Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Masakan Maheswari


__ADS_3

Ucapan Kala disertai oleh mata yang berlinangan. Ini membuat Maheswari mengernyitkan dahi. Apakah Kala menangis karena teringat pertempuran tadi? Itulah yang berada di pikiran Maheswari saat ini.


"Kamu kenapa, Kala?" Maheswari justru melempar balik pertanyaan Kala


"Aku sungguh tidak apa-apa, Kak Mahss."


Setelah Kala selesai menanyai itu, Maheswari sudah tiba di ruang depan. Ia melihat Kala bersimbah air mata, tetapi berusaha menutup-nutupinya. Maheswari segera duduk di sebelahnya dengan wajah khawatir.


"Kala, apa kamu pasti sedang memikirkan sesuatu. Katakanlah, ada apa?"


Kala menunjukkan senyum manis meski terpaksa. "Aku tidak apa, Kak. Aku hanya rindu dengan nenekku, dan biarlah diriku seperti ini ... aku memang sangat cengeng."


Maheswari sudah mendengar cerita hidup Kala sebelumnya di restoran bersama Akhza. Dia mengetahui nenek yang merawat Kala dengan penuh kasih walau Kala bukanlah anak kandungnya. Maheswari tersenyum lembut sebelum merangkul pundak Kala, memberi semangat.


"Menangislah sampai puas, Kala, bukan mengapa Kesatria Garuda menangis." Maheswari tersenyum hangat.


"Aku akan baik-baik saja sebentar lagi, Kak Mahes. Lanjutkanlah apa yang Kakak kerjakan tadi."


Maheswari sudah pergi. Kala tidak bisa menahan tangisnya, kata-kata Maheswari sangat mirip dengan kata-kata neneknya saat ia menangis. Maheswari sungguh tidak memperbaiki keadaan.


Kala berhenti menangis saat ia berhasil meyakinkan dirinya. Ini adalah masalah waktu, tidak ada yang abadi. Semuanya akan pergi, neneknya pergi, gurunya pergi, dan ia akan segera pergi. Itu merupakan sebuah ketetapan Tuhan, tidak ada yang bisa mengubahnya.


Maheswari datang membawa makanan saat seluruh air mata di pipi Kala mengering. Maheswari meletakkan dua mangkuk makanan berkuah yang sepertinya merupakan sebuah sup, setelah itu Maheswari kembali ke dapur dan membawa satu ayam bakar raksasa yang masih utuh!


Aroma daging bakar yang tadinya hanya samar-samar sekarang menjadi begitu pekat! Aroma itu masuk ke hidung dan mengisi rongga paru-paru. Aroma ini tidak sampai menyentuh perut namun sudah membuat perut menjadi berteriak.


"Kak Mahes sungguh hebat! Walau menjadi tabib yang terkenal, itu tidak membuat masakan Kak Mahes menjadi tidak lezat." Kala memuji Maheswari.


Maheswari menyunggingkan senyum sombong. "Tentu saja aku hebat!"


Kala kini memasang senyum sinis. "Namun yang lezat baru dari baunya saja. Untuk rasanya ... aku tidak tahu."

__ADS_1


"Hmph! Setelah kamu mencicipi satu kunyahan saja, itu bisa membuat kamu pingsan."


"Kak Mahes terlalu serius, aku hanya bercanda saja." Kala tertawa pelan. "Kapan kita akan mulai makan, Kak?"


Maheswari tersenyum tipis. Ia kembali melihat tawa Kala yang tidak dibuat-buat, ini membuatnya kembali berbahagia.


"Tentu, kita akan memakannya sekarang juga!" seru Maheswari, "mulai dari sup!"


Kala mengambil salah satu mangkuk sup. Mangkuk ini terbuat dari tanah liat yang halus dan mengkilap, diukir dengan gambar dua angsa dan danau. Sup ini terdiri atas daging yang berbau seperti bau daging kambing, dengan sedikit sayuran dan beberapa ... pil!


"Kak Mahes! Kakak memasukkan pil ke dalam sup?"


