SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 119. Apa kamu menyesal?


__ADS_3

Tepat pukul 16:45 sore, Yamuna sudah pulang ke rumah. Yamuna pulang cepat karena tidak ada pekerjaan lagi. Dan tubuhnya terasa lelah.


" Assalamu'alaikum, " ucap salam Yamuna masuk ke dalam rumah.


" Wa'alaikumsalam, nona muda sudah pulang? " tanya Bibi Ratna menyambut kedatangan Yamuna.


" Bi, aku lihat di depan ada mobil Papa dan Cadman, apa mereka berdua sudah pulang? "


" Sudah non, tuan besar, dan tuan muda ada di taman belakang. Sedang melakukan olahraga ringan, " sahut Bibi, kedua tangan memperagakan seperti mengangkat alat berat.


" Oh...kalau gitu aku mandi dulu, soalnya tubuh aku pegal-pegal, Bi, " pamit Yamuna.


" Baik non, " sahut Bibi Ratna.


Yamuna berjalan meninggalkan Bibi Ratna di ruang tamu. Bibi Ratna juga ikutan pergi ke dapur, meracik makanan untuk membuat makan malam.


10 menit kepulangan Yamuna, Cadman datang ke dapur untuk minum.


" Bi, Yamuna sudah pulang apa belum? " tanya Cadman, tangannya menuangkan air putih ke dalam gelas.


" Sudah, baru saja tuan. Tapi katanya nona muda, ingin mandi karena tubuhnya pegal-pegal, " sahut Bibi Ratna mengingat ucapan Yamuna.


Cadman langsung menenggak habis minumannya, meletakkan gelas di atas meja, " Terimakasih Bi, " ucap Cadman buru-buru.


Cadman langsung berlari menuju kamar miliknya di lantai 2. Cadman ingin cepat sampai, ingin mandi bersama dengan Yamuna.


Tanpa mengetuk pintu Cadman langsung masuk ke kamarnya, melihat Yamuna tidak ada di dalam kamar. Cadman berjalan ke arah kamar mandi, segaris senyum terlihat di wajah tampannya saat melihat Yamuna sedang berendam di air hangat.


Cadman melepas bajunya, berjalan pelan-pelan mendekati bak, dan langsung masuk ke dalam.


Byur!!!


Air hangat melimpah keluar, Yamuna sedang asik berendam kaget.


" Iis...kalau aku jantungan gimana? " omel Yamuna manja, tangannya mencubit tubuh polos Cadman.


" Auw...auw...sakit, " ucap Cadman, tubuhnya berusaha menghindari dari cubitan Yamuna, tapi tetap tidak bisa di hindari.


" Kamu kenapa pulang cepat? " tanya Yamuna, ia menyudahi cubitannya, dan kembali menyandarkan tubuhnya.


Cadman mendekati Yamuna, " Jangan berbohong, katakan yang sejujurnya, " ucap Cadman membuat Yamuna bingung.


" Maksud kamu? "


Cadman memegang leher Yamuna, " Kenapa Farran melakukan ini ke kamu? " tanya Cadman serius seolah ia tahu tentang kejadian tadi.

__ADS_1


Yamuna langsung menutup lehernya, " Ke-kenapa rupanya? " tanya Yamuna pura-pura tidak tahu.


" Yamuna, jangan berbohong. Tadi bodyguard suruhan Papa sudah merekam semua percakapan Farran dan kamu. Aku dan Papa juga sudah mendengar semuanya. Tapi, aku minta kamu jujur samaku, " ucap Cadman setengah memohon.


Yamuna memegang bahu Cadman, " Kamu tenang saja, lagian aku baik-baik saja dan tidak terjadi hal buruk kepadaku, dan calon anak kita, " sahut Yamuna tidak ingin menjelaskan kembali, tapi ia ingin membuat Cadman tenang.


" Apa benar Caden tidak memberikan mahar kepada kamu? " tanya Cadman penasaran.


" Iya, " sahut Yamuna mengangguk, tangan nya mengambil tangan kanan Cadman, " Sudah jangan di bahas lagi. Aku tak ingin mengungkit luka lama. Yang terpenting sekarang ada kamu, dan Papa yang selalu menyayangi aku di sini. Kalian lah kebahagiaan ku sekarang, termasuk...." Yamuna menggantung ucapannya, tangannya mengambil tangan Cadman, meletakkan di perut buncitnya, " Anak kita yang sedang tumbuh di sini."


" Sudah mulai besar dia di dalam, " ucap Cadman sedikit tersentuh saat tangannya menyentuh langsung perut mulai besar Yamuna. Membuat air mata kebahagiaan netes begitu saja.


" Iya, nggak terasa, " sahut Yamuna ikutan terharu.


Cadman langsung menatap Yamuna dengan tatapan penuh maksud, " Jadi kita...."


" Nggak, belum boleh! " sela Yamuna tegas.


