SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 93. Kita Nikah sirih, yuk!


__ADS_3

1 bulan sudah berlalu dari kejadian buruk menimpa mahligai rumah tangga Cadman dan Yamuna. Kini rumah tangga Cadman dan Yamuna sudah tenang, terbebas dari musuh-musuh tersembunyi tidak mereka ketahui. Sudah 1 bulan juga Yasmin tidak menampakkan batang hidungnya untuk mengejar Ben, baik ke Apartemen, dan Perusahaan Yamuna.


Tepat hari ini, minggu subuh. Setelah selesai melaksanakan ibadah solat subuh, Ben keluar Apartemen, dan pergi ke taman tak jauh dari Apartemen miliknya. Niat hati ingin berlari kecil, saat udara di muka Bumi masih segar dan bebas dari polusi udara. Tapi Ben malah mendengar suara keluhan dari seorang wanita.


Ben mendekati wanita tersebut, seorang wanita sedang duduk di dalam gelapnya subuh, membelakanginya, dan ada 1 buah koper di sisi kursinya.


“ Apakah kamu manusia? ” tanya Ben, tangannya menyentuh punggung wanita tersebut dengan ragu.


“ Kau pikir aku setan! ” ucap wanita tersebut, ia berbalik. Membuat Ben terkejut, sampai terjatuh duduk.


“ Benar-benar nasib sial, ” gumam Ben saat melihat wanita tersebut ternyata adalah Yasmin. Ben segera berbalik, ia ingin bangkit. Namun, Yasmin menahannya dari belakang.


“ Inikah yang di namakan takdir jodoh? Sudah 1 bulan aku berada di Belanda mengikuti kemauan Papa, dan mencoba melupakan kamu, tapi ku tak bisa. Dan akhirnya takdir Sang Pencipta mempertemukan kita di sini. Di saat hati ragu untuk pulang dan bertemu dengan Papa, ” ucap senang Yasmin, tangannya menahan kaos olahraga Ben dari belakang.


“ Itu hanya ketepatan saja, sekarang lepaskan bajuku. Dan cepat kamu pulang ke rumah! ”


“ Tidak! Kalau sudah bertemu, aku ingin menghabiskan waktu berduaan sama kamu, ” tolak Yasmin, tak ingin membuat Ben kabur, Yasmin naik ke atas punggung Ben, dan menundukkan tubuhnya, membuat kedua semangka kembar miliknya tertekan.


‘ Besar dan kenyal juga. Eh..apaan sih pikiran ini. Waras-waras, aku tahu aku lelaki normal yang belum pernah terjamah. Tapi tidak harus terpengaruh dengan perbuatan wanita satu ini juga, kali, ’ batin Ben mulai kehilangan kendali saat Yasmin terus menekan miliknya, dan bergerak di atas.


“ Kenapa kamu memejamkan kedua mata kamu. Kamu pasti merasakan nikmat ‘kan? ” tanya Yasmin berbisik di telinga Ben, membuat gejolak aneh bangkit dari tubuhnya.


“ Cepat turun! ” ketus Ben.


“ Tidak mau, bawa aku dulu ke Apartemen kamu. Baru aku mau turun, ” tolak Yasmin manja, kedua tangannya ia buat melingkar di leher Ben.


Merasa kalah dengan Yasmin, dan Matahari pagi juga sudah memunculkan dirinya untuk menyinari Bumi. Ben perlahan bangkit, membiarkan Yasmin menggantung di belakang.


“ Aku tidak menyangka jika kamu kuat juga mengangkat, dan menggendong aku dengan cara seperti ini, ” puji Yasmin, saat Ben tidak menyuruhnya turun, dan tetap mempertahankan posisi Yasmin seperti itu.


“ Kamu harus ingat! Saya ini adalah lelaki normal, dan kamu seorang wanita. Saya mau tanya sama kamu, kenapa sih, kamu terlihat murah banget? Apa kamu tidak takut di apa-apain sama seorang pria selain Farran? ” tanya Ben, ia menoleh sedikit ke belakang.


Yasmin tidak menjawab, ia menundukkan kepalanya, kedua tangannya melingkar di leher Ben semakin ia eratkan.


