SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 129. Pingsan Saat Istri Melahirkan


__ADS_3

2 Bulan sudah berlalu, usia kandungan Yamuna sudah 9 bulan, dan sudah saatnya melahirkan. Yamuna, dan Cadman, berada di ruang rawat inap, menunggu pembukaan ke-10. Cadman terlihat sangat cemas, melihat perut besar Yamuna terus bergerak, sedangkan Yamuna tetap terlihat tenang, jalan ke sana-kemari di dalam kamar.


“ Yamuna, operasi saja, ya? ” bujuk Cadman tak tega melihat keringat jagung mengalir di seluruh wajah Yamuna.


“ Tidak mau! ”


“Kenapa? Daripada kamu menahan sakit seperti ini, mulai dari tadi malam sampai sekarang, anak kita belum juga mau keluar. Kamu juga terus berjalan, dan tidak ada tidur,” Cadman mendekati Yamuna, tangannya menunjuk lingkar panda di sekitar mata Yamuna, “ Lihatlah, sudah ada lingkar panda di mata kamu. Kamu operasi saja, ya? ” sambung Cadman kembali membujuk.


“ Tidak…aku bilang ti….” penolakan Yamuna terhenti saat perutnya merasakan kontraksi hebat. Dan ada air ketuban mengalir dari kedua kakinya.


“ Ya ampun. Lihatlah, sangking sakitnya kamu sampai pipis di sini! ” ucap Cadman histeris, ia juga jongkok, berusaha membersihkan air ketuban memakai tisu.


“ Itu bukan pipis. Cepat panggil Dokter, sepertinya aku mau melahirkan. Aduuh…cepat…” teriak Yamuna, tangannya menggenggam rambut kepala Cadman, sangat erat, dan mengguncangnya.


“ Bagaimana bisa aku memanggil Dokter, sedangkan kamu masih terus menggenggam rambut ku. ”


Yamuna langsung melepaskan genggaman tangannya, “ Cepatlah panggil, aku sudah tidak tahan lagi! ” perintah Yamuna lirih, ia balik badan, berjalan perlahan mendekati ranjang rawat inap.


“ Kalau aku keluar… ”


“ Sudahlah cepat! ” sela Yamuna kembali berteriak.


Cadman langsung berlari keluar ruangan Yamuna, memanggil Dokter. Menit selanjutnya, Cadman datang bersama dengan Dokter, dan 3 perawat. Dokter, dan 3 perawat berdiri di samping ranjang Yamuna. Sedangkan Cadman berdiri di tengah-tengah ruang kamar.


“ Bu, bisa tidak menekuk kedua kakinya biar saya periksa, ” pinta Dokter wanita, kedua tangannya membatu kedua kaki Yamuna di tekuk. Selesai di periksa, Dokter wanita menatap serius 3 perawat, “ Sudah waktunya. Cepat ambilkan peralatan, ” perintah Dokter wanita tegas.


“ Baik, ” sahut 3 perawat mengambil peralatan sudah tersedia di atas meja untuk membantu persalinan Yamuna.


“ Pak, tolong berdiri di samping sini, ” pinta Dokter wanita, tangannya mengarah ke samping ranjang atas.


Cadman menurut, ia berjalan dengan wajah bingung mendekati tempat di tunjuk oleh Dokter wanita tadi, dan berdiri.


“ Sakit! ” rengek Yamuna, tangannya menggenggam lengan Cadman, dengan erat. Sampai kuku panjang berhias kutek menembus kulit.


Karena panik Cadman tidak merasakan sakit pada kuku tangan Yamuna. Di dalam pikiran Cadman, ia hanya berusaha menenangkan ketegangan, dan rasa ketakutannya di depan Yamuna. Sudah merasa cukup tenang, Cadman membelai puncak kepala Yamuna, “Semangat sayang, sakitnya pasti akan hilang setelah anak kita keluar,” ucap Cadman berusaha menenangkan rasa sakit Yamuna.


Dokter sudah berdiri di ujung kaki Yamuna, “Ibu, tarik nafas dulu, dan jangan diangkat bokongnya, ya!” perintah Dokter lembut.

__ADS_1


“ Sudah mau keluar apa Dok? ” tanya Yamuna, tatapannya tertuju pada Dokter, berdiri di ujung kakinya.


“ Sudah, ini kepalanya anaknya sudah nampak, ” sahut Dokter.


“ Benarkah? Apa aku boleh lihat Dok? ” tanya Cadman semangat.


“ Tentu saja, ” sahut Dokter.


Cadman segera berjalan mendekati Dokter, dan berdiri di samping Dokter. Baru menoleh sedikit, wajah ceria Cadman mendadak berubah menjadi pucat, kedua kelopak matanya pun terpejam. Namun, sebelum ia pingsan, Cadman sempat mengatakan, “Tidak mungkin!”


Blam!


Cadman pun terjatuh ke lantai, Dokter dan 3 perawat hanya diam, mengabaikan Cadman, dan melanjutkan membantu persalinan Yamuna.


1 jam pun berlalu. Cadman tadi pingsan di lantai, kini terbangun, tubuhnya sudah berpindah di atas sofa.


“ Yamuna, ” panggi Cadman terbangun, dan duduk. Bola mata Cadman memandang lurus ke Yamuna sedang duduk, dan menimang anak mereka.


