
7 Bulan sudah berlalu dari kejadian penusukan Cadman. Kehamilan Yamuna juga sudah terlihat bertambah besar. Karena usia kandungan sudah tergolong tua, dan bisa di bilang kuat, Yamuna sudah bisa kembali bekerja ke Perusahaan.
Yamuna kini sedang berada di ruang studio pemotretan bersama dengan Ben. Karena Yamuna sedang hamil tua, Yamuna tidak di perbolehkan banyak berdiri, jika dia ingin berjalan ke lapangan, atau mengecek para kru untuk mengambil gambar iklan atau foto majalah, Yamuna memakai kursi roda otomatis jalan sendiri, atau Ben mendorong kursi roda kemanapun Yamuna pergi saat sedang bertugas di Perusahaan.
“ Darling….” terdengar suara teriakan Yasmin, memasuki ruang pemotretan.
Semua kru, Yamuna, dan Ben, menoleh ke pintu masuk, benar saja, Yasmin berjalan dengan memakai baju ketat dan perut buncit masuk ke dalam ruangan.
“ Astaghfirullah, Yasmin! ” gumam Ben terkejut melihat baju Yasmin seperti itu.
Keingan kuat untuk segera hamil dan menyusul Yamuna, akhirnya tercapai. Yasmin kini hamil, dan usia kandungannya baru berjalan 5 bulan. Meski kehamilan Yasmin baru 5 bulan, tapi perutnya sudah lebih besar dari perut Yamuna. Sehingga kadang orang mengira jika Yasmin hamil duluan setelah menikah dengan Ben.
Yasmin berdiri di samping Ben, “ Darling…aku tadi keruangan kamu, tapi kamu nya tidak ada. Aku juga tadi sudah membawa makan siang buat kamu, dan aku. Makanan yang sudah aku beli, sudah aku letakkan di atas meja, nanti kita makan bersama, ya! ”
“ Iya, tapi Yasmin, kenapa kamu memakai baju seperti ini? ” Ben membuka jas miliknya, dan memasangkannya ke tubuh Yasmin, “Kamu itu sedang hamil, dan studio ini juga sangat dingin.”
“ Kenapa rupanya, bukannya aku seksi seperti ini. Dan kamu kenapa memakaikan aku jas milik kamu, panas tahu! ” Yasmin melepaskan jas Ben, dan memasangkan kembali ke tubuh Ben.
Melihat tingkah konyol Yasmin, dan Ben. Yamuna, kru, dan model, tertawa geli. Hal itu pun di sadari oleh Yasmin. Yasmin melirik tajam ke Yamuna, kru, dan model di sana.
“ Kenapa? ” tanya Yasmin meninggikan nada suaranya.
“ Apa kamu tidak sesak memakai baju seperti itu? ” tanya kru wanita, memegang kamera.
“ Tidak, aku merasa lebih cantik aja, ” sahut Yasmin bangga.
“ Oh ya, nona muda, dan kamu, Yasmin. Kalian berdua sudah ada mengabadikan foto kehamilan belum? ” tanya Bams.
“ Belum, kenapa Bams? ” tanya Yamuna, di angguki Yasmin.
“ Karena sesi foto kita sudah selesai, dan ketepatan ada baju model hamil dari barang Endorse yang baru saja tiba. Kalian berdua mau tidak menjadi modelnya? ” tanya Bams mendadak.
__ADS_1
Yamuna terdiam, dahinya mengernyit, kenapa bisa masuk barang Endorse ke Perusahaan miliknya tanpa persetujuannya. Tidak ingin komplain dengan cepat, Yamuna hanya diam dan mendengarkan perkataan Bams.
“ Mau…aku sangat mau! ” sahut Yasmin semangat.
“ Kalau nona muda, sendiri? ” tanya Bams.
“ Sebenarnya aku…”
“ Sudahlah Yamuna, kita foto saja, ” sela Yasmin semangat.
“ Ini bukan hanya foto saja, tapi ini adalah job besar dari Butik ternama. Gimana? ” tawar Bams sekali lagi.
Sejenak Yamuna terkejut. Apa maksud dari ucapan Bams?
Yamuna berusaha diam, dan tenang kembali
“ Job?! Berarti aku nanti bakalan dapat uang. Benarkah itu Bams? ” tanya Yasmin semangat, kedua matanya langsung berubah menjadi hijau.
“ Apa kurang gaji yang saya berikan kepada kamu? ” omel Ben, tangannya menarik ujung daun telinga Yasmin.
“ Sekali aja. Saya tidak ingin nanti Papa kamu marah kepada saya, ” izin Ben dengan terpaksa.
“ Kamu sendiri? ” tanya Yasmin ke Yamuna.
