
Merasa Cadman akan menjadi seorang penghalang dan ingin merebut Yamuna dari Farran. Caden segera menggenggam lengan Cadman, “ Kamu kenapa masih di sini. Ayo cepat keluar dari perusahaan milik menantuku! ” tegas Caden.
“ Kenapa tante tidak sopan dengan klienku. Ingat tante tidak berhak mengatur siapa pun di sini, ” sambung Yamuna memegang bahu bagian belakang Caden.
“ Tapi tante ini ‘kan Mama mertua kamu. Jadi tante…”
“ Ssst! ” Yamuna menempel jarinya di bibir Caden. Kedua bola mata Yamuna menyusuri wajah Caden, “ Tante memang mertua ku, tapi perusahaan ini bukan wilayah milik tante. Dan satu lagi, aku mohon dengan kerendahan hati tante segera tinggalkan ruang kerjaku. Dan jangan urusin urusan pekerjaanku dan klien ku, ” ucap Yamuna mengarahkan tangannya ke pintu.
“ Apa baru saja kamu mengusir Mama? ”
“ Aku tidak mengusir, hanya saja aku malas ada perdebatan di dalam ruangan ku. Dan aku juga sedang banyak urusan lainnya, ” Yamuna menggenggam tangan Caden, “ Oh ya, tadi katanya tante ke sini karena tante sedang membutuhkan uang buat arisan. Kira-kira itu arisan apa ya tante? ” tanya Yamuna mengingat isi chat dari Caden.
Mimik wajah Caden langsung berubah, kedua tangan Caden langsung mengelus lengan Yamuna, “ He he..Mama sampai lupa kalau hari ini ada arisan para Istri pengusaha. Tidak banyak kok, Mama cuman mau minta uang sedikit, 900 ratu juta saja! ”
“ Apa! 900 ratus juta! ” sambung Yamuna terkejut saat mendengar nominal tidak sedikit untuk pengeluaran arisan.
“ Iya, sedikit kan. Itu uang buat jaga-jaga saja. Karena biasanya teman-teman Mama ada yang membawa jualannya ke tempat arisan. ‘Kan malu kalau sampai Mama tidak beli. Apa kata teman Mama kalau Mama sudah memiliki menantu kaya, tapi nggak bisa ikutan beli. Mama nggak mau nama kamu jadi jelek di mata teman-teman Mama nantinya, ” sahut Caden.
Cadman melirik Caden, ‘Bisa aja mulut wanita ular ini berbicara,’ batin Cadman tidak senang sat melihat Yamuna seperti sedang dibodohi.
Yamuna berjalan mengeliling Caden, jari telunjuk memukul pelan di dagunya, sembari berkata, “ Tante yang merasa malu, kenapa aku yang menjadi tumbal untuk membeli ini dan itu, ” kedua kaki Yamuna terhenti di depan Caden, “ Baiklah, aku akan berikan uang itu kepada tante! ” Yamuna berbalik badan, kedua kakinya berjalan menuju meja.
Dahi dan alis Cadman menyatu, ingin rasanya ia marah kepada Caden untuk membela Yamuna. Tapi itu tidak mungkin, karena Yamuna bukan siapa-siapanya. Cadman hanya bisa diam dan melihat apakah Yamuna beneran akan memberikan uang 900 juta itu kepada Caden.
‘Bagus. Kalau Yamuna beneran akan memberikan aku uang sebanyak itu, maka aku akan membeli baju-baju bagus di luar sana. Dasar gadis bodoh, mana ada seorang Istri pengusaha membawa barang jualan mereka ke arisan. Kalau pun ada topi pembahasan antara Ibu-ibu pengusaha, maka topik itu paling menganggukkan masing-masing anak dan menantu mereka. Jika salah satu mereka ada ketahuan menjual barang di dalam arisan. Maka Ibu tersebut tidak masuk dalam katagori Istri dari pengusaha terkenal dan kaya raya. Ha ha ha…tidak rugi juga aku memiliki menantu bodoh seperti Yamuna,’ batin Caden.
__ADS_1
Yamuna berjalan mendekati Caden, tangan terlihat memegang beberapa lembar uang merah. Yamuna mengulurkan tangannya, “ Ini buat tante. Tidak usah dibalikin, ” ucap Yamuna memberikan uang 900 ribu ke tangan Caden.
Kedua bola mata Caden membulat sempurna saat melihat Yamuna hanya memberikan uang sebesar 900 ribu rupiah. Jumlah uang sangat jauh lebih sedikit dari perkiraannya. Caden menatap serius wajah Yamuna, “ Apa maksud kamu memberikan Mama uang segini. Apa kamu sedang menghina Mama? ” tanya Caden terdengar tidak senang.
Yamuna melipat kedua tangannya, “ Bukannya tante tadi bilang minta uang sebesar 900? ” tangan Yamuna mengarah ke uang di dalam genggaman tangan Caden, “ Nah, itu uang yang tante minta. Cuman nol nya di buang sedikit ke belakang, ” sambung Yamuna.
