
Setelah berusaha menyakinkan Yoan tentang dirinya agar tidak di kurung dalam satu kamar oleh Cadman. Yoan akhirnya melepaskan genggaman tangannya dari Yamuna. Tapi Yoan tidak melepaskan genggaman tangannya dari Cadman.
“ Pa..kenapa Papa tidak melepaskan genggaman tangan Papa dari tanganku? ” tanya Cadman bingung.
“ Karena Papa ingin mengurung kamu, ” sahut Yoan, tangannya menarik tangan Cadman menuju kamar tamu tak jauh dari ruang tamu keluarga.
“ Pa..sebaiknya kita obati dulu luka lebam di wajah Papa. A-aku tidak bakalan lari dari rumah kok, ” bujuk Cadman agar Yoan mau melepaskan genggaman tangannya.
“ Kamu tidak perlu kuatir. Aku akan meminta Yamuna untuk mengobati luka-luka ku. Sekarang kamu harus aku kurung sampai Pak penghulu datang, ” ucap Yoan. Kaki Yoan pun terhenti di depan pintu kamar tamu tak jauh dari ruang tamu. Yoan membuka pintu, lalu mendorong kasar tubuh Cadman masuk ke dalam kamar tamu, dan menguncinya dari luar.
Tok!tok!
“ Pa…bukain dong. Papa jangan macam-macam dengan Yamuna. Pa..” teriak Cadman menggedor pintu kamar dari dalam.
Yoan tidak memperdulikan teriakan Cadman. Yoan menatap wajah Yamuna dengan tatapan datar.
“ Kamu jangan ikut membela anak nakal itu. Biarkan dia menerima hukumannya, dan hukuman kamu adalah rawat luka ku, ” perintah Yoan. Tangannya mengulur ke depan, “ Mari, ikut aku menuju ruang tamu sambil menunggu Pak penghulu, dan beberapa wali yang akan datang, ” ajak Yoan.
Tanpa banyak bertanya Yamuna menurut. Yamuna, dan Yoan kini berjalan menuju ruang tamu. Langkah kaki Yoan terhenti di depan sofa panjang. Yoan duduk, lalu Yamuna duduk di sebelah Yoan, tangannya membuka kotak P3K. Mengambil alkohol, dan mengobati luka Yoan.
“ Kalau aku boleh tahu, maksud tuan, tuan beneran ingin menikahkan aku dengan Cadman? ” tanya Yamuna mengingat perkataan Yoan.
“ Benar. Aku ingin putra ku bahagia, dan kamu adalah letak kebahagian dari putra ku. Jadi jangan buat Cadman bersedih untuk yang kedua kalinya! ” tegas Yoan memberitahu Yamuna.
“ Tapi aku belum siap menerima Cadman menjadi suamiku. Gimana kalau kita tunda dulu pernikahannya. Lagian aku juga baru saja berpisah dari Farran, dan aku ingin hidup bebas dari…”
Ucapan Yamuna terhenti, saat Yoan menunjukkan beberapa bukti vidio saat Cadman dan Yamuna tidur bersama. Bukan itu saja, Yoan juga menunjukkan bukti jika Cadman pernah mencium Yamuna saat di Vila.
“ Stop! Jangan tunjukan adegan yang memalukan itu kepada ku, tuan Yoan, ” teriak Yamuna malu saat melihat perbuatan mereka berdua tidak sengaja tertangkap basah.
“ Karena kalian berdua sudah melakukan zina seperti ini, makanya aku harus menikahkan kalian berdua. Sebelum kalian berdua melakukan zina yang lebih banyak lagi. Aku tidak mau ketika aku di panggil Sang Maha Kuasa, Cadman dan kamu terus melakukan zina itu, ” Yoan memegang dada kirinya, “Aduh…aku tidak bisa membayangkan jika aku harus masuk Neraka di tingkat level terkejam, hanya gara-gara aku…”
“ Su-sudah tuan. Tuan jangan bersedih ya? a-aku akan menikah dengan Cadman. Jadi, tuan jangan menyalahkan diri sendiri. Soalnya kemarin-kemarin itu hanya khilaf saja. Habis berciuman di Vila, kami tidak melakukan apa pun kok. Beneran! ” jelas Yamuna dengan wajah polosnya.
Yoan menunduk, tangannya memegang dada kiri, “ Duh..duh..katanya tidak melakukan apa pun lagi. Berarti kemungkinan kalian akan melakukan zina yang lebih besar lagi. Aduh..duh, kenapa jantungku rasanya…”
Acting untuk menakut-takuti Yamuna terhenti saat mendengar ada suara pria menyapa Yoan.
__ADS_1
“ Permisi, apakah benar Anda, Presdir Yoan Ren? ” tanya seorang pria memakai peci, dan jas rapih. Di temani 2 orang pria paruh baya.
“ Benar, Anda siapa ya? ” tanya Yoan merubah nada suara, dan wajahnya menjadi tegas.
“ Saya adalah Pak penghulu. Dan di sebelah saya ada dua wali yang seperti Anda inginkan, Presdir, ” jelas Pak penghulu.
“ Oh, silahkan duduk, ” ucap Yoan mempersilahkan Pak Penghulu dan 2 wali duduk.
Pak penghulu, dan 2 wali duduk di sofa yang di tunjuk Yoan.
“ Saya juga sudah membawa semua surat-surat yang Anda minta. Jadi, di mana calon pengantinnya? ” tanya Pak penghulu, tatapan mengarah ke seluruh ruang tamu.
“ Di sebelah ku, ” sahut Yoan datar, dan singkat.
“ Oh..jadi ini calon Istri, Presdir? ” tanya Pak penghulu.