“ Hem…giliran buatnya saja yang semangat. Gitu di suruh temani melahirkan malah pingsan. Suami apa itu, tidak bisa pakai! ” omel Yamuna, tatapan malas menatap wajah malu Cadman.


“ Ya sudah, aku maafin, ” Yamuna memutar arah gendong anak mereka, menampakan wajah bayi putih bersih, hidung mancung, rambut hitam lebat, alis tebal, “ Coba tebak, anak kita laki-laki atau perempuan? ” tanya Yamuna ke Cadman.


“ Tentu saja perempuan, ” sahut Cadman mengingat hasil USG Yamuna, dengan jenis kelamin perempuan.


Yamuna menggeleng, “ Kamu salah, anak kita ternyata laki-laki, ” sahut Yamuna dengan wajah tenang, dan senang.


“ Apa! Perempuan?! Tapi…itu..Usg…dan baju-baju bayi model perempuan, gimana? ” ucap Cadman terbata-bata, tak percaya.


“ Aku dengar jenis kelamin anak Ben adalah perempuan. Sebaiknya baju-baju yang sudah di beli, kita berikan saja kepada Ben, dan Yasmin, ” sahut Yamuna terdengar ikhlas.


Sejenak Cadman diam, menatap wajah Yamuna terlihat ikhlas, dan tenang. Tidak terlihat sama sekali marah, ada menyesal sudah melahirkan anak laki-laki. Padahal Cadman sangat tahu jika Yamuna sangat menginginkan anak perempuan.


Tok!tok!tok!


Terdengar suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan Cadman.


“ Masuk saja, ” ucap Cadman mempersilahkan masuk, pandangannya masih memandang lurus ke arah pintu.

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka, terlihat Chandra, Yasmin, dan Ben, berdiri di depan pintu, dengan wajah tersenyum manis. Namun, senyumam mereka perlahan turun, setelah melihat wajah datar Cadman. Chandra, Ben, dan Yasmin, segera berjalan masuk ke dalam ruang kamar, meletakkan buah tangan mereka di atas meja.


“ Cadman, kenapa? ” tanya Yasmin, berjalan mendekati ranjang rawat inap Yamuna.


“ Ha ha ha…aku rasa ia masih syok dengan hasil USG, dan hasil nyata dari jenis kelamin anaknya, ” sahut Yamuna di sela tawa geli melihat ekspresi wajah Cadman.


“ Emang jenis kelaminnya apa? ” tanya Ben, ia berdiri di samping Cadman, di ikuti Chandra, berdiri mepet dengan Ben.


“ Laki-laki, ” sahut Cadman dengan wajah datar.


“ Apa! Ta-tapi…je-jelas-jelas anak kalian perempuan! ” Yasmin histeris, ia segera membuka kain bendongan anak Yamuna, “Luar biasa! Benar-benar bibit yang bagus,” gumam Yasmin mulai berpikir aneh, dan gumam nya di dengar oleh Yamuna, dan Cadman.


“ Berhentilah berpikir mesum dengan anakku yang masih polos, dan tak tahu apa-apa, ” omel Yamuna, ia kembali memasangkan kain bedong pada putra mereka, sedang tertidur lelap.


“ Yamuna, apakah anakku nanti akan terlahir dengan jenis kelamin yang berbeda? ” tanya Yasmin sedikit takut, mengingat hasil USG miliknya juga berjenis kelamin perempuan.


“ Tidak mungkin. Aku rasa anak kamu tetap terlahir dengan jenis kelamin yang sama, ” sahut Yamuna mencoba meredakan ketakutan Yasmin.


“ Benar, apa pun jenis kelamin anak kita. Kita tetap harus bersyukur, ” sambung Ben, meredakan ketakutan Yasmin.


Chandra sebagai jomblo dan playboy psikopat, hanya bisa menghela nafas panjang. Chandra balik badan, kakinya melangkah menuju sofa, dan membaringkan tubuhnya di sofa. Hal itu menarik perhatian Yasmin, Yamuna, Ben, dan Cadman. Dan mulai mengajukan pertanyaan.


“ Kamu kenapa? ” tanya Cadman.


“ Saya muak dengan kalian. Membahas hal yang tidak ada pada diri saya. Tahu seperti itu, saya tidak usah datang ke sini, untuk mengucapkan selamat pada tuan, ” sahut Chandra jengah.


“Ha ha ha ha…. mangkanya, segera menikah!” ejek Yasmin, Yamuna, dan Cadman serentak.


“ Buat apa! Jika membujang seperti ini saja saya sudah bisa mendapatkan kepuasan, kenapa saya harus repot-repot menikah, dan menjadi seorang Suami! ”


“ Rasanya beda, ” ucapan Cadman di putus oleh Chandra.


“ Tidak ada bedanya, wanita itu sangat menyebalkan. Tahunya hanya cemberut, ngambek, dan….”


Chandra menghentikan ucapannya, saat melihat pintu kamar rawat inap Yamuna terbuka, terlihat seorang perawat masuk ke dalam.


“ Real bidadari paling suci masuk! ” gumam Chandra terpesona melihat seorang perawat masuk.

__ADS_1


__ADS_2