SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 116. Perdebatan Cadman dan Yoan


__ADS_3

Keesokan paginya. Rumah milik Yoan kini sudah kembali tenang seperti awal mula kedatangan Yamuna. Yoan, Cadman, dan Yamuna sedang duduk di kursi makan. Di atas meja sudah tersedia beberapa menu sarapan sehat. Termasuk bubur ayam.


“ Yamuna, kamu harus makan yang banyak, ” pinta Yoan.


“ Maunya seperti itu Pa. Tapi memasuki usia kanduangan jalan 7 minggu, mulut ku rasanya tidak enak. Aku mau nya makan yang manis-manis, segar-segar, dingin-dingin. Cuman, di rumah kita jarang memiliki stok makanan seperti itu, ” curhat Yamuna di kalimat terakhir manja.


“ Itu tandanya anaknya perempuan, nona muda, ” sambung Bibi Ratna terdengar semangat.


“ Benarkah?! Bibi tahu darimana kalau aku hamil anak perempuan? ” tanya Yamuna semangat.


“ Dari mata batin, he he he he…becanda nona muda. Bibi melihat dan di ajarkan dari leluhur zaman dulu. Kalau di kampung Bibi melihat anaknya perempuan atau laki-laki, di lihat dari Ibunya mengidam bagaimana, dan bentuk perutnya gimana, ” sahut Bibi Ratna kembali semangat.


“ Aku jadi semangat membayangkan bisa cantik berdua dengan anak perempuan ku nantinya, ” ucap Yamuna mulai berkhayal.


“ Sudah-sudah, jangan membahas itu dulu. Sekarang mari kita lanjut makan, dan Bibi juga bisa makan ikut bersama dengan kami, ” putus Cadman, tangannya mengarah ke kursi berada di depannya.


“ Tidak tuan muda, Bibi tadi sudah makan di dapur. Sebaiknya Bibi kembali ke dapur, meracik makanan untuk makan siang saja, ” tolak Bibi Ratna sopan.


“ Baiklah, kalau capek Bibi boleh Istirahat dulu, ” sambung Yoan, ia merasa kasihan melihat Bibi Ratan terlihat mulai tua.


“ Terimakasih tuan besar, Bibi pamit ke dapur dulu, ” pamit Bibi, ia balik badan, melangkah menuju dapur.


Yamuna meletakkan sendok, dan garpunya di samping piring. Ia menatap serius, Cadman dan Yoan, “ Pa..Cadman, ” panggil Yamuna.


“ Iya, ” sahut Cadman dan Yoan bersamaan.


“ Aku izin ke Perusahaan sebentar saja, boleh? ” tanya Yamuna mencoba merayu Yoan, dan Cadman.


“ Tidak! ” sahut Yoan, dan Cadman serentak dengan tegas.


“ Isss… ‘kan! ” desis Yamuna, mulutnya mengerucut panjang.


“ Yamuna, kamu belum boleh keluar. Lagian kenapa kamu ingin ke kantor? ” tanya Yoan lembut, dan ingin mendengar penjelasan menantunya.


“ Aku ingin mengecek sebentar saja. Aku ingin menggantikan Ben sedang cuti bulan madu selama 1 minggu. Yaa…” rengek Yamuna manja.

__ADS_1


“ Tidak, meski itu di dalam lingkungan Perusahaan kamu. Tapi entah kenapa aku merasa tidak nyaman, ” tolak Cadman tegas.


“ Pa…” rengek Yamuna manja ke Yoan, berusaha membujuk Yoan untuk mengijinkannya pergi.


Tidak tahan mendengar rengekan manja dari Yamuna. Hati Yoan perlahan luluh, tangan tetap menyendok bubur ke dalam mulut, kepala mengangguk.


“ Yess!! ”


“ Pa, kenapa Papa mengizinkan Yamuna pergi. Akan sangat bahaya jika dia pergi sendirian ke luar tanpa pengawasan. Yamuna sedang hamil muda, dan dia butuh Istirahat yang cukup Pa, ” omel Cadman.


“ Kamu tenang saja, Papa sudah menyiapkan beberapa bodyguard buat menjaga Yamuna, ” ucap Yoan tenang.


“ Iss…Papa, kenapa harus pakai bodyguard segala. ‘Kan di Perusahaan ada security, ” tolak Yamuna manja.


“ Kalau mau keluar sendiri, kamu harus ikut cara Papa. Tapi kalau kamu tidak mau ikut cara Papa, kamu tidak boleh keluar. Pilih mana? ” tegas Yoan tidak bisa di bantah.


