
" Alhamdulilah, ” ucap Yoan, Yamuna, dan Cadman setelah selesai menikmati santap makan pagi.
Cadman berdiri, “ Yamuna, aku pergi berangkat kerja dulu. Soalnya pagi ini akan ada kunjungan dari BPOM ke pabrik, ” pamit Cadman, ia mencium dahi Yamuna.
“ Ehem…punya anak nggak sopan. Masih ada Papa di sini, bisa-bisanya kamu bermesraan tanpa malu, ” kritik Yoan.
“ Dulu waktu aku kecil, Papa juga sering melakukan hal yang sama dengan Mama, ” sahut Cadman datar. Cadman membelai puncak kepala Yamuna, “ Aku pergi dulu, ” pamit Cadman sekali lagi kepada Yamuna.
“ Hati-hati, ” sahut Yamuna.
" Iya sayang. "
Cadman meninggalkan ruang makan.
Dari kejauhan ada sepasang mata terus memperhatikan kemesraan Yamuna, dan Cadman. Sepasang mata itu adalah milik Yuyun. Yuyun berdiri, berpura-pura membersihkan meja di sudut ruangan, sebenarnya sudah di bersihkan Bibi Ratna.
‘ Ck, mesra banget. Awas saja kamu, Yamuna. Akan ku buat rumah tangga kamu hancur untuk yang kedua kalinya, dan akan aku jadikan kehancuran kamu sebagai kemenangan untukku. Ha ha ha….harta yang harus segera aku miliki dari Yoan, dan juga Cadman, ’ batin Yuyun dengan pikiran jahatnya.
Melihat Yoan ingin meninggalkan tempat duduknya, Yuyun segera mendekati Yoan, dan berdiri di samping kiri Yoan.
“ Ada yang bisa saya bantu tuan? ” tanya Yuyun sopan.
“ Tidak. Tugas kamu hanya membantu Yamuna, ” sahut Yoan dingin.
Yoan melangkah pergi meninggalkan ruang makan, di susul Yamuna berjalan menghampiri Yoan. Terlihat Yamuna juga berbincang ria dengan Yoan. Hal itu membuat Yuyun merasa kesal, Yoan dulu ia temui waktu pertama kali tidak dingin seperti ini. Yoan pernah membantunya dulu terlihat lelaki baik, sopan, dan menghargai wanita. Tapi kenapa setelah Dara merubah wajah, bentuk tubuh, dan nama, Yoan mendadak beda. Dingin seperti kulkas 1000 pintu.
Apa efek umur bertambah tua?
“ Awas saja kamu Yamuna! ” gumam Yuyun, pandangan matanya masih terus tertuju pada punggung Yamuna, dan Yoan, sudah berada jauh di ujung mata.
Saat Yuyun sedang bergumam, ternyata Bibi Ratna ada di belakang Yuyun. Tidak ingin Yuyun mengetahui kedatangannya Bibi Ratna bergegas pergi menuju dapur.
“ Gawat. Wanita ini benar-benar sangat jahat. Sebenarnya rencana apa yang ia ingin lakukan kepada nona muda Yamuna. Kalau seperti ini, sebaiknya aku harus diam-diam terus mengawasi nona muda Yamuna. Aku tak ingin anak di dalam kandungan nona muda Yamuna kenapa-kenapa. Kasihan tuan besar kalau sampai kehilangan cucunya, ” gumam Bibi Ratna, kedua tangannya menggenggam erat baju bagian depannya.
Di teras depan rumah, Yamuna terlihat berdiri, melambaikan tanganya kepada mobil Yoan kini sedang melaju meninggalkan halaman rumah Yoan. Tidak lama mobil milik Yoan keluar dari pagar rumah, masuk mobil Mercedes-Benz warna hitam.
“ Mobil siapa itu? ” tanya Yamuna penasaran itu mobil milik siapa.
__ADS_1
Mercedes-Benz itu berhenti tepat di teras rumah, lurus dengan Yamuna sedang berdiri di pinggiran teras. Kedua pintu mobil bagian depan terbuka bersamaan. Terlihat Yasmin, dan Ben keluar dari mobil tersebut.
“ Malasnya aku, ” gumam Yamuna saat mengetahui siapa tamunya. Yamuna balik badan, saat kakinya hendak melangkah, Yasmin langsung menahan bahu Yamuna dari belakang.
“ Hei…hei. Apa sepertinya cara seorang wanita berkelas menyambut tamunya, ” ucap Yasmin.
“ Aku bukan wanita berkelas, aku hanya wanita gembel yang sempurna, ” sahut Yamuna datar.
“ Jangan merendah, akui saja, ” goda Yasmin.
Yamuna tidak memperdulikan godaan Yasmin, ia memutar bola matanya ke Ben, lalu mulai bertanya, “ Ben, gimana keadaan Perusahaan? ” tanya Yamuna penasaran, karena semenjak Yamuna tidak masuk, Perusahaannya terdengar aman-aman saja.
“ Baik nona muda. Semua sesi pometretan, pengambilan iklan, dan lainnya sudah saya kerjakan. Saya ke sini hanya ingin mengantar Dokumen yang sudah saya kerjakan, ” sahut Ben.