Maheswari mengangguk dengan mantap. "Tentu saja! Pil ini akan memulihkan tenaga fisik dan juga prana kita."


Kala meneguk ludahnya. Terakhir ia memakan pil dari Maheswari, itu rasanya sangat pahit dan penuh dengan bau rempah-rempah. Bagaimana lidahnya bisa menikmati daging kambing dengan pil yang pahit?


"Kak Mahes ... ini, apa rasanya pahit?"


"Senyuman Kak Mahes lebih manis." Kala bermaksud membalas pujian Maheswari, namun itu malah membuat wajah Maheswari memerah.


Aih ... aku melakukan kesalahan.


Kala tersenyum canggung dan menyendok kuah. Saat sesendok kuah itu menyentuh lidahnya, sebuah cita rasa yang luar biasa menyerbak! Rasa ini sungguh berbeda dengan rasa masakan daging yang pada umumnya terasa asin. Ini justru terasa manis tapi tidak menghilangkan rasa daging kambing yang khas.


Kala menyendok lagi dengan tatapan tidak percaya. Kali ini dengan satu pil yang juga berada di dalam sendok kayunya. Kala menutup mata sebelum memasukkan kuah beserta pil masuk ke dalam mulutnya.


Bum! Cita rasa ini meledak dalam mulut Kala! Pil ini dikunyah oleh giginya dan langsung memberi rasa manis yang luar biasa berbeda. Rasanya seperti daging kambing yang manis, pil ini benar-benar menyerap rasa!


Kala melirik Maheswari. Maheswari tengah dengan santai memakan sup miliknya, berbeda dengan Kala yang tidak santai, Kala dipenuhi oleh kekaguman. Kala berusaha santai sebelum menggigit daging kambing.


Kala tidak bisa mengunyah, mulutnya terbuka cukup lebar. Rasa daging yang luar biasa! Ini benar-benar daging terenak yang pernah Kala cicipi! Setelah beberapa saat, baru Kala mulai kembali mengunyah.

__ADS_1


"Bagaimana rasanya, Kala? Ekspresi mukamu sepertinya menunjukkan kalau masakanku tidak sedap." Maheswari terlihat sedikit lesu.


"Kak Mahes keterlaluan, tidak bisa membedakan ekspresi muka." Kala mencibir. "Jelas aku keenakan, Kak Mahes ...."


Maheswari kembali mendapatkan sinarnya. "Sungguh?!"


Kala tersenyum dan mengangguk mantap. "Ini daging terenak yang pernah aku makan! Sungguh hebat Kak Mahes bisa meramu masakan, bukan hanya meramu pil saja!"


"Aku senang jika kamu menyukainya. Setelah ini, makanan utama akan memanjakan kamu."


Kala melihat ayam panggangnya yang belum tersentuh. "Ayam ini sungguh besar, Kak. Dari mana Kak Mahes mendapatkan ayam sebesar ini?"


Dari ukurannya, memang ayam ini berukuran dua kali lipat dari ayam biasanya. Tentu Kala belum pernah melihat ayam sebesar ini dalam sepanjang umurnya. Sangat wajar jika Kala bertanya, atau ia akan norak selamanya.


"Ini bukan ayam, Kala ...." Maheswari tertawa kecil. "Ini adalah kalkun."


"Kalkun?" tanya Kala.


"Kamu tidak tahu kalkun?" tanya Maheswari.


Kala mengangguk. "Sungguh, aku tidak tahu."


Maheswari menepuk dahinya. Tidak tahu kalkun? Apa itu tidak keterlaluan untuk seorang yang norak? Bagaimana Maheswari bisa menjelaskan rupa kalkun pada Kala?


"Kala, nanti kita akan lihat di pasar." Maheswari menjawabnya dengan sabar.


"Apa mungkin kita juga akan membelinya?" tanya Kala penasaran.


"Ya, ya! Kita akan membelinya untukmu jika memang suka."


Kala mengangguk pelan sampai ia tersadar kalau sup di mangkuknya sudah habis. Waktunya ia mencicipi kalkunya. Namun, Kala melihat Maheswari belum menyelesaikan sup.

__ADS_1


__ADS_2