“ Banyak tanya. Kamu ke sini aku suruh untuk menikahkan wanita ini dengan putra ku. Sekarang kamu mau menikahkan putra ku, atau kamu ingin menjadi wartawan?! ” bentak Yoan, membuat Yamuna terkejut melihat sikap Yoan berubah drastis saat berbicara dengan orang lain.
“ I-iya, saya akan segera menikahkan gadis ini untuk putra Anda, Presdir, ” ucap Pak penghulu gugup karena takut mendengar suara dingin Yoan.
Yoan mengulurkan tangan kanannya, “Cepat!” desak Yoan.
" Oh..Kalau gitu anak ku ada di kamar, mari ikut aku, " ajak Yoan menuju kamar tamu.
Yoan, Pak penghulu, dan 2 wali menuju kamar tamu. Sesampainya di depan pintu, Yoan bertanya sebentar sebelum membuka pintu kamar tamu.
" Cadman, Papa sudah memanggil Pak penghulu, dan Yamuna juga ingin menikah dengan kamu. Apa kamu mau menikah dengan Yamuna? Kalau kamu tidak mau maka kamu berarti akan merelakan Yamuna untuk di ambil orang lain untuk yang kedua kalinya, nanti! " ucap Yoan tanpa memberi kesempatan Cadman menjawab, dan menolak.
" Mau, Pa! " sahut Cadman tegas.
Yoan membuka pintu kamar, " Mari masuk, Pak, " ajak Yoan kepada Pak penghulu masuk ke dalam kamar tamu, terlihat cukup luas dan mewah untuk tamu.
" Pa ..ini serius aku nikah dengan Yamuna? " tanya Cadman untuk menyakinkan jika semua ini adalah benar bukan candaan.
" Benar, Papa tidak ingin kalian berbuat zina, " sahut Yoan tegas.
" Iya, kata mendiang Ayah ku juga begitu. Seseorang yang bukan muhrimnya di larang melakukan hal yang dilarang Agama. Nanti Allah marah, jadi nurut saja, " sambung Yamuna dengan wajah polosnya.
__ADS_1
" Jadi, bisa kita mulai? " tanya Pak penghulu sudah duduk di sofa, bersama 2 walinya.
Yoan, Cadman, dan Yamuna berjalan ke arah sofa. Mereka bertiga duduk saling berhadapan dengan Pak penghulu, dan kedua wali.
Cadman mengulur tangan kanannya. Pak penghulu menerima jabat tangannya Cadman. Ikrar sumpah di mulai.
“ Saya nikah, dan kawinkan Yamuna Yin, binti Almarhum Jordan, dengan Cadman Ren, dengan mahar Perusahaan milik keluarga besar Ren, rumah kedua, dan Vila baru yang terletak di Bali, secara tunai. ”
" Saya terima nikah, dan kawinkan Yamuna Yin, binti Almarhum Jordan, dengan Cadman Ren, dengan mahar Perusahaan milik keluarga besar Ren, rumah kedua, dan Vila baru yang terletak di Bali, secara tunai, " ucap Cadman mengulang ucapan Pak penghulu.
" Sah?! " tanya Pak penghulu.
“ Sah! ” teriak dua wali, dan Yoan.
Pak penghulu memberikan beberapa surat untuk Yamuna tandatangani. Tanpa berbasa-basi lagi, Pak penghulu berdiri, bergegas membereskan semua berkas untuk segera meninggalkan kediaman rumah Yoan karena Pak penghulu, dan 2 wali ketakutan melihat wajah suram, dan dingin Yoan.
“ Tuan, kenapa mereka harus pulang dengan terburu-buru? ” tanya Yamuna menatap kepergian Pak penghulu, dan 2 wali berjalan terburu-buru.
“ Kok panggil tuan sih! Kamu ‘kan sudah menikah dengan putraku . Panggil saja aku ini Papa. Anggap saja aku ni sebagai Papa kamu,” suruh Yoan untuk merubah panggilan Yamuna.
“ Jadi tadi beneran aku sudah menikah? ” tanya Yamuna bingung.
“ Kamu pikir tadi bohongan. Sekarang kamu sudah resmi menjadi menantu ku, dan aku menjadi mertua kamu. Selamat datang di keluarga besar Ren, ” sambut hangat Yoan untuk Yamuna.
“ Terimakasih atas sambutan hangat dari tuan Yoan, ” sahut Yamuna menerima sambutan hangat Yoan, dan lupa untuk mengganti sebutan nama ‘Tuan’ dengan ‘Papa’.
“ Kamu pasti lelah, sekarang beristirahatlah di dalam kamar, ” suruh Yoan. Yoan berdiri, tangannya mengulur ke depan, “Mari ikut aku,” ajak Yoan.
" Pa..kok aku dikacangi. Aku ini anak Papa, loh, " panggil Cadman menatap kepergian Yamuna, dan Yoan.
" Aku tahu! " sahut Yoan singkat. Tapi, kedua kaki terus melangkah meninggalkan kamar tamu.
Yoan berjalan terlebih dahulu untuk menuntun jalan, lalu di susul Yamuna dari belakang. Sepanjang kaki Yamuna melangkah, Yamuna terus menatap semua foto keluarga Yoan, Cadman, dan mendiang Istrinya di sepanjang dinding tangga menuju lantai 2.
“ Tuan…eh..maksud ku, Pa. Apakah wanita di dalam foto itu adalah mendiang Istri Anda? ” tanya Yamuna saat melihat wajah wanita cantik, rambut coklat bergelombang halus seperti sutra.
“ Iya, cantik bukan. Dia adalah wanita satu-satunya yang sangat aku cintai, dia juga adalah wanita yang sudah membawa hatiku saat dirinya ikut terkubur di tanah, ” jelas Yoan.
__ADS_1
“ Cinta mati nih ceritanya? ” goda Yamuna.
...Bersambung...