SUAMI KE-13

SUAMI KE-13
SK-13 120. Gimana Rasanya?


__ADS_3

Ben, dan Yasmin sudah selesai makan malam. Ben mencuci piring dan mangkuk kotor, Yasmin membersihkan meja makan, dan menyapu sedikit sisa kotoran makanan di lantai.


10 menit kemudian Ben dan Yasmin sudah selesai membersihkan dapur. Yasmin ingin menagih janji Ben, mulai mendekati Ben, melingkarkan tangannya di lengan kiri Ben.


" Yuk, " ajak Yasmin kembali menggoda.


" Agresif banget sih! kita baru siap makan, " tolak Ben mengalihkan pembicaraan.


" Ben, aku juga ingin punya anak, " rengek Yasmin kembali.


" Kamu mau punya anak, atau ada hal lain yang ingin kamu nikmati? " tanya Ben polos.


" Keduanya, " sahut Yasmin, senyum manis melengkung seperti sabit di wajahnya.


' Kenapa Yasmin sangat agresif, buat gugup saja, ' batin Ben, wajahnya terlihat memerah menahan malu.


"Yasmin, sebaiknya kita nonton TV dulu. Mari," ajak Ben.


Ben melepaskan tangan Yasmin, keluar ruang makan lebih dulu, Yasmin pun menyusulnya dari belakang. Ben terus berjalan menuju ruang Tv, diikuti Yasmin berjalan dengan wajah cemberut.


" Nah, kamu duduk dulu di sini. Biar saya colok kabel TV, dan menyalakan nya, " ajak Ben sopan, tangannya mengarah ke sofa panjang menghadap TV.


Yasmin menurut, ia duduk dengan wajah di tekuk.


Tv sudah menyala, Ben ikutan duduk di sebelah Yasmin. Tangannya terus menukar channel TV untuk mencari siaran bagus.


' Kalau tidak di mulai dari aku, mungkin Ben tidak akan mau melakukannya padaku. Aku jadi sangsi, Ben ini sebenarnya normal atau tidak, ya? Daripada penasaran lebih baik aku buktikan saja sekarang, ' batin dengan pikiran dan rencananya.


Yasmin pun segera beranjak dari duduknya, dan naik ke atas pangkuan Ben.


" Ka-kamu kenapa duduk di atas pangkuan ku? " tanya Ben gugup, menatap Yasmin sudah duduk di atas pangkuannya, dan wajah saling berhadapan.


"Aku jadi penasaran, kamu normal atau tidak?" tanya Yasmin penuh selidik.


" Te-tentu saja normal. Kenapa ka-kamu tidak yakin? " Ben balik bertanya dengan gugup, karena Yasmin menekan benda berharganya.


Tangan kanan Yasmin menyelinap ke tengkuk Ben, membuat wajah Ben dan Yasmin saling berhadapan.


" Ka-kamu mau apa? " tanya Ben semakin gugup, karena hembusan nafas saling menyapa.


Tanpa menjawab pertanyaan Ben, Yasmin langsung mengulum bibir Ben. Ben terdiam, merasakan lembutnya sentuhan bibir Yasmin. Sudah terbuai dengan perbuatan Yasmin, lidah Ben menyongsong masuk ke dalam, menjelajahi rongga mulut Yasmin.


Merasa oksigen di dalam paru-paru sudah menepis, Ben melepaskan ciumannya. Dada mereka terlihat naik turun dengan cepat, wajahnya juga memerah, menahan gejolak di dalam dada.

__ADS_1


" Kenapa kamu ingin sekali melakukannya? " tanya Ben, matanya menatap bibir ranum basah Yasmin.


" Aku juga ingin punya anak seperti Yamuna, " sahut Yasmin pelan.


" Baiklah, " sahut Ben singkat.


Ben menggendong Yasmin, membawanya menuju kamar mereka di lantai 2. Sesampainya di kamar, Ben membaringkan tubuh Yasmin di atas ranjang.


" Jika saya buktikan, kalau saya normal. Apa kamu bisa menarik kecurigaan kamu kepada saya? " tanya Ben, tangannya melepaskan baju miliknya.


" Iya "


Tangan Ben mulai menjalar masuk, dan berhenti di satu titik, dan bermain sebentar di sana. Sudah merasa puas Ben, dan Yasmin juga terlihat siap. Ben menyongsong ke dalam gua tanpa perlindungan dengan mudah.


2 insan sudah sah itupun bermain dengan caranya sendiri. Alunan suara kepuasan saling bersaut, menggema di dalam ruangan kedap suara.


Sudah merasa cukup, dan puas bermain sampai tubuh berlumur keringat. Semburan demi semburan sudah masuk ke tempatnya, tubuh 2 insan itupun terbaring di atas ranjang, menatap langit kamar.


