
Tepat pukul 17:45 sore. Terlihat Yamuna berdiri di depan teras rumah, tangannya melambai ke mobil Ben. Yasmin juga terlihat melambai dari dalam.
“ Sampai jumpa, nantikan kedatanganku besok pagi, ” teriak Yasmin dari dalam mobil milik Ben.
“ Maaf, kamu tidak penting untuk aku tunggu. Hati-hati di jalan buat kalian berdua, ” sahut Yamuna ikut berteriak.
Tin!
Ben mengklakson mobilnya setelah menjalankan mobil keluar dari halaman rumah milik Yoan.
Yamuna berbalik badan, “ Akhirnya pulang juga, ” gumam Yamuna merasa lega saat Yasmin sudah pulang.
Tin!
Baru saja ingin melangkah pergi dari teras rumah, terdengar suara klakson mobil milik Cadman. Yamuna langsung balik badan, bibirnya tersenyum menyambut kedatangan Cadman.
Cadman turun dari mobilnya, ia berjalan cepat, dengan tangan kanan menjinjing bungkusan makanan, dan minuman.
“ Kamu bawa apa itu? ” tanya Yamuna, setelah Cadman sampai di hadapannya.
“ Aku bawa cemilan enak buat kamu, dan…” Cadman menggantung ucapannya, tangannya mengelus perut Yamuna sedikit membuncit, “Buat anak kita yang ada di dalam perut,” sambung Cadman terdengar gemas.
“ Sepertinya enak, ” ucap Yamuna saat mencium aroma makanan di bawa oleh Cadman.
“ Iya, ini adalah dimsum sapi. Kamu suka ‘kan? ”
“ Hem, ” sahut Yamuna mengangguk.
“ Kalau gitu mari kita masuk ke dalam, ” ajak Cadman, tangan kirinya merangkul bahu Yamuna.
Cadman dan Yamuna berjalan masuk ke dalam rumah. Cadman dan Yamuna juga berjalan memasuki ruang dapur, untuk menikmati santap dimsum sapi.
__ADS_1
Sesampainya di dapur, Cadman dan Yamuna terkejut melihat Yuyun sedang memasak dengan pakaian tak wajar.
“ Astaghfirullah al-adzim, ” gumam Cadman, tangannya langsung menutup kedua mata, kedua kaki, dan tubuh Cadman spontan berbalik badan, membelakangi Yuyun, dan Bibi Ratna.
“ Kamu kenapa? ” tanya Yamuna sedikit berbisik.
“Sepertinya, aku minta tolong, kamu ambilkan saja mangkuk, dan bawa ke kamar. Kita makan di kamar saja, ” sahut Cadman.
Setelah berkata seperti itu, Cadman bergegas pergi meninggalkan ruang dapur, menuju lantai 2, kamar miliknya.
“ Loh, kenapa tuan muda langsung pergi, nona muda? ” tanya Yuyun dengan wajah polosnya.
“ Kamu berpakaian seperti itu di rumah ini? ” Yamuna balik bertanya.
Yuyun melihat baju ketat hanya menutup 5 jengkal atas lututnya, lalu ia menatap Yamuna, “ Emang kenapa nona muda? bukannya baju ini masih di bilang sopan, ” tanya Yuyun.
Yamuna tidak menjawab, ia hanya menggeleng, kakinya melangkah mendekati lemari gantung piring, mengambil mangkuk, sendok, dan garpu. Setelah itu pergi meninggalkan Bibi Ratna, dan Yuyun, sedang masak untuk makan malam di dapur.
Sesaat setelah kepergian Yamuna. Bibir Yuyun tersenyum puas, ‘ Lelaki tetap lah lelaki. Sekuat apa pun, setia, dan setinggi apa pun iman di dadanya. Kalau sudah melihat bentuk tubuh wanita, seperti aku ini. Aku sangat yakin, lelaki itu pasti tidak akan kuat imannya. Yamuna..Yamuna, engkau terlalu sempurna untuk anak manusia yang hidup di atas muka Bumi ini, dan berdiri santai di tengah-tengah himpitan kebutuhan materi seperti aku ini. Untung saja kamu sudah pisah dari Farran, mantan Suami pertama kamu. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan bisa dengan muda masuk dan membuat rencana seperti ini. Semua aku lakukan demi harta, uang, kekayaan, dan kebebasan, ’ batin Yuyun.
‘ Hal jahat apa lagi yang sedang wanita itu rencanakan. Gimana caranya aku untuk bisa memberitahu tuan besar Yoan, kalau sebenarnya ART pilihannya bukanlah ART yang baik. Ya Allah, semoga saja kedok wanita jahat ini cepat terbongkar, ’ batin Bibi Ratna cemas, dan menyelipkan doa terbaik buat Yamuna.
