
π«Di Desa kecilπ«
Mobil mewah milik Chandra berhenti di sebuah Desa kecil, dan sedikit penduduknya. Chandra mendatangi Desa kecil tersebut karena ia mendapatkan informasi jika Caden berada di Desa itu. Sebelum Caden kabur, dan susah di tangkap, Chandra harus lebih dulu mendapatkannya. Setelah mendapatkan Caden, barulah Chandra pergi ke Desa-desa lainnya, untuk meminta maaf, dan mengembalikan semua uang hasil penipuan Caden.
Mobil Chandra berhenti tepat di depan rumah Geulis, ia menurunkan jendela kaca mobilnya, menatap seorang gadis cantik sedang duduk di depan rumah terbuat dari separuh kayu, dan batu. Melihat wajah bening, kulit putih bersih, rambut panjang, dan gaya duduk anggun. Hati Chandra langsung berdegup kencang. Darah memangsanya seolah mendidih, dan langsung ingin menyikat Geulis.
β Sebaiknya saya turun, dan berpura-pura bertanya kepada wanita cantik itu, β gumam Chandra, tangannya membuka seatbelt, pintu mobil, dan turun, berjalan memasuki halaman rumah Geulis.
Mendengar suara langkah sepatu sport Chandra, Geulis tadi sedang duduk di depan rumah, langsung berdiri, menatap kedatangan Chandra, dengan wajah bingung.
β Permisi, β sapa Chandra.
β Iya, ada apa ya, Om? β tanya Geulis, membuat Chandra terkejut di panggil Om.
β Ehemβ¦maaf Dek, saya bukan Om-om. Saya ini masih lajang, dan belum menikah, β jelas Chandra merasa risih di panggil Om.
β Maaf. Kalau boleh tahu ada apa bang? β tanya Geulis kembali.
Chandra mengeluarkan sebuah foto, foto Caden, dan mengulurkan foto Caden ke Geulis, βApa adek pernah melihat wanita ini?β
Geulis terdiam, dahinya mengernyit, mencoba mengingat wajah wanita di dalam foto tersebut. Setelah mendapatkan gambaran tentang wajah foto wanita tersebut, barulah Geulis buka suara.
β Ohβ¦ini Ibu-ibu yang kemarin sore datang ke rumah. Katanya Ibu ini adalah seorang staf yang mencari pegawai baru untuk bekerja di PT. MUNA, β sahut Geulis mengingat ucapan Caden saat memperkenalkan dirinya kepada Geulis, dan Bapak-ibunya.
Chandra kembali memasukkan foto tersebut ke dalam saku jaketnya. Dan kembali bertanya, β Apa adek termasuk orang yang mendaftar dengan wanita itu? β
Geulis menggeleng sedih.
__ADS_1
Saat ingin mengulik informasi mengenai perbuatan Caden, terdengar suara langkah sandal mendekati halaman rumah Geulis. Chandra, dan Geulis menoleh ke arah langkah tersebut. Terlihat langkah sandal tersebut adalah milik Bapak, dan Ibu, Geulis. Bajunya terlihat berlumpur, cangkul di pikul di pundak kanan Bapak, sedangkan Ibu memegang rantang.
β Siapa neng? β tanya Bapak ke Geulis.
Chandra langsung mengulurkan tangannya, βOhβ¦saya adalah Chandra,β ucap Chandra memperkenalkan diri dengan ramah.
β Tangan Bapak kotor nak Chandra. Sebaiknya nak Chandra duduk dulu, β sahut Bapak, tangannya berlumpurnya mengarah ke bangku terbuat dari papan, dengan lebar dan panjang 3 meter.
β I-iya, silahkan duduk nak. Biar Ibu kebelakang, membuat teh buat nak Chandra, β sambung Ibu, lalu Ibu berjalan masuk ke dalam rumah.
β Bu, nggak usah repot-repot. Soalnya sayaβ¦.β
β Sudah nak, duduk dulu, istirahat. Pasti nak Chandra lelah setelah perjalanan jauh dari kota ke Desa, β sela Bapak, tangannya kembali mengulur ke bangku terbuat dari papan.
β I-iya, β sahut Chandra tidak bisa berkutik. Chandra hanya tersenyum, dan duduk.
β Neng Geulis, kamu temani dulu nak Chandra. Bapak mau kebelakang, mencuci tangan, sama kaki yang kotor, β pinta Bapak lembut.
Bapak pun berjalan masuk ke dalam, meninggalkan Chandra bersama dengan Geulis di depan. Sesaat Chandra dan Geulis merasa canggung.
Perlahan pandangan mata Chandra mengarah pada Geulis, sedang duduk di pinggiran bangku papan. Bola mata Chandra menjadi liar saat melihat tubuh sempurna milik Geulis.
