Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Kaia Terkena Masalah


__ADS_3

“Medali Tuan Pendekar merupakan medali tertinggi yang mengartikan bahwa Tuan setingkat dengan wakil ketua Penginapan Progo. Medali seperti ini hanya dibuat tiga dan itu semua dipegang oleh ketua Penginapan Progo sendiri.”


Kala melebarkan matanya. Ia tak pernah menyangka bahwa Walageni merupakan ketua Penginapan Progo yang sama juga sebagai ketua dari Laskar Progo!


Pria tua itu mengenakan pakaian yang sangat sederhana. Caranya meminum tuak juga tidak mencerminkan kewibawaan seorang pemimpin.


Apakah alasan Walageni berani memberikan medali terbatas ini pada orang yang baru dikenalnya? Kala masih susah menerima kenyataan ini.


Kala mempersilakan Aditya untuk pergi sedangkan dirinya masuk ke kamar. Keindahan luar biasa di dalam kamar dihiraukan olehnya, ia masih dipenuhi oleh tanda tanya tentang Walageni.


Langkah kakinya terus berjalan dan tanpa sengaja menuntunnya sampai ke kasur. Kala merebahkan dirinya sebelum terlelap. Entah hal apa yang membuatnya bisa tidur dengan sangat cepat.


***


Maheswari mengelus kuda putihnya. Di hadapannya terdapat belasan orang yang memberinya pandangan iba, termasuk Yudistira.


“Patriark Yudistira, aku akan pergi sekarang.” Maheswari memacu kudanya berjalan di jalanan.


Yudistira menggelengkan kepala. Ia sendiri mengira Maheswari telah kehilangan akal sehat. Belasan orang di belakangnya juga berpikiran serupa.


Maheswari memutuskan untuk mencari keberadaan Kala, walau Yudistira sudah mengatakan bahwa Kala mati dalam peristiwa itu. Kecil kemungkinan bagi anak muda itu untuk hidup di tangan Kastel Kristal Es yang terkenal kejam.


Gadis bidadari itu tetap meminta kuda spirit untuk menemaninya dalam pencarian. Maheswari juga meminta kepada Perguruan Angin Utara agar bergerak mencari Kala sebagai bentuk tanggung jawab.


Maheswari mengusap air matanya yang tersapu angin, lalu berkata dengan yakin pada dirinya sendiri, “Aku pasti akan menemukanmu. Kamu tidak akan bisa ke mana-mana jika diriku masih bernapas.”


***


Kala baru membuka matanya saat matahari sudah berada di ufuk tengah. Kala bangun sangat siang untuk hari ini, dan dia baru terbangun saat terdengar ketukan keras di pintu. Jika tidak ada ketukan-ketukan itu, mungkin Kala akan tidur sampai malam.


Matanya terbuka lebar saat melihat bentuk kamar yang ada di sekelilingnya. Luar biasa baginya.


Perhatian Kala kembali teralih pada ketukan di pintu yang semakin keras. Padahal, jarak antara pintu dan kasur cukup jauh, siapa pun yang mengetuk seperti ini adalah orang yang sangat kuat ... atau orang yang sedang marah?


Kala turun dari kasur dan bergegas pergi ke pintu. Ia membuka pintu dan terpampang Kaia dengan wajah cemberut dan merah.

__ADS_1


“Apa kau sadar dengan ketukan keras seperti itu kau tak hanya akan membangunkanku?” Kala menaikkan alisnya.


“Tidak ada yang tidur saat hari sudah siang seperti ini kecuali kau.” Seperti biasa, Kaia memberinya jawaban dingin.


“Ada apa?” tanya Kala langsung pada intinya.


Kaia memalingkan wajahnya dengan marah. “Aku butuh uang untuk membeli pakaian yang bagus di pasar kota.”


“Ada angin apa sampai kau sudi meminta uang padaku?” Kala tersenyum lebar, menggoda Kaia.


“Apa kau lupa kejadian tadi malam? Bukankah itu disebabkan oleh pakaian kita yang kusam dan jelek ini?”


Kala mengelus dagunya. “Benar juga. Aku tak menyangka bahwa kau cukup pintar untuk hal ini.”


Ia terkekeh pelan sebelum melempar Kaia dua kepeng emas. Itu adalah uang terakhir miliknya. “Aku tahu itu tidak cukup untuk membeli baju bagus. Tapi, aku yakin kau bisa membeli baju yang lebih baik dari pada yang kau pakai saat ini.”


Kaia menggenggam dua kepeng emas itu di tangannya. Selama kehidupannya di desa, memegang dua kepeng emas sekaligus merupakan kesempatan yang sangat jarang. Kaia bahkan tidak menyangka Kala akan memberinya uang sebanyak ini, belum lagi ia mengatakan bahwa kepeng emas ini tidak cukup.


