
Musuh yang semulanya semangat kini mulai ketakutan saat Kala bagai babi hutan yang gila. Dengan semangat tempur yang mengendur, mereka mulai menjauhi Kala dan berusaha mencapai sungai lewat tepi Kala. Seberusaha mungkin menepi untuk melewati Kala.
“Mau ke mana kalian?” Mengetahui lawan berusaha melewatinya melalui tepi, Kala tidak membiarkan itu terjadi.
Punggung mereka langsung basah oleh keringat dingin saat Kala menghampiri mereka. Lebih menakutkan dari pada hantu.
Darah kembali tumpah, seakan tidak mau memutus rantai nyawa yang melayang. Tanah basah, mungkin saja akan subur nantinya. Kaia datang membantu Kala, tapi tidak berani dekat-dekat dengannya.
Api Alang sudah tidak mampu membunuh, hanya mampu memberi luka bakar dan cukup untuk menahan. Ia sudah terlalu banyak mengeluarkan api panas hari ini; pada akhirnya sampai juga pada batasnya.
“Kala, kau harus istirahat, biar aku yang menangani ini.” Kaia berteriak keras, tapi Kala sungguh tidak mendengarnya.
“Mati kalian!” Masih dalam kesetanan.
Pertempuran berlangsung cukup lama, Kala dan Kaia sudah hampir sampai batasnya sedangkan si pensiunan sepertinya masih berusaha keras mengobati. Namun, pasukan Geowedari juga mempunyai batas.
Pasukan mereka habis, kebanyakan mati di tangan Kala. Prajurit yang terakhir lebih memilih melarikan diri. Kala tidak lagi mempunyai energi untuk mengejarnya, meskipun ia tahu bahwa itu berbahaya sebab bisa saja bajingan itu meminta bantuan.
Sedangkan Kaia tidak mau repot-repot mengejarnya, ia lebih mengkhawatirkan Kala.
“Kala, apa kau baik-baik saja?”
“Mereka bajingan. Bajingan. BAJINGAN!”
“Aku tahu itu, tapi kau telah berhasil membunuh bajingan-bajingan itu.”
Kala melihat ke sekeliling sampai ia sadar bahwa tempat ini sudah penuh dengan darah serta potongan-potongan tubuh yang mengenaskan. Hidung Kala juga seakan baru sadar bau amis darah yang begitu pekat sedari tadi.
“Apa kau baik-baik saja?”
Dengan keadaan yang sudah tenang, Kala juga bisa berpikir dengan jernih. Tentu saat dia jernih, tidak akan ada pikiran untuk melihat kondisinya sendiri.
“Kaia, apa yang terjadi denganmu?”
__ADS_1
Jika dibandingkan, maka kondisi Kaia jauh lebih baik daripada kondisi Kala. Yah, walau terlihat besit-besit bekas tebasan serta darah yang membasahi tubuhnya.
“Aku tidak apa-apa.”
“Kau penuh dengan darah. Ikut aku, biar kawanku mengobatimu.” Kala bangkit dengan susah payah, Kaia segera memapah Kala. “Aku tidak perlu bantuan, kondisimu lebih parah.”
“Sesekali kau harus beli cermin besar, walau itu sangat mahal.” Kaia tidak memedulikan Kala, dia terus menggandeng tangan pemuda itu menuju belakang. Tak lama berselang, Alang hinggap di pundak Kala dengan kondisi yang sama parahnya.
***
“Apa yang terjadi dengan kalian!” Si pensiunan yang tengah membedah pasien langsung menyambut Kala dan Kaia.
“Bukan apa-apa. Bagaimana dengan mereka?” Kala mengarah pada pria-pria desa yang sekarat.
“Ada lima yang tidak bisa aku selamatkan. Dua dalam kondisi sedikit aman sedangkan satu lainnya masih aku tangani,” tuturnya, “tapi sebelum itu, aku akan mengobatimu terlebih dahulu.”
“Itu tidak perlu. Obati pria gagah itu dulu, baru obati teman gadisku ini. Aku bisa menyembuhkan diri.”
Kala meninggalkan Kaia di sana untuk menunggu pengobatan. Alang diperintahkan untuk menjaga wanita dan anak-anak di seberang sana. Ia memilih tempat sepi di balik batang pohon besar.
“Kau tahu perang, ia akan membunuh orang tak bersalah lebih banyak.”
Teringat lagi ucapan gurunya. Namun, ada yang satu Kala bingungkan kali ini. Biasanya pihak kerajaan mana pun tidak ada yang mau sampai harus mengejar warga sipil mati-matian seperti ini, dan sepertinya mereka mencari sesuatu. Kala ingat: pusaka! Mereka mencari pusaka, itu yang Kala tahu dari perbincangan antar para peminum.
