Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Bergabung dengan Pasukan Telik Sandi


__ADS_3

"Bagaimana bisa?"


Kala tidak menjawab melainkan hanya tersenyum canggung. Bagaimanakah ia bisa menceritakan bahwa Maheswari mengecup keningnya?


"Ya, sudah. Ikuti aku." Yudistira menggelengkan kepalanya dan memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu.


Kala mengangguk dan mengekor di belakang Yudistira. Hawa yang dingin membuat mereka berjalan lebih cepat dan semakin cepat.


Patriark itu membawanya ke sebuah tenda yang ukurannya lebih besar dari yang lainnya. Ini adalah barak, Kala meyakini itu. Yudistira menyuruh semuanya untuk masuk ke dalam kecuali para penjaga yang tadi ikut.


Di dalam tenda, sudah terdapat kisaran selusin pasukan telik sandi. Mereka bersenjata lengkap, pakaian mereka tebal, dan tentu saja tingkat prana mereka tinggi. Pasukan telik sandi ini sedang rebahan untuk mengisi tenaga, ada beberapa yang duduk bersila.


Saat melihat Yudistira masuk, selusin pasukan telik sandi itu berdiri lalu berbaris. "Hormat kepada Patriark!"


Patriark mengangguk pelan. "Kalian akan diluncurkan sebentar lagi. Ingat! Waktu adalah nyawa, sampai waktu terbuang maka nyawa terbuang!"


"Sendiko dawuh, Patriark," ucap mereka serempak.


"Bagus." Yudistira tersenyum puas. "Ada satu tambahan orang untuk kalian, tingkat prana miliknya memang masih berada di Pondasi Prana, namun dia adalah genius yang punya banyak cara menyerang. Aku harap kalian bisa kompak dengannya."


"Dimengerti, Patriark!"


"Sekarang waktunya sarapan! Setelah kalian selesai makan, istirahat sebentar lalu jalankan misi!"


"Baik!"


"Bubar!"

__ADS_1


Semua pasukan telik sandi yang sebelumnya berbaris kini bercerai berai. Mereka mengambil posisi duduk di pinggir dalam tenda. Kala juga diperintahkan untuk duduk bersama mereka.


"Sebentar lagi makanan akan datang, Kala. Kau sarapan dulu agar bisa bertarung dengan maksimal."


Kala tersenyum lembut. "Baik, Patriark."


Yudistira membalas senyuman Kala. "Nah, sekarang aku akan pergi."


Kala lalu berjalan duduk di samping seorang pemuda pasukan telik sandi. Pemuda itu lalu memandang Kala dari atas sampai bawah. Bukan begini cara Kala berpakaian saat mau tempur, di mana orang yang tempur menggunakan selimut?


"Hei, siapa namamu?" tanya pemuda itu ramah.


Kala menyunggingkan senyum. "Namaku Kala. Siapa nama Kakang?"


Orang itu senang Kala juga bersikap ramah. "Namaku Panji!"


"Biasanya sebentar lagi, mengingat matahari sudah meninggi," katanya, "sepertinya kau sangat kelaparan."


"Bukan seperti itu," sanggah Kala dengan cepat. "Hanya untuk berbasa-basi."


Orang itu tersenyum tipis. "Santai saja, tidak perlu berbasa-basi denganku. Kami memang pasukan khusus, namun sikap kami tidak terlalu formal."


"Betul itu!" sahut teman Panji di sebelahnya. "Kami masih muda dan kami tetap butuh candaan!"


Semua pasukan telik sandi di dalam tenda tertawa keras. Tawa mereka begitu tulus dan sangat berbahagia. Kala terbawa suasana dan ikut tertawa lepas.


"Ingat, kita akan menghadapi pertempuran yang membahayakan nyawa!" seru Kala.

__ADS_1


Seseorang menjawab dengan riang. "Malah justru kita harus seperti ini sebelum tempur. Bisa jadi ini adalah candaan kita yang terakhir."


Kala menghentikan tawa, begitu juga yang lain berangsur-angsur hilang suara.


"Kami adalah pasukan khusus, mati adalah hal biasa." Seseorang menambahkan. "Mati hanyalah hal yang tertunda, cepat atau lambat kita semua akan mati. Namun, kami ingin mati dengan bermanfaat walau kami akan mati lebih awal."


Kala tersenyum lembut. "Tenang saja, tidak akan ada yang mati nanti."


Yang lain hanya tersenyum pahit menanggapi Kala. Misi ini merupakan misi yang tidak jelas tingkat kesulitannya, masih terlalu dini menebak jumlah korban untuk saat ini. Kala yang melihat senyum pahit mereka hanya bisa terdiam dan menunjukkan senyum khasnya.


Beberapa saat kemudian datang sejumlah wanita dan pria yang membawakan makanan. Mereka membawa makanan yang sangat banyak, namun Kala tidak mengetahui makanan tersebut karena bentuknya yang tidak lazim di mata Kala.


Seorang pria besar membawa sebuah panci yang juga besar. Panci tanah liat ini berisi makanan berkuah bening dengan bola-bola berwarna hijau. Mangkuk-mangkuk diisi oleh makanan berkuah itu, Kala mendapatkan satu mangkuk.


"Makanan apa ini?" tanya Kala pada Panji. "Aku tidak pernah melihatnya."


Panji tersenyum lembut, lalu menjelaskan, "Ya, memang. Makanan ini jarang di pasaran. Ini adalah makanan energi, kau memakannya maka sama saja memakan energi. Bola-bola kecil berwarna hijau ini terbuat dari beras yang ditumbuk lalu dicampur pandan dan esensi Batu Energi. Kuah ini mengandung banyak rempah-rempah, rasanya sangat tajam dan beragam."


"Wah! Ini makanan yang unik!" timpal Kala dengan antusias.


"Makanan ini diperuntukkan para prajurit." Panji tersenyum pahit. "Dan aku tidak bisa mengatakan kalau makanan ini lezat."


Dahi Kala mengernyit. Makanan yang tidak enak? Apa itu artinya buruk? Atau tidak layak dicicipi lidah?


"Namanya juga jamu ...." Seseorang menyahut dengan malas.


Panji tersenyum lebar. "Jangan dikunyah terlalu lama, telan saja!"

__ADS_1


Semua mangkuk pasukan telik sandi telah terisi. Para pembawa makanan juga telah pergi. Para pasukan telik sandi mengangkat mangkuknya tinggi-tinggi lalu bersorak, "Berjuang untuk kebenaran!"


__ADS_2