SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 83. Aku menyukai kamu!


__ADS_3

Teriakan Yasmin terhenti saat dirinya melihat Ben keluar dari ruangannya, dengan tatapan suram memandang Yasmin.


“ Kenapa kamu senang sekali berteriak seperti itu kepada nona muda Yamuna. Apa kamu orang hutan? ” tanya Ben meninggikan nada suaranya.


“ Ben, kamu hanya salah paham. Berhentilah bersikap kasar kepada seorang wanita, ” ucap Yamuna mencoba menenangkan Ben.


“ Dia bukan seoarang wanita, nona muda, dia adalah Iblis, yang di mana pernah ingin menghancurkan kehidupan nona muda. Dan bukan itu saja, gara-gara dia memberikan Alamat rumah, dan Perusahaan nona muda. Nona muda sampai…. ”


“ Stop! Jangan kamu ungkit luka lama, ” putus Yamuna, tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Ben.


Tidak seperti biasanya, kali ini Yasmin terlihat sedih saat Ben mengucapkan kalimat seperti itu. Dengan langkah ragu ia berjalan mendekati Ben, dan berhenti di hadapan Ben. Memandang Ben dengan kedua mata terlihat berkaca-kaca, dan kedua tangan menggenggam erat baju dress bagian depannya.


“ Aku tahu aku salah. Tapi, aku sudah meminta maaf kepada Yamuna, dan Cadman. Aku juga sudah berhenti menjadi wanita yang buruk. Aku sudah berusaha merubah kehidupanku, agar aku bisa mendekati kamu, Ben, ” Yasmin menundukkan kepalanya, lalu menyambung ucapannya, “ Aku sadar aku bukan wanita yang baik. Mahkota ku juga sudah di ambil karena kebodohan ku sendiri. Seharusnya aku tak mengejar kamu. ”


Yamuna hanya menghela nafas panjang, ia memijit pelipisnya terlihat tegang karena memikirkan kisah cinta aneh dari Sekretaris, dan mantan tunangan Cadman.


Merasa malu mendengar ucapan Ben, Yasmin berbalik, kepala masih tertunduk malu, dengan derai air mata terlihat sesekali jatuh membasahi lantai.


“ Yamuna, aku permisi pulang. Terimakasih sudah menghantarkan aku untuk bertemu dengan Ben. Dan Ben terimakasih sudah menyadarkan aku, tentang siapa diriku yang sebenarnya. Kamu benar, aku bukanlah seorang wanita. Aku memang Iblis! ” Yasmin mengangkat wajahnya. Terlihat segaris senyum paksa di wajah basah karena menangis. Ia menoleh ke belakang, menatap Ben tampak bingung, “ Aku janji tidak akan mengejar kamu lagi. ”


Yasmin berjalan perlahan, kedua tangannya menyeka kasar air mata membasahi wajah cantiknya.


“ Haah! ” Yamuna menepuk bahu Ben, “ Apa kamu memiliki rasa padanya? Jika ada sedikit rasa, lebih baik kamu pertahankan dirinya. Meski dia sudah rusak karena ulah mantan suamiku, Farran. Tapi sebenarnya ia adalah wanita yang baik, ” sambung Yamuna menasehati Ben dengan lembut.


“ Saya tidak tahu bagaimana perasaan saya kepadanya. Tapi, kenapa saat saya melihatnya menangis. Hati ini terasa sakit, ” Ben menolehkan pandangannya ke Yamuna, “Apa saya terlalu kasar kepada wanita?” sambung Ben bertanya.


“ Kali ini kamu terlalu kasar. Jika kamu tidak tega melihat dia menangis, maka kejar, dan minta maaflah kepadanya, sebelum ia masuk ke dalam lift, ” sahut Yamuna memberi saran.


“ Kalau gitu saya permisi sebentar nona muda, ” pamit Ben.


Ben berlari kecil mengejar Yasmin terlihat akan masuk ke dalam lift. Tidak ingin kehilangan Yasmin, Ben mempercepat larinya.


“ Hosh…hosh. Wanita bodoh! ” umpat Ben dengan nafas terputus-putus. Tangan menekan salah satu tombol lift, agar pintu tidak tertutup.

__ADS_1


Yasmin melangkah keluar. Detik berikutnya setelah Yasmin keluar dari dalam lift. Lift tersebut tertutup.


“ Ben, kamu mengejar ku? ” tanya Yasmin setengah senang.


Dari kejauhan terlihat Yamuna tersenyum melihat Ben bisa mendapatkan tambatan hatinya. Meski Yasmin pernah berbuat jahat kepadanya. Tapi sebagai sesama manusia, Yamuna sangat berlapang dada untuk memaafkan Yasmin. Detik selanjutnya Yamuna berbalik, ia masuk ke dalam kantor, dan menyelesaikan beberapa pekerjaan sempat tertunda. Sedangkan Ben, masih berdiri di depan lift bersama Yasmin.


“ Apa yang dilihat dari saya? ” tanya Ben dingin.


“ Milik tempur kamu yang tanggung, ” sahut Yasmin mulai bercanda.


“ Dasar wanita mesum! Kalau gitu berhentilah mengejar ku, ” ucap Ben datar.


“ Aku bercanda. Sebenarnya aku mengejar kamu, karena kamu adalah pria baik. Jika seorang pria bejat bisa memilih pasangan hidupnya dengan seorang wanita yang soleh, dan baik. Kenapa aku tidak boleh memilih seorang Suami yang baik seperti kamu, ” jelas Yasmin dengan tujuannya.