" Tapi dedek kecil yang di bawah juga butuh belaian, " rengek Cadman, tangannya meletakkan tangan Yamuna ke titik tumpu, " 'Kan kisut dia, " sambung Cadman kembali menggoda.


" Nama berendam, jari-jari saja bisa kisut. Apa lagi kulit seperti itu! " sahut Yamuna.


" Yamuna! " rengek Cadman.


" Sabar, 1 bulan lagi, " ucap Yamuna sabar.


.


.


💫 Di kediaman rumah Ben 💫


Ben sedang meracik makanan buat menu makan sore di dapur, sedangkan Yasmin duduk di kursi, menatap Ben dengan tatapan penuh maksud.


" Darling, " panggil Yasmin manja.


" Apa! " sahut Ben singkat, tangannya terus memotong sayuran.


" Kapan kita bulan madu, aku juga ingin punya anak seperti Yamuna, " rengek Yasmin kembali.


"Kamu pikir enak punya anak. Apa kamu sudah siap dengan semua resikonya? tubuh kamu jadi melar, bergelambir, kamu juga nanti akan kurang tidur. Dan karir di dalam dunia model kamu akan terhambat. Apa kamu mau?" jelas Ben memborong semua perkataan jelek.


Yasmin terdiam, kepala ia tundukkan, kedua tangan memegang perut langsing nya, " Kalau menjadi Ibu adalah hal yang mulia, maka aku tidak akan takut menjalani itu semua. Jadi, sekarang apa kamu mau bulan madu? " tanya Yasmin semangat.


Ben meletakkan pisaunya di atas meja, " Saya belum siap untuk melakukan hal itu dengan kamu! " tegas Ben menolak permintaan Yasmin.

__ADS_1


" Iiss..." desis Yasmin, ia beranjak dari kursinya, " Aku nggak mau makan! " rajuk Yasmin.


Yasmin meninggalkan dapur, ia terus berjalan menuju kamarnya berada di lantai 2.


" Hadeh...kenapa wanita itu suka sekali ngambek. Daripada ia mengadu sama tuan Andreas, dan Emak marah, lebih baik saya bujuk saja, " gumam Ben.


Ben mencuci kedua tangannya pakai sabun, mengeringkan kedua tangannya dengan serbet. Ben pergi meninggalkan dapur, menuju kamar mereka di lantai 2.


Tok!tok!


" Yasmin, " panggil Ben lembut.


" Aku nggak mau makan. Kamu makan saja sendiri sana! " sahut Yasmin dari dalam kamar.


" Jangan ngambek dong, iya deh ..siap makan malam kita akan melakukan hal itu. Sekarang kamu mau nurut sama saya, ya? kamu harus makan, jangan nggak makan, " rayu Ben.


" Kamu pasti bohong, " sahut Yasmin tidak percaya.


" Saya tidak berbohong. Tapi, nanti kamu ajari saya bermain yang benar, ya! " bujuk Ben.


Pintu kamar perlahan terbuka, " Kamu serius 'kan ingin melakukan hal itu? " tanya Yasmin, bola matanya berbinar terang memandang wajah bingung Ben.


' Gawat, sudah terlanjur bohong. Sudahlah, bohong terus saja, daripada anak orang tidak makan nanti. Kalau sakit repot juga nanti, ' gerutu Ben dalam hati.


Ben mengangguk, " Iya, " sahut Ben lembut.


" Kalau gitu mari kita makan dulu, " ajak Yasmin, tangannya menggenggam pergelangan tangan Ben, membawa Ben kembali ke dapur.


Sesampainya di dapur, Ben memasak semua sayur sudah di potong oleh nya. Ben juga membuat sambal udang pedas manis, ada tumis kangkung juga.


" Ben, aku boleh tanya tidak? "


" Tanya saja, " sahut Ben singkat, kedua tangan terus memasak.


" Kamu menyesal tidak menikah denganku yang sudah tidak perawan lagi? " tanya Yasmin sendu.


" Kalau mau kuatir saya menyesal menikahi kamu karena sudah tidak perawan. Seharusnya kamu dulu berpikir terlebih dahulu sebelum berbuat, " omel Ben.


" Iya, aku bodoh. Mudah di rayu dan di iming-iming hal bodoh oleh biaya, " ucap Yasmin jujur.


" Kalau sudah menyesal, lebih baik lupakan masa lalu, karena saya adalah masa depan kamu. Mau kamu perawan atau tidak, saya tidak perduli. Yang terpenting bagi saya, memiliki pasangan yang sopan, dan menerima keluarga saya, " putus Ben menyudahi percakapan Yasmin.


" Terimakasih Ben, aku akan selalu menyayangi Emak-Bapak, seperti orang tua kandung ku sendiri, " sahut Yasmin berjanji.


" Kalau gitu mari kita makan, " ajak Ben.

__ADS_1


Ben menata makanan di piring, dan mangkuk di atas meja. Ben dan Yasmin pun mulai menikmati makanan mereka, setelah membaca doa makan.


__ADS_2