
Pertanyaan dari Cadman membuat Yoan terkejut. Yoan menghela nafas berulang kali, merasa hati sudah cukup tenang dan sudah siap menjawab pertanyaan Cadman. Yoan menatap ke dalam bola mata di berselimut benci.
Mendengar suara Cadman cukup kuat hingga terdengar sampai di ruang tamu. Yamuna, dan Mia segera ke ruang makan. Yamuna dan Mia juga kini sudah berdiri di tengah-tengah ruang makan.
“ Tidak bisa menjawab Papa ‘kan? ”
“ Cadman, Papa bisa jelasin. Jika kau bertanya apakah Papa mencintai mendiang Mama kamu? Papa akan menjawab, Papa sangat-sangat mencintai mendiang Mama kamu. Tidak ada wanita yang bisa menggantikan sosok mendiang Mama kamu di hati Papa. ”
“ Lantas kenapa Papa mau menikah dengan wanita itu, kalau Papa masih mencintai Mama?! ” sela Cadman, tatapan sinis mengarah pada Mia. Membuat Mia menundukkan pandangannya.
“ Papa menikahi Mia, karena Papa juga butuh teman untuk hari tua Papa. Dan Mia juga mengetahui hal itu. Mia juga wanita yang baik untuk Papa, kamu, Yamuna, dan Joryan. Papa sangat yakin jika Mia ini bukan wanita yang pada umunya kita temui. Papa mohon restui lah Papa, ” jelas Yoan setengah memohon.
Cadman diam, ia terus menatap tajam ke Mia, masih terus tertunduk, kedua tangan di letakkan di depan perut dan terus mencubit baju bagian depannya seperti sedang gugup, dan takut.
“Aku ke kamar dulu, dan biarkan aku sendiri!” tegas Cadman sembari melangkah pergi meninggalkan ruang makan, menuju kamar miliknya berada di lantai 2.
Melihat Mia seperti sedang ketakutan, Yamuna berdiri di sampingnya, mengambil salah satu tangan Mia. Telapak tangan Mia terasa dingin dan gemetar, menahan takut. Merasa Mia adalah wanita baik, tidak pantas diperlakukan kasar. Yamuna mencoba menggengam kedua tangan Mia, menatap wajah Mia masih tertunduk, kedua mata terlihat berkaca-kaca, menatap lurus ke lantai marmer ia injak.
“ Tante Mia tenang ya. Cadman sebenarnya bukan anak yang jahat dan kasar. Mungkin ia hanya syok saja setelah mendengar kejujuran dari Papa mertua. Aku juga awalnya syok, setahu ku Papa mertua tidak pernah membawa wanita lain, atau sedang berkencan dengan seorang wanita. Tapi hari ini kejujuran Papa mertua sangat menggemparkan kami berdua. Tapi setelah aku pikir-pikir, keputusan Papa mertua ada benarnya. Memang sudah saatnya Papa mertua memiliki pendamping di hari tuanya, agar tidak selalu kesepian. Aku yakin Cadman juga akan berpikir seperti itu nantinya. Jadi biarkan dia merenung sejenak di kamar, ” bujuk Yamuna ingin menenangkan Mia.
“ Ka-kalau Cadman tidak menyetujuinya. Sa-saya akan mundur, daripada melihat orang tua dan anak bertengkar hanya karena orang lain, ” sahut Mia sendu dengan suara merdunya.
“ Kamu jangan cemas, ” Yoan menarik kursi makan nomor 2 sebelah kiri, “ Mari duduk, kita tunggu Cadman turun, ” sambung Yoan mengajak Mia duduk, menunggu Cadman turun di meja makan.
.
Sesampainya di dalam kamar, Cadman terus memandang Joryan sedang tidur di atas ranjang king size, samping kanan-kiri, atas, bawah, di kepung oleh bantal dan guling. Hatinya mendadak luluh dan rasa amarahnya perlahan terkikis saat melihat Joryan sipit-sipit melihatnya, dan senyum tanpa gigi terus terpancar.
Cadman pun mulai meluapkan kekesalan di hatinya dengan bercerita kepada Joryan. Cadman membaringkan tubuhnya, dan tidur posisi miring, menghadap Joryan masih terbangun.
__ADS_1
“ Joryan, kamu tahu tidak kalau Kakek akan menikah? ” tanya Yoan sembari bermain dengan genggaman tangan Joryan masih berbalut sarung tangan bayi.
Seolah mengetahui pertanyaan Cadman, Joryan memberi senyum manis, salah satu tangannya memasukkan tangan masih terbalut sarung tangan ke dalam mulut. Namun, Cadman langsung mengeluarkan tangan Joryan, dan kembali bercerita.
“ Apa kamu juga setuju Kakek menikah lagi? Kalau Papa pikir-pikir, ucapan Kakek ada benarnya juga. Tapi kenapa seorang pria ketika istrinya sudah meninggal dunia, dia harus menikah lagi, dengan alasan supaya ada teman di hari tua. Bukannya itu alasan yang konyol. Tinggal bilang saja tidak tahan kalau tidak melakukan hal itu. ‘Kan selesai, nggak usah beralasan ini dan itu, ” Cadman mengalihkan pandangannya ke meja lampu tidur, di sana ada bingkai foto berisi foto Cadman, Yoan, dan mendiang Mamanya. Cadman pun duduk di tepian ranjang, mengambil bingkai foto berisi foto keluarga, menatap foto mendiang Mamanya, dan berkata, “ Mama, apakah Mama sudah tenang di alam sana. Boleh tidak aku curhat. Hari ini Papa membawa seorang wanita berhijab ke rumah. Aku akui wanita bernama Mia itu cantik dan terlihat sangat baik. Tapi entah mengapa saat aku mendengar jika Papa akan menikahi wanita itu, hatiku seolah berkata jika Papa sudah tidak sayang lagi dengan mendiang Mama. Ma…menurut Mama, aku harus merestui Papa atau tidak. Aku bingung Ma. ”
Di sela kegundahannya, dering ponsel dalam saku celana Cadman bergetar. Cadman langsung merogoh ponsel miliknya, melihat nama panggilan penelepon. Terlihat namanya adalah Chandra. Cadman pun langsung menjawab, dan melontarkan kekesalannya pada Chandra.
