
Kala kembali mengeluarkan satu pedang seperti itu. Sehingga kini hanya tersisa sepuluh Pedang Emas. Melihat kera itu sedang lengah, Kala bergerak maju.
Kala melompat untuk menebas leher sang kera raksasa, tetapi Kala kembali terpukul mundur karena sebuah pukulan dari kera spirit itu.
Kala kembali menubruk dinding bangunan. Keras. Sakit sekali. Kala meringis dan muntah darah. Matanya tajam melihat ke arah kera yang masih mengamuk.
Sebelum mulai bertarung lagi, Kala cepat-cepat menelan pil obat pemberian Maheswari. Sebenarnya obat dari Maheswari itu Kala niatkan sebagai kenang-kenangan saja, tidak untuk dikonsumsi, namun keadaannya saat ini benar-benar mendesak. Kalau tahu setelah turun gunung akan langsung dihadapkan dengan pertarungan, Kala akan membuat banyak pil pengobatan di atas gunung.
Sang kera raksasa berteriak, maju menyerang menenteng tangan kirinya yang hampir putus. Kala berdiri tegap, mengeluarkan satu Pedang Emas lagi dari cincin interspatial.
Pranor-pranor yang ada di sekitarnya segera bergerak mundur saat kera itu murka. Mereka memilih untuk tidak menolong Kala karena mengetahui bahwa Hewan Spirit bukanlah lawan yang sebanding bagi mereka.
Sang kera maju mendekat dengan langkah kaki yang berdebam, sebelum meloncat tinggi ke atas Kala.
Bayangan dari kera itu menimpa Kala. Mengangkat tinjunya, begitu juga tubuh besarnya yang meluncur ke bawah. Jika Kala terkena serangan itu, maka akibatnya akan jauh lebih parah daripada serangan-serangan tadi. Dapat berujung pada kematian.
Kala mengentak kakinya, tubuhnya terbang ke depan. Mata Kala tertutup sambil berharap dengan cemas bisa cukup cepat menghindari serangan tersebut.
Debum terdengar dari belakang, Kala memendaratkan kakinya hingga terseret di atas tanah. Serangan kera itu berhasil dihindari. Debu dan tanah berterbangan.
Tangan kiri kera itu terlihat berlumuran darah segar akibat menghantam tanah terlalu keras. Amarahnya semakin menjadi-jadi.
__ADS_1
Kala cukup tenang untuk menghadapi bahaya ini. Ia mengeluarkan lagi Pedang Emas sambil meluncur ke belakang. Kera itu mengejarnya. Saat kecepatan dan jarak sudah tepat, Kala menyentuhkan kakinya ke bawah dan mengentak keras lagi. Tubuhnya berbalik arah, terbang cepat ke depan. Pedangnya dalam ancang-ancang siap ditebas.
Si kera kaget bukan main saat baru menyadari bahwa dirinya salah langkah dalam mengejar Kala. Gegabah ia meninju ke depan. Pedang Kala dan tangan kiri sang kera akan beradu, benturan itu tidak akan bisa dielakan!
Kala menyentak pedangnya ke depan sesaat sebelum benturan itu benar-benar terjadi!
Pedang Kala langsung menembus jari-jari sang kera yang terkepal. Membelah terus sampai ke tulang lengannya. Tak sampai di situ, dalam waktu singkat Kala mengeluarkan satu pedang lagi. Ia menebaskan langsung ke leher sang kera, membuat Hewan Spirit itu ambruk seketika dengan darah memancur dari lehernya.
Kesatria Garuda bersimpuh lutut di atas tanah. Darah dari leher sang kera membasahi tubuhnya. Kala berhasil mengalahkan lawannya yang tangguh, tetapi sekarang Prana-nya tersisa sedikit, belum lagi jiwanya belum bisa menerima pertarungan sesadis ini.
Peperangan berhasil dikendalikan pihak manusia. Beberapa seniman membantu Kala, memberinya pil penambah Prana, sebuah setelan baju baru, dan tempat untuk membersihkan diri.
***
Saat hari sudah gelap, barulah perang selesai sepenuhnya. Lebih dari separuh kota rusak parah, banyak kerugian dan korban jiwa dalam serangan ini. Sayang sekali Kastel Kristal Es tidak memberi perlindungan sama sekali terhadap kota itu.
