
Kala tersenyum canggung. “Aku mencapai Alam Kristal Spirit, bukan? Mengapa aku harus berada di tempat ini? Setahuku, pranor yang ingin menembus Alam Kristal Spirit hanya perlu melakukan latihan tertutup untuk mendapatkan kristal?”
“Kau benar, Anak Muda. Namun, ada satu hal yang perlu kau ketahui: ada tiga kristal paling umum di bumi, yaitu Kristal Batu, Kristal Bumi, dan yang tertinggi Kristal Langit. Kau sudah melampaui kualifikasi untuk membentuk Kristal Langit, kau ditakdirkan menjadi lebih hebat dari itu.”
Kala terlihat bingung. “Memangnya, kristal apa setelah Kristal Langit?”
Bidadari itu tersenyum. “Kau yang akan membentuk kristal itu sendiri. Itu semua tergantung usahamu. Di sini, kau akan melakukan latihan tertutup di bawah bimbinganku untuk mendapatkan kristal terbaik.”
Kala berusaha mencerna apa yang terjadi, tapi ia berusaha untuk mengikuti gadis ini terlebih dahulu dan lihat hasilnya. Gadis itu berseri-seri saat Kala setuju untuk ikut dengannya, ia menggapai tangan Kala dan membawanya terbang ke langit.
Terbang tinggi bersama puluhan kupu-kupu bercahaya merupakan suatu pengalaman fantastis bagi Kala. Belum lagi ia diselimuti cahaya biru, seakan-akan dirinya adalah sumber kebenaran.
Gadis itu membawa Kala sampai ke sebuah tanah lapang yang sudah diratakan. Kala di posisi tengah lapangan sedangkan gadis itu bersila di pinggir lapangan. Si gadis meminta Kala untuk bersila posisi teratai dan mengedarkan prana ke pernapasan.
“Pejamkan matamu dan biarkan mereka masuk.”
Kala menarik napas perlahan lalu membuangnya. Ia merasa tubuhnya mengambang di ruang tanpa gravitasi. Matanya terpejam, tapi ia bisa melihat bintang-bintang di sekelilingnya.
“Apa yang kau lihat?” Suara si gadis muncul pelan.
“Bintang yang banyak.” Kala menggerakkan bibirnya.
“Itu adalah Prana, wujudnya memang seperti bintang di malam hari,” katanya pelan, “serap mereka, biarkan mereka masuk ke dalam dirimu ....”
“Serap mereka ... serap mereka ... serap mereka ....” Kala bergumam pada dirinya sendiri, seketika itu juga ribuan butir bintang-bintang masuk ke dalam tubuhnya.
Rasanya seperti ingin meledak! Tubuhnya dipenuhi oleh Prana yang melimpah, sungguh di luar batas kemampuan Kala untuk menerima semua ini.
“Terus serap mereka, jangan berhenti. Jika kau berhenti di pertengahan, maka kau akan cacat di seni bela diri.” Suara gadis itu menghantui.
Kala merasa deburan angin menerpa tubuhnya dengan kuat dan membawa tubuhnya bersama. Lalu Kala merasa deburan ombak menghunjam tubuhnya dengan dingin sebelum Kala merasakan ia berada di atas bumi.
Kala bisa melihat ribuan bintang-bintang lagi, tetapi bintang-bintang ini berbeda. Mereka tidak bergerak dan tidak bisa diserap.
Krak!
Kala merasa sesuatu telah pecah di dadanya, ia yakin yang pecah bukan jantung walau rasanya begitu. Rasa dan suara pecahan itu terasa hingga beberapa kali sebelum Kala bisa melihat sebuah kristal.
Sebuah kristal yang luar biasa! Warnanya merah tembus pandang dan di dalamnya seperti menyimpan ribuan bintang. Kala merasakan tubuhnya jauh lebih ringan dan sorot matanya lebih baik, ia juga merasa kekuatannya meningkat pesat.
“Anak Muda! Kristal seperti apa yang kau lihat?” Terdengar suara si gadis bidadari.
__ADS_1
“Kristal warna merah yang di dalamnya menyimpan banyak bintang,” jelas Kala.
“Kau tidak bercanda bukan?!”
“Aku-”
Belum sempat Kala membalas, tubuhnya tertarik dari belakang dengan kecepatan ekstrem. Ia merasa pening hebat di kepalanya, Kala juga merasa tubuhnya kembali menyentuh tanah.
“Eugh!” Kala memuntahkan sejumlah isi perutnya ke tanah.
“Anak Muda! Kau luar biasa! Kau jenius!”
Kala mengumpat keras dalam hatinya. Dirinya muntah dan kepalanya seperti berputar-putar kencang, dan bidadari itu mengatakan ia jenius! Jenius dalam cara muntah terbaik?!
“Kau mendapatkan Kristal Angkasa! Kristal paling tinggi di segala jajaran jenis kristal! Kau bahkan setingkat lebih tinggi dari seorang legenda yang datang ke sini enam ribu tahun yang lalu.”
Kala mengelap sisa muntahannya. “Siapa legenda itu dan kristal apa yang ia bentuk?”
