SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 133. Misi ke 2 (Mencari Rumah Caden)


__ADS_3

Ibu memutar bola matanya ke atas, dahinya mengernyit, kedua jarinya bermain, seperti sedang berhitung. Setelah selesai menghitung Ibu menatap Chandra, dan berkata, “ Tadi pagi Ibu jumpa dengan Ibu-ibu yang lain, mereka bilang yang sudah mendaftar sudah 10 orang. Dan masing-masing sudah memberikan uang pendaftaran sebesar 3 juta. ”


“ Kira-kira, kapan mereka akan berangkat ke Kota Bu? ” tanya Chandra kembali.


“ Dengar-dengar sih minggu ini. Atau minggu depan, Ibu juga lupa, ” sahut Ibu di sela tawa sumbang nya.


“ Sudah-sudah, entar lagi kita lanjutkan mengobrol nya. Sekarang makan dulu, selagi nasinya masih hangat, ” potong Bapak, tangannya mengambil kalo berisi nasi, menuangkan nasi ke dalam piring kaleng.


“ Wah..sepertinya enak, Pak, ” ucap Chandra, menatap berbagai menu makanan sederhana di dalam mangkuk. Ada daun ubi tumbuk, ikan asin, sambal belacan, dan ada rebusan daun papaya.


“ Bang, ini nasi nya, ” Geulis memberikan piring berisi nasi, dan lauk-pauk.


“ Terimakasih, ” sahut Chandra, menerima piring pemberian dari Geulis.


“ Maaf nak Chandra, kami hanya bisa menyuguhkan makanan ini. Makanan Deso, he he he, ” ucap Bapak, di sela tawa sumbang.


“ Nggak apa-apa Pak. Saya malah merasa bersyukur karena sudah di suguhkan makanan gratis, ” sahut Chandra, tangannya meraup nasi, dan memasukkannya ke dalam mulut.


“ Enak nak? ” tanya Ibu saat melihat Chandra terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya, sampai-sampai beberapa butir nasi jatuh di sekitaran mulutnya.


“ Hem, ” angguk Chandra, kembali memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


“ Maaf bang, ada butiran nasi jatuh di bawah bibir, ” izin Geulis mengambil butiran nasi jatuh di sekitar bawah bibir Chandra.


Chandra hanya diam, matanya melirik ke tangan mulus dan lembut Geulis, sedang menyentuh kulitnya.


‘ Gadis ini sengaja atau gimana? Apa dia benar-benar ingin mengantarkan dirinya untuk ku terkam,’ batin Chandra, pandangannya menjadi pembohong, melihat ke wajah, serta berhenti ke bibir ranum, dan lembut


“ Ehem…nak Chandra, ” panggil Ibu, tangannya meletakkan piring kosong, lalu mencuci tangannya ke rantang sudah berisi air bersih.


“ I-iya Bu, ” sahut Chandra gugup, lalu ia berusaha menetralkan pikirannya dengan memasukkan nasi terakhir ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Maklumi saja, namanya Chandra, seorang playboy, sekaligus psikopat. Pantang lihat gadis bening dikit, jiwa memangsanya langsung menyala.


“ Kalau boleh tahu nak Chandra bekerja apa di Kota? ” tanya Ibu mulai kepo.


Chandra meletakkan piring kosongnya di atas piring Ibu, mencuci tangan, lalu mengeringkannya dengan serbet.


“ Saya hanya seorang pesuruh-suruh, Bu, ” sahut Chandra masih menutup identitasnya untuk bisa segera menangkap Caden, dan membawanya ke Cadman.


“ Pesuruh apa nak? ” Ibu memandang Geulis sedang mengutip piring dan mangkuk kotor bekas mereka makan, “ Di tempat nak Chandra, apa tidak ada lowongan pekerjaan buat Geulis? ” sambung Ibu, Geulis tadi sedang menumpuk piring kotor terkejut.


“ Ibu, kita tidak kenal dengan abang ini. Kenapa Ibu malah bertanya tentang pekerjaan, ” tegur Geulis lembut.


“ Maaf Bu, di tempat saya bekerja tidak ada lowongan pekerjaan. Dan kalau pun ada, mana mungkin saya bisa membawa Geulis ke kota, dan tinggal bersama saya, ” sahut Chandra sopan, bibirnya tersenyum manis.


“ Kalau Bapak boleh tahu, nak Chandra ke sini ada urusan apa, ya? ” tanya Bapak sekali lagi memastikan.


“ Saya datang ke sini karena di suruh tuan, saya, untuk bertemu dengan wanita yang membuka lowongan kerja ke PT. MUNA, ” Chandra menatap Bapak, dan Ibu, “ Apa Bapak, dan Ibu tahu dimana wanita itu tinggal? ” sambung Chandra bertanya.


“ Oh, wanita itu tinggal di ujung Desa ini. Di Vila milik rentenir. Nak Chandra mau ke sana? Kalau mau ke sana, biar Geulis yang menuntun jalannya, ” tawar Ibu dengan cepat, Geulis hanya diam, mengernyitkan dahinya menatap Ibu.