“ Ya sudah, kalau tidak mau jawab tidak masalah. Koper yang ada di sana itu koper kamu? ” tanya Ben menunjuk ke arah koper di samping kursi taman.


Yasmin hanya mengangguk, tanpa menjawab.


“ Kamu yakin mau ke Apartemenku?” tanya Ben sekali lagi menyakinkan permintaan Yasmin.

__ADS_1


Lagi-lagi Yasmin hanya menunduk dan menjawab dengan anggukan.


“ Ya sudah, kalau saya khilaf, kamu tanggung sendiri resikonya, ” ucap Ben di sela helaan nafas kasarnya.


Ben berjalan mendekati koper Yasmin, tangan satunya memegang bokong Yasmin untuk menumpunya agar tidak terjatuh dalam gendongan saat berjalan, tangan satunya lagi menggeret koper Yasmin. Ben berjalan meninggalkan taman, dan segera pulang untuk membawa Yasin ke Apartemen miliknya.


15 menit kemudian Yasmin, dan Ben sudah sampai di depan Apartemen miliknya. Sebelum masuk membawa Yasmin ke dalam Apartemen, Ben menoleh ke belakang.


“ Saya tanya sekali lagi, apa kamu yakin ingin beristirahat di Apartemen milikku? ” tanya Ben menyakinkan keputusan Yasmin.


“ Iya, aku tidak perduli apa pun yang akan kamu lakukan kepadaku. Yang jelas, aku ingin beristirahat di dalam, ” sahut Yasmin, ia masih menundukkan wajahnya.


“ Baiklah, ” ucap Ben.


Ben membuka pintu Apartemen, mendorong handle pintu, mengucap salam masuk, dan menutup pintu ketika mereka sudah berada di dalam.


Ben menjongkok, “ Turunlah, ” perintah Ben mempersilahkan Yasmin turun.


Yasmin turun dari punggung Ben, saat Ben berdiri, Yasmin menarik lengan Ben, membuat Ben spontan menubruk tubuh Yasmin menyudut ke dinding, dan bibir mereka bersentuhan.


“ Apa-apaan ini! sudah tidak waras kamu?! ” bentak Ben, ia langsung berdiri tegak.


Deg!


Jantung Ben tiba-tiba berdegup kencang.


‘ Bukannya ini adalah ciuman pertama ku, seharusnya ciuman pertama ini aku berikan kepada Istriku. Tapi kenapa Yasmin mencium ku? Tapi ciuman Yasmin seperti mengisyaratkan ia butuh kehangatan dan kasih sayang. Hal apa yang membuat dia bisa seperti ini, ’ batin Ben.


Ingin memberikan kehangatan, dan membuat Yasmin lega. Ben malah membalas ciuman Yasmin. Setelah itu Ben melepaskan bibir Yasmin.


“ Ck, katanya tidak pernah melakukan apa pun. Tapi saat berciuman, kenapa kamu sangat ahli, ” goda Yasmin, jempol tangannya mengusap bibir bawahnya.


Blam!


Ben menyudutkan tubuh Yasmin di dinding pintu, bola mata hitam pekat menatap kepanikan selintas terlihat di wajah cantik Yasmin.


“ Kamu pikir saya tidak tahu jika kamu sebenarnya butuh kasih sayang. Katakan, kenapa kamu bisa menjadi seorang wanita seperti ini? ” tanya Ben menekan Yasmin.


Ben sengaja bertanya seperti itu karena ia merasakan ada keterpaksaan lain saat sekilas menatap wajah, dan merasakan sentuhan Yasmin.

__ADS_1


“Aku sebenarnya benci dengan diriku sendiri,” sahut Yasmin masih tertunduk.


“ Benci? Kenapa kamu membenci diri kamu sendiri, dimana banyak wanita yang menginginkan seperti kamu! ” jelas Ben, ia ingin mengetahui lebih dalam lagi.


“ Itulah gunanya memiliki kemampuan jago berakting, ” Yasmin menaikannya wajahnya, kedua bola mata, memakai kontak lensa berwana abu-abu berkaca-kaca, menatap lekat bola mata hitam pekat Ben.