“ Baik, aku ikut cara Papa saja, ” sahut Yamuna lesu, Yamuna berdiri, “ Karena Papa sudah setuju, aku mau masuk ke kamar dulu. Mau ganti baju untuk pergi ke kantor, ” pamit Yamuna dengan wajah lesu.


“ Kenapa tidak di habisi makannya? ” tanya Yoan.


“ Ya sudah, kamu bersiap saja dulu. Entar aku akan buat kamu makanan yang manis-manis, segar dan dingin, ” ucap Cadman ingin menyenangkan hati Yamuna.


“ Kalau gitu aku ke atas dulu, ” pamit Yamuna semangat, ia pun melangkah dengan begitu cepat meninggalkan ruang makan menuju lantai 2.


Karena ingin segera membuat salad segar untuk Yamuna, Cadman menyelesaikan sarapannya, menenggak habis teh herbal miliknya.


“ Pa, aku pamit ke belakang dulu, ” pamit Cadman, ia berdiri, lalu meninggalkan Yoan di meja makan.


Yoan tidak menjawab, ia hanya melihat semangat membara dari Cadman, mengingat Yoan sewaktu muda dulu. Waktu pertama kali mendiang Sisil hamil muda, Yoan terlihat posesif, dan mengawal ketat kemanapun mendiang Sisil pergi. Sikap posesif Yoan kepada mendiang Istrinya pun kini ia lampiaskan kepada menantunya, Yamuna.


Ingin turut membahagiakan menantu, dan memberikan pelayanan terbaik untuk anak di dalam kandungan Yamuna. Yoan ikut beranjak pergi menuju dapur, membantu Cadman menyiapkan sop buah untuk menantu, dan cucu berada di dalam kandungan Yamuna.


20 menit sudah berlalu, Yamuna sudah turun dari kamar, menuju ruang tamu. Cadman, dan Yoan sudah duduk menunggu Yamuna turun di ruang tamu. Begitu melihat Yamuna medekati ruang tamu, Yoan, dan Cadman serentak bangkit dari sofa, masing-masing tangan memegang kotak makan berisi salad, dan sop buah mengulur.


“ Yamuna, Papa sudah membuat salad buah, dari bahan yang manis. ”

__ADS_1


“ Aku juga sudah membuatkan sop buah dingin, dari buah yang manis, ” ucap Cadman tak mau kalah.


Yamuna melirik malas ke Yoan, dan Cadman, “ Maaf, entah kenapa melihat Papa dan Cadman yang buat makanan itu, nafsu makannya jadi hilang, ” jelas Yamuna dengan rasa mual memenuhi tenggorokannya.


“ Jadi ini gimana? ” tanya Yoan, dan Cadman serentak.


“ Papa, dan Cadman makan sendiri saja, ” sahut Yamuna tanpa bersalah.


“ Haih…beginilah ternyata kalau menghadapi wanita sedang hamil, ” gumam Cadman merasa bingung melihat perubahan sikap Yamuna.


“ Ya sudah, Papa maklumi. Mengingat kamu sedang ngidam seperti ini, Papa jadi teringat dengan mendiang Sisil, Istri Papa, ” ucap Yoan sendu.


Yamuan mendekati Yoan, tangannya mengelus bahu kiri Yoan, “ Cup..cup, jangan bersedih Pa, ” bujuk Yamuna polos, berpikir Yoan akan menangis.


“ Terimakasih sayang, ” tangan Yoan menyeka kasar matanya.


“ Yamuna, mari aku antar, sekalian aku ingin ke kantor, ” tawar Cadman.


“Tidak, lebih baik aku naik mobil sendiri saja,” tolak Yamuna.


“ Jangan! ” teriak Yoan, dan Cadman serentak.


“ Kenapa? ” tanya Yamuna bingung.


“Papa sudah menyuruh supir untuk mengantar kamu pergi ke kantor, ” sahut Yoan.


“ Tidak perlu pakai supir, sudah pergi sama aku saja. Aku ini Suami kamu, dan aku berhak mengantar jemput kamu! ” tegas Cadman.


“ Aku juga berhak menyuruh orang mengantar jemput menantuku! ” sambung Yoan tak mau kalah.


“ Kalian berduaan apaan sih. Sudah tua malah berantem terus, muak! ” ucap Yamuna sadis, menusuk hati Cadman dan Yoan.


Yamuna pun segera pergi meninggalkan Yoan dan Cadman di ruang tamu, menuju garasi mobil. Sedangkan Yoan dan Cadman hanya diam dan tercengang melihat ucapan sadis Yamuna.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2