Kaia langsung melangkahkan kaki menuju tangga. Tidak ada ucapan terima kasih untuk Kala, tapi Kala bisa menerima itu. Dirinya memutuskan kembali ke kamar.


“RRAKK!” Alang menyambut Kala dengan langsung hinggap di pundaknya.


“Eak?”


Kala menepuk jidatnya. “Aku ternyata salah.”


Dirinya memutuskan untuk berkeliling kamar, melihat keajaiban yang tidak masuk akal di hadapannya sebelum pergi bermeditasi.


***


Kaia sampai di lantai bawah dengan cepat. Turun dari lantai teratas merupakan kegiatan yang cukup melelahkan bagi manusia biasa seperti Kaia, tetapi ia tidak menghiraukan itu.


Orang-orang di lantai dasar memandangi Kaia bukan dengan jijik, tetapi bernafsu; khusus untuk pria. Walau pakaian Kaia jelek, tapi dengan pesona kecantikan yang ia miliki ....


“Hei, manis.” Seorang pria dengan tampilan berantakan dan wajah memerah sebab mabuk mendatangi Kaia. Tatapannya penuh dengan nafsu, padahal di belakangnya terdapat dua wanita cantik berpakaian minim yang sudah menemaninya.

__ADS_1


“Ayo ikut denganku, aku yakin kau akan puas dengan ukuran milikku! Hahaha!”


Kaia tidak menghiraukannya, ia tetap melangkahkan kaki menuju pintu luar penginapan. Pria itu marah dan lekas menggapai lengan Kaia.


“Aku akan memberimu banyak emas jika kau menemaniku malam ini.” Cengkeraman pria itu semakin mengeras saat Kaia berusaha memberontak.


Pelayan di penginapan dengan sigap menghampiri gadis itu, mereka sudah diberi titah langsung oleh Aditya untuk melindungi Kala dan Kaia. Namun, langkah mereka terhenti saat tiba-tiba saja muncul empat pranor menghalangi jalan. Mereka memiliki tingkat Alam Formasi Spirit, dan para pelayan penginapan hanya berada di Alam Pengumpul Prana.


Suasana jadi mencekam bagi para pelayan, tetapi pengunjung lain menatap Kaia seakan dirinya bodoh.


“Mengganggu wanita lain saat sudah memiliki dua wanita sekaligus, kau seharusnya menyembunyikan wajahmu kalau masih punya rasa malu!” Kaia berkata dengan amat dingin.


“Apa matamu buta?! Kau tidak bisa melihat kebesaranku?!” Pria itu membentak.


Kaia sedikit merintih saat cengkeraman pria itu semakin kuat.


“Lepaskan aku!” Kaia membentak keras, tetapi sedetik kemudian ia berteriak kesakitan. “Ahh!”


Tulangnya retak!


Pria itu tertawa lantang. “Aku akan mematahkan tanganmu jika kau masih keras kepala, gadis cantik.”


Setelah orang itu berkata sedemikian, suhu aula penginapan itu turun dengan sangat cepat. Bulu kuduk semua orang yang ada di tempat itu praktis menegang. Ketakutan juga menyertai mereka, seakan-akan ada hantu yang sedang mengintai.


“Lepaskan, dia kesakitan.” Suara pria yang lembut dan tenang terdengar seantero lantai dasar.


Semua orang melirik ke asal suara hanya untuk menemukan Kala yang menuruni tangga dengan tenang sambil tersenyum tipis. Ada Alang yang juga bersikap tenang di bahunya. Derap langkahnya terdengar sebab ruangan sudah sunyi. Pria yang mencengkeram Kaia mendengus saat mengetahui suhu dingin ini berasal dari Kala.


Kala memang mengeluarkan nafsu membunuh yang pekat. Itu membuat ruangan menjadi dingin dan suasananya seperti pemakaman angker.


“Siapa kau berani-beraninya berbuat ini padaku? Apa kau sudah bosan hidup?!”


“Aku memang sedikit bosan, tetapi sepertinya aku tak akan cepat bosan karena banyak orang sepertimu yang harus aku beri pelajaran.” Kala menyelesaikan anak tangga terakhir. “Lepaskan dia, ini perintah terakhirku.”


Empat pranor yang melindungi pria tersebut langsung menghunus pedang. Kala menggeleng pelan.

__ADS_1


“Sepertinya kalian memang menginginkan pelajaran.” Kala tertawa pelan.


“Tidak perlu banyak bicara, hadapi saja pedang kami!”


__ADS_2