
Kini Alang sudah bertengger di pundak Kala, tetapi raut wajah burung itu tidak terlihat bagus meskipun Kala sudah meminta maaf berkali-kali.
Kaia berada di belakang Kala dengan napas yang tidak teratur, baru saja tadi berlari sekuat tenaga dengan harapan menyusul pemuda itu yang berlari teramat kencang untuk kembali ke penginapan.
“Istirahat sebentar.” Kaia sudah tidak kuat lagi, ia duduk bersandar di pohon, tidak menunggu keputusan Kala.
“Baiklah, tetapi jangan terlalu lama.”
Kala mengeluarkan botol labu dari cincin interspatial-nya yang penuh terisi air. Ia menegak beberapa sebelum menyerahkannya pada Kaia.
Gadis itu tidak minum setegak atau dua tegak, ia menghabiskan semua isi botol tersebut. Kala sungguh tercengang saat gadis itu mengembalikan botol dalam keadaan kosong.
“Sebagai seorang gadis, perutmu terlalu besar.”
Kaia menatap tajam pada Kala. Penuh dengan amarah. Namun, tatapan tersebut berubah menjadi kepahitan. Sambil mencoba tersenyum dan berkata, “Kau tahu? Aku tidak lagi bisa kau sebut sebagai gadis.”
Kala ingin mengatakan sesuatu, tapi tercekat di tenggorokan, tersumpal oleh kebenaran-kebenaran yang teramat menyedihkan. Biar bagaimanapun, seseorang yang sudah tidak perawan tak lagi pantas disebut sebagai gadis.
“Tidak. Kau selalu menjadi gadis kecil yang menggemaskan bagiku.” Kala tersenyum lembut. “Anggapanku tidak akan pernah berubah.”
Kaia tertawa. “Omong kosong. Aku tidak butuh pendapatmu, kau tetap tidak bisa mengubah pendapat dunia.”
“Jika seluruh dunia tidak menerimamu, aku tetap di sisimu.” Kala tertawa pelan saat mengatakan itu, tetapi dia tidak sedang bermain-main dengan kalimatnya.
Kaia merasakan hangat di dadanya. Meskipun hati gadis itu sangat keras dan dingin, tetapi dia tetap merindukan adanya sosok pelindung dan pemimpin yang bisa membuatnya merasa aman. Tanpa sadar, setetes air mata mengalir di pipinya.
Mereka beristirahat cukup lama sebelum melanjutkan perjalanan. Menurut penuturan Walageni, jarak antara kota dan penginapan hanya akan memakan satu hari perjalanan jika berjalan kaki.
Kala berusaha memangkas waktu sebisa mungkin sebab kini ia membawa seorang perempuan desa yang tidak terbiasa tinggal terlalu lama di alam terbuka. Kala tidak sampai hati membiarkannya tidur beratapkan langit.
Perjalanan mereka sangat lancar meskipun sepi dan sunyi, tidak ada pedagang dengan pedati-pedati yang melewati jalur ini. Mereka pintar untuk tidak melewati daerah konflik, siapa pun yang lemah bisa mati di sini.
***
__ADS_1
Kala dan Kaia sampai di gerbang kota saat matahari sudah jatuh. Dengan berjalan lebih cepat, mereka telah memangkas waktu selama setengah hari.
Gerbang kota dijaga oleh banyak prajurit dengan zirah tebal dan senjata lengkap. Banyak pedagang yang mengantre menunggu prajurit memeriksa barang dagangan mereka sebelum bisa memasuki kota. Mereka yang ingin masuk kota juga harus menunjukkan identitas warga Pandataran.
Kala dan Kaia adalah warga Geowedari, bahkan Kala tidak punya kartu identitas warga Geowedari. Ia menggaruk kepalanya saat sadar akan mendapatkan masalah yang cukup rumit.
Antrean cukup panjang, tapi kinerja para prajurit sangat cepat dan bagus. Mereka berdua dengan cepat berhadapan dengan prajurit pemeriksaan. Kala tersenyum gugup sedangkan Kaia memandanginya dengan aneh.
“Berikan cincin interspatial kalian dan tunjukkan kartu identitas.” Prajurit itu mengulurkan tangannya.
Kala terdiam sambil tersenyum canggung.
“Jangan bilang bahwa kalian menolak perintah ini?” Prajurit itu menyentuh gagang pedangnya dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Kala menghela napas panjang. “Kita berdua adalah warga dari Geowedari. Aku tidak memilki kartu identitas, tetapi aku rasa gadis ini mempunyai.”