Wajah Ben seketika memerah saat mendengar pujian terdengar tulus dari Yasmin.


“ Apa kamu demam? ” tanya Yasmin, punggung tangan hendak mendekat ke d


“ Jauhkan tangan kotor kamu dari kulitku! ” ketus Ben pura-pura tidak suka.


“ Baiklah, aku akan bersihkan tanganku dulu, ” sahut Yasmin, ia membersihkan tangannya ke bajunya.


‘ Sepertinya wanita aneh ini benar-benar sudah aneh. Sudah aku kasari, aku bentak, dan aku maki. Tapi dia tetap saja terus mengejarku. Wanita ini mirip…haa…seperti masokis. Jika memang benar, berarti dia! Sangat mengerikan. Sebaiknya aku tinggal saja, ’ batin Ben, bulu kuduknya terasa berdiri saat pikirannya mulai traveling saat mengingat Yasmin akan meminta hal seperti itu sebelum main kuda-kudaan.


Tanpa berbicara, Ben melangkahkan kedua kakinya dengan wajah terlihat suram, karena pikirannya masih traveling. Gimana nasibnya jika Yasmin beneran akan menjadi Istrinya, atau pasangannya. Pasti akan ada perbuatan ekstrem sebelum melakukan hal dewasa.


“ Ben, kenapa kamu pergi? ” tanya Yasmin, kakinya mengikuti Ben.


“ Pergilah, ini bukan tempat untuk bertemu pacar. Ini adalah kantor, dan aku masih butuh uang untuk mengirimkan uang buat emak, dan bapak ku di kampung, ” usir Ben dengan nada dingin, tatapan memandang lurus ke koridor ruangan.


“ Kamu masih memiliki emak, dan Bapak? Kapan kamu ajak aku ke kampung kamu? ” usul Yasmin membuat langkah kaki Ben terhenti.


“ Tidak akan pernah! ” sahut Ben. Detik selanjutnya Ben berlari cepat meninggalkan Yasmin, dan masuk ke ruangan kerja Yamuna, menurunkan semua tirai ruangan sehingga ruangan Yamuna terlihat tertutup.

__ADS_1


“ Ben, sikap kamu terlihat sangat menggemaskan. Ingin rasanya aku memiliki kamu seutuhnya, ” Yasmin berbalik, “ Tunggu saja, aku akan taklukkan kamu secepatnya, ” sambung Yasmin bergumam.


Yasmin kembali melangkah menuju lift.


Sedangkan di dalam ruangan Yamuna, tampak Ben sedang berdiri, kedua tangannya menahan gagang pintu ruangan Yamuna. Wajah pucat, dan sedikit berkeringat membuat Yamuna tertawa geli.


“ Nona muda kenapa tertawa? ” tanya Ben bingung.


“ Habisnya kamu lucu, ” sahut Yamuna.


“ Kenapa saya lucu. Apa stelan jas kerja saya terlihat norak? Atau tatanan rambut saya terlihat jadul? ” tanya Ben menerka-nerka.


“ Tidak-tidak, kamu seperti seorang wanita yang sedang berlari, menghindari seorang pria yang ingin memperkosa kamu. Kamu itu pria, loh! Seharusnya seorang pria tidak boleh lari saat menghadapi wanita seperti Yasmin, ” jelas Yamuna memberikan saran.


Ben membuka sedikit pintu, ia mengulurkan kepalanya keluar dari pintu ruangan Yamuna. Memastikan jika Yasmin sudah pergi. Ben membuka tirai, lalu ia berjalan mendekati meja Yamuna, dan berdiri di depan meja kerja Yamuna dengan wajah terlihat serius.


“ Nona muda. Yasmin itu sangat mengerikan, melihat karakternya sepertinya dia seorang masokis, ” Ben mengangkat kedua bahunya bersamaan, denga tatapan jijik, “ Aku jadi meras ngeri jika melihat wanita seperti dia, ” sambung Ben jujur.


“ Ha ha ha..awas loh. Jangan bilang jijik, atau tidak suka. Entar kamu malah suka, dan jadi nyaman dengan Yasmin. Jarang loh ada wanita seperti dia, ” ucap Yamuna di sela tawa renyahnya.


“ Itu tidak akan mungkin bisa terjadi, sampai kapan pun saya tidak akan pernah jatuh cin….”


“ Katanya Yasmin sudah melihat alat tempur kamu yang kokoh. Benarkah itu Ben? ” sela Yamuna, membuat wajah Ben berubah menjadi merah.


“ Ti-tidak sejelas itu sebenarnya. Itu kejadian sewaktu dia membawa saya ke rumah sakit. Dan dia yang sudah membantu saya untuk menggantikan baju saya, ” sahut Ben kembali mengingat kejadian sewaktu penculikan Yamuna, dan harus segera dilarikan ke rumah sakit karena darah sudah bercucuran.


“ Wah, beruntung banget Yasmin bisa melihat tubuh kamu, ” ucap Yamuna sedikit bergurau.


“ Sa-saya permisi, ” pamit Ben malu-malu, keluar ruang kerja Yamuna.


“ Ben..Ben. Tinggal bilang kalau kamu sebenarnya juga suka saja, kok susah amat, ” gumam Yamuna, padangan mengarah pada Ben baru saja keluar dari ruang kerja Yamuna.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2