
"Maafkan aku karena telah menyerang kalian sebelumnya, makan pil ini." Sang nenek memberikan Kala dan Maheswari masing-masing satu pil pengobatan, membuat keduanya termenung karena tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. "Mari masuk ke kedai tua ini, aku harap makanan cuma-cuma cukup sebagai tanda maafku."
Maheswari masih diliput kewaspadaan, dia tidak langsung menelan pil itu maupun ikut masuk ke kedai. "Jelaskan padaku! Apa yang sebenarnya terjadi?!"
"Anak Muda, jangan membentak pada yang lebih berumur." Nenek itu mengibaskan lengannya sambil terkekeh pelan. "Aku hanya berniat menguji kalian saja. Jika kalian menyerangku tadi, maka kalian adalah orang yang datang dengan bermaksud jahat. Tetapi jika kalian hanya bertahan, maka kalian adalah pelanggan untuk kedaiku." Wanita tua itu menyeringai. "Tapi untuk sekarang ini, semua makanan akan aku berikan tanpa menuntut bayaran."
Maheswari tidak sepenuhnya percaya, sedang Kala sudah menelan pil itu dan ikut masuk ke dalam kedai. Maheswari mencium pil yang ada di genggaman tangannya. Dari baunya, Maheswari menyadari bahwa pil tersebut sepenuhnya mengandung tanaman herbal yang tidak beracun. Sebagai tabib, Maheswari tahu mana yang beracun atau menyembuhkan, pil ini bersifat menyembuhkan dari aromanya. Lantas Maheswari menelan pil itu, kondisinya segera membaik. Maheswari memiliki untuk mempercayai si nenek dan ikut masuk ke dalam kedai makan.
Kedai itu hanya sepetak bangunan. Di mana tungku masak terletak di ujung ruangan dan meja-meja makan berada di tengah ruangan. Selebihnya, kosong.
Kala terlihat sudah duduk sedangkan si nenek sedang berkecimpung di depan tungku. Maheswari segera duduk di samping Kala sebelum memandang bangunan reyot ini.
"Kalian sebutkan saja mau pesan apa, sebisa mungkin aku akan membuatkannya."
Nenek yang penuh percaya diri sebenarnya, padahal tak terlihat bahan makanan untuk dimasak.
"Kak Mahes, pesan saja," timpal Kala.
__ADS_1
"Kau saja." Maheswari berbisik, takut menyinggung si nenek.
"Baiklah." Kala menarik napas. "Nek, aku pesan ayam panggang dua porsi. Jangan hadirkan dua ayam utuh, potong saja satu ayam menjadi dua saja. Kalau ada, hadirkan juga sayuran hijau."
"Sesuai pesananmu, Anak." Si nenek menghidangkan dua cangkir teh di atas meja.
Aroma teh membuat hidung Kala ingin lama-lama menghirupnya. Anehnya, wangi teh ini lebih pekat dan tajam daripada bau teh lainnya yang pernah dia hirup. Wangi yang menggugah selera itu membuat Kala menyeruputnya segera. Rasa manis teh dipadukan dengan wangi pekat segera memanjakan lidah Kala, ia terus menyeruput teh itu secara perlahan karena panas.
Si nenek berbicara pada Kala. "Pasanganmu terlihat sangat mencurigaiku. Buat dia tenang."
Kala ham[pir menyemburkan teh di mulutnya, tapi dia hanya batuk berkali-kali. Beruntung Maheswari belum meminum teh itu, atau akan ada dua teh yang menyembur ke muka si nenek.
"Bukan? Kalian terlihat sedang berkencan."
"Tidak, Nek ...." Kala memasang wajah gusar.
Nenek itu terkekeh sebelum kembali ke sudut ruangan di mana tungku itu berada, ia melanjutkan kegiatan masaknya. Kala melirik Maheswari yang tidak memberikan tanggapan. Kala bersyukur Maheswari tidak marah atau tersinggung dengan ucapan nenek itu. Kala melanjutkan minum sambil mendengarkan nenek itu bercerita.
__ADS_1
Dari cerita si nenek yang sedang memasak itu, diketahui bahwa ia adalah seorang seniman. Kemampuannya dalam bela diri dan pengobatan itu sangat tinggi, tapi itulah juga yang menjadikannya sebagai buronan. Diketahui bahwa tuduhan menghujani nenek, membuat ia dicari oleh kerajaan sekaligus perguruan-perguruan aliran putih. Nenek ini memutuskan tinggal di hutan yang jauh dari kehidupan bermasyarakat, ia bergantung dari penjualan kedainya yang sangat sedikit pelanggan. Nenek sudah tinggal lebih dari sepuluh tahun di sini, dan baru ada empat pelanggan yang datang ke sini.
"Apakah Nenek tidak takut jika para pelanggan membocorkan keberadaan Nenek?"
Nenek itu terkekeh panjang. "Aku akan memberi mereka pil yang kubuat. Pil ini bisa membuat seseorang lupa ingatan bahwa dirinya pernah ke sini atau makan di sini."
Kala bergidik. "Jangan berikan itu pada kami, Nek. Kami sepertinya ingin membahas hal penting yang tidak boleh dilupakan."
"O, baiklah, baiklah! Lagipula aku suka dengan gayamu, Nenek ini tidak akan memberikan kau pil itu asalkan kau berjanji untuk tidak beri tahu tempatku pada siapa pun!"
Kala menunjuk Maheswari. "Kalau dia, boleh tidak aku beri tahu?"
Si nenek menyeringai. "Jangan beritahu dia, bisa bahaya."
Nenek dan Kala tertawa geli bersama-sama. Maheswari tiada hentinya menggerutu. Tak pernah ada yang menggodanya sampai sejauh ini.
Si nenek menghentikan tawanya secara tiba-tiba, membuat Kala bertanya-tanya. Tampang muka nenek itu berubah menjadi serius. Matanya menatap tajam jendela luar seperti melihat hantu, Kala memincingkan mata.
__ADS_1
"Kalian tunggu di sini." Si nenek meninggalkan hidangan. "Aku akan kembali secepatnya."
Baru Maheswari ingin bertanya, namun nenek itu sudah menghilang. Kala diliput kengerian dan kewaspadaan tinggi. Ia sama sekali tak tahu apa yang tersembunyi di dalam kegelapan. Maheswari menyuruh Kala makan tapi tetap waspada, Maheswari juga menyuruhnya lebih santai. Tenang dan waspada.