
Di ruang Tv, terlihat Yamuna, dan Yasmin duduk di sofa berbeda, mereka juga masing-masing terlihat sibuk memainkan ponsel mereka. Masih tidak menyangka, jika pada akhirnya Yasmin, dan Yamuna kini terlihat dekat. Hanya karena peristiwa buruk menimpa Yamuna. Saat itu Yasmin membawa Ben menuju rumah sakit, untuk penangan lebih lanjut karena terdapat beberapa luka dalam, dan sempat merawat Ben di rumah sakit walau hanya sebentar.
Lelah karena berpura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing. Yamuna, dan Yasmin meletakkan ponsel mereka serentak di atas meja. Lalu saling menatap. Sebelum membuka topik pembicaraan, Yamuna mengulurkan tangannya, mempersilahkan Yasmin untuk berbicara terlebih dahulu.
“ Aku sangat menginginkan Ben menjadi milikku, agar terlepas dari Papa, ” ucap Yasmin singkat mengutarakan tujuannya mendekati Ben.
“ Jadi kamu hanya ingin memanfaatkan Ben, untuk kepentingan kamu sendiri? sangat-sangat egois. ”
“ Tidak, bu-bukan seperti itu maksud ku, ” Yasmin menundukkan wajahnya, kedua tangannya mengepal, terletak di atas pahanya, “ Aku serius ingin hidup bersama Ben. Aku juga mencintainya tulus dari dalam hatiku. Bukan karena ada keterpaksaan dari pihak lainnya, ” sambung Yasmin mengutarakan isi hatinya.
“ Apa buktinya? ” tanya Yamuna tidak percaya begitu saja dengan ucapan Yasmin.
“ Aku rela melakukan apa pun untuk membahagiakan Ben. Aku juga rela membanting tulang untuk bisa hidup mewah bersamanya, ” sahut Yasmin jujur.
“ Kamu pikir Ben type pria seperti itu! aku sangat mengenal siapa Ben. Dia itu adalah lelaki yang sangat baik, tulus, dan lembut. Bahkan Ben adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, ” jelas Yamuna.
“ A-aku tahu, ” Yasmin beranjak dari sofa, berpindah duduk ke samping Yamuna, dan mengambil kedua tangan Yamuna, menggenggam punggung tangan, “ Yamuna, tolong bantu aku agar bisa bersama dengan Ben. Dan tolong bantu aku untuk meminta restu kepada Papa. Aku mohon, ” sambung Yasmin memohon dengan sungguh-sungguh.
“ Maaf, aku tidak bisa, ” Yamuna melepaskan genggaman tangan Yasmin.
Yasmin hanya menunduk sedih, menatap kedua tangannya bekas memegang kedua punggung tangan Yamuna.
“ Apa kamu masih dendam kepadaku? ” tanya Yasmin lirih, berpikir Yamuna masih menaruh dendam padanya.
“ Tidak, ” sahut Yamuna singkat.
Yasmin menengadah, menatap wajah datar Yamuna, “ Jadi, kenapa kamu tidak mau membantuku? ” tanya Yasmin lemah.
“ Karena aku tidak mau saja. Jika kamu ingin hidup bersama dengan Ben, seharusnya kamu sendiri yang berjuang. Kenapa kamu harus menarik aku ikut campur dalam hal ini. Jika aku membantu kamu untuk bersama, berarti sama saja kamu tidak ada niat untuk berjuang demi cinta kamu, ” sahut Yamuna menjelaskan penolakannya.
“ Jika aku berjuang sendiri, aku tidak yakin Papa akan merestui kami. Papa hanya memikirkan dirinya sendiri, dan tidak memperdulikan kebahagian ku, ” ucap Yasmin dengan ada putus asa.
“ Kamu belum mencobanya. ”
__ADS_1
“ Sudah, aku sudah mencoba meminta restu kepada Papa, dan aku mengatakan jika aku sangat ingin memiliki Ben sebagai pendamping hidupku. Tapi…Papa malah memilih mengirim ku ke Belanda. Papa mengirim ku ke sana karena ia ingin menjodohkan aku dengan pria yang sudah memiliki 5 Istri, ” ucap Yasmin kesal.
“ Selama 1 bulan tinggal di Belanda, apa kamu juga tinggal serumah dengan pria itu? dan apa Ben tahu tentang hal ini? ” tanya Yamuna penuh selidik.
Yasmin menggeleng.
“ Lalu, hal apa saja yang sudah kalian lakukan saat bertemu. Maaf..aku bertanya seperti itu karena aku sangat paham gimana budaya luar. ”
Saat Yamuna, dan Yasmin sedang asik mengobrol, tanpa mereka sadari, Ben, dan Cadman sedang berdiri di samping dinding ruang Tv keluarga. Ben dan Cadman tadinya berniat untuk memangil Yamuna dan Yasmin untuk sarapan, karena masakan sudah siap. Tapi melihat Yamuna, dan Yasmin bercerita sangat seru, Ben, dan Cadman memutuskan untuk menunda kedatangan mereka.
“ Tidak ada, meski pria itu berulang kali memaksa ku untuk melakukan hal itu. Tapi aku selalu menolaknya, aku juga sudah berbuat kasar kepadanya. Setelah itu aku kabur dari sana, ” sahut Yasmin terdengar serius.
“ Emang kamu berbuat kasar apa, kepada pria asing itu? ” tanya Yamuna penasaran.
“ Aku sudah menggigit coklat miliknya sampai terluka, ” sahut Yasmin setengah bergumam.
“ Ha ha ha ha…..keren..keren, ” puji Yamuna di sela tawa renyahnya.
“ Keren, ya? ” tanya Yasmin semangat.