“ Baiklah, aku akan temani kamu, ” sahut Yamuna berpura-pura bodoh. Yamuna melirik ke Bams, “ Bams, lain kali kalau kamu membuat hal mendadak seperti ini. Kamu akan aku pecat! Apa kamu paham? ” ancam Yamuna ke Bams, masih dalam model bodoh.
“ He he he…maaf nona muda. Habisnya penawarannya mendadak, dan saya juga hampir lupa. Tapi karena melihat Yasmin, dan nona muda sedang hamil. Maka saya jadinya teringat, dan langsung membuat penawaran. Eh...ternyata Yasmin, dan nona muda mau, ” jelas Bams di sela tawa sumbang.
“ Tapi sebelum kami melakukan sesi pemotretan, aku ingin bertemu dengan pemiliknya, pembayarannya, dan bagaimana barang milik mereka, ” ucap Yamuna, mulai tegas.
“ Saya pemiliknya, ” sambung seorang pria muda, dan tampan berjalan masuk ke ruang studio pemotretan.
__ADS_1
“ Ben, apa pria itu sudah membuat janji kepada kita? ” bisik Yamuna, bola matanya memandang lurus ke pria muda sedang berjalan lurus ke arahnya.
“ Sekali lagi saya mohon maaf nona muda, saya lupa menyampaikan pesan Bos Muranne kepada Anda, ” Bams membungkukkan sedikit tubuhnya, memohon maaf di hadapan Yamuna.
Yamuna hanya menghela nafas panjang, mengingat kepikunan Bams, melebihi Nenek-nenek.
Pria muda, dan tampan tersebut sudah berdiri di hadapan Yamuna, “ Mohon maaf atas kedatangan saya yang tidak sopan. Saya adalah pemilik Butik yang sedang memproduksi baju ibu-ibu hamil. Mulai baju untuk pergi ke acara undangan, pertunangan, Wisuda, dan masih banyak lainnya. Dan nama saya…”
“ Silahkan ikut ke ruangan ku, dan kita bicarakan lebih lanjut di sana, ” sela Yamuna sopan, ia tak ingin menjalani kontrak pribadi dengan klien, ambassador, atau pihak Endorse dengan cara terbuka, dan dilihat para karyawannya. Apalagi sepertinya Muranne seperti sedang merencanakan penipuan.
Muranne terdiam, dahinya mengernyit, baru kali ini ada seorang Presdir wanita langsung membantah ucapan dirinya. Setelah banyak Presdir wanita, melakukan kontrak kerja sama dengan cara mendadak, atau bertemu secara tiba-tiba. Atau meminta selebgram, atau model dengan kualitas bagus, dengan harga kontrak murah. Setelah melihat ketampanan Muranne, Presdir, atau Bos wanita tidak pernah menolak. Mereka langsung menerima, tanpa bertanya lebih lanjut.
“ Kenapa diam? Mari ikut kami, ” ajak Yamuna, membuyarkan pikiran Muranne.
“ Baik, ” sahut Muranne.
Yamuna berjalan terlebih dahulu, kursi roda miliknya di dorong oleh Ben. Yasmin, Muranne, Ben, dan Sekretaris Muranne berjalan, mengikuti Yamuna dari belakang.
“ Bos, kenapa wanita ini tidak langsung terpikat, dan menerima Endorse dari Bos? ” bisik Sekretarisnya.
“ Diam lah Two, saya juga tidak mengerti, ” sahut Muranne ikutan berbisik.
“ Lagian kenapa Bos tidak meneleponnya langsung? kalau seperti ini, kita pasti akan mengeluarkan uang Endorse dengan jumlah besar, ” bisik Two mengingatkan.
“ Saya paling tidak suka menelepon seorang wanita. Jika saya menelepon, seolah saya seperti mengemis padanya. Sudah terlanjur, lagian 2 wanita ini juga terlihat hebat, ” sahut Muranne.
“ Dan ini akhirnya sama saja, Bos menuruti kemauan Nona muda. ”
“ Iya, mau tak mau. Karena hanya Perusahaan dia yang memiliki kualitas yang bagus. Tapi ya, sudahlah. Turuti saja, ” sahut Muranne menyudahi percakapan mereka.
Langkah kursi roda, dan Ben terhenti di ruang rapat, Ben membuka pintu. Mempersilahkan masuk Muranne dan Two ke dalam. Setelah mereka semua masuk, dan duduk di kursi rapat.
__ADS_1
“ Tuan Muranne, Anda meminta model kepada Bams dengan cara mendadak, dan Anda datang ke Perusahaan ku juga dengan cara mendadak. Sekarang aku ingin bertanya, apakah Anda ingin melakukan Endorse tanpa adanya kontrak, tapi ingin memiliki kualitas model yang bagus dengan nyolong model, dari tempat kami? Apa Anda juga sengaja ingin membodohi karyawan ku dengan menyelinap masuk dengan cara seperti ini? jawab pertanyaan ku! ”
Muranne terdiam, wajahnya terlihat panik, dan gugup.