“ Kalau gitu pergi sekarang saja, takutnya wanita itu nanti pergi keliling untuk mencari pendaftar karyawan baru, ” usul Ibu, tangannya mengambil tumpukan piring kotor dari tangan Geulis, “ Sudah, sana temani nak Chandra, agar urusannya cepat selesai, ” sambung Ibu ke Geulis.


“ Tapi Bu, masa Geulis di dalam mobil berduaan. Apa kata warga Desa nanti, ” tolak Geulis.


“ Kamu cuman menemani saja, lagian kalau nak Chandra pergi sendirian takutnya ia ke sasar, dan lama ketemunya. Sudah sana, ” desak Ibu kembali, memutar tubuh Geulis.


“ Iya, pergilah nak, ” sambung Bapak memberi izin.


“ Kalau gitu saya pamit dulu Bu..Pak. Saya janji akan memulangkan Geulis dalam keadaan utuh, dan hanya sebentar saja, ” pamit Chandra, tangannya mengambil tangan Bapak-ibu, mencium punggung tangan, lalu balik badan, melangkah pergi menuju mobil miliknya terparkir di pinggir jalan, depan rumah Geulis. Diikuti Geulis, berjalan di belakang.


Geulis pun terpaksa mengikuti Chandra, dan kini Geulis, dan Chandra sudah berada di dalam mobil. Chandra pun menghidupkan mesin mobilnya, melajukan mobilnya menuju Vila di ujung Desa ini, tempat Caden beristirahat.

__ADS_1


Ada 10 menit di dalam mobil, Geulis, dan Chandra saling diam, hening seperti di tempat kuburan. Merasa mulutnya kering karena tidak berbicara, Chandra mulai membuka suara.


“ Dek, kalau saya boleh tahu. Di Desa ini mata pencahariannya hanya bersawah, sama berladang? ” tanya Chandra, sesekali ia melirik ke Geulis.


“ Iya, tapi anak-anak di Desa sini banyak juga yang sudah merantau ke kota untuk mencari pekerjaan. 3 bulan bekerja di kota, anak Gadisnya sudah bisa membeli mobil, dan membangun rumah orang tuanya. ”


“ 3 bulan sudah bisa beli mobil sama buat rumah? ” tanya Chandra mengulang kembali ucapan Geulis, dengan histeris.


“ Iya, makanya Geulis sangat ingin pergi ke Kota. Bekerja seperti mereka, agar Bapak sama Ibu tidak lagi bekerja di sawah dengan upah pas-pasan, ” sahut Geulis sendu.


“ Emang anak-anak di sini, atau gadis-gadis di sini bekerja apa di kota? ” tanya Chandra pura-pura tidak tahu. Kedua tangannya fokus pada stir kemudi, dan pandangannya lurus ke jalan Desa berbatu, dan berlubang.


“ Ada yang bilang kerja di SPA, pemandu karaoke, ada bekerja di tempat golf, terus banyak lagi, Geulis lupa, ” sahut Geulis dengan wajah polos.


Chandra memijat dahinya, ‘ Ini wanita benar-benar polos. Masa dia berbicara seperti itu dengan raut wajah semangat. Dia tahu apa nggak sih, tempat pekerjaan itu adalah tempat apa. Pantas saja 3 bulan bekerja di kota sudah bisa beli mobil, ini dan itu, ’ batin Chandra.


“ Geulis apa tidak tahu itu tempat apa? ” tanya Chandra serius.


“ Tentu saja tahu, SPA itu tempat orang kusuk capek-capek, pemandu karaoke itu seperti seorang biduan yang ada di kampung. Tempat golf itu, bekerja untuk mengambil bola yang tidak masuk ke dalam lubang. Seperti itu lah kata gadis-gadis yang bekerja di sana kalau di tanya, ” sahut Geulis kembali dengan wajah polos.


“ Selain itu tidak ada pembahasan lain? ”


“ Ada, mereka sering di kasih tips oleh Om-om, atau seorang Pejabat yang datang ke sana. Makanya uang mereka sangat banyak, ” jelas Geulis kembali dengan polos.


Sudah mendekati ujung Desa, Geulis memukul lengan Chandra, “ Stop..stop! vila wanita itu tinggal di situ, ” tunjuk Geulis ke sisi kanan Chandra.


Terlihat rumah besar seperti rumah zaman belanda, banyak pintu, dan jendela besar. Namun, pintu rumah, dan jendelanya tertutup.


“ Sepertinya tidak ada orang nya. ”


“Mungkin wanita itu lagi pergi mencari pendaftar baru. Yang terpenting abang sudah tahu tempat tinggalnya dulu, nanti malam, atau besok pagi datang saja langsung ke sini,” usul Geulis.

__ADS_1


“ Baiklah, kalau gitu kita pulang dulu. Saya antar Geulis, ” ucap Chandra, ia memutar arah mobilnya, kembali menuju rumah Geulis.


Mobil di naiki Chandra dan Geulis terus melaju, menuju rumah Geulis. Sepanjang perjalan menuju rumah Geulis, warga desa baru pulang dari sawah, menatap mobil mewah Chandra melintas di depan mereka.


__ADS_2