“ Kenapa harus jujur, diam-diam saja pria itu pasti tidak tahu ‘kan? ” tanya Yasmin penasaran.
“ Kamu salah besar. Justru 90 % yang pria harapkan setelah menikah itu adalah mendapatkan Istrinya masih perawan. Jika pria yang sudah menikahi kamu, mendapatkan kamu sudah tidak perawan. Maka pria itu akan sangat kecewa, bahkan mungkin dia merasa menyesal menikah dengan kamu, ” ucap Yamuna.
“ Ternyata menjaga mahkota itu sangat penting, ya. Tapi yang menjadi pertanyaanku, kenapa setiap wanita menikah harus perawan. Bukannya pria juga banyak yang tidak perjaka. Ribet banget, sih perkara menikah saja di Negara kita ini, ” gerutu Yasmin kesal.
“ Makanya jangan asal pilih. Pria itu memang egois, mau menang dan enak sendiri saja. Nanti dia yang selingkuh, yang di tuduh malah Istrinya. Bilang nggak pande goyang lah, inilah. Apa pria itu pernah berpikir jika milik mereka sudah benar-benar ampuh buat nikmat ke ubun-ubun belum! ” ucap Yamuna terdengar curhat tentang pengalaman pribadinya dengan mantan Suaminya, Farran.
Di balik dinding terlihat Cadman dan Ben masi terus menguping, membuat dahi mereka sesekali mengernyit.
“ Kamu benar juga. Kalau Ben, masih mau menerima aku yang sudah tidak suci lagi, nggak? ” tanya Yasmin terdengar sendu.
“ Tidak tahu, aku tidak begitu banyak tahu tentang type wanita kesukaan Ben. Dia sangat tertutup tentang masalah asmara. Tapi yang sangat aku tahu, dan pahami, Ben adalah type pria yang sangat tahan godaan dari banyak wanita. Aku bisa berkata seperti itu, karena aku sering melihat banyak karyawan wanita, Kru, atau pun klien, setiap berjumpa dengan Ben, sering merayu. Bahkan ada yang sempat memberikan Alamat tempat tinggal mereka, nomor ponsel, dan lainnya. Tapi Ben selalu membuang kartu-kartu pemberian wanita tersebut ke tempat sampah. Kadang-kadang aku sempat berpikir, apakah Ben adalah pria normal, ” ucap Yamuna curhat tentang Ben.
__ADS_1
“ Kalau dia tidak normal, aku akan menormalkan nya, ” gumam Yasmin mulai memikirkan hal aneh.
Melihat Yasmin mulai memasang ekspresi aneh, dan tidak mau membuat Yamuna tertular dengan pikiran aneh Yasmin. Cadman segera keluar dari tempat persembunyian, ia berjalan masuk ke ruang Tv keluarga. Sedangkan Ben berbalik badan, melangkah pergi menuju dapur untuk memanaskan lauk, dan sayur sudah dingin.
“ Yamuna, mari kita sarapan bareng, ” ajak Cadman, ia berdiri di depan Tv.
“ Ben mana? ” tanya Yasmin tak melihat ada Ben di samping Cadman.
“ Ada di dapur, dia sedang menyiapkan makanan di atas meja, ” sahut Cadman asal.
Yasmin beranjak dari duduknya, “ Kalau gitu aku ke dapur dulu. Aku mau bantu Ben untuk menyajikan makanan, ” pamit Yasmin, ia melangkah pergi meninggalkan Yamuna, dan Cadman.
“ Kalian bicara apa? Yasmin tidak membicarakan hal aneh ‘kan? ” tanya Cadman pura-pura cemas.
“ Tidak, Yasmin hanya ingin meminta tolong, ia ingin aku membantunya untuk meminta restu kepada tuan Andreas. Tapi aku menolak untuk membantunya, aku ingin mereka berjuang sendiri. Biar mereka berdua tahu gimana rasanya hidup bersama, setelah mengalami banyak rintangan dan terhalang restu, ” sahut Yamuna menjelaskan tentang sedikit percakapan mereka.
“ Kamu benar. Sekarang, mari kita makan, ” ajak Cadman, tangannya merangkul bahu Yamuna.
Yamuna dan Cadman pun berjalan meninggalkan ruang Tv keluarga, menuju ruang makan. Sesampainya di ruang dapur, terlihat Yasmin duduk manis, kedua tangan memegang sendok-garpu, tatapan penuh cinta menatap kemanapun Ben berjalan.
“ Kamu sangat mencintai Ben? ” tanya Yamuna mengutarakan isi tatapan Yasmin. Membuat Yasmin, dan Ben terkejut. Kedua pipi Ben juga seketika merona.
“ Sangat-sangat mencintai, ” sahut Yasmin tidak memungkiri pertanyaan Yamuna.
“ Berhentilah menatapku seperti itu! apa kamu ingin kedua mata kamu, aku tutup? ” sekak Ben malu-malu.
“ Aku, kamu? Kalian berdua…eh, ” gumam Yamuna mengangguk, bibirnya tersenyum penuh arti.
“ Sayang, berhentilah menggoda. Jika kamu terus menggoda seperti itu, aku akan membawa kamu ke dalam kamar Ben, dan menggoda kamu di dalam sana, ” tegur Cadman lembut.
“ Ben, kamu apa tidak mau menggodaku seperti yang akan Cadman lakukan kepadaku? ” sambung Yasmin, ia mendengar percakapan Cadman.
“ Berhentilah berbicara omong kosong. Cepat makan, ” bentak Ben, tangannya menyuapkan gumpalan nasi putih ke dalam mulut Yasmin, agar tidak terus bicara.
__ADS_1
Yamuna, Ben, Yamuna, dan Cadman, menyantap hidangan sarapan pagi. Sesekali mereka juga terlihat mengobrol.
...Bersambung...