
Setelah selesai melakukan pertemuan, Cadman dan Yamuna berpisah dari Ben. Ben pulang ke rumahnya dengan mengendarai mobilnya sendiri, sedangkan Cadman, dan Yamuna kembali pulang menuju rumah Yamuna.
“ Cadman, Presdir tadi sangat kasihan ya, ” ucap Yamuna membuka percakapan di sepanjang perjalan pulang ke rumah.
“ Kasihan gimana? ” tanya Cadman penasaran.
“ Iya, tadi ia berkata, ‘aku hidup di Negeri ini hanya sebatang kara. Kedua orang tuaku meninggal saat aku masih kecil. Dan kedua kaki ku lumpuh gara-gara kecelakaan waktu aku ikut pergi bersama dengan kedua orang tua ku dulu. Andai saja aku memiliki seorang pendamping, pasti keseharian ku akan di penuhi warna’, kayak gitu kata Presdir muda Zahfar, ” jelas Yamuna dengan wajah polosnya.
‘ Sial! Zahfar mulai meracuni pikiran Yamuna. Aku harus segera menyelidiki siapa sebenarnya dirinya. Dan kenapa dia ingin mengincar Yamuna, ’ batin Cadman, kedua tangannya menggenggam erat stir kemudi, dahinya juga berkerut memikirkan ucapan Zahfar tadi.
“ Kamu kenapa? ” tanya Yamuna bingung melihat wajah Cadman tampak suram.
“ Eh…tidak ada, a-aku hanya memikirkan tempat bulan madu yang enak di mana, ya? ”
“ Kenapa harus ada kata bulan madu sih, aku ‘kan seorang janda, ” gumam Yamuna malu-malu.
“ Itu hanya status. Gadis saja banyak yang nggak perawan zaman sekarang. Jadi masih mendingan status janda daripada gadis yang katanya suka merusak rumah tangga orang lain. Tapi, asal janda terhormat yang tak genit sama pria lain, ya! ” goda Cadman, membuat Yamuna tersipu malu.
“ Apaan sih! Aku baru tahu jika kamu ternyata bisa segenit ini sama aku. Dulu saja waktu pertama kali bertemu kamu garangnya minta ampun. Selalu masang wajah dingin, dan berkata datar, kasar kepadaku, ” singgung Yamuna mengingat awal pertemuan mereka berdua.
‘ Iya juga ya, kenapa aku jadi genit seperti ini. Kenapa setelah aku mendapatkan Yamuna, aku seperti seorang remaja yang sedang mengalami jatuh cinta. Aku juga terkadang merasa cemburu yang terlalu berlebihan. Apaan sih hati dan pikiran ini, buat aku malu saja di depan Yamuna, ’ gerutu Cadman di dalam hati.
“ Apakah kamu baik-baik saja? ” tanya Yamuna, tangannya melambai di depan wajah Cadman.
“ Oh..i-iya, aku baik-baik saja kok. Aku hanya berfikir, kapan kamu bisa mencintai aku sepenuh hati kamu. Soalnya aku ingin kita…”
“ Jangan mikirin hal aneh kamu. Aku masih belum terpikirkan untuk melakukan hal itu kepada kamu. Entar kalau aku sudah menyerahkan diriku sepenuhnya sama kamu, kamu malah berkhianat seperti Farran yang dulu suka…”
Citt!!!!
Cadman menepikan mobilnya secara mendadak. Hatinya terasa sakit saat Yamuna sering kali membandingkan Cadman dengan Farran. Jelas-jelas Cadman bukanlah lelaki suka gonta-ganti wanita. Cadman juga tidak pernah tidur dengan wanita. Ciuman pertama miliknya juga sudah ia lakukan dengan Yamuna, bukan wanita lain. Tapi kenapa Yamuna masih belum bisa mengerti jika Cadman dan Farran itu sangat jauh berbeda.
__ADS_1
“ Ka-kamu kenapa menepi mendadak seperti ini? ” tanya Yamuna panik.
Cadman hanya diam, kepala tertunduk, nafasnya terlihat naik turun seperti sedang menahan amarah, kedua tangannya juga menggenggam erat stir kemudi sehingga urat di kedua tangannya terlihat jelas.
“ Cadman, ” panggil Yamuna.
“ Apakah kamu lihat aku sama seperti Farran. Apakah kamu pernah melihat aku menggandeng wanita lain di depan kamu? Apakah kamu pernah mendengar gosip aku pernah tidur dengan banyak wanita di luar sana? Apakah aku sama seperti Farran?! ” tanya Cadman berulang kali dengan nada datar.
“ Ti-tidak, ” sahut Yamuna gugup, wajahnya tertunduk seperti merasa bersalah.
“ Yamuna, percayalah padaku. Cintaku ini tulus hanya untuk kamu, dan tentang foto aku dan Yasmin itu hanya akal-akalan Yasmin saja, ” jelas Cadman lembut, mencoba menahan amarah di dadanya saat melihat Yamuna tertunduk dengan wajah bersalah.