Banyak sukarelawan datang dari segala penjuru Geowedari, sebagian sukarelawan datang karena kota ini cukup penting dalam perdagangan, sebagian lagi karena keluarga mereka tinggal di kota ini. Tak ada yang tak berkepentingan, kecuali beberapa seniman yang secara sembunyi-sembunyi memberi bantuan dengan tulus.
Bahan pangan adalah sumbangan terbanyak, setelah itu disusul pil dan alat-alat pengobatan. Para tabib datang dari seluruh Jawa, membantu pemulihan. Beberapa perguruan lainnya juga ikut menyumbang, tapi Kastel Hitam tidak memberi apa pun kecuali surat permohonan maaf dan belasungkawa.
Sedangkan Perguruan Angin Utara adalah yang memberi bantuan begitu banyak. Sebagian besar pranor yang berperang tadi pagi adalah murid-murid dari perguruan tersebut. Mereka juga memberikan sumber daya yang tidak sedikit jumlahnya untuk kota ini.
__ADS_1
Kala mendapat pengobatan, luka di sekujur tubuhnya sangat banyak. Luka lebam. Tiga tulang rusuknya patah. Butuh beberapa hari sebelum Kala pulih sepenuhnya. Kala juga mendapat kunjungan dari pranor-pranor yang mengaguminya atau sekadar berterimakasih karena telah menyelamatkan hidup mereka.
Dua pekan berlalu begitu saja. Kala membantu pemulihan kota yang berlangsung sangat berat dan lama. Warga-warga yang mengungsi ke kota lain mulai datang kembali ke kotanya, tenda kemanusiaan di Kota Awan Biru (nama kota itu) lekas disiapkan. Dalam dua minggu itu juga, nama Kala berdengung di kota sebagai seniman muda berbakat yang sangat berani.
Kala termasuk yang paling awal sembuh. Pranor-pranor lainnya masih dalam kondisi buruk. Luka gigitan hewan membuat suatu masalah baru lagi bagi mereka. Kata salah satu tabib yang Kala tanyai, darah mereka sudah tercemar oleh liur hewan. Hal itu akan sabgat berbahaya akibatnya jika tak segera ditangani.
"Dengan obat-obat yang ada dan kemampuan tabib-tabib di sini, maka kondisi mereka tak bisa disembuhkan lebih jauh. Kami hanya bisa menahannya."
Tabib-tabib ahli sudah dalam perjalanan ke Kota Awan Biru. Mereka datang atas titah raja Geowedari. Berbicara tentang tabib, tentu Kala teringat dengan Maheswari dan tugas yang diberikan gurunya untuk memberikan Batu Slip Pesan kepada perempuan itu.
"Apa Kisanak mengenal Maheswari? Dia seorang tabib wanita, aku ada keperluan dengannya." Kala bertanya pada tabib di hadapannya itu.
"Tabib Maheswari!" seru pria itu tiba-tiba, "untuk apa Kisanak ingin bertemu dengannya?"
Kala mengulang, "Aku ada urusan dengannya, apa Kisanak tahu di mana aku harus menemuinya?"
"Aku tak tahu pasti. Tapi kabar burung mengabarkan Maheswari ikut dalam rombongan tabib ahli yang nanti malam akan tiba di sini." Tabib itu mengelus dagunya. "Oh, ya satu lagi! Janganlah Kisanak terlalu berharap dapat bertemu dengannya. Kisanak memang seniman berbakat yang terkenal sebagai pahlawan di sini, tapi Tabib Maheswari lebih terkenal dan lebih berbakat lagi. Aih, bukannya saya bermaksud menyinggung, saya tak mau Kisanak kecewa nantinya."
Kala mengerutkan dahinya, ia tidak pernah mendengar bahwa Maheswari sangat terkenal dan berbakat. Terakhir kali bertemu dengannya, Maheswari hanyalah tabib keliling saja.
"Aku mengerti, Kisanak, terima kasih." Kala memilih menyimpan rasa penasarannya itu dan menunggu malam tiba. "Kalau begitu, saya minta diri."
__ADS_1