Seni Bela Diri Sejati

Seni Bela Diri Sejati
Gadis Tercatik yang Pernah Dilihatnya


__ADS_3

Pria tua itu seperti melihat setan! Tatapannya ke arah Kala penuh dengan rasa tidak percaya sekaligus kagum. Mulutnya komat-kamit tidak keruan. Bola matanya seperti ingin keluar dari tempatnya.


Kemudian dengan langkah kaki yang sedikit bergemetar, sang kakek berjalan ke arah Kala. Kakek itu benar-benar menerobos kubah secara langsung! Ia merobek dan keluar dari badan kubah tanpa melewati pintu. 


Ini membuat muka Kala yang sudah masam itu menjadi bertambah kecut, kubahnya yang dengan kesulitan dibangunnya itu langsung rusak dalam sekejap mata—menjadi tumpukan kayu dan ranting yang lebih layak untuk dibakar.


"Kek, apa yang kau lakukan?" Kala bertanya ramah, tetapi jelas dengan nada tersinggung.


Kakek itu terus berkomat-kamit tanpa menjawab pertanyaan.


Sedangkan kakinya terus melangkah membawa sisa kubah mendekati Kala. Bocah remaja itu menjadi ketakutan kemudian mundur beberapa langkah, jelas aura kakek itu amat sangat kuat!


Ia pernah mendengar sebelumnya, tentang seniman-seniman bela diri yang sangat kuat, bisa membunuh ribuan orang semudah membalikkan telapak tangan. Dan yang Kala tahu, sebagian seniman-seniman bersikap sangat tenang dan berwibawa, tapi sebagian besar seniman mudah terpancing amarahnya. Ia takut terbunuh oleh kakek itu, hanya karena tadi tidak sopan saat bertanya.


"Kakek, kamu sedang apa?" Ia semakin mundur, tentu saja dengan kaki bergemetar.


Wajah si kakek berubah pucat, dan mulutnya terbuka—memperlihatkan gigi-giginya yang masih utuh. Kala bagai melihat hantu yang paling menyeramkan dan begitu nyata di depannya.


Sang kakek berkelebat dengan cepat ke arah Kala! Sebab kecepatannya yang luar biasa, si kakek sudah sampai hadapan Kala hanya dalam waktu satu detik, padahal sebelumnya jarak antar keduanya terpaut cukup jauh! Tubuh Kala bergemetar hebat, jelas ia tidak melihat kakek itu melompat atau bahkan mengambil ancang-ancang ketika kemudian tiba di hadapannya.


Ini membuktikan bahwa kakek itu benar-benar seniman bela diri!


"Kakek ... apa ... yang kau lakukan?" ucap Kala terputus-putus, "jangan ... jangan bunuh aku." Ucapan Kala terhenti ketika kakek yang berdiri tegap di hadapannya itu memegang bahunya kuat-kuat.


Kala semakin takut! Entah mengapa, ia merasakan suatu tekanan yang sangat hebat menimpanya. Kala mulai kesulitan bernapas, pundaknya seakan ditimpa batu besar.

__ADS_1


"Takdir memang tak pernah berbohong ...." Si kakek tiba-tiba membuka mulut; tekanan itu menghilang. "Kesatria Garuda!"


Kala masih tidak berani membalas, ia baru saja mengalami hal yang sangat menyeramkan. Entah setan apa yang merasuki tubuh kekek ini, ia tiba-tiba bersujud di depan Kala! 


Kesadaran bocah remaja itu mulai pudar seiring dengan ribuan pertanyaan yang muncul di benaknya. Kala jatuh pingsan, dan memang itulah yang terbaik menurutnya.


***


Kala mendapati dirinya sedang terduduk di atas tanah merah yang sedikit basah. Di depannya terlihat seorang wanita yang ia kenal sebagai ibunya, bersimpuh lutut dengan keris pendek menembus perut. Darah mengalir deras menuju tanah merah yang semakin bertambah merah akibat darah itu.


Kala menangis, ia berusaha menggapai ibunya namun seakan tubuhnya terus menjauh. Ia terus menjauh, tak pernah bergerak meski hanya satu jengkal saja. Tenaganya terkuras habis, seakan-akan ia telah lari mendaki hingga ke puncak gunung tertingi. Kala kecil terus melihat ibunya yang menjauh, atau dialah yang sebenarnya semakin menjauh. Seseorang memeluk Kala dari belakang, membawa lari Kala sejauh mungkin dari tempat itu. 


Orang itu seakan ingin memisahkan Kala dengan hidupnya. Kala terus memberontak, tetapi itu percuma. Ia merasa tidak bertenaga sama sekali. Pada kesempatan ini Kala bertekad untuk menyelamatkan ibunya. Tidak seperti dulu, ia hanya menjauh meninggalkan mayat itu. Namun hari ini terulang lagi, ia tak bisa menyelamatkan orang yang paling ia cintai. Bocah kecil itu hanya bisa terus menangis tiada berdaya. 