‘ Kenapa dia seperti ingin menangis, apa yang membuat ia bersedih? ’ gumam Ben bertanya di dalam hati.


“ Iya, kamu memang sangat handal dalam hal itu. Dan saya tidak memungkirinya saat melihat semua hasil iklan dan foto mengenai Anda, ” ucap Ben tenang, ia pura-pura tidak menyadari jika Yasmin ingin menangis.


“ Terimakasih atas pujiannya. Tapi sebenarnya aku tidak sebahagia itu. Kehidupan dengan aturan yang di buat Papa sangat ketat dan terkadang tidak masuk akal. Papa adalah seorang Papa yang kejam, Papa terus memaksa semua kemauannya untuk menguntungkan dirinya sendiri, tanpa memikirkan kebahagiaan, ku. Karena aku cantik, bisa di bilang wanita yang sempurna. Papa memaksa ku untuk masuk ke dalam Dunia permodelan. Aku pun terpaksa mengikuti kemauan Papa, meski kadang kami sempat berdebat untuk job majalah yang harus membuat model erotis. Tentang pertunangan ku dengan Cadman juga semua ulah Papa. Papa sengaja meminjamkan uang dan tidak perduli dengan jumlah besar ataupun kecil saat Om Yoan meminjam uang kepada Papa. Semua itu karena Papa sebenarnya ingin menguasai Perusahaan milik Om Yoan. Dan tentang isu Perusahaan besar Om Yoan akan bangkrut, semua sebenarnya ulah Papa. Karena aku tidak ingin ikut campur dengan urusan apa yang Papa buat, aku pun memutuskan untuk pergi ke Luar Negeri. Intinya, Papa hanya mencintai dirinya, dan tidak mementingkan kebahagian putri semata wayangnya, ” jelas Yasmin panjang lebar, dan segera mengakhiri percakapan saat hatinya mulai rapuh, ingin menangis.


“ Menyedihkan, ” gumam Ben merasa kasihan dengan fakta di balik karakter rendah Yasmin. Ben berbalik badan, “ Sekarang kamu mandilah. Dan saya mau keluar dulu untuk membeli bahan membuat sarapan, ” sambung Ben menyuruh Yasmin untuk segera mandi.


“ Jadi, kamu menerima aku tinggal di sini? ” tanya Yasmin terdengar senang.


“ Tentu saja tidak! Saya hanya membiarkan kamu istirahat, dan sore nanti saya akan mengantar kamu ke rumah kamu. Saya tidak ingin di tuduh sebagai penculik oleh tuan Andreas nanti, dan saya malas jika harus berkelahi dengan pria tua seperti tuan Andreas, ” tolak Ben.


“ Ck, ” desis Yasmin terdengar tidak senang.


“ Kenapa kamu tidak senang seperti itu? ” tanya Ben, menatap wajah murung Yasmin.


“ Aku ingin hamil! ” pinta Yasmin tanpa aba-aba, membuat Ben terkejut.


“ Gila! Apa kamu tidak waras?! ”


“ Aku waras! aku ingin hamil untuk terbebas dari jerat Papa. Aku juga ingin hidup bahagia dengan jalanku sendiri, ” sahut Yasmin jujur.


“ Tidak-tidak, saya rasa kamu memang sudah tidak waras. Jika Emak-Bapak ku di kampung tahu saya di kota bukan bekerja dengan benar, malah memainkan wanita sampai hamil. Bisa-bisa Emak-Bapak murka, dan tak menganggap ku sebagai anaknya lagi, ” tolak Ben lugu.


“ Kalau gitu nikah sirih, dan bawa aku tinggal bersama dengan Emak-Bapak, kamu di kampung, ” pinta Yasmin setengah memohon.


“ Tidak! Selagi masih ada orang tua kandung yang masih hidup. Saya tidak bisa melakukan itu, ” tolak Ben dengan polos.


“ Jadi, berarti kamu beneran ingin menikah denganku? ” tanya Yasmin senang, setelah mendengar penolakan polos dari Ben.


Ben terdiam, ia menutup mulutnya. Merasa malu karena kepolosannya menjawab, Ben segera keluar dari dalam Apartemen miliknya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2