📞[ “Ada apa?! Kau tidak tahu kalau aku sekarang lagi gundah!” ] omel Cadman sesaat mengangkat panggilan telepon, Chandra berada di dalam ruangannya pun terkejut, teriakan Cadman membuat Chandra menjauhkan ponselnya dari telinganya.
📞[ “Ya mana saya tahu. Orang tuan muda tiba-tiba marah-marah sama saya. Coba tuan muda tenang, dan ceritakan kenpaa tuan muda yang baru saja pulang dari luar kota mejadi gundah.” ]
📞[ “Papa mau menikah lagi. Tapi wanita itu memakai hijab, dan lumayan sopan juga.” ] curhat Cadman sendu.
📞[ “Bagus dong. Kenapa tuan muda harus gundah, bukannya itu akan sangat bagus demi jantung, dan otot-otot tua yang sudah lama tidak berfungsi kini akan berfungsi kembali.” ]
📞[ “Maksud kamu apa?” ] tanya Cadman tidak mengerti maksud dari ucapan Chandra.
Cadman sendiri hanya bengong, menatap layar ponsel sudah mati. Menyadari ucapan Chandra ada benarnya. Cadman pun memutuskan untuk beranjak dari ranjang. Meninggalkan Joryan sudah tertidur lelap.
Cadman terus berjalan keluar dari kamar menuju ruang makan. Dimana terlihat ada Yoan, Yamuna, dan Mia, menyambut kedatangannya.
“ Kita makan dulu, ” ajak Yamuna, tangannya menepuk kuris di sisi kanannya.
Cadman pun duduk di sebelah Yamuna.
Mia terlihat beranjak dari kursinya, menyajikan nasi di atas piring Yoan, Yamuna, Cadman, dan terakhir meletakkan nasi di atas piringnya. Yamuna juga membantu Mia untuk meletakkan lauk di atas nasi. Setelah semua selesai tersaji di dalam piring keramik. Yoan menuntuk doa makan, selesai berdoa mereka pun menikmati santap makan malam.
Di tengah-tengah santap makan malam. Cadman meletakkan sendoknya di samping piring, Yamuna, Yoan, dan Mia, langsung menoleh ke Cadman.
__ADS_1
“ Apa masakan Papa tidak enak? ” tanya Yoan.
“ Bukan itu masalahnya, ” ketus Cadman.
Risih mendengar Cadman terus bersikap dingin dan sedikit kasar. Yamuna segera menggenggam lengan Cadman dan berbisik, “ Kamu jangan bersikap seperti itu. Tidak baik melawan orang tua, apa lagi orang tua kita tinggal Papa. ”
“ Aku mengerti, kamu tenang saja sayang, ” sahut Cadman membalas genggaman tangan Yamuna.
Cadman mengalihkan pandangannya ke Mia sedang tertunduk, “Kenapa terus menunduk?” tanya Cadman mengejutkan Yoan, dan Yamuna.
Mia hanya diam, mengeratkan genggaman tangannya diletakakn di atas roknya. Yoan melihat itu menatap sinis ke Cadman.
“ Cadman, katakan apa masalahnya? ” tanya Yoan lembut, berusaha tenang meski hatinya ingin memarahi Cadman karena sudah membuat Mia takut.
“ Masalahnya kenapa Papa ingin menikahi wanita ini? apa Papa sudah tahu wanita seperti apa dia. Apa Papa yakin jika dirinya sebaik dengan baik baju muslim yang ia pakai?! ” Cadman bertanya dengan menyudutkan Mia.
“ Cadman, tolong hargai Mia. Dia bukan wanita seperti yang kamu tuduhkan, ” ucap Yoan berusaha tenang.
“ Dan Papa. Apa Papa yakin ingin menikahi wanita berhijab, dan tidak akan menduakan Mia, meski di luar sana banyak wanita dengan bertubuh seksi, membuka auratnya di depan Papa?! ”
“ Cadman, kamu bicara apa? ” tanya Yoan tidak mengerti tujuan putranya.
“ Jawab saja, Pa. Bukannya Papa ingin meminta restu kepada putra kamu yang tampan ini? dan satu lagi, seharusnya Papa juga meminta restu kepada Joryan! ”
Ucapan Cadman sontak saja membuat wajah mendung Mia, dan Yoan berubah menjadi cerah. Senyum lebar terus terpancar di raut wajah Yoan, begitu juga dengan Mia. Yamuna sendiri, ia merasa lega akhirnya Cadman meruntuhkan egonya demi kebahagian Papanya.
“ Be-berarti kamu merestui Papa? ” tanya Yoan gugup, seakan tak percaya dirinya mendapat restu oleh anaknya.
“ Tentu saja. Dulu tanpa aku meminta Papa untuk menikahkan aku dengan Yamuna. Papa sudah bertindak duluan. Jadi inilah balasan dari itu. semoga Papa bahagia, ” jelas Cadman.
__ADS_1
“Terimakasih ya, nak. ”
“ Hem, jadi kapan aku memiliki adek baru? ” tanya Cadman melontarkan pertanyaan selalu Yoan lontarkan kepada Cadman dulu, saat Yoan menginginkan cucu.