kala rasakan. Entah bagaimana Alang bisa mengetahui lokasi Kala.
__ADS_1
Awalnya api itu hanya terbang memutar, tidak ada yang menyadarinya kecuali Kala, api Alang terlalu jauh untuk disadari. Kala kemudian melihat api itu mulai kehilangan ketinggian, meluncur menuju tempat ini.
“Akan ada ledakan,” gumam Kala pelan sebelum menutup matanya.