“ Aku percaya kok, ” sahut Yamuna perlahan mengangkat wajahnya, dan menatap kedua mata Cadman hampir di penuhi air mata. Yamuna merubah posisi duduknya, tangannya berusaha menggapai wajah Cadman, “ A-apa kamu menangis? ” sambung Yamuna bingung melihat Cadman seperti ingin menangis.
Cadman langsung membuang wajahnya ke sisi lain, kedua tangannya langsung menyeka air mata hampir membasahi kedua pipinya, ‘Duh…kenapa aku menjadi cengeng. Tenang..tenang. Yamuna mungkin masih tahap trauma akibat ulah Farran dulu, jadi wajar saja jika dia sering merasa bimbang melihat kamu. Ayo, bangkit dan semangat lah buat diri sendiri,’ batin Cadman.
“ Cadman, maafkan aku, ” pinta Yamuna, tubuhnya spontan memeluk Cadman.
“ Baiklah, aku akan menunggu hal itu. Ke rumah tuan Yoan, yuk! ” ajak Yamuna tiba-tiba merindukan Yoan.
“ Kenapa tiba-tiba? ” tanya Cadman bingung.
“ Nggak tahu, entah kenapa aku tiba-tiba merindukan sosok mendiang Ayah, dan aku ingin melepaskan kerinduan ku setelah melihat Papa kamu. Boleh ya! ” bujuk Yamuna memasang wajah manja.
“ Kamu bukan jatuh cinta dengan Papa ‘kan? ” tanya Cadman sedikit cemburu karena Yamuna merindukan Papa nya, bukan dirinya.
“ Ya tidaklah. Tuan Yoan sudah aku anggap sebagai orang tua ku sendiri, ” jelas Yamuna sudah menganggap Yoan seperti mendiang Ayahnya.
“ Baiklah, kita akan segera ke sana, ” sahut Cadman.
Cadman menghidupkan mesin mobilnya, dan melaju menuju kediaman rumah Yoan. Karena jarak tempat mereka berhenti tak jauh dari rumah Yoan, akhirnya mobil Cadman dan Yamuna sampai di halaman rumah Yoan. Karena tak sabar ingin melihat kondisi mertuanya, Yamuna langsung turun, dan berjalan cepat masuk ke rumah Yoan. Sedangkan Cadman hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Yamuna seperti anak kecil.
__ADS_1
Kini langkah kaki Yamuna terhenti di ruang tamu, “ Pa..Papa Yoan, kami datang, ” panggil Yamuna, kakinya perlahan melangkah memasuki ruang Tv tapi tak melihat Yoan baik di ruang tamu ataupun di ruang Tv.
“ Mungkin Papa ada di ruang kerja, ” ucap Cadman dari belakang.
Saat Cadman memberi usul jika Yoan pasti di ruang kerjanya. Cadman dan Yamuna mendengar suara teriakan Yoan dari dapur.
“ Aduh…duh.. ”
Yamuna, dan Cadman langsung berlari menuju ruang dapur. Betapa terkejutnya mereka saat melihat wajah Yoan dipenuhi tepung, dan kuali dipenuhi asap.
“ Ha ha ha….ngapain sih, Pa? ” tanya Cadman geli melihat wajah Yoan dipenuhi tepung.
“ Pakek bertanya lagi, kamu lihat aku sedang pegang apa! ” sahut Yoan ketus.
“ Nggak bisa masak saja, sok-sokan mau masak, ” ejek Cadman, ia melangkah mendekati Yoan.
“ Kalian kenapa datang ke sini? Mau ngasih kabar kalau aku akan segera punya cucu?! ” tanya Yoan langsung pada tujuannya.
“ Nggak, aku kangen saja sama Papa. Soal anak bahas nya nanti-nan… ”
“ Aduh…duh…jantungku kenapa sakit sekali. Andai aku memiliki cucu, pasti tubuh ku akan sehat selalu, ” sela Yoan berpura-pura sakit di depan Yamuna.
“ Pa…Papa sakit? ” tanya Yamuna segera berlari mendekati Yoan, dan membantunya untuk duduk di kursi.
“ Aku sakit karena sudah mulai tua. Mana penerus ku belum ada. Gimana jika suatu saat aku meninggal, aku belum sempat melihat wajah cucu ku. Pasti aku akan meninggal…”
“ Pa…jangan berkata seperti itu, Papa pasti akan bisa melihat wajah cucu Papa kok, ” sela Yamuna merasa kasihan saat melihat Yoan seperti itu.
‘ Yamuna, kamu memang gampang ditipuin. Dan Papa bisa saja aktingnya, minta cucu segala lagi, emangnya dia pikir buat anak itu seperti buat bakwan. Olen-olen langsung bisa di goreng, ’ batin Cadman.
...Bersambung...
__ADS_1