“Tapi pusaka apa?”
“Pusaka adalah benda paling berharga. Tidak bisa sembarang pusaka bisa dibuat. Dan pusaka hebat biasanya bisa memunculkan badai atau menciptakan gempa bumi, bahkan lebih buruk lagi. Sebab itu pusaka terus dicari.
“Ada ribuan pusaka sakti di zaman Garuda dulu. Pusaka-pusaka itulah yang membuat kekacauan Nusantara. Namun saat Garuda berkuasa, dan dunia sudah mengetahui seberapa nikmatnya kedamaian, para empu-empu setuju memusnahkan pusaka-pusaka canggih ciptaannya.
“Tapi tetap saja ada yang kejahatan, ya memang itu juga dibutuhkan. Ada beberapa empu yang tidak memusnahkan pusaka mereka, melainkan menyembunyikannya. Biasanya di balik gunung, atau di mana pun itu di tempat yang terjal.
“Mereka berharap kegelapan bisa kembali bangkit, sesuai dengan ramalan bahwa kegelapan akan datang. Pusaka itu akan dipakai. Saat kegelapan datang. Kala, ini tugasmu.
__ADS_1
“Mungkin kau tidak mempercayai ini, tapi kegelapan memang akan datang.”
Kala memejamkan mata. Ia sangat tidak mempercayai ramalan itu. Selama ini ia percaya bahwa tugasnya yang sebenarnya adalah menyatukan Nusantara dan menghentikan peperangan. Tidak percaya akan apa itu kegelapan.
“Kegelapan. Kegelapan. Apa itu. Apa itu. Aku tak tahu. Aku tak tahu.” Kala mengadahkan kepalanya. “Tolong aku.”
***
Pria terakhir itu selamat. Mereka semua berangkat ke seberang dengan perahu itu. Istri dan anak dari empat pria yang selamat itu langsung memeluk anggota keluarga mereka.
Sedangkan yang lain menatap mereka dengan tatapan kosong. Kala menyadari kehilangan mereka, tak berani mengangkat kepalanya untuk tanda penyesalan terdalam.
“Baik semuanya, kita akan melanjutkan perjalanan lagi. Aku turut berduka cita atas kematian anggota keluarga kalian. Sangat. Tapi aku harap kalian tidak menyia-nyiakan mengorbanan mereka. Sungguh, aku melihat mereka mati dengan gagah,” tutur si pensiunan.
Dengan pandangan yang tertunduk, mereka melanjutkan perjalanan. Menyisir sungai. Si pensiunan berkata bahwa mereka akan keluar dari Hutan Telu sebentar lagi.
Saat malam menjelang, mereka menyalakan api unggun besar sambil menyanyikan lagu syahdu untuk menghormati mereka yang mati. Beberapa bahkan menangis.
Kala memilih tidak berada di kerumunan itu. Tidak ada muka untuk melihat menunjukkan muka di depan mereka. Ia telah gagal melindungi, padahal sudah berjanji.
Kala duduk bersila pada dahan di pohon yang tinggi. Dalam perenungan yang dalam, tapi kondisinya sangat waspada.
Slrrttr ....
Membuka matanya dengan waspada.
Slllrrt ....
Suara itu terdengar lagi, kali ini Kala yakin bahwa ini adalah suara yang berasal dari gemersak semak-semak, atau sebuah desis-desis panjang. Yang pasti, ini tidak baik.
Kala melihat ke belakang, di mana mereka tengah berduka di hadapan api unggun. Tidak ingin mengganggu suasana duka, Kala tidak memperingatkan mereka melainkan memeriksanya sendiri asal suara tersebut.
Dengan mdu9adengendap-endap bagai ular, Kala menembus semak-semak di depannya, sebisa mungkin tetap menunduk dan tidak menimbulkan suara.
__ADS_1
Dengan Mata Garuda-nya yang sudah aktif, Kala bisa melihat sedikit lebih terang dari yang bisa orang lain lihat, tapi ia hanya melihat semak belukar dan pepohonan tinggi, tapi sesekali tikus hutan berseliweran dengan ketakutan.
Kala mendengar desis itu lagi, kini desis itu terasa tepat di samping kanan kupingnya. Ia lekas menengok ke kanan, tapi tidak ada apa-apa selain semak belukar. Suara desis itu kini berpindah ke sisi kiri, Kala kembali menoleh dengan cepat tapi tidak melihat apa pun.