" Gimana rasanya? " tanya Ben di sela nafas memburunya.


" Katanya kamu tidak pernah melakukannya, tapi kenapa kamu sangat ahli? " Yasmin bertanya penuh selidik.


" Insting, tapi kalau kamu masih tidak percaya saya akan melakukannya berulang kali sampai kamu percaya, " Ben nekan nada suaranya agar Yasmin tak lagi berkata hal aneh.


Ben menarik selimut, menutup tubuh polos mereka. Ben menarik tubuh Yasmin, meletakkan kepala Yasmin ke bidang dada kekarnya.


" Aku baru tahu kalau kamu bisa romantis, " goda Yasmin.


" A-aku hanya kasihan melihat kamu. Soalnya tadi wajah kamu nyengir dan ada suara aneh. Pasti kamu capek, dan sakit karena aku melakukan hal itu, " jelas Ben dengan polosnya.


" Polos banget sih, " gumam Yasmin, ia memeluk tubuh Ben, dan memejamkan kedua matanya. Begitu juga dengan Ben.


.


.


Di rumah mewah milik Yoan. Yamuna, Yoan, dan Cadman sedang menikmati santap makan malam mereka. Yoan dan Cadman terus memandang wajah tenang Yamuna, menikmati rendang jengkol, dan semur Ayam.


Melihat leher Yamuna masih ada bekas tapak tangan Farran, Yoan dan Cadman merasa kuatir akan keselamatan Yamuna, dan juga calon bayi di dalam kandungannya. Tapi, kenapa Yamuna malah tampak tenang dan santai. Hal itu membuat Yoan, dan Cadman semakin jantungan. Sedangkan Yamuna seperti tidak ada takut-takutnya.


" Yamuna, " panggil Yoan, tangannya meletakkan sendok dan garpu di samping piring.


" Iya, Pa, " sahut Yamuna, tangannya meletakkan sendok, dan garpu di samping piring.

__ADS_1


" Besok kamu masih ingin pergi ke kantor? " tanya Yoan.


" Iya, sampai Ben kembali masuk, " sahut Yamuna.


" Apa kamu tidak takut? " tanya Yoan, mengingat rekaman Vidio perbuatan Farran ke Yamuna, diam-diam di ambil oleh salah seorang bodyguard suruhannya.


" Takut kenapa ya, Pa? " Yamuna bertanya bingung.


" Sudah, lebih baik lanjut makan dulu, " sambung Cadman menyudahi percakapan Yoan.


" Baik, " sahut Yamuna menurut. Yamuna kembali menikmati makanan miliknya, dan melahapnya tanpa sisa, sampai nambah 2 kali.


Cadman dan Yoan mengangguk, bibirnya tersenyum melihat Yamuna makan dengan lahap tanpa rasa malu.


' Makan yang banyak ya, Istriku. Dan tetaplah jadi wanita yang kuat. Tentang Farran, secepatnya aku akan menemuinya, dan membereskan masalah ini, ' batin Cadman serius.


Sudah merasa kenyang dan perutnya sudah tak muat untuk menampung makanan lagi, Yamuna menyandarkan tubuhnya di kursi, kedua tangan mengelus perutnya semakin membesar.


" Alhamdulillah, kamu pasti sudah kenyang kan sayang? " tanya Yamuna ke anak di dalam perutnya.


" Kalau masih belum kenyang, Papa bisa membelikan pencuci mulut lainnya, " sambung Yoan, tanpa di tanya.


" Benarkah?! " tanya Yamuna semangat, seolah rasa kenyang sudah hilang.


" Iya, kamu mau apa? katakan agar Papa belikan, " tanya Yoan.


" Mau es krem Magnum, Pa. Tapi aku mau yang kotak ya, jangan yang satuan. Terus, sama takoyaki, kentang berbentuk spiral juga. Sudah itu saja, " sahut Yamuna mengutarakan isi hati pikirannya.


" Yamuna, itu sangat banyak. Sebaiknya kurangin, ya. Aku tak ingin buat perut kamu sakit, " bujuk Cadman cemas.


" Tidak! yang makan 'kan bukan hanya aku sendiri, tapi anak kamu juga, " tolak Yamuna.


" Sudah, kalau tidak habis bisa di simpan di kulkas. Kalau gitu biar Papa keluar untuk mencari yang kamu inginkan."


" Aku ikut Pa, " pinta Yamuna, matanya berbinar terang.


" Yakin? "


" Iya! "


" Ya sudah, mari ikut Papa, " ajak Yoan.


Yamuna, dan Yoan beranjak dari kursi, meninggalkan Cadman terdiam dengan wajah bingung karena terabaikan.

__ADS_1


" Pa....ikut...Pa! " teriak Cadman.


__ADS_2