
Lima pranor Alam Kristal Spirit memimpin pasukan pranor tingkat bahwa di belakangnya. Mereka berlari dengan kecepatan sedikit di bawah kecepatan angin. Saat mereka sudah sampai di jalan bawah, di mana tinggal satu tikungan lagi sebelum jalan melurus menuju desa, Kala melompat dari atas bukit. Saat berada di udara, Kala memakai topeng senyum lebarnya.
Mereka terkejut dengan kemunculan bayangan hitam dari atas tentu segera disadari oleh lima pemimpin itu. Mereka menghunus pedang dan memberi tahu yang lain, sehingga semua pasukan mengangkat perisai dan menghunus senjata menyerong ke atas.
Kala turun dengan kecepatan luar biasa, kakinya yang pertama membentur perisai tanpa menyentuh tombak-tombak panjang yang terhunus ke atas. Perisai itu langsung hancur, tapi orang di dalamnya sudah menghunus belati dan keris pendek.
Keris Garuda Puspa keluar dari sarangnya, maka sejak saat itu tanah di bawah menjadi lebih basah. Kala berhasil merenggut beberapa nyawa dalam tebasan pertamanya, tapi tebasan kedua hanya merenggut satu nyawa lalu langsung mundur.
Saat lima pimpinan itu berada di garis depan dalam melawan Kala, maka Kala menjadi terpukul mundur. Pasukan Geowedari di belakang memberi dukungan dengan serangan panah atau tombak lempar saat Kala sedang fokus ke lima lawan beratnya.
Mau tidak mau Kala hanya bisa menahan mereka beberapa lama sebelum mundur cukup jauh lalu kembali menahan.
Benturan keras Kala rasakan di kepala, membuatnya tersungkur. Prajurit Geowedari baru saja membenturkan perisai ke kepala Kala, kini ia mengangkat pedang tinggi-tinggi untuk menghunjam Kala.
BUK!
Sebelum pedang itu menghancurkan kepala Kala, kakinya sudah lebih dahulu menghancurkan kaki lawannya. Kala kembali bangkit dan menahan serangan lainnya.
Tidak seperti hari-hari sebelumnya, lawan kali ini jauh lebih sulit. Biasanya Kala akan selalu memenangkan pertempuran, itulah sebabnya ia sangat bersemangat saat menerjang mereka tadi. Namun kini, pasukan Geowedari sudah hampir sampai di pintu desa.
“Tahan, tahan, apa hanya ini yang kau punya?!” Kala berteriak keras pada dirinya sendiri sebelum mendorong perisai yang menekannya. Keris Garuda Puspa harus kembali diisi ulang setelah semua air di guci sudah habis.
Srrt!
Sebilah tombak berhasil menembus pertahanan bajunya, membuat lengannya teriris cukup panjang. Anehnya, baju hitam ini sekaan bisa menjahit dirinya sendiri dan kembali menutup seperti semula, tapi tetap saja Kala sudah terluka.
“Hanya luka kecil, jangan berlebihan!” Kala menebas keris panjangnya, kepala menggelinding.
Kala mengumpat cukup keras saat melihat pintu desa sudah tepat di belakangnya, ia tidak menyadari bahwa sudah cukup jauh mundur.
Tapi pertolongan sudah datang, lima peminum itu lari menerjang ke pasukan yang sedang Kala tahan.
__ADS_1
“Tetap berdiri. Kita membela kebaikan. Kita tidak akan mundur. Pedang akan bangkit, perisai akan terangkat. Maju!” Lima peminum itu bersorak bersamaan.
“Aku tak menyangka mereka akan sebanyak ini.” Si pemilik kedai berkata sambil mendorong perisainya. “Bajingan! Kalian melukai lenganku!”
Pasukan Geowedari menyatukan perisai-perisai mereka di segala sisi, membuat semua bagian terlindungi saat lawan semakin berat. Kala menendang perisai mereka untuk menembus barikade, tapi itu tidak berhasil, mereka terlalu padat.
Lima pranor Alam Kristal Spirit yang memimpin lompat keluar dari barikade untuk menghadapi Kala dan kelompoknya, sedangkan barikade terus berjalan memasuki desa.
“Tahan mereka!” Si pensiunan berteriak lalu meludah. “Ini adalah wilayah anti perang! Jangan datang ke sini!”
Mereka tidak peduli saat si pensiunan itu memarahinya. Terus masuk sampai barikade yang semulanya bertahan mulai menyerang. Mereka mengacak-acak rumah, kios-kios di sisi jalan dan semua yang mereka lalui. Atau lebih tepatnya adalah mencari sesuatu yang Kala sendiri tidak tahu. Tidak lupa mereka membakar semuanya juga.
Kini mereka sudah berlumuran merah darah atau bercak tanah hitam. Terlihat penginapan sudah terlihat di belakang, kelompok lima bersahabat ini semakin marah tapi juga terdesak hebat.