***


Raut wajahnya menunjukkan ketakutan dan kesedihan teramat mendalam. Ini adalah hari ketiga semenjak Kala memimpikan ibunya. Sebenarnya mimpi itu adalah sebuah ingatan masa lampau yang sudah ia kubur jauh-jauh, tapi semenjak tiga hari lalu Kala selalu memimpikannya.


Kala hanya mengetahui orang tuanya mati terbunuh dan ia dilarikan oleh seorang pria seniman bela diri. Kala tidak tahu menahu soal pria itu, tetapi ia tahu bahwa pria itu telah menyelamatkannya. Dia membawa Kala ke sebuah desa kecil semenjak desa kelahirannya habis di tangan perampok. Ia diasuh oleh seorang janda tua yang tidak punya dan tidak akan punya keturunan. Namun sayangnya, desa tempat barunya itu juga mengalami nasib yang sama.


Saat itu Kala berusia sepuluh tahun. Ia dan nenek bisa lolos dan tinggal di belantara Gunung Loro Kembar. Mereka membangun gubuk baru. Kala dan nenek itu hidup bahagia walau serba kekurangan di gubuk kecil yang jauh dari peradaban itu.


Tapi waktu memang tak bisa ditentang; waktu juga sangat mematikan. Orang yang mengasuh Kala sedari dirinya berumur delapan tahun sampai tiga belas tahun itu, meninggal. Itu adalah waktu yang menyeramkan dan amat memedihkan bagi Kala, ia telah menganggap nenek itu sebagai orangtuanya.


Sejak saat itu, Kala tinggal sebatang kara di dalam gubuknya. Ia tak mau kembali ke desa setempat disebabkan trauma yang begitu dalam. Kala berpikir bahwa jika ia keluar hutan, maka saat itu pula dirinya akan mati. Dunia seakan membencinya, atau kebencian yang memenuhi dunia sehingga dapat mengenai siapa pun di dalamnya.

__ADS_1


Kala menggosok matanya, berusaha lepas dari timbunan kenangan menyedihkan. Kala mendapati dirinya berada di atas sebuah kasur nyaman. Ia melihat ke sekeliling sampai menyadari bahwa dirinya berada di dalam ruangan.


Ruangan itu bersih dengan dinding kayu yang mengilap. Beberapa perabotan dan lukisan juga mengisi ruangan.


Kala hanya seorang diri di ruangan itu. Tak tahu di mana dan bagaimana ia bisa di di sana, Kala menggosok mata lagi: memastikan bahwa ia sudah keluar dari alam mimpi. 


Namun, pandangannya tetap sama, ia masih berada di dalam ruangan bersih tersebut. Itu menyadarkan Kala bahwa dirinya harus bertindak untuk masalah ini. Terlebih ingatan-ingatan tentang si kakek aneh nan menyeramkan itu kembali memasuki benaknya. 


Ia menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan loncat dari kasur. Saat menjejakkan kaki di ubin kayu, itu terasa sangat dingin!


Kayu-kayu di ruangan itu cukup membuat telapak kaki Kala mengkerut. Namun ia segera beradaptasi dengan keadaan, dingin sudah tidak dirasakannya lagi. Ia melangkah menuju pintu sebelum pintu itu tiba-tiba dibuka.


Kala kaget, tapi segera berhasil menutupi keterkejutan. Pintu itu dibuka oleh seorang gadis yang memiliki paras menakjubkan. Kala bahkan hampir terjatuh setelah melihat kecantikan itu.


Dia selama ini tinggal di dalam hutan, melihat pria saja jarang apa lagi melihat wanita cantik seperti bidadari ini! Dan gadis ini kecantikannya melebihi kecantikan gadis-gadis pada umumnya—mungkin saja begitu, tapi kemungkinannya itu benar.


"Ah! Kamu sudah siuman!" seru gadis dengan rambut hitam panjang dan gaun putih anggun itu.


"Ya? Ada apa?" tanya Kala dengan sedikit memiringkan wajah, menampilkan diri setampan mungkin—tentu saja naluri jantannya mengatakan bahwa dirinya harus tampil jadi yang terbaik di mata gadis itu. 


Gadis itu bertanya tanpa mempedulikan penampilan Kala, "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah masih terasa pening?" 


"Masih sedikit, tapi aku baik-baik saja," katanya sambil menganggukkan kepala, dengan senyum dan mata tertutup, kembali sok tampan. "Dan bagaimana aku bisa ada di sini?"


"Untuk sekarang, kamu harus kembali ke tempat tidur. Aku akan memeriksa keadaanmu."

__ADS_1


Kala menurut saja sementara gadis remaja itu menghampiri Kala ke kasur.


__ADS_2