“ Kalau gitu mari ke ruang kerja, ” ajak Yamuna.
Yamuna, Ben, dan Yasmin masuk ke dalam rumah. Mereka bertiga menuju ruang kerja milik Yoan.
Selama Yamuna mengurus Perusahaan dari rumah, Yoan memberikan ruang kerja miliknya untuk Yamuna pakai. Semua fasilitas juga sudah disediakan, hanya untuk menantu kesayangannya.
Yamuna, Ben, dan Yasmin sudah duduk di sofa dalam ruang kerja.
“ Tidak usah, biar aku saja yang membuatkan teh buat kita, ” sambung Yasmin.
“ Emang kamu bisa? ” tanya Ben.
“ Jika aku tidak bisa, aku akan berusaha belajar membuat teh yang paling enak buat kamu, ” sahut Yasmin sedikit menggoda Ben, tak lupa sebelah mata menyipit ia berikan buat Ben, membuat wajah Ben merona menahan malu.
Yasmin beranjak dari sofa, berjalan keluar ruang kerja, menuju dapur. Menit selanjutnya setelah Yasmin pergi, Ben memberikan berkas-berkas sudah ia bawa kepada Yamuna.
“ Nona muda, ini dokumen yang sudah saya susun. Mohon di cek ulang, ” ucap Ben.
Yamuna membuka beberapa Dokumen sudah tersusun rapih di dalam map. Kepala Yamuna mengangguk, mengartikan jika pekerjaan Ben benar-benar sangat memuaskan. Sudah selesai membaca dokumen milik Ben, Yamuna meletakkan Dokumen tersebut di atas meja.
“ Nona muda, apakah wanita itu sudah masuk bekerja? ” tanya Ben memberanikan diri untuk basa-basi.
“ Sudah, hari ini adalah hari kedua ia bekerja di sini, ” sahut Yamuna, menatap wajah serius Ben.
__ADS_1
“ Nona muda Yamuna harus hati-hati, ya. Yasmin juga sudah cerita kemarin tentang kelakuan Yuyun kepada Bi Ratna. Yasmin merasa kasihan, ingin rasanya ia menghajar habis-habisan Yuyun. Tapi, Yasmin masih memikirkan nona muda yang pastinya akan selalu di tinggal sendirian di rumah. Yasmin tidak ingin gara-gara ulahnya, Yuyun melakukan hal buruk kepada nona muda. Jadi, Yasmin memutuskan untuk sering meminta di antar ke sini, menemani nona muda, selama dia masih belum menerima job pemotretan sampai kami selesai menikah, ” jelas Ben, ia teringat dengan cerita Yasmin kemarin sore. Yasmin terus berbicara sepanjang perjalanan pulang kepada Ben.
“ Aku tidak menyangka jika Yasmin bisa sebaik itu, ” ucap Yamuna, sedikit teringat dengan perbuatan, dan ucapan nakal Yasmin saat pertama jumpa dulu. Perjumpaan yang paling lucu.
“ Sama saya juga, ” sambung Ben, wajahnya terlihat merona seperti sedang memikirkan hal lain.
“ Ben, kamu kenapa? ” tanya Yamuna penasaran saat melihat wajah Ben terus memerah.
“ Nona muda, apakah saya boleh jujur? ” tanya Ben.
“ Ju-jujur saja, ” sahut Yamuna gugup, pikirannya mulai mengarah ke hal negatif.
“ Nona muda, saya…hem…saya…”
“ Saya…hem…apa maksudnya? ” sela Yamuna mulai penasaran.
“ Nona muda, saya ‘kan belum pernah melakukan hal itu kepada wanita. Sementara saya sebentar lagi akan menikah. Saya ingin bertanya, gimana caranya buat wanita merasa nikmat, dan ketagihan dengan apa yang saya lakukan di malam pertama nanti? ” tanya Ben polos.
Wajah Yamuna langsung memerah menahan malu. Pertanyaan bodoh macam apa ini? haruskah Ben bertanya terang-terangan dengan wajah terlihat serius seperti ini.
Dan apakah dia mengerti tentang perkataannya?
“ Ben, kamu itu seorang pria dewasa. Nanti insting memangsa kamu akan bekerja sendirinya setelah melihat buruan yang sangat menggoda, ” sahut Yamuna, ia membuang wajah merah padamnya.
“ Oh…kalau gitu terimakasih nona muda, ” ucap Ben terlihat tenang.
Yamuna kembali memandang wajah tenang Ben, membuat Yamuna tidak habis pikir dengan pikiran Ben.
Prang!!!
Terdengar suara kaca pecah dari luar ruangan. Ben dan Yamuna langsung bangkit dari duduknya.
“ Apa yang terjadi di luar sana? ” gumam Ben sedikit panik.
“ Sebaiknya kita lihat saja. Aku takut terjadi hal buruk kepada Yasmin, ” ucap Yamuna.
Yamuna, dan Ben langsung bergegas pergi meninggalkan ruang kerja.
__ADS_1
...Bersambung ...