Caden menghentak kedua kakinya, “ Dasar! ” ucap Caden kesal.
“ Kenapa? Tante tidak mau uangnya? ” tanya Yamuna dengan senyum tipis terukir di bibirnya.
Caden tidak menjawab pertanyaan Yamuna. Caden hanya berbalik badan, membawa keda kakinya melangkah meninggalkan ruangan kerja milik Yamuna.
Yamuna menghela nafas lega saat Caden sudah pergi meninggalkan ruang pribadi miliknya. Yamuna berjalan mendekati Cadman, dan berhenti di depan Cadman sembari membungkukkan tubuhnya, “Terimakasih sudah menolongku dari rujak yang menyeramkan itu, ” ucap Yamuna tulus.
“ Jadi apa mau kamu? ” tanya Yamuna bingung.
“ Tidak ada. Karena kita sudah tidak ada urusan lagi, maka biarkan aku pergi, ” ucap Cadman datar.
Yamuna mengarahkan tangannya ke pintu, “Silahkan. Sampai bertemu kembali di kontrak kerja sama selanjutnya,” sahut Yamuna dengan senyum terukir di bibirnya.
“ Mimpi kamu! ” gumam Cadman sembari membawa kedua kakinya melangkah pergi meninggalkan ruangan kerja Yamuna.
Dengan polosnya Yamuna melambai, “ Daa…”
Melihat Caden dan Cadman sudah pergi meninggalkan ruang kerja miliknya. Yamuna berbalik badan sembari membuang nafas lega, “ Fyuh! Akhirnya aku bisa bersantai sejenak. Entah kenapa rasanya aku sangat mengantuk. Sebaiknya aku tidur sebentar, ” gumam Yamuna menuju sofa panjang.
__ADS_1
Yamuna merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang. Salah satu tangan ia letakkan di atas dahi, kedua bola mata menatap lurus ke langit-langit ruangan, “ Ayah, aku ingin memberitahu Ayah kalau aku sedang mengandung. Aku mengandung anak dari lelaki pilihan Ayah. Lelaki yang Ayah anggap baik, tapi malah suka berselingkuh di belakang ku. Awalnya aku ingin bercerai dengannya tapi dirinya malah tidak ingin bercerai denganku, Farran malah membuat aku hamil dan akhirnya aku harus menutupi kehamilan ini. Apakah aku berdosa Ayah? ”
Ucapan Yamuna pun terhenti saat kedua kelopak matanya tertutup secara perlahan.
Baru saja kedua mata Yamuna tertidur, tiba-tiba ia terbangun di sebuah taman bunga, terlihat di depannya ada seorang pria paruh baya berdiri membelakangi dirinya.
“ Siapa di sana? ” tanya Yamuna perlahan membawa kedua kakinya mendekat.
Pria paruh baya tersebut berbalik badan, “ Yamuna, ” panggil pria tersebut sembari merentangkan kedua lengannya.
Yamuna tercengang saat dirinya tidak menyangka bisa berjumpa dengan sosok Ayah berada di alam mimpinya. Yamuna pun berlari menuju Jordan, “ Ayah,” ucap Yamuna menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Jordan.
Jordan mengelus punggung Yamuna, “Maafkan kesalahan Ayah, Nak. Jika kamu sudah tidak sanggup lagi menjalani rumah tangga dengan pria itu, maka Ayah merelakan kamu untuk berpisah darinya. Ayah tidak mau melihat kamu terus bersedih dari atas sana. Jadi Ayah minta kamu tidak perlu mempertahankannya. Nak, Ayah harap kamu jangan bersedih lagi. Jika kamu terus bersedih, maka arwah Ayah tidak akan tenang di atas sana.”
Pelukan Jordan perlahan terlepas, tubuh Jordan pun perlahan melayang ke belakang dan semakin lama-lama terbang tinggi ke atas awan. Yamuna berlari kencang, kedua tangannya berusaha menggapai kedua kaki Jordan. Namun, usahanya sia-sia. Jordan sudah menghilang di balik awan.
Yamuna terduduk, salah satu tangannya mengarah ke langit, “Ayah…jangan tinggalkan Yamuna. ayah!”
Teriakan Yamuna dari dalam mimpi ternyata sangat kuat hingga terdengar oleh Ben. Karena meja Ben dekat dengan ruangan Yamuna, Ben pun berlari menuju ruangan Yamuna.
“ Nona muda bangun, ” panggil Ben sembari menggoyangkan tubuh Yamuna.
Yamuna pun akhirnya terbangun dan tersadar jika pertemuan singkat tadi hanyalah mimpi. Namun rasa rindunya terobati saat melihat wajah mendiang Jordan tampak segar di alam lain.
...Bersambung...
__ADS_1