β Ya ampun, sungguh tugas yang sangat saya inginkan. Terimakasih tuan muda Cadman, gara-gara engkau memerintahkan saya ke sini. Saya jadi bisa melihat wanita desa yang bening-bening. Wanita yang sangat kalah jauh cantiknya dengan para wanita polesan mack up di kota. Rasanya saya ingin mencicipinya, pasti sangat manis. Dan di senggol masih berteriak malu. Duβ¦duhβ¦kalau nggak ingat lagi menjalani tugas dari tuan muda Cadman, mungkin sudah saya larikan Geulis, tak ikat, terus tak gerayangi tanpa sisa, β batin Chandra, saliva hampir memenuhi mulutnya, tapi ia segera menelannya.
β Abang kenapa? β tanya Geulis, Chandra langsung terlonjak kaget, membuang wajahnya terlihat merah merona menahan hasrat.
β Nggak apa-apa dek, β sahut Chandra, berusaha menetralkan pikiran mesum nya.
__ADS_1
β Hmmβ¦kalau Geulis boleh tahu, abang kerja apa di kota? Kelihatannya abang sangat sukses, β tanya Geulis malu-malu.
β Saya hanya seorang bawahan. Jika saya terlihat sukses, mungkin karena saya memakai fasilitas yang diberikan Tuan, kepada saya, β sahut Chandra berusaha merendah demi meluluhkan hati Geulis.
β Bekerja di kota itu enak bang? β tanya Geulis dengan polos.
β Kenapa Geulis terus bertanya seperti itu? β Chandra balik bertanya.
β Soalnya Geulis ingin berkerja di kota. Ingin merubah nasib di kampung. Geulis juga ingin membahagiakan Bapak dan Ibu, β sahut Geulis pelan, kedua tangannya memainkan rok miliknya.
β Saya rasa bekerja di kota tidak semudah itu. Jika tidak ada kenalan dekat, wanita seperti kamu bisa-bisa di jual sama orang jahat. Dan orang itu akan mengambil keuntungan dari kamu. Saya sarankan lebih baik bekerja di Desa, tempat yang lebih nyaman, β sahut Chandra memberi masukan, walau rasanya ia ingin mengatakan, βikut saja denganku, tidak perlu bekerja, cukup melayani aku, nanti aku bayar mahal.'
Percakapan Chandra dan Geulis ternyata di dengar oleh Bapak, dan Ibunya. Bapak dan Ibu keluar dari dalam rumah, dengan masing-masing membawa makanan, dan minum.
β Benar kata nak Chandra. Sebaiknya neng Geulis tetap di Desa, walau kita makan dengan lauk seadanya, tapi Bapak masih bisa melihat neng Geulis sehat-sehat saja, dan baik-baik saja, β sambung Bapak, tangannya meletakkan teko berisi teh manis hangat, dan 4 cangkir di atas bangku terbuat dari papan panjang dan lebar berukuran 3 meter. Bapak juga ikut naik, dan duduk di sebelah Chandra.
β Tapi Geulis ingin menyenangkan Bapak sama Ibu, β sahut Geulis sendu, kepala menunduk sedih.
β Bapak tahu neng ingin sukses, setelah bekerja di kota. Tapi nggak meski cari kerja seperti wanita itu tawarkan kemarin. Belum apa-apa sudah minta uang, lagian uang 3 juta itu sangat banyak. Sebulan saja kita belum tentu mendapatkannya, neng. β
β Maaf saya potong, Pak. Emang wanita itu berkata apa? β tanya Chandra mulai menyelidik.
β Kemarin sore waktu Bapak, dan Ibu baru pulang dari sawah. Ada seorang wanita berumur dengan memakai baju rapih seperti orang kota menghampiri neng Geulis seperti nak Chandra yang lakukan tadi. Tapi bedanya, wanita itu menawarkan pekejaan untuk menjadi kru staf, atau model di PT. MUNA. Dengan satu syarat, harus membayar uang pendaftaran sebesar 3 juta. Nak Chandra pasti tahu βkan kehidupan di Desa itu kayak mana. Bisa makan 1 bulan saja sudah bersyukur. Bukannya Bapak nggak mau meminjam uang sama Rentenir di kampung, tapi entah kenapa hati Bapak seperti merasa wanita itu adalah wanita yang buruk, β sahut Bapak mencurahkan isi hatinya, karena cemas dengan putri semata wayang mereka.
β Benar kata Bapak, setahu saya PT. MUNA lagi tak menerima lowongan pekerjaan. Dan saya juga baru tahu kalau PT. MUNA melakukan peraturan seperti itu, β ucap Chandra masih merahasiakan siapa dirinya.
βTuh, dengar neng. Nak Chandra yang kerja di kota saja bilang seperti itu. Walaupun Bapak bodoh, tapi Bapak tidak ingin anak Bapak di bodohi. Jadi nurut saja apa perkataan Bapak,β pinta Bapak menasehati Geulis.
__ADS_1
β Tapi Pak, sudah banyak Ibu-ibu di sini mendaftarkan anaknya kepada wanita itu. Kecuali, Ibu, β sambung Ibu.
Chandra terkejut, dahinya mengernyit, lalu mulai bertanya, β Kalau saya boleh tahu sudah berapa orang yang mendaftar Bu? β