Si bidadari menyunggingkan senyum bangga. “Dia adalah Garuda! Sang pembasmi iblis! Ia mendapatkan Kristal Samudra, setingkat di bawahmu.”
“Oh, Garuda.” Kala mengangguk-anggukan kepalanya.
“Kau tidak terkejut?”
“Dan kau juga tidak terkejut dengan kristal dan kekuatan yang baru saja kau dapatkan?”
“Aku belum mencobanya, tidak ada alasan untuk terkejut.”
Dari pinggir lapangan, si bidadari menatap Kala penuh selidik. “Siapa kau sebenarnya?”
“Aku adalah manusia.”
“Bukan jenismu, tapi statusmu.”
Kala terbatuk pelan. “Aku tidak bermaksud sombong, tapi aku adalah Kesatria Garuda.”
Si bidadari menutup mulutnya dari pinggir lapangan. Bapak dan anak. Garuda dan kesatria. Ia baru saja melihat keajaiban.
“Aku merasa terhormat telah membantu kalian.” Bidadari itu berjalan ke arah Kala dengan tenang lalu membantunya berdiri.
“Apa aku bisa kembali ke bumi sekarang?”
__ADS_1
“Tentu saja tidak.” Si gadis bidadari itu menyunggingkan senyumnya. “Aku akan mengajarimu beberapa teknik dan jurus penting.”
“Apa itu artinya aku harus menjadi gurumu?” Kala menyipitkan matanya.
Gadis itu tertawa. “Tentu tidak, aku hanya akan mengajarimu sesuai tugasku. Sekarang, maju dan lawan aku agar aku tahu seburuk apa teknik yang kau gunakan.”
Kala menatap bidadari itu tajam. “Baik, aku tidak akan sungkan.”
Kala mengeluarkan Keris Garuda Puspa dari cincin interspatial. Saat ia hampir mengaliri keris itu dengan Prana, si gadis bidadari menghentikannya.
“Aku tidak akan mengajarimu teknik pedang. Aku menemukan takdir bahwa kau akan menciptakan teknik pedang sendiri. Gunakan tangan kosong.”
Dahi Kala mengernyit lalu kembali menyimpan Keris Garuda Puspa. Ia menyiapkan kuda-kuda dan tangannya, bersiap menyerang dengan serangan tapak. Kakinya mengentak! Tubuhnya sedikit berada di atas tanah sambil terus mengirimkan serangan tapak pada si bidadari.
Deburan angin melesat kuat ke arah bidadari, tapi ia dapat menghindarinya dengan mudah seolah-olah tubuhnya tidak bisa tersentuh. Saat Kala sudah berada di dekatnya, bidadari itu melakukan gerakan aneh, ia menggapai tubuh Kala dengan gerakan mulus lalu membantingnya ke bawah dengan keras.
Kala merasa seluruh tulangnya remuk dan ia tidak memiliki daya untuk kembali bangkit. Si bidadari benar-benar mengalahkannya dengan gerakan yang tak terduga.
“Jika kau ingin aku mengajarkanmu teknik ini, maka bangkitlah dan lawan aku sampai kau habis!”
Kala melihat sebuah peluang besar. Dengan teknik gerakan ini, ia bisa mengalahkan lawan tandingnya dengan sangat cepat dalam satu serangan. Kala melompat bangkit dan mengirim pukulan serta gerakan silat lainnya.
Bum!
Meski begitu, ia selalu dijatuhkan dalam satu serangan. Baju Kala kini kotor dengan tanah dan sebagian punggungnya lebam-lebam. Saat ini, Kala benar-benar tidak bisa bangkit.
“Sepertinya hanya itu kemampuanmu,” cicit si bidadari.
“Aku ... tidak bisa bangkit.” Kala mengatur napasnya.
Si bidadari tersenyum lalu mengulurkan tangan sebagai bantuan. “Namaku Cassandra, siapa namamu?”
Kala menggapai tangan Cassandra lalu bangkit. “Aku Kala Piningit. Namamu aneh dan benar-benar tidak lazim.”
Cassandra mungkin terdengar sebagai “Kak Sandra”. Gadis cantik itu menyunggingkan senyumnya. “Ya, namaku memang sedikit berbeda dengan orang lain.”
“Nah, Cassandra. Bisa kau ajarkan mengenai teknik itu?”
Cassandra mengangguk pelan. “Teknik itu adalah pencak silat. Berbeda dengan teknik silat pada umumnya, pencak silat lebih mengedepankan nilai seni dan perasaan saat kau menyerang. Itu menjadikan pencak silat terlihat sempurna. Teknik pencak silat kebanyakan tentang cara membanting atau melumpuhkan lawan dengan cepat dari jarak dekat.”
“Butuh berapa lama untuk mempelajarinya?” tanya Kala.
__ADS_1
“Aku akan melatihmu satu bulan penuh di sini. Tenang saja, kau tidak akan merasakan kantuk dan juga lapar di alam ini. Jadi, kau bisa berlatih tanpa henti di bawah bimbinganku.”
Mata Kala dipenuhi oleh api juang seperti melihat ratusan peti berisi berlian di depannya. Ia mengangguk antusias tanda agar Cassandra memulai pelatihan.