“Pertahankan kedai sampai mati! Pertahankan!” Si pemilik kedai bersimpuh lutut saat seseorang berhasil merobek punggungnya. “Ayolah, Kawan. Kita bisa minum lain kali.”
Ia tersenyum pada empat sahabatnya yang histeris sebelum tembak panjang menembus punggungnya. Dia mati.
Walau sudah bertarung seperti orang gila yang membabat rumput, tapi mereka tetap saja terdesak. Beberapa prajurit masuk untuk untuk mencari benda yang tidak diketahui. Pintu sudah lepas dari tempatnya. Dinding kayu jebol di beberapa sisi sekaligus terbakar.
“Heh, Pensiunan dan kau Anak Muda! Pergi, larikan warga. Aku tahu kalian ingin keselamatan warga.” Selesai berkata, sebilah pedang panjang menembus perutnya, ia mematahkan pedang itu lalu membabat musuh dengan besi yang masih di perutnya.
“Tidak, aku akan mati di sini!” Si pensiunan menolak keras.
“Tidak ada waktu, jangan sia-siakan pengorbanan kami.”
“CEPAT PERGI!” Yang lain ikut menyahuti.
Kala menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin meninggalkan mereka di sini. Tapi si pensiunan sudah menarik tangannya keluar dari kerumunan. Beberapa prajurit mengejarnya serta satu pranor Alam Kristal Spirit.
“Apa yang kau lakukan?! Meninggalkan sahabatmu?!” umpat Kala.
__ADS_1
“Aku tidak meninggalkan mereka. Aku tidak meninggalkan jiwa mereka, mereka bersamaku. Tentu, mereka tidak mau warga desa mati di sini bersama mereka. Dan aku yakin aku akan mati nantinya.”
Kala tidak bisa lagi berbicara, ia sedang sibuk menangkis serangan gabungan dari prajurit dan pranor itu sebelum akhirnya menemukan celah untuk membunuh pranor Alam Kristal Spirit.
“Kita harus ke rumah kepala desa. Secepatnya!” seru si pensiunan, “sebelum mereka sampai dan membantai!”
Kala sendiri tidak tahu apakah bisa keluar hidup-hidup dari sini. Ingin rasanya meminta maaf pada Kaia dan Alang di dalam hati, tapi tidak ada waktu. Kala dan pensiunan itu berlari secepat angin ke kediaman kepala desa.
Di sana sudah ada beberapa prajurit yang memanjat tembok dan berusaha membuka paksa pintu besi rumah tersebut. Kala dan si pensiunan membunuh mereka, sekali pun mereka meminta ampun.
Seakan tidak ada habisnya, puluhan prajurit Geowedari berlari ke rumah kepala desa.
“Ada lorong di bawah tanah yang mengarah langsung ke hutan di belakang. Bawa semua warga desa pergi, aku akan menyusul nanti,” katanya, “harus ada yang menahan anjing-anjing ini.”
“Aku tidak tahu arahnya, kau saja.”
“Terlalu berbahaya di sini. Biar aku saja yang mati!”
“Bukan waktunya berdebat, Pak Tua. Aku masih memiliki sebuah jurus lagi, jika kau masih di sini, maka matimu akan sia-sia di tanganku.”
Si pensiunan itu menatap Kala tajam. “Aku andalkan padamu.”
Lalu ia berlalu. Kala berbalik dan menatap puluhan pranor yang berlari ke arahnya. Ia menarik napas panjang, jurus ini akan sangat menguras Prana miliknya habis-habisan.
“Jurus Suara Hening ....”
Tanah bergetar dan beberapa beton retak. Puluhan prajurit yang semulanya berlari terlempar mundur ke belakang, telinga mereka mengeluarkan darah juga dengan hidung dan mulutnya. Mereka menggeliat di tanah sambil memegangi kupingnya, padahal mereka tidak mendengar suara. Setelah beberapa detik, tidak ada yang bergerak di antara mereka.
Sedangkan dari jauh, terdengar suara pekikan elang yang luar biasa kerasnya efek dari Jurus Suara Hening.
Kala bersimpuh lutut. Hampir tidak ada Prana yang tersisa di dalam tubuhnya. Sedangkan Keris Garuda Puspa lagi-lagi kehabisan Prana. Beberapa prajurit lainnya datang dari penjuru desa saat mendengar suara elang yang begitu keras berasak dari sini.
__ADS_1
“Ayo, jalan, jalan.” Kala berusaha bangkit, tapi ia malah tersungkur di tanah. “Sepertinya hanya sampai sini. Yah, aku memang tidak pantas jadi Kesatria Garuda. Selamat tinggal Alang. Selamat tinggal Kaia, maaf telah membuatmu mengalami bulan-bulan yang menyedihkan dalam hidupmu. Oh, aku akan merindukan sifat dinginmu.”