“ Hei, wanita tua! Kenapa kamu terus memandang aku dengan tatapan sinis seperti itu. Apa kamu sedang merencanakan sesuatu buat menyingkirkan? ” tanya Yuyun menekan nada suaranya, jarinya mendorong dahi Bibi Ratna ke belakang.
“ Astaghfirullah al-adzim. Kenapa kamu sangat kasar kepada wanita yang lebih tua dari kamu? ” tanya Bibi Ratna, tangannya mengelus dahinya.
“ Tidak, aku tidak memiliki orang tua untuk saat ini. Saat ini aku hanya ingin uang, kebebasan, dan tahta, ” sahut Yuyun, ia mulai berpikir aneh.
“ Sebaiknya anak bertaubat, nak. Sebaik-sebaiknya kemewahan yang kamu ingin dengan cara yang salah. Pasti aka nada teguran dari Allah. Hentikan Nak sebelum semua terlam….”
Plaak!!!
__ADS_1
Tidak senang mendapat nasehat dari Bibi Ratna, Yuyun menampar Bibi Ratna. Membuat Bibi Ratna berhenti bicara.
“ Wanita tua, kamu bukan orang tua kandungku. Jadi jangan pernah sekali-kali kamu menasehati aku, layaknya manusia paling benar, dan tidak pernah berbuat dosa, ” hardik Yuyun.
Bibi Ratna hanya terdiam, kedua matanya terlihat berkaca-kaca memandang wajah sinis Yuyun. Ingin rasanya Bibi Ratna berlari dan mengadukan semua perbuatan Yuyun kepada Yamuna, Yoan atau Cadman. Tapi Bibi Ratna masih menahannya, karena ia tidak ingin di pecat karena tuduhan tanpa bukti. Bibi Ratna juga masih membutuhkan uang buat biaya pengobatan rawat jalan Suaminya agar cepat sembuh.
.
.
💫Di sisi lain💫
Cadman dan Yamuna sedang duduk di sofa panjang di dalam kamar milik Cadman. Di atas meja sudah tersedia laptop sedang menyala, menampakkan sebuah gambar, dan vidio tentang semua ruangan rumah Yoan.
“ Ya ampun, kasihan banget Bibi Ratna, ” gumam Yamuna merasa sedih saat melihat Yuyun menampar Bibi Ratna, dan kejadian itu ternyata terekam oleh CCTV milik Cadman.
“ Untung saja malam itu aku langsung cepat menyuruh seseorang untuk memasang CCTV, penyadap, di beberapa sudut ruangan yang terkadang tidak tersentuh, dan tidak terpikirkan untuk di pasang, ” ucap Cadman mengingat kejadian 1 hari lalu, saat Cadman sudah mengetahui jika Sasvita Yuyun adalah Dara. Seorang wanita cukup terkenal di kalangan pria hidung belang tertentu.
“ Ternyata kamu juga sudah tahu siapa Yuyun?” tanya Yamuna heran.
“ Iya,” Cadman mengelus perut sedikit buncit Yamuna, “ Semenjak aku tahu kalau kamu sedang mengandung. Bukan itu saja, semenjak kejadian penculikan kamu, aku jadi harus ekstra waspada untuk menerima seseorang dekat dengan kamu. Karena aku tidak ingin kamu celaka, dan aku juga ingin hidup menua bersama kamu, anak, cucu, dan cicit kita, ” ucap Cadman tulus.
“ Terimakasih, Suamiku, ” sahut Yamuna berterimakasih penuh cinta kepada Cadman.
“ Sama-sama, Istriku, ” Cadman mengelus dagu kasarnya, “ Yang membuat aku penasaran, kenapa Papa bisa memilih ART sangat muda buat mengurus rumah ini. ”
“ Tadi aku sempat menguping bersama dengan Yasmin, saat Yuyun mulai menghardik Bibi Ratna. Yuyun mengatakan jika kedatangannya karena ingin merebut harta Papa. Aku juga tadi mendengar jika Yuyun akan menyingkirkan aku, lalu merebut kamu dariku,” jelas Yamuna lirih, kedua matanya berkaca-kaca memikirkan gimana kalau suatu saat Cadman benar-benar pergi meninggalkannya, dan memilih Yuyun?
Cadman memeluk Yamuna, “Sayang, kamu jangan berpikir seperti itu. Sampai kapan pun, aku akan tetap setia kepada kamu, ” ucap Cadman lembut, membuat hati Yamuna lega.
“ Janji?”
__ADS_1
“ Janji, sayang,” sahut Cadman, sekilas ia memberikan ciuman di dahi Yamuna, dan terakhir mencium bibir Yamuna.
...Bersambung...