Kaia buru-buru menggeleng. “Kartuku tertinggal di rumahku.”
Kala menepuk jidatnya. “Um, bagaimana dengan ini?”
Prajurit itu bukannya tersenyum lebar, tapi malah mengeluarkan pedangnya dari sarung. Prajurit-prajurit yang lainnya ikut melakukan hal serupa dan mendekati mereka bertiga, mereka benar-benar bersiaga penuh.
Kala segera mengeluarkan aura yang menunjukkan behwa dirinya adalah pranor di tingkat Pondasi Prana. Mereka tidak gentar walau Kala sudah mengancam sedemikian. Pemuda itu juga menggapai tangan Kaia saat situasi memburuk.
“Ada apa ini?” Seorang pranor dengan tingkat Alam Kristal Spirit muncul dan bertanya pada prajurit lainnya.
“Kapten, orang ini tidak menunjukkan kartu identitas dan berusaha menyogok.”
Pranor yang ternyata kapten itu memincingkan matanya pada Kala dan Kaia. Kala membalas tatapan itu dengan aura membunuh.
“Aku harap malam ini tidak ada pertumpahan darah.” Kala berkata dengan dingin.
“Aku harap juga demikian, tapi sepertinya tanah akan tetap basah dengan darah jika kau adalah penyusup.” Kapten itu membalas tatapan Kala.
__ADS_1
“Kami bukan penyusup. Kami ingin singgah di kota ini.”
“Kalau begitu, tunjukkan kartu identitasmu!”
Kala mendengus kesal lalu melemparkan medali kayu yang diberikan Walageni sewaktu di penginapan. Kapten itu memeriksa medali tersebut sebelum wajahnya dialiri keringat dingin.
“Ini … kau adalah tamu penting.” Kapten itu menunjukkan hormat dan mengembalikan medali, prajurit-prajurit lain memandang kapten mereka dengan tatapan aneh.
Kala mengangkat alisnya, tidak pernah ia menyangka bahkan dalam mimpi sekali pun akan terjadi hal seperti ini. Ia bahkan tidak berharap banyak kalau medali itu akan membawanya masuk ke kota.
Si kapten memandangi para prajuritnya lalu menyuruh mereka untuk memberi jalan. Kapten itu juga menyinggung bahwa Kala adalah orang penting.
Kala dan Kaia dengan mudah masuk ke dalam kota, bahkan dikawal kapten dan lima prajuritnya. Kala menghentikan langkah dan memandang mereka semua dengan malas.
“Aku tak tahu makna medali ini bagi kalian, tapi bisa kalian berhenti mengikuti kami?”
“Maaf. Kota tidak terlalu aman untuk orang penting seperti dirimu.”
“Aku bisa melindungi diriku sendiri.”
Si kapten terlihat ragu sedangkan bawahannya menunggu keputusan. Pada akhirnya ia membiarkan Kala dan Kaia pergi. Dengan begitu, mereka jadi lebih leluasa.
Jalanan kota semakin ramai saat mulai masuk ke dalam. Hari sudah malam, tapi itu tidak menyurutkan semangat dagang. Pasar masih buka dengan gemerlap api putih dan warna-warni gelap yang menyala. Keluarga-keluarga keluar rumah dan memanjakan anak-anaknya dengan makanan ringan, atau bahkan pasangan muda-mudi yang berkencan.
Kala tidak terlalu menyukai keramaian, tapi setelah melihat Kaia tersenyum lebar pandangannya berubah. Kala mengajak Kaia membeli berbagai makanan lokal yang dijajakan, mulai dari permen gula merah, putu, sampai pada makanan aneh.
Malam ini, Kaia sangat senang dengan jajanan yang ada di tangannya. Sedangkan Kala tersenyum kecut, kepeng emasnya habis dan hanya tersisa sepuluh koin perunggu. Namun, baginya ini pantas Kaia terima setelah melakukan perjalanan melelahkan serta membosankan.
Kala kemudian bertanya pada seorang pedagang, ia bertanya arah menuju Penginapan Progo. Pedagang itu menatap Kala dengan aneh.
“Apa kau mau menginap di sana?”
“Benar.”
__ADS_1
“Jangan bercanda dengan orang tua ... penginapan itu bukan